
Staunlaus yang tersenyum yang tidak memudar hingga Selen menghampiri tempat duduknya karena sudah diijinkan oleh Bu Laras dan murid-murid bertepuk tangan. Selen yang berjalan dan menatap depan tanpa sengaja menatap wajah tampan Staunlaus yang sedang tersenyum membuat dirinya terhipnotis.
“Senyumannya seperti Sie jika dia tersenyum. Sie versi besar dan sangat tampan. Bagaimana dengan kabar Sie sekarang dan itu membuatku kangen padanya,” batinnya saat menatap senyum tampan dari Staunlaus dan tanpa sadar dia bergumam “Sie,” gumamnya yang kecil namun cukup terdengar oleh telinga tajam Staunlaus.
Staunlaus mendengarkan gumaman kecil dari Selen hanya bisa menatap dengan nanar kea rah gadis mungil yang sudah kembali duduk di mejanya sementara Bu Laras sudah selesai mengabsen dan menyuruh muridnya untuk memperkenalkan diri mereka. Bu Laras mengajari pelajaran Fisika karena hari itu adalah pelajaran Fisika. “ Sepertnya aku harus memberi tahu kepadanya jika aku adalah Sienya supaya Nana tidak tertarik dengan Anthony. Nana, aku tetap mengingatmu walaupun mungkin kau melupakanku,” batinnya sambil menatap punggung mungil Selen yang sibuk mendengarkan penjelasan dari Bu Laras.
Sementara Bu Laras mengajari rumus Fisika di untuk kelas X sebagai pengulangan untuk muridnya yang duduk di kelas XI dan XII sementara untuk kelas X merupakan materi baru dan termasuk ke dalam materi nantinya yang akan dipelajari oleh mereka di sekolah mereka masing-masing dan pada saat Bu Laras mencoba memberikan satu soal untuk menguji pemahan murid-muridnya mengenai rumus yang dia jelaskan di depan kelas dengan papan tulis dan proyektor yang menampilkan PPT dari materi Fisika kelas X setelah dia menampilkan slide pertanyaan dia memberi kesempatan untuk muridnya dalam mencoba mengerjakan soal tersebut.
“Apakah ada yang ingin mencobanya? Bisa untuk yang baru saja duduk di kelas X tetapi untuk siswa kelas XI dan XII juga bisa mencobanya,” ucap Bu Laras menunggu untuk salah satu dari muridnya memberanikan diri untuk maju ke depan. Selen yang melihat soal tersebut mencoba mengerjakan di buku coretan miliknya. Dia mencoba mengerjakan dengan rumus yang sedikit berbeda dengan rumus yang diajarkan oleh Bu Laras baru saja tadi.
Butuh beberapa menit bagi Selen untuk mengerjakan soal tersebut setelah berhasil mendapatkan jawabannya dia melihat apakah ada anak yang sudah maju untuk mengerjakan soal. Pada saat dia melihat jika tidak ada siapa-siapa kecuali Bu Laras yang menatap wajah murid-muridnya untuk menunggu keberanian muridnya mengerjakan soal. “Salah juga tidak apa-apa,” ucap Bu Laras agar keberanian muridnya muncul. Tanpa perlu menunggu lagi Selen segera mengangkat tangan kecilnya dan berkata, “Saya bu. Saya akan mencoba soalnya, Bu.”
__ADS_1
Bu Laras yang melihat keberanian Selen lantas tersenyum dan mengijinkan Selen untuk bangkit berdiri dan mengerjakan soal yang dia berikan kepada muridnya. “Baik Selen, kau bisa maju kerjakan soal di papan tulis,” perintah Bu Laras.
Mendapatkan izin dari guru lesnya membuat Selen berdiri dan maju ke depan sambil membawa buku coretan yang sudah dia isikan rumus untuk penyelesaian soal yang berada di layar proyektor tersebut dengan tangan kecilnya dia mengambil spidol dan mulai menuliskan rumus sesuai yang dia temukan jawabannya dengan cepat dia menulis rumus-rumus namun membuat para murid dan termasuk Bu Laras terkejut ketika melihat rumus awal yang ditulis oleh Selen yang terbebas dari pandangan Selen karena rumus tersebut belum diajarkan untuk siswa SMA dan Bu Laras mengetahui jika rumus tersebut diperuntukkan untuk soal olimpiade tingkat Provinsi.
