
3 Minggu sudah berlalu sejak Desi bekerja di rumah makan tersebut, ia selalu bekerja dengan baik, disiplin waktu serta tidak pernah membuat kesalahan. Hari ini sejak berangkat dari rumah perasaannya selalu khawatir dan cemas sampai dengan sore hari ini. Ia selalu kepikiran dengan ibunya yang sedang sakit di rumah. Kemudian, ia menghampiri pak Raka di ruangannya untuk meminta izin pulang lebih awal.
"Permisi pak, boleh saya masuk ?" tanya Desi.
"Ohh iya silahkan" jawab pak Raka. "Ada apa Des ?" tanya pak Raka.
"Hmm begini pak, apa hari ini saya boleh izin pulang lebih awal" ? tanyanya dengan ragu - ragu.
"Kenapa ???" tanya pak Raka. "Kamu sakit ?" lanjutnya lagi.
"A..anu pak, tiba - tiba hari ini perasaan saya tidak enak selalu kepikiran sama ibu" jawab Desi sambil menundukkan kepalanya. Ia tidak berani menatap wajah pak Raka karena takut dimarahi akibat permintaannya hari ini.
Hening....pak Raka tidak menjawab.
"Saya mohon kasih saya izin pak minggu depan saya akan bekerja lebih lama untuk menggantikan jam kerja saya hari ini" lanjutnya lagi.
Setelah mempertimbangkan jawaban dari Desi, akhirnya ia memperbolehkan Desi untuk pulang lebih awal hari ini.
"Oke, hari ini saya perbolehkan kamu pulang lebih awal karena saya puas dengan kerja kerasmu selama 3 minggu bekerja disini. Saya juga akan memberikan gajimu hari ini mana tau kamu lagi membutuhkannya saat ini" ujar pak Raka.
__ADS_1
"Terima kasih pak atas kebaikan bapak" jawab Desi dengan mata yang berkaca - kaca sambil menerima uang yang diberikan oleh pak Raka.
"Saya permisi ya pak" lanjutnya lagi sambil membungkukkan badannya.
Sesampainya Desi di rumah, ia langsung menuju kamar. Namun, ia tidak menemukan ibunya. Perasaannya semakin tak menentu dan gelisah. Kemudian ia berjalan menuju dapur dan alangkah terkejutnya ia melihat pemandangan yang tidak mengenakkan hati ternyata ibunya sudah tergeletak disana dan di sekitar ibunya terdapat pecahan - pecahan kaca.
"Ibu, ibu kenapa ? bangun Bu jangan tinggalkan Desi" ujarnya dan seketika itu tangisnya pun pecah. Lalu ia memeriksa denyut nadi ibunya dan ternyata masih berdenyut. "Ibu harus bertahan ya" batinnya.
Kemudian, ia segera membawa ibunya ke rumah sakit untuk berobat.
Setibanya di rumah sakit ia pun berteriak minta tolong.
"Sus, tolong ibu saya" pintanya kepada salah seorang suster.
"Maaf dek, isi biodata dan lengkapi administrasi terlebih dahulu disini kita melayani pasien yang sudah sesuai dan mematuhi prosedur" kata sang suster.
"Tapi sus ibu saya harus segera ditolong" ujarnya.
Tiba - tiba ada seorang dokter yang melihat kejadian tersebut. Kemudian ia menghampiri keduanya.
__ADS_1
"Ada apa ini ?" tanya sang dokter.
"Begini dok, Adek ini ngotot supaya ibunya segera diobati padahal belum menjalankan prosedur di rumah sakit ini" jawab sang suster.
"Saya mohon dok, ibu saya sudah tidak sadarkan diri sejak saya bawa dari rumah" pintanya sambil menangis.
"Suster, silahkan bawa pasien langsung ke ruang ICU, masalah perlengkapan dan administrasi adalah hal belakangan, sekarang nyawa ibu ini lebih penting. Paham ??? perintah sang dokter dengan nada yang tegas.
"Baik dok " jawab sang suster sambil menganggukkan kepalanya.
"Terima kasih dok" ujar Desi.
"Sama - sama dek, kamu berdoa ya supaya ibumu tidak kenapa - napa" papar sang dokter. Kemudian meninggalkan Desi seraya menuju ruang ICU.
Satu jam kemudian, Dokter pun keluar dari ruangan ICU. Desi yang melihatnya pun segera menghampiri dokter tersebut untuk menanyakan keadaan ibunya.
"Gimana keadaan ibu saya dok ?" tanya Desi dengan rasa penasaran.
"Hmm, boleh kita bicara di ruangan saya ?" tanya dokter. "Ada yang perlu saya sampaikan kepadamu" lanjutnya lagi.
__ADS_1
"Boleh dok" jawabnya seraya bertanya - tanya dalam hati apa nanti yang akan disampaikan oleh sang dokter.