
Staunlaus dan Anthony kaget mendengar sikap Selen yang cuek pada saat menjawab pertanyaan Anthony. “Mengapa dia begitu cuek denganku? Tetapi tidak dengan Stan. Apakah mereka beneran berdua tidak ada hubungan?” batin Anthony yang tidak terima jika Selen hanya cuek dengannya.
Selen beserta Staunlaus dan Anthony kembali ke bangkunya untuk mengemaskan barang-barangnya. Selen mengemaskan buku-buku baik itu buku paket olimpiade Fisika, Kimia dan Matematika jenjang SMA yang sebelum dirinya masuk ke SMA maupun buku tulis yang isinya penjelasan dan jawaban dari soal di buku paket tersebut yang sudah dia kerjakan secara mandiri. Tanpa Staunlaus sadari Selen membuka handphonenya dan melihat hasil foto yang baru saja dia tangkap dan mukanya langsung saja ditekuk dan marah-marah kepada Staunlaus.
“Ish, aku tidak jadi kirim fotonya ke kamu,” ucap Selen sambil menekukan mukanya. Staunlaus terkejut pada saat dirinya hendak menggendong tas ransel yang dia gunakan untuk ke les, “mengapa tidak jadi?”. Tanyanya dengan keheranan.
“Lihat ini hasil aku foto tadi jelek karena sempat tertabrak dengan kakak kelas,” ucapnya dengan nada jujur bercampur malu disertai dengan rona merahnya yang muncul di wajahnya sambil menyerahkan handphonenya untuk menunjukkan hasil fotonya. Dan benar saja hasil yang diambil oleh Selen terlihat bayang dan soal-soalnya tidak keliatan.
Staunlaus yang melihat jika Selen tidak bisa mengambil gambar dengan benar hanya bisa tertawa menertawakan Selen sambil berkata, “Nana, Nana, apakah kamu tidak bisa meminta bantuanku? Kalau tidak bisa mengambil gambar dengan benar lalu bagaimana aku juga tidak mengambil gambar karena kamu dengan percaya diri sudah mengambilnya?”
Sementara Selen yang mendengar perkataan Staunlaus hanya bisa menyemburkan rona merahnya dan malu di sekujur ubun-ubun kepalanya. Ingin aku rasanya menenggelamkan wajahku dan membuang rasa maluku. Staunlaus yang mengerti isi pikiran Selen hanya bisa menambahkan volume suara ketawanya membuat Selen makinmalu dibuatnya.
“Bisakah kamu berhenti menertawakan aku? Ini tidak lucu tahu, mana aku tahu jika hasilnya begitu,” elak Selen karena sudah menahan malu akibat Staunlaus yang menambah volume suara ketawanya.
“Mengapa kamu harus malu kalau butuh bantuan?” tanya Staunlaus masih dengan sisa ketawanya walaupun begitu dia menanyakan mengapa dia tidak butuh bantuan. “mengapa kamu masih sungkan kepadaku,Na?” tanyanya dalam batin ketika Selen tidak minta bantuan pada awalnya.
__ADS_1
Sementara Selen bisa terdiam mendengar perkataan Staunlaus. Hatinya makin tidak karuan ketika mendengar Staunlaus terus menerus memanggilnya dengan sebutan masa kecilnya, Nana. Karena aku tidak mau merepotkanmu jika kamu bukan Sie.
Batinnya sambil menatap manik dan muka Staunlaus yang masih menyisakan senyum manisnya yang mengingatkan senyum manisnya Sie. Aku tidak mau terikat jika kamu bukan Sie. Cukup Sie saja yang berhasil mencuri hatiku.
Nana kembali menggeleng dan berkata kepada Staunlaus, “Kan kita belum kenal dan dekat jadi aku mencoba mandiri,” ucapnya sambil masih menahan malunya.
“Lalu apakah kamu sempat mengambil gambar?” tanyanya kembali dan memastikan jika Staunlaus sempat mengambil gambar namun pada saat dirinya bertanya Staunlaus memainkan telepon genggamnya dan berkata, “Nana sorry ya lanjut di chat saja kan kamu udah nyimpan nomor kontakku, sorry jadi aku pulang dahulu karena sudah dijemput. Bye.” Belum dijawab oleh Selen, Staunlaus sudah menghilang dari pandangannya membuat hati Selen keremas.
Mengapa aku merasa sedih setiap kali Staunlaus pergi? Dirinya menatap kepergian Staunlaus dengan tatapan kosong sementara Anthony yang melihat kepergian sahabatnya hanya terdiam. Dia tidak rela jika Selen berdekatan dengan Staunlaus.
Sementara Anthony hanya berdiam dan menelan kekecewaan dan sementara Selen yang merasa heran dengan sahabat dari Staunlaus itu mulai bertanya, “Mengapa tidak duduk kah?” ucapnya dengan sedikit dingin dan cuek membuat Anthony tidak punya pilihan lain selain duduk karena selain itu Anthony bukannya tidak ingin duduk namun dia ingin akrab namun dia tidak ingin kesempatan untuk duduk di samping Selen hilang karena mungkin bisa diusir oleh Selen karena tidak segera duduk.
Setelah duduk dia bertanya kepada Selena, “Selen, kau sedang menunggu siapa?” Selen sempat menoleh dengan sedikit cuek dia menjawab, “Jangan panggil dengan nama dengan nama pangilan Selen,” ucap Selen dengan nada galak sehingga membuat Anthony yang mendengarnya hanya bisa secara berkomentar diam. Galak amat nih cewek kayaknya pawangnya memangStan deh tetapi api apa iya Stan sama Selen tidak ada hubungan apa-apa?
Batin Anthony sambil masih menatap dan memikirkan apa yang dia bahas. “Kalau begitu manggilnya apa? Nana?” tanya Anthony yang penasaran karena dia memang sempat mendengar jika Staunlaus memanggil Selen dengan panggilan sebutan Nana dan membuat Anthony tidak suka jika Staunlaus diijinkan sedangkan Selen yang mendengar Anthony meminta izin memanggil dirinya dengan panggilan Nana membuat dia makin menatap tajam namun tidak terlihat menakutkan malah terlihat menggemaskan.
__ADS_1
“Tidak, tidak boleh, karena panggilan itu tidak untuk sembarang orang,” jawab Selen langsung cepat. Dia tidak ingin selain keluarga dan Sienya memanggil Nana. “Mengapa? Mengapa Staunlaus yang bisa memanggilmu Nana?” tanya Anthony dengan nada sedikit cemburu.
Selen sedikit terkejut namun hanya bisa menatapnya bingung karena mencari jawabannya karena jujur saja dia memang binggung karena dia tidak langsung melarang pada saat Staunlaus tiba-tiba memanggilnya dengan sebutan Nana. Mengapa aku tidak melarang Staunlaus memanggilku dengan panggilan Nana dan apa dia mirip seperti Sie? Lalu dia berani bertanya mengapa? Yang boleh memanggil diriku Nana adalah keluargaku dan dia.
Selen masih diam mencari jawaban yang setidaknya tidak menyinggung Anthony. Dia tidak ingin mendapat masalah jika berhubungan dengan Anthony. Anthony yang melihat Selen berpikir memutuskan untuk menunggu jawaban dari Selen.
Dia tidak ingin jika jawaban dari Selen mengecewakannya sehingga akhirnya mendapatkan jawaban yan tepat dia memberi tahu kepada Anthony. “Aku tidak membiarkan memanggilnya dengan panggilanku yang lain namun karena dia terburu pulang sebelum aku melarangnya lalu alasan aku melarangmu memanggil dengan panggilan itu karena panggilanku dari keluargaku lalu aku memintamu kau memanggilku dengan sebutan Selena karena aku dan kamu belum dekat, Anthony,” ucapnya dengan nada dia sengaja lembutkan karena dia berharap Anthony mengerti.
Anthony yang mendengarkan nada suara gadis tersebut yang tiba-tiba lembut membuat dirinya senang. Apakah dia menerimaku, karena nada bicaranya lembut sekali? Anthony kemudian menggiyakan perkataan Selen dan dia senang jika rupanya Staunlaus, saingan terberatnya belum mendapatkan izin dari Selen dan sudah terburu pulang. “Baiklah aku mengerti kok dan caiklah untuk saat ini aku akan memanggilmu Selena,” ucapnya dengan mengalah.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Wahh tidak biasa Anthony mau mengalah. Ini mengalah demi gadis mungil dan menggemaskan.
Sorry Author gantung lagi nih…..
__ADS_1
Jangan lupa terus dukung Author dengan cara like setiap episode, beri bintang 5, vote, gif, share, subscribe dan commentnya ya. Author tunggu dukungan kalian karena sangat penting dalam kenaikan level Author. Jangan lupa dengan kesehatan mina-san dan semoga selalu sehat dalam melakukan aktivitas mina-san apa pun. Makasih banyak atas dukungan kalian.