
"Assalamu'alaikum Bu" ! sapa Desi.
"Wa'alaikumussalam" ! jawab Mira ibunya Desi. "Tumben hari ini kamu pulang cepat" ? ucap ibunya dengan sinis.
"Iya Bu, tadi pulangnya naik motor bareng kak Dhika" ujarnya.
"Baguslah, sekarang cepat kamu cuci piring dan setrika baju yang kemarin".
"Baik Bu", jawab Desi (kemudian berjalan menuju dapur meninggalkan ibunya).
Selesai mencuci piring, kemudian ia menyetrika baju. Tiba - tiba terdengar suara ibunya berteriak memanggil namanya.
"Desi, cepat kesini" teriak ibunya.
Ia pun bergegas menghampiri ibunya. Sesampainya di depan ibunya, ia berkata : "iya Bu, ada apa" ? tanya Desi.
"ada apa ada apa" kata ibunya. "Kamu pura - pura lupa hah , ibukan tadi menyuruh kamu menyetrika baju ibu, nah sekarang mana bajunya" ? bentak ibunya.
"Iya Bu, itu lagi disetrika bajunya" jawab Desi (sambil menundukkan wajahnya karena tidak berani menatap wajah ibunya yang marah).
"Kamu itu kerjaannya selalu enggak becus dan lambat, dasar anak yang tidak berguna" sarkah ibunya.
__ADS_1
"Maafkan aku Bu, lain kali aku akan lebih cepat menyelesaikan pekerjaanku" jawab Desi dengan mata yang berkaca - kaca.
Tiba - tiba ibunya mencium aroma yang tidak sedap. "Bau apa ini" ? tanya ibunya. Seketika Desi teringat akan setrikaannya tadi yang sempat tertunda. Kemudian ia berlari dengan perasaan was - was. Sesampainya di tempat setrikaannya, ia melihat pemandangan yang memprihatinkan. Ternyata baju ibunya sudah bolong karena ia tadi lupa mematikan setrikaannya akibat terburu - buru.
Ibunya yang melihat Desi berlari jadi ikut penasaran. Lalu, ia pun mengikuti Desi. Sesampainya di tempat Desi yang sedang berdiri sambil menangis, kemudian pandangannya jatuh ke arah setrikaan yang sudah menimbulkan asap.
"Astaga, baju kesayanganku" kata ibunya.
"Maaf Bu, aku tidak sengaja" jawab Desi sambil menangis.
"Kamu ini ya benar - benar anak yang tidak tau diri, dasar pembawa sial" ujar ibunya.
"Kamu tau hah, baju itu adalah hadiah pemberian ayahmu di hari ulang tahun ibu dan sekarang kamu sudah merusaknya" jelas ibunya.
"Iya Bu" (seraya menganggukkan kepalanya) jawabnya sambil menangis.
Setelah ibunya pergi, Desi kembali menatap baju ibunya yang sudah ia rusak.
"Ayah maafkan aku. Aku sudah merusak hadiah pemberian ayah kepada ibu" batin Desi.
"Kenapa ayah pergi meninggalkanku secepat itu ? Apakah ayah sudah tidak sayang lagi kepadaku ? Apakah aku ini benar - benar anak pembawa sial ayah" ? lirih Desi.
__ADS_1
"Ayah tau semenjak ayah pergi ibu jadi berubah dan selalu menyalahkanku atas kepergian ayah" ratap Desi akan nasibnya yang sekarang ini.
Keesokan harinya, seperti biasa Desi harus menyelesaikan pekerjaan rumah sebelum berangkat ke sekolah. Hari ini ia tidak sarapan dan tidak membawa bekal ke sekolah karena hukuman yang diberikan oleh ibunya. Setelah pekerjaannya selesai, ia pun bersiap - siap untuk berangkat ke sekolah. Setelah beberapa menit, ia pun pamit kepada ibunya untuk pergi ke sekolah dengan berjalan kaki.
Di tengah perjalanan, ia berjumpa dengan Andhika. Andhika yang melihat Desi berjalan kaki ke sekolah kemudian menghentikan motornya tepat di samping Desi.
"Ayo Des berangkat bareng denganku" kata Andhika.
"Ehh tidak usah kak" jawab Desi.
"Loh, kok wajahmu pucat sekali Des ? Kamu sakit" ? tanya Andhika dengan tetap memandang dan memperhatikan wajah pucat Desi.
"Tidak apa - apa kak, mungkin hanya kelelahan saja" jawab Desi dengan nada bicara yang tidak semangat.
Tiba - tiba kepalanya pusing dan ia pun muntah. Andhika yang melihat hal tersebut, kemudian menepi dan turun dari motornya.
"Tidak apa - apa gimana Des ? wajahmu itu pucat dan sekarang kamu muntah" kata Andhika dengan nada yang khawatir.
"Kamu sudah sarapan" ? tanya Andhika sambil memberikan botol air minumnya.
"Belum kak" jawab Desi.
__ADS_1
"Kalau begitu ayo secepatnya kita pergi ke sekolah nanti kita sarapan di kantin sama - sama supaya perutmu itu tidak kosong dan punya tenaga untuk belajar hari ini" kata Andhika (sambil membantu Desi untuk menaiki motornya).