“Anak ini diam-diam sangat berbakat,” batin Bu Laras ketika mendapati Selen sudah selesai menulisnya dan mengembalikan spidol ke tempat spidol berada. Staunlaus dan Anthony yang melihat Selen yang mengerjakan soal yang menurut mereka susah berdecak kagum. “Nana memang cerdas karena dia selalu bisa bahkan belum diajarkan oleh guru,” batin Staunlaus saat melihat Selen mengerjakan soal dengan rumus yang berbeda dari yang diajarkan oleh Bu Laras. “Selen memang sempurna!” batin Anthony ketika melihat Selen mengerjakan soal dengan sempurna.
Tidak hanya satu rumus yang ditulis oleh Selen dia juga menuliskan rumus yang diajarkan oleh Bu Laras sebagai perbandingan apakah memiliki hasil yang sama atau tidak. “Bu Laras hasilnya kedua sama karena saya membuktikan dengan rumus yang diajarkan oleh Ibu,” ungkap Selen yang memang sudah mengetahui rumus yang diajarkan oleh Bu Laras. Bu Laras yang tidak bisa mengatakan apa-apa dia hanya bisa memberi intruksi agar murid-murid memberi tepuk tangan kepada Selen. “Anak-anak mari tepuk tangan untuk Selen yang berani untuk maju ke depan untuk menyelesaikan soal yang sudah Ibu berikan,” ucap Bu Laras sambil menyuruh untuk Selen duduk kembali.
“Gila, siswi imut tadi itu sepertinya anak olimpiade,” komentar para lelaki yang duduk di belakang. Sebagaian yang tidak ikut foto mereka mencatat di buku mereka dan memahami rumus dan penyelesaian pertama yang diberikan oleh Selen. “Padahal aku biyen ya gak bisa kerjakan apalagi rumus anak olim,” celetuk kakak kelas XII yang melihat soal kelas X. “Padahal dia baru kelas X,” timpal temannya yang sesame anak kelas XII.
Sementara Bu Laras kembali menjelaskan rumus berikutnya di slide selanjutnya dan disimak dengan serius oleh murid-murid. Bu Laras menjelaskan satu materi pada bab pertama hingga pukul 19.00 yang tepatnya jam 7 malam. Pada saat jam yang di dinding kelas yang di belakang murid-murid sudah menunjukkan pukul 7 tepat, Bu Laras mengakhiri kelasnya dengan memberikan latihan soal yang akan dibahas di pertemuan mereka selanjutnya.
__ADS_1
“Anak-anak sebelum kalian beres-beres untuk pulang dan Ibu memberikan kalian latian soal. Kalian bisa menulis di buku tulis atau difoto lalu kirim ke grupkelas kalian,” ucap Bu Laras sebari memencet tombol selanjutnya untuk menampilkan slide latihan soal pada layar proyektor yang membuat murid-murid yang melihat latihan soal yang terdiri lima soal dengan berbagai urai-uraian soal hingga kalau dihitung mencapai lima belas soal langsung lemas.
Mereka yang malas untuk menulis langsung mengambil telepon genggam mereka termasuk Selen untuk langsung foto dari layar yang menampilkan slide latihan soal yang bercabang. Setelah Selen dan yang lain sudah mendapatkan latihan soalnya ada beberapa yang berkemas. Sementara yang masih mencatat mereka tetap melanjutkan mencatat soal tersebut. Pada saat bersamaan Staunlaus yang hendak mengambil foto diajak bicara oleh Selen.
“Stan, aku udah ambil fotonya jadi aku minta nomormu biar aku kirim gambarnya,” ucap Selen yang membuka pembicaraan keduannya. Staunlaus yang mendengarkan langsung dengan gembira dan banyak bicara meminta telepon genggam milik Selen. “Na, mana handphonemu biar aku simpan nomorku,” ucap Staunlaus sambil mengadahkan tangannya sebagai tanda dirinya meminta handphone milik gadis tersebut. Sementara Selen yang mendengar langsung saja terkaget dan menatap Staunlaus dengan wajah imut dan menggemaskan dengan mimik terkerjutnya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Bagaimana Selen terkejut? Hayo apakah besok ketahuan? Bagaimana sikap Anthony ketika mengetahui jika Selen lebih akrab dengan Staunlaus ketimbang dirinya? Apa yang akan dikatakan oleh Staunlaus?
Sorry Author gantung lagi nih…..
__ADS_1
Jangan lupa terus dukung Author dengan cara like setiap episode, beri bintang 5, vote, gif, share, subscribe dan comment-nya ya. Author tunggu dukungan kalian karena sangat penting dalam kenaikan level Author. Jangan lupa dengan kesehatan mina-san dan semoga selalu sehat dalam melakukan aktivitas mina-san apa pun. Makasih banyak atas dukungan kalian.