
•••••
Di negara Jepang
Tak terasa sudah 3 bulan lebih Andhika berada di negara ini. Ia sudah sangat rindu kepada Indonesia, terutama rindu kepada seseorang yang sudah bersemayam dan mengisi hatinya. Ia sangat menyayangkan karena selama ia berada di negara ini ia belum pernah berkomunikasi sekalipun dengan Desi. Lain halnya dengan keluarganya, ia bisa berkomunikasi dan menyempatkan diri untuk selalu memberi dan menanyakan kabar mereka.
"Gimana kabarmu disana ? apa kamu juga merindukanku seperti aku yang merindukanmu dari sini ? apa ibumu masih bersikap kasar padamu ?" batinnya.
"Andai dulu kamu tidak melarangku untuk memberikannya kembali padamu pasti kita sudah bisa berkomunikasi saat ini" lanjutnya lagi.
Flashback on
"Kamu kenapa Des, kok nangis ?" tanya Andhika.
"Maafin aku kak, aku tidak bisa menjaga hadiah pemberian kakak dengan baik" ujarnya.
"Kenapa ? apa hp nya sudah rusak atau hilang ?" tanyanya lagi. Lalu, Desi menggelengkan kepalanya.
"Bukan kak, tapi hp nya sudah dijual ibu" ucapnya sambil terisak - isak.
"Sudah - sudah jangan nangis lagi, nanti kakak ganti dengan yang baru" ujarnya seraya menghapus air mata Desi.
"Tidak usah kak, aku takut nanti ibu tau dan ibu kembali menjualnya" imbuhnya.
"Ya sudah, kamu jangan nangis lagi ya. Kakak tidak marah kok" ucapnya seraya menenangkan Desi.
Flashback end
Di kediaman Permana
"Ibu, perempuan yang menolongku kemarin dimana ?" tanya Surya kepada ibunya.
"Ibu kurang tau sayang, nama dan tempat tinggalnya saja ibu tidak tau. Nanti coba kamu tanyakan pada ayahmu mungkin saja ia tau karena kemarin ayahmu sempat berbincang dengan orang tersebut sewaktu di rumah sakit" jelas ibunya dan langsung diangguki oleh Surya.
Kemudian Surya menghampiri ayahnya di belakang rumah yang sedang duduk santai sambil membaca koran.
__ADS_1
"Ayah, apa Surya mengganggu ayah ?" tanyanya (lalu duduk di samping ayahnya).
"Tidak nak, ada apa ?" jawab Rian.
"Ada yang mau Surya tanyakan pada ayah" ujarnya lagi.
"Mau nanya apa nak kelihatannya serius ?" jawab ayahnya.
"Ayah, apa ayah kenal dengan orang yang menolongku sewaktu kecelakaan ?" tanya Surya kepada ayahnya.
"Kenal nak namanya Desi, ia tinggal di jalan perintis kemerdekaan tapi alamat lengkapnya ayah kurang tau. Memangnya kenapa ?" ujar ayahnya.
"Hmm, aku mau berterima kasih kepadanya ayah karena sudah menolongku waktu itu".
"Kalau begitu besok kita kesana dan kita cari alamat rumahnya sama - sama" imbuh ayahnya.
"Oke ayah" jawabnya.
•••••
Saat ini jam menunjukkan pukul 09.30 WIB, Surya dan ayahnya sedang bersiap - siap untuk pergi mencari tempat tinggal Desi.
Di dalam perjalanan mereka bertanya pada orang - orang sekitar dan akhirnya setelah 1 jam berlalu mereka sampai di depan rumah Desi.
Assalamu'alaikum !!! ucap Surya berulang - ulang sampai 3 kali.
Mira yang mendengarnya pun segera menuju ke depan untuk membukakan pintu.
Wa'alaikumussalam !!! jawab Mira seraya membukakan pintu.
"Permisi bu, apa benar ini rumahnya Desi ?"
"Ahhh ya, benar ini rumahnya Desi dan saya Mira ibunya Desi. Ada perlu apa ya pak ?" ujar Mira.
" Begini Bu, kami kesini mau mencari Desi karena ia telah menolong anak saya dari kecelakaan 5 hari yang lalu bu. Anak saya ingin mengucapkan terima kasih secara langsung kepada anak ibu karena ia hanya mengingat orang yang menolongnya waktu itu" jelasnya.
__ADS_1
"Waduhh maaf ya pak, saat ini anak saya sedang tidak di rumah ia sekarang lagi kerja" ujar Mira. "Kalau begitu kita masuk ke dalam dulu pak biar lebih enak bicaranya" ucapnya seraya mempersilahkan mereka untuk masuk.
"Baik bu terima kasih" jawab Rian seraya menganggukkan kepalanya.
"Ngomong - ngomong nama bapak dan anaknya ini siapa ya ?" tanya Mira.
"Waduhhh maaf ya Bu sampai kelupaan" jawab Rian (sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal).
"Saya Rian dan ini anak saya namanya Surya bu" (sambil menjabat tangan Mira, begitu juga dengan Surya yang mencium tangan Mira dengan sopan).
"Kapan ibu bisa pulang dari rumah sakit ?" ujar Rian tiba - tiba.
"Lohhh kok pak Rian tau kalau saya sakit ?" tanya Mira penasaran.
"Apa jangan - jangan pak Rian yang membiayai operasi saya ?" tanyanya lagi.
"Iya bu, benar. Saya yang sudah membiayai operasi ibu" jawabnya.
"Terima kasih banyak ya pak padahal sebelumnya kita ini belum saling kenal tapi bapak sudah mau dan tidak segan - segan menolong saya padahal biaya operasinya itu sangat mahal" ujarnya dengan terharu.
"Iya bu, sama - sama. Saya juga ikhlas membantu ibu karena anak ibu juga sudah suka rela mau menolong anak saya waktu itu" ujarnya.
"Ohh iya pak Rian dan nak Surya mau minum apa ?" tanya Mira.
"Ehhhh tidak usah repot - repot bu, sebentar lagi kami mau pamit" ucap Rian.
"Maaf bu, kalau boleh tau anak ibu kerja dimana ?" tanya Surya.
"Desi kerja di sebuah rumah makan nak" ujarnya. "Kalau gak pak Rian dan nak Surya samperin kesana saja soalnya dia pulangnya malam" lanjutnya lagi seraya memberikan alamat tempat kerja Desi.
"Ohh iya bu, terima kasih banyak" ucap Surya.
"Kalau begitu kami pamit dulu ya bu"
"Iya sama - sama, hati - hati di jalan ya pak, nak Surya ujar Mira dan diangguki oleh keduanya.
__ADS_1