Masih Mencintai Mantan

Masih Mencintai Mantan
Episode 1: Patah Hati


__ADS_3

“Kamu yakin putus sama dia?” Tanya Adlin tidak percaya


“Iya, aku sudah gak bisa dengan sikap dia.” Jawab Nala


Tigatahun bukan waktu yang sebentar untuk sebuah hubungan, terlebih melalui lika-liku perjalanan yang tidak mudah, Nala bersedia mendampingi Roger merintis karir. Enam bulan berada di tempat yang sama, selebihnya LDR (Long Distance Relationship), tidak pernah sekalipun Nala menuntut agar memiliki jadwal rutin untuk pulang ataupun lainnya karena sang kekasih sedang berjuang untuk masa depan, begitulah keyakinannya.


“Hikssss...Hikssss..” Suara isak tangis Nala pecah, dia tidak bisa menahannya lagi, sesak di dadanya semakin terasa.


“Sini nangis di pundakku, Na!” Pinta Adlin


Pundak Adlin rapuh, ujian hidup yang dihadapinya bukan hal yang sederhana, namun dia selalu ingin menguatkan sahabatnya. Nala tenggelam dalam duka, sembari menangis sesenggukan, terlihat sekali bahwa perpisahan tersebut melukainya. Roger bukanlah pria yang sempurna, yang ada pada dirinya membuat nyaman, meskipun begitu ada sisi lain yang membuatnya tidak bisa mempertahankan hubungan. Saat bertengkar, tidak pernah sekalipun bermain fisik tetapi kalimat yang dikeluarkan cukup pahit. Tahun ketiga, saat karir Roger semakin naik, maka harus dimutasi di tempat lain, dengan senang hati Nala mendukung. Seiring waktu ada yang membuatnya gusar, memiliki feeling bahkan bermimpi kalau ada orang ketiga. Tidak ingin gegabah, berusaha mencari informasi, sayangnya nihil.


“Sudah nangisnya, dia tidak pantas ditangisi lama-lama!” Terlihat tekad Nala untuk mengakhiri kesedihannya, sebagai sahabatnya tentu mendukung tujuan baik tersebut.


***


Satu bulan berlalu dari perpisahan sebenarnya, Roger dan Nala sempat berpisah beberapa kali tapi kembali bersama karena perasaan mereka yang sulit untuk dihilangkan begitu saja. Matanya kadang masih terlihat sendu, meskipun terlihat bahagia, begitulah Nala yang pandai menutupi kekurangan dengan kelebihannya. Menyibukkan diri dengan segala aktifitas kampus, bahkan menjadi relawan kemanusiaan, baginya itulah hiburan untuk patah hati. Tidak jarang sengaja melelahkan diri agar malam tidak ada waktu untuk mengingat dan menangis, melainkan langsung tidur, walaupun tetap saja, memori yang menyakitkan muncul dalam mimpi. Nala terus bertanya pada dirinya sendiri, kenapa melupakan lebih sulit ketimbang untuk jatuh cinta?


“Nal, kamu harus bisa move on dari cowok itu!” Adlin mengirim chat beserta sebuah foto.


“Aku sudah tahu itu kok, dia yang dampingi mantan, pas proses sulit hubungan kita.” Respon Nala


“Pantesan, belum ada sebulan putus sudah upload saja ya.” Komentar Adlin yang mulai kesal, terlebih ada isu kalau orang ketiga muncul dari pihak Nala.


“Biarlah, sudah bukan urusanku, intinya apa yang jadi feelingku selama ini, kenyataan,


bukan khayalan.”

__ADS_1


“Harus bersyukur, karena Tuhan kasih petunjuk.” Sambung Nala.


Nala sudah enggan memperdulikan mantannya, bahkan terkesan mantan dan pacar barunya sengaja memanasi dengan cara upload foto. Tersiar kabar kalau Roger bak menjadi korban yang tersakiti, sedangkan pacar barunya bak pahlawan yang mendampingi saat Roger sulit. Memilih diam menjadi cara terbaik agar tidak menjadi runcing, lambat laun waktu yang membuktikan siapa yang salah dan benar. Namun, kadang merasa marah juga, bertahun-tahun membersamai, berakhir dengan tuduhan yang tidak pernah dilakukan, sempat marah dan membenci tindakannya karena sangat tidak dewasa mengakhiri hubungan. Pihak yang memutuskan memang Nala, karena di tahun ketiga saat Roger dimutasi tempat lain, mulai berubah, lebih kasar, dan senang memancing keributan. Bisa jadi, itulah upaya agar Nala yang mengakhiri hubungan karena dia sudah memiliki cadangan.


Prahara tahun ketiga tepatnya saat berusaha mengakhiri hubungan, Roger berusaha kembali entah dengan cara berjanji akan memperbaiki bahkan meminta Mamanya untuk berbicara pada Nala. Tapi, di tempat kerjanya dia dekat dengan perempuan lain, dan bilang kalau sudah putus hubungan dengan Nala, sedangkan si wanita tersebut yang lebih dulu manaruh hati pada Roger. Nala memahami segala alurnya setelah benar-benar berpisah, karena ada saja yang diam-diam menginfokan, licik sekali, rasa cintanya berubah menjadi rasa amarah. Tapi, tetap saja masih ada rasa cinta untuk sang mantan, meskipun begitu tidak ada niat sedikitpun untuk merusak hubungan sang mantan dengan pacar barunya.


Semakin hari, Nala semakin membaik, senang sekali Adlin melihat perkembangan itu, tidak ada mata yang sendu terlihat berbinar, mungkin sudah bisa berdamai dengan keadaan dan sudah bisa merelakan, hanya Nala yang tahu sebenarnya.


”Aku download aplikasi dating online loh, lin”


“Hah? Serius?” Adlin merasa tidak percaya dengan tindakan sahabatnya.


“Serius, ini aku sudah punya banyak kenalan, tapi belum ada yang nyangkut.” Tersirat


wajah kecewa


“Sejak kapan?” Adlin mengintrogasi karena masih tidak percaya dengan tindakan


“Dua minggu yang lalu!” Jawabnya tegas


Adlin yang masih tidak percaya terus mengintrogasi Nala, bahkan mengecek keningnya, bisa saja sahabatnya sedang tidak waras. Masih belum mengetahui motif sesungguhnya Nala, apakah cowok-cowok disekitarnya bukan lagi tipenya? Bagaimana kalau orang yang dikenal pada aplikasi online tersebut jahat?. Berbagai dugaan muncul di kepalanya hingga membuatnya pusing dan memutuskan untuk pergi makan. Bagaimana Nala? Tentu saja dengan wajah tidak berdosa, dia terus bercerita keseruannya sembari sibuk dengan ponsel karena membalas chat gebetan online. Tanpa sadar Adlin memijat kening yang baik-baik saja, sembari berdoa agar sahabatnya tidak gila karena patah hati.


“Na, ayo makan dulu, gebetannya suruh makan dulu disana!” Seru Adlin


“Ok, siap cabatku cayang!” Lebainya muncul lagi, bisa dibilang tandanya sedang


memiliki mood yang baik.

__ADS_1


“Ya Tuhan, tolong jangan biarkan dia gila.” Gumam Adlin


“Siapa yang gila?” Tanya Nala yang mendengar gumamannya


“Bukan siapa-siapa kok”


“Oh, ku kira kamu yang mau gila.” Celoteh Nala


“Gakkkk!”


Tanda-tanda yang ada pada Nala merupakan hal baik, berarti dirinya sudah pulih, karena kalau tidak sedih ya begitulah sikapnