
Desi dan Andhika bersekolah di salah satu SMA favorit di kota Medan. Desi adalah sahabat sekaligus junior Andhika di sekolah. Saat ini, Desi masih kelas X sementara Andhika sudah kelas XII.
Desi POV
Aku sangat bersyukur bisa diterima di sekolah X dan mendapatkan beasiswa. Aku bercita - cita ingin menjadi seorang dokter. Oleh karena itu, aku harus giat belajar dan pantang menyerah sampai gelar dokter tersebut bisa menempel pada namaku. Aku juga tidak ingin menyia - nyiakan kesempatan yang sudah diberikan karena banyak orang yang ingin bersekolah dan mendapatkan beasiswa. Aku mempunyai sahabat yang bernama Andhika. Dia itu orangnya baik, pintar, dan tidak pandang bulu mau berteman dengan siapa saja. Oleh karena itu, dia mau berteman denganku walaupun saya ini berasal dari keluarga yang kurang mampu. Ayahku sudah meninggal 11 tahun yang lalu yakni ketika usiaku 5 tahun. Saat itu, Ayah dalam perjalanan menuju tempat kerjanya namun di tengah perjalanan ayah mengalami kecelakaan dan takdir berkata lain ayahku tidak bisa diselamatkan. Semenjak kejadian tersebut ibu selalu membenci dan menuduhku penyebab dari kematian ayah.
Andhika POV
Aku mempunyai sahabat bernama Desi. Dia melanjutkan pendidikannya di sekolah yang sama denganku. Dia itu orangnya baik, rajin, dan punya semangat juang yang tinggi dalam menggapai cita - citanya. Aku berasal dari keluarga yang kaya dan terpandang. Namun, itu tidak menjadikanku sombong terhadap teman - temanku. Ayahku mempunyai perusahaan ternama yakni PT Sanjaya Grup dan ibuku mempunyai toko butik "Rara Collection". Aku juga mempunyai adik perempuan bernama Clara dan saat ini dia masih kelas 3 SMP. Ayahku selalu berharap kelak aku akan bisa menggantikan posisinya memimpin dan memajukan perusahaan dengan baik.
Di kantin sekolah
"Hai, Des" ! sapa Mita teman satu kelasnya (sambil duduk di sebelah Desi).
"Hai juga Mit" ! jawab Desi yang sedang asyik membaca buku.
"Tumben loh Des jam istirahat gini berada di kantin biasanyakan kamu di perpustakaan"
__ADS_1
"Iya nih Mit, soalnya tadi pagi aku tidak sempat sarapan" (kemudian menutup buku yang dibacanya).
"Kenapa Des ? apa kamu belum masak atau telat bangun" ? tanya Mita.
"Enggak kok Mit, aku hanya membantu ibuku menyelesaikan pekerjaan rumah sebelum berangkat ke sekolah tapi aku bawa bekal kok dari rumah" (sambil menunjukkan bekal yang dia bawa).
"Oh gitu, lain kali usahakan sarapan dulu Des, soalnya tidak baik kalau sering - sering tidak sarapan, kamu inikan calon dokter masa depan hehehe".
"Iya Mit, terima kasih atas sarannya ya".
"Oke Mit", jawab Desi.
Author POV
Setelah beberapa menit pesanan Mita pun datang dan mereka makan bersama. Tak lama kemudian bel pun berbunyi. Mereka akhirnya meninggalkan kantin dan masuk ke dalam kelas.
Di dalam kelas, mereka belajar materi yang paling ditakuti oleh hampir semua siswa apalagi kalau bukan mata pelajaran Fisika. Namun, itu tidak berlaku bagi Desi karena menurutnya semua mata pelajaran sama saja. Intinya harus sering membaca, bertanya, memahami, dan berlatih dengan membahas soal - soal karena semuanya butuh proses dan kerja keras.
__ADS_1
Setelah berpusing ria dengan mata pelajaran Fisika, tiba - tiba bel berbunyi pertanda berakhirnya mata pelajaran tersebut. Semua siswa merapikan tasnya masing - masing tak terkecuali Desi dan Mita untuk bersiap - siap pulang ke rumah karena bunyi bel yang tadi merupakan jadwal terakhir untuk kelas hari ini.
Di gerbang sekolah, Desi berjumpa dengan Andhika.
"Des, masih ada kegiatan" ? tanya Andhika.
"Ehh kak Dhika, enggak ada kak, kenapa" ?jawab Desi.
"Pulang bareng yok" ? tawar Andhika.
"Tidak usah kak nanti merepotkan".
"Enggak kok Des, lagian jalan ke rumah kita kan satu arah jadi tidak apa - apa".
Setelah Desi berfikir, "baiklah kak dan terima kasih atas tawarannya" (kemudian menaiki motor Andhika).
"Kamu ini kayak baru kenal aku saja, kita inikan sahabat jadi sudah sewajarnya saling membantu" (seraya melajukan motornya meninggalkan gerbang sekolah).
__ADS_1