
Sementara telepon genggam milik Selen berbunyi. Terlihat panggilan masuk dari sang ibu yang muncul di layar panggilan di layar benda pipih tersebut. Selen mengangkatnya.
“Halo bu, ada apa?” tanya Selen.
“Sel, apakah les kamu sudah selesai. Jika sudah ibu akan menjemputmu” ucap ibunya di seberang telepon.
“Iya bu. Selen sudah selesai les” ucap Selen.
“Baiklah kalau begitu tunggu ibu ya. Jangan kemana-mana” nasehat sang ibunya yang selalu didenggungkan ke telinga Selen yang membuat Selen malas namun tetap menuruti perkataan sang ibu.
”Iya iya bu, jangan bilang nanti diculik karena Selen terlalu imut dan menggemaskan” ucapnya dengan nada cemberut dan di balik panggilannya terdengar suara tawa yang sudah dipastikan merupakan suara tawa dari sang ibunya yang sudah membayangkan jika dirinya pasti akan cemberut dan mengerucutkan bibirnya seperti sekarang.
Setelah memastikan jika sang ibu sudah tidak menjaihilinya lagi dengan segera dia berkata, “udahlah bu jangan jaihili Nana. Jemput Nana pulang ya.” Mendengar jika putrinya merengek membuat ibunya benar-benar tertawa. “Iya, kamu tunggu aja ya. Ibu cepat kok. Ibu tidak ingin membuat Nana menunggu lama. Ya sudah ibu tutup dulu teleponnya ya” ucap ibunya langsung memutuskan panggilannya karena dirinya sudah keluar dari pintu gerbangnya. Sementara Selen yang melongo menggemaskan setelah mengetahui ibunya langsung memutuskan panggilan teleponnya.
“Ish ibu main matikan panggilan aja” gumamnya dengan mimik dan wajah cemberut yang membuat beberapa
orang lewat sibuk membisikan mengenai dirinya.
“Apakah ada anak kecil nyasar ke sini? Dilihat-lihat gadis kecil keliatan lucu sekali” ucap salah satu anak yang keliatan seumur dengannya.
“Hush, gak baik tau merasani orang lain. Lebih baik kita hibur adik manis” kata temannya yang menyenggol temannya yang merasani orang lain.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1
Sementara di kediaman Staunlaus yang sederhana.
Staunlaus yang saat ini mencoba mengerjakan pr yang diberikan oleh les yang baru tadi mendengar suara ibu yang memanggilnya.
“Sie…Sie… keluar kamu” ucap ibunya memanggil dari luar kamar tidur Sie.
Mendengar jika dirinya dipanggil oleh ibunya dengan segera dia keluar dari kamarnya dan menuju ruang keluarga dimana dia melihat sang ibu yang duduk di sofa menunggunya.
”Ma, ada apa panggil Sie? Sie mau coba kerjakan dan persiapkan MOS besok” tanya Sie kepada sang ibu.
”Dah tau disuruh serius malah sempat-sempatnya kamu wa sama mama ya” tanya mamanya.
”Lah ma, Sie kan penasaran saja” bela Sie agar tidak dimarahi oleh mamanya akibat tingkahnya yang sempat membuat sang mama marah kepadanya.
”Lah ma kok mama berharap banget sih Nana gak ingat sama aku ? Aku kan cakep kayak gini bisa-bisanya dia lupain aku yang cakep” kata Sie yang tidak terima jika gadisnya akan melupakannya.
”Dih siapa bilang kamu tampan? Justru Nana tau nya kamu itu bocah yang mukanya imut meski imutnya lebih imut Nana sih. Mama yakin Nana pasti lupa sama kamu” ucap mama dengan nada mengejek anaknya walaupun dia berharap jika putranya mampu mengembalikan ingatan Nana dan menjadikan mantunya.
”Ma jangan bilang begitu. Ingat ucapan adalah doa” ucap Sie yang meledek mamanya dan membuat mamanya mengusir putranya tersebut untuk segera kembali ke kamarnya.
”Sudah sana kamu kembali ke kamar kamu aja. Belajar sana. Jangan lupa kamu butuh apa bilang kalau udah terlalu malam mama gak mau ladeni kamu buat persiapan MOS kamu biarin kamu dihukum berdiri sampai kulitmu gosong” ucap mamanya yang mendorong putranya kembali ke kamar tidurnya. Mau tidak mau membuat Sie terdorong hingga dia masuk ke kamarnya. Sebelum Sie sempat keluar sang mama langsung menutup pintu kamar tidur putranya dan menyuruhnya untuk kembali belajar.
”Kalau kamu tidak pintar mama yakin Nana tidak mau sama kamu” ancam sang mama hingga Sie mengurungkan niatnya untuk keluar dari kamarnya dan kembali ke meja belajarnya dan menekuni pelajaran yang baru disampaikan di les.
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Beberapa menit kemudian.
Ibu Selen mengabari anaknya jika dirinya sudah berada di pakiran motor tempat putrinya les di sana. Membuat Selen keluar dari ruang tunggu yang berada di dalam les. Sebelum dia pergi dia mengucapkan perpisahan kepada sahabat Staunlaus.
”Anthony, aku pulang dulu ya. Sampai jumpa di pertemuan berikutnya” ucap Selen sambil melambaikan tangannya dengan wajah dan suara yang menggemaskan. Membuat Anthony hanya bisa membalas lambaian Selen. “Hati-hati di jalan ya, Selena” ucap Anthony tanpa didengar oleh Selen karena Selen yang sudah keluar duluan.
Sesampai di pakiran motor, Selen mencari motor milik ibunya dan melihat plat nomor yang dia sangat kenal. Disampari sang ibu dan ibunya langsung menyodorkan helm ke putrinya.
“Bagiamana dengan kelas pertamamu di tempat ini?” tanya sang ibu sambil menunggu putri mungilnya memakai helm yang tidak pernah berubah sejak Selen memakai helm di usianya yang menginjak di SD.
“Tadi aku bertemu dengan pria yang mirip dengan Sie, bu. Dia terus memanggilku dengan sebutan Nana” ucap Selen sambil naik ke motor setelah berhasil memakai helm miliknya. Sementara ibunya hanya bisa diam mendengarkan ocehan manis putrinya yang sangat berharap jika pemuda tersebut beneran Sie.
“Tapi Nana, bukannya kita sudah pindah ya. Jadi tidak mungkin kau bertemu dengan Sie. Lagi pula apa kau mengingat siapa Sie ?” pancing sang ibu kepada putrinya.
Mendengar ibunya berkata seperti itu membuat raut wajahnya berubah menjadi sedih tanpa ibunya menyadari. Dia mengerti jika dirinya melupakan memori yang sangat dia hargai. ”Ibu, aku memang lupa seperti apa wajah Sie. Tapi dia yang membuatku kepikiran karena setahuku selain keluargaku dan Sie yang mengertahui nama kecilku” ucap Nana. Mendengar hal itu ibunya hanya bisa terdiam mendengarkan ocehan Nana, putri tercintanya. Dia juga mengetahui jika Nana sedikit sedih. Dibuktikan dari nada bicaranya yang sedikit mengandung getar dan ada tersirat kesedihan dalam diri putrinya. “Ya sudah jangan terlalu dipikirkan sayang. Siapa tahu pemuda itu adalah Sie. Jadi jangan terlalu sedih. Harusnya kamu senang jika itu memang Sie bearti dia tidak melupakanmu meski sudah beberapa tahun tidak bertemu kembali” hibur ibunya yang matanya fokus menatap ke jalan raya. Mendengar
perkataan ibunya membuat senyum manis kembali muncul di wajah cantik dan menggemaskannya. “Nana pasti akan bertanya mengenai kejelasaannya” ucap Nana semangat. Mungkin alasan itu dia menolak masuk ke kelas aklerasi. Batin ibunya sambil menatap jalan raya agar sampai ke rumah dengan selamat dan tidak terjadi kecelakaan atau mara bahaya karena kecerobaannya.
...****************...
Wahh semoga Staunlaus adalah Sie ya, Selen. Yang tahu hanya Auhtornya.
__ADS_1
Beri dukungan karyaku berupa like, vote, rate, favorit, gift dan comment. Bisa mampir juga ke IG Auhtor dan follow ya. IG Auhtor : @yoru_bam25.