
Mendengar ibunya berkata seperti itu membuat raut wajahnya berubah menjadi sedih tanpa ibunya menyadari. Dia mengerti jika dirinya melupakan memori yang sangat dia hargai. ”Ibu, aku memang lupa seperti apa wajah Sie tetapi dia yang membuatku kepikiran karena setahuku selain keluargaku dan Sie yang mengertahui nama kecilku,” ucap Nana. Mendengar hal itu ibunya hanya bisa terdiam mendengarkan ocehan Nana, putri tercintanya. Dia juga mengetahui jika Nana sedikit sedih karena dengan dibuktikan dari nada bicaranya yang sedikit mengandung getar dan ada tersirat kesedihan dalam diri putrinya.
“Ya sudah jangan terlalu dipikirkan sayang. Siapa tahu pemuda itu adalah Sie jadi jangan terlalu sedih karena seharusnya kamu senang jika itu memang seksi bearti dia tidak melupakanmu meski sudah beberapa tahun tidak bertemu kembali,” hibur ibunya yang matanya fokus menatap ke jalan raya. Mendengar perkataan ibunya membuat senyum manis kembali muncul di wajah cantik dan menggemaskannya. “Nana pasti akan bertanya mengenai kejelasaannya,” ucap Nana semangat. “Mungkin alasan itu dia menolak masuk ke kelas aklerasi,”batin ibunya sambil menatap jalan raya agar sampai ke rumah dengan selamat dan tidak terjadi kecelakaan atau mara bahaya karena kecerobaannya.
Ketika ibunya fokus menyetir dan menatap ke jalanan membuat suasana di antara ibu dan anak ini sempat membisu. Masing-masing pada pemikiran mereka sendiri ditambah ibu Selena harus menyetir dengan ekstra hati-hati agar tidak mengulang kejadian yang membuat putrinya kehilangan memori yang cukup banyak bahkan Selena sempat melupakan dirinya dan suaminya selama beberapa bulan akibat kejadian tersebut.
Butuh selama beberapa menit untuk sampai di rumah mereka dan ketika sampai di wilayah kompleks perumahan mereka, ibu Selena memelankan kecepatannya karena mengikuti peraturan kompleks perumahan mereka yang harus hati-hati serta pelan dikarenakan banyak polisi tidur di setiap jarak agar pengendara kendaraan memelankan kendaraan mereka ketika memasuki kompleks perumahan tempat Selena dan ibunya tinggal. Sesampainya di rumah mereka yang bangunannya bercat putih yang sedikit memudar karena belum sempat dicat ulang, sang ibu mematikan motornya dan memarkirkan di depan gerbang rumah mereka dan menyuruh Selena untuk turun dari motornya karena dirinya hendak membukakan pagar supaya mereka berdua bisa masuk ke rumah mereka.
“Nana, ayo, kamu turun dahulu dari motor. Ibu mau bukakan pagar rumah supaya motornya bisa diparkir di halaman dan kita bisa masuk ke dalam halaman,” ajak ibunya yang sudah mematikan kendaran beroda dua miliknya serta lampu sorotnya di depan pagar rumahnya yang dengan lampu teras menyala agar tidak terlalu gelap di luar.
“Baik, Bu, Nana segera turun dari motor,” ucapnya dengan melakukannya dan turun dari motor ibunya dan menunggu sang ibu membukakan gerbang pintu rumah mereka.
Setelah Nana turun dari motor ibunya dengan segera ibunya mencari kunci pagar rumah mereka di dalam tasnya. Setelah menemukan kunci tersebut dengan cepat dia membukakan pagar rumah mereka dan membawa masuk motornya tanpa menyalakan mesin kendaraan sementara Selena masuk ke dalam dan menunggu ibunya selesai memarkirkan kembali motor ibunya di halaman rumah mereka yang kosong tanpa kendaraan karena mobil dipakai oleh ayah-nya yang sedang diknas di luar pulau.
__ADS_1
Setelah memasukkan kendaraannya baik ibu dan Nana masuk ke dalam rumah mereka dan ibu memasukan serta memakirkan motor di halaman rumah sedangkan Nana menutup kembali pintu gerbangnya.
“Nana, tolong ambilkan terpalnya buat menutup motor agar motornya tidak dicuri orang,” ucap sang ibu yang sedikit berbicara dengan suara agak pelan namun tidak sampai membuat Nana tidak terdengar. Lantas Nana mengambil sesuai yang diperintahkannya dari sang ibu dan membawakannya kepada ibunya sendiri.
“Ini Bu, sudah Nana bawakan terpalnya,” ucapnya sambil membawakan terpal kepada sang ibu dan ibunya mengambil terpal dari tangan putri semata wayangnya lalu menutup motor mereka agar tidak diambil oleh orang yang hendak berniat mengambil barang berharga milik mereka. Sesudah ditutup motor oleh terpal yang dibawakan oleh Nana, ibunya menyuruh putrinya agar segera masuk ke dalam rumah agar putrinya tidak masuk angina karena malam-malam di luar.
“Nana, ayo masuk ke dalam nanti kamu sakit loh. Kalau sakit MOS-nya diulang tahun depan,” ajak sang ibu untuk menyuruh Nana masuk ke dalam rumah.
“Baiklah, Bu, kalau begitu Nana masuk bersama dengan Ibu,” ungkap Nana yang masuk terlebih dahulu ke dalam rumah dan disusul oleh sang ibu sambil menutup kembali serta mengunci pintu rumah mereka. Sesudah mereka berdua masuk dan ibu sudah menutup pintunya dengan lekas mereka melangkah menuju ruang keluarga yang jaraknya cukup dekat dengan ruang tamu.
“Baik, Bu, Nana akan menunggu Ibu menyiapkan makan malam dan Nana apa boleh membantu Ibu?” tanya Nana kepada sang ibu dan berharap agar ibunya mengijinkan dirinya untuk membantu ibu menyiapkan makan malam mereka berdua.
Sang ibu sedikit terkejut mendengar permintaan putri semata wayangnya untuk pertama kalianya sejak Nana menginjak di bangku SMA sehingga membuatnya berkata, “Tidak usah, sayang, kamu bisa mempersiapkan semua yang kamu butuhkan untuk acara MOS besok.
__ADS_1
“Mengapa Bu? Nana bisa bantu Ibu kok,” ucap Nana dengan sedikit merengek namun menggemaskan di mata ibunya membuat ibunya hampir saja tidak jadi menolak penawaran Nana, putri wayangnya.
“Menurutlah sayang, karena kamu harus segera tidur agar besok pagi bisa bangun gak kayak tadi kamu mepet ke sekolahnya,” ucap sang ibu yang lembut memberikan pengertian kepada putrinya agar putrinya mengerti dengan ucapannya.
Sementara Selena sempat terkejut bagaimana sang ibu mengetahuinya jika dirinya hampir saja mepet tiba ke sekolahnya dan membuatnya menangguk mengerti perkataan sang ibu walau dirinya ingin membantu ibunya di dapur.
“Baiklah, Bu, Selen mengerti kok. Selen ganti baju dahulu ya,” ucapnya sambil berpamitan kepada sang ibu sementara ibunya hanya bisa terdiam mendengar jika putrinya mengubah nama panggilan di rumah.
”Dia pasti terlihat sedih karena jika dia sedih maka dia akan memanggil dirinya dengan panggilan ‘Selen’, “ batin sang ibu yang sudah hafal dengan sikap putri semata wayangnya jika dia sedih maka dia akan memanggil dirinya dengan nama panggilan biasanya di sekolah jika dia senang atau tidak ada membuatnya sedih maka dia akan memanggil dirinya dengan sebutan ‘Nana’.
Sementara Selen melangkah menuju kamarnya dan masuk ke dalam lalu mengganti pakainnya dengan mengganti pakaian rumah dan ibunya juga melakukan hal yang sama seperti putrinya melakukan kegiatan tersebut.
...****************...
__ADS_1
Jangan lupa terus dukung Author dengan cara like setiap episode, beri bintang 5, vote, gif, share, subscribe dan comment-nya ya. Author tunggu dukungan kalian karena sangat penting dalam kenaikan level Author. Jangan lupa dengan kesehatan mina-san dan semoga selalu sehat dalam melakukan aktivitas mina-san apa pun. Sangkyuu.