
Sebulan yang lalu Surya sudah dinyatakan sembuh dan ingatannya sudah pulih kembali. Ia ingin berterima kasih kepada seseorang yang berjasa dalam hal ini. Ia pun merencanakan sesuatu dan langsung pergi ke tempat yang ia maksud.
Setibanya di tempat tersebut, ia melihat Desi sedang berjalan bersama temannya menuju gerbang sekolah. Lalu, ia pun turun dari mobilnya dan menghampiri mereka.
"Hai Des !!!" sapanya.
"Hai juga kak" jawabnya.
"Oh iya kenalin kak ini temanku namanya Mita". Lalu, mereka berdua saling berjabat tangan.
"Surya" ujarnya sambil tersenyum.
"Mita" balasnya juga sambil tersenyum sedikit.
"Astaga senyumnya manis sekali" batin Mita.
"Kamu udah mau pulang atau masih ada kegiatan Des?" tanyanya.
"Sebenarnya ini udah mau pulang kak, kenapa ?"
"Hmm....aku mau ngajak kamu makan siang bareng, apa kamu keberatan ?"
Desi terdiam dan tidak menjawab pertanyaan Surya. Kemudian ia melirik Mita dan seketika Surya paham maksud Desi.
"Temanmu juga bisa ikut bareng kita kok"
"Oke kak" jawabnya. Kemudian mereka masuk ke dalam mobil.
"Sepertinya mereka sudah lama kenal tapi kenapa Desi tidak pernah cerita ya mengenai kak Surya" batinnya
__ADS_1
"Des, kamu punya banyak hutang yang harus kamu jelaskan samaku" ucapnya seraya berbisik - bisik.
"Hmm....nanti aku ceritakan" ujarnya dan langsung diangguki oleh Mita.
Di dalam mobil tiba - tiba Mita membisikkan sesuatu kepada Desi.
"Des aku gak kuat lagi nih" lirihnya.
"Lohh kamu kenapa Mit ?" tanyanya.
"Aku kayaknya bakalan sering masuk rumah sakit nih"
"Kok kamu ngomong gitu"
"Iya Des aku serius. Coba kamu lihat senyumnya itu aduhhhh manis sekali bisa - bisa aku kena penyakit diabetes nih" ujarnya sambil terus menatap wajah Surya melalui kaca mobil.
"Lahhh kirain tadi apa, kamu lebay banget sihh Mit" ujar Desi seraya menyenggol lengan Mita.
"Ngomong - ngomong dalam rangka apa nih kak kok tumben ngajak makan siang bareng ?" tanya Desi.
"Ehh tidak ada maksud apa-apa kok Des, ini hanya sebagai ucapan terima kasih saja karena kamu sudah membantuku untuk mengembalikan ingatanku. Apa ini terlalu biasa ya ? atau kamu mau jalan - jalan ke luar kota ?" tanyanya dengan nada yang sedikit cemas karena ia takut Desi kecewa akan hal ini.
"Ehh tidak - tidak kak, ini sudah lebih dari cukup kok. Harusnya ini juga tidak perlu kak, kita kan sudah jadi sahabat sudah seharusnya saling membantu".
"Emang mau jalan - jalan kemana kak ?" sahut Mita dengan spontan.
"Terserah kalian mau kemana aja, ke Malang juga boleh" saran Surya.
"Tidak usah kak, boleh kak" jawab mereka berbarengan.
__ADS_1
"Iyain aja Des biar aku bisa jalan - jalan juga" ujar Mita dengan berbisik - bisik.
"Tapi.....belum selesai bicara tiba - tiba Mita memotong pembicaraan Desi.
"Desi sudah setuju kak" ujar Mita.
"Oke, kapan nih kita berangkat ?"
"Senin depan gimana kak ? soalnya kan itu tanggal merah" ujarnya dengan antusias.
"Boleh - boleh" jawab Surya sambil menganggukkan kepalanya.
"Yesss.....(Mita bersorak ria dalam hatinya) sambil melirik Desi sedangkan Desi menggeleng - gelengkan kepalanya melihat tingkah Mita.
Pembicaraan mereka pun berhenti karena pesanan mereka sudah datang. Selama makan berlangsung mereka tidak ada obrolan apapun.
Saat ini Desi sudah sampai di depan rumah, ia pun mengetuk pintu dan mengucapkan salam.
"Assalamu'alaikum bu !"
Mira pun menjawab salam dari dalam sembari membuka pintu.
"Wa'alaikumussalam". Lalu, pintu pun terbuka. Desi segera mencium tangan ibunya.
"Maaf ya bu, Desi agak telat pulang soalnya tadi kak Surya ngajak makan siang bareng".
"Iya tidak apa apa sayang".
"Ibu sudah makan ?" tanya Desi.
__ADS_1
"Sudah sayang"
"Kalau begitu Desi ke kamar dulu ya bu mau ganti baju biar Desi langsung nyuci piring" ujarnya dan langsung diangguki oleh ibunya.