
Di kediaman Sanjaya
Saat ini mereka sedang makan malam bersama. Bagas dan istrinya merasa sangat senang makan malam hari ini karena semenjak Andhika kuliah di Jepang hal seperti ini sudah sangat jarang mereka lakukan. Selama makan malam berlangsung tidak ada yang membuka suaranya tapi hanya bunyi sendok yang seakan saling sahut - menyahut. Namun, sebelum makan malam berakhir tiba - tiba Andhika membuka suaranya.
"Dad, mom aku mau melamar Desi untuk menjadi istriku" ujarnya dengan tegas tanpa keraguan sedikitpun.
"Uhuukk.....uhuukkk" seketika mommy nya keselek mendengar berita yang mengejutkan ini. Bagas tersenyum mendengar ucapan putranya. Sementara Clara terbengong mendengarnya sampai sendoknya pun terjatuh di atas piring.
"Kamu sudah yakin son dengan keputusanmu ?" tanyanya.
"Sudah dad, aku sudah yakin dengan keputusanku karena sudah jauh - jauh hari aku memikirkannya. Apa daddy menyetujui keputusanku ?"
"Daddy akan menyetujuinya son asal kamu bahagia"
Andhika pun tersenyum mendengar jawaban daddy nya.
"Kamu gimana ma ?" tanya Bagas kepada istrinya.
"Mau gimana lagi pah itu sudah pilihan putra kita. Lagian mama juga sudah pengen menimang cucu" ujarnya sambil tersenyum.
"Terima kasih mom, Andhika janji akan memberikan mommy cucu yang banyak"
"Kalau kamu gimana sayang ?" ujar Bagas kepada Clara.
"Ngapain Clara ditanya juga dad, kan aku yang mau menikah, ia pasti setuju dengan pilihanku"
"Iya dad aku setuju kok" ujarnya sambil menganggukkan kepalanya.
"Kapan kamu mau melamarnya son ?"
"Besok dad" jawabnya.
Seketika Bagas tersenyum kembali melihat keseriusan putranya untuk membina rumah tangga.
"Apa tidak terlalu cepat kak ?"
"Tidak dek, itu sudah waktu yang tepat sebelum ada yang menikung kakak" ujarnya dengan semangat.
Keesokkan harinya
Sekitar pukul 1 siang mereka berangkat ke rumah Desi. Di dalam mobil Andhika merasa gugup untuk menghadapi proses lamaran ini.
"Santai saja son, semuanya pasti akan berjalan dengan lancar" ujar daddy nya.
"Semoga saja dad" jawab nya dengan penuh harap.
__ADS_1
Saat ini mobil mereka sudah berhenti di depan rumah Desi. Kemudian mereka turun dari mobil dan segera mengetuk pintu.
tok...tok...tok
"Assalamu'alaikum"
Mira yang mendengar suara pintu yang diketuk lalu menyuruh Desi untuk membukanya.
"Sayang tolong bukain pintunya" ujar Mira kepada putrinya.
"Ia bu" jawabnya. Lalu, Desi segera membuka pintu dan alangkah terkejutnya saat ia melihat orang - orang yang sedang berdiri saat ini. Apalagi ia melihat mereka mengenakan pakaian yang sangat rapi sehingga membuat ia terheran - heran ditambah lagi kedatangan Andhika yang tiba - tiba sudah di Indonesia.
"Maaf ya nak kedatangan kami kesini mengejutkanmu, apa ibumu ada di dalam ?" tanya pak Bagas.
Belum sempat Desi menjawab, tiba - tiba ibunya bertanya.
"Siapa sayang ?" ujarnya dari dalam rumah.
"Iya ada pak, silahkan masuk dulu" ucapnya dengan sopan.
Kemudian, mereka duduk dengan saling berhadap - hadapan.
Ibunya Desi juga terkejut melihat siapa yang datang ke rumahnya.
"Ada apa ya pak kok siang - siang begini datang kemari ?" tanya bu Mira dengan penasaran.
Jadi begini bu, maksud kedatangan kami kesini yaitu ingin melamar anak ibu untuk menjadi menantu kami".
Deg....deg.....deg
Jantung Desi seketika berdetak lebih cepat dari biasanya. Walaupun ia tau ini pasti akan terjadi tapi ia tidak menyangka akan secepat ini.
Sementara ibunya Desi juga terkejut dengan lamaran ini. Ia tidak menyangka putri semata wayangnya akan dipersunting oleh anak dari keluarga yang kaya raya.
Karena tidak ada jawaban dari Desi maupun ibunya lalu pak Bagas kembali bertanya.
"Bagaimana bu ?"
"Saya tidak tau mau berkata - kata apalagi pak, ini adalah kabar yang membahagiakan sekaligus mengejutkan bagi saya. Jadi, semua ini saya serahkan pada putri saya pak, ia yang berhak menentukan pilihannya, saya hanya bisa memberi restu dan doa untuk kebahagiaannya" ucapnya dengan mata yang sudah berkaca - kaca.
"Bagaimana nak Desi ?"
"Hmm....maaf pak saya gak bisa" ujarnya sambil menahan sesak di dadanya.
Mereka pun terkejut mendengar jawaban dari Desi.
__ADS_1
"Kenapa nak ?"
Desi pun terdiam, ia menundukkan kepalanya dan tidak berani menatap semua orang terlebih lebih pada Andhika.
"Maaf bu bisa saya bicara sebentar dengan Desi ?" tanya Andhika kepada ibunya Desi.
"Iya silahkan nak"
Kemudian mereka berdua pergi ke belakang rumah.
"Kenapa Des, apa alasanmu menolak lamaranku ?" tanyanya dengan nada yang frustasi.
Desi masih terdiam dan belum mau menjawab pertanyaan Andhika.
Flashback on
Saat ini Desi sedang berbelanja, ketika ia hendak pulang tiba - tiba ada seorang pria yang memakai topeng menodongkan pisau ke lehernya.
"Siapa kamu ?" ujar Desi dengan rasa takut.
"Kamu tidak perlu tau siapa aku yang jelas kamu harus menjauhi Andhika kalau tidak nyawanya akan terancam".
Desi tidak menjawab membuat pria tersebut geram.
"Kamu paham ? atau kamu ingin melihat jasadnya besok ?" ucapnya dengan nada yang membentak.
Seketika Desi menganggukkan kepalanya.
Flashback end
"Coba tatap mataku dan katakan kalau kamu menolak lamaranku dan tidak mencintaiku"
Namun lagi - lagi Desi tidak mampu mengatakannya karena sebenarnya ia juga sangat mencintai Andhika.
"Aku bisa melihat dari tatapanmu bahwa sebenarnya kamu juga mencintaiku. Percayalah padaku bahwa aku akan menjagamu dan membahagiakanmu"
Lalu Desi pun akhirnya menganggukkan kepalanya.
(Semoga saja kejadian yang tadi hanya ancaman semata) batinnya.
"Jadi, kamu menerima lamaranku ?"
tanyanya lagi memastikan.
"Iya kak"
__ADS_1
Akhirnya Andhika bisa bernafas dengan lega. Kemudian mereka kembali duduk bergabung dengan orangtua mereka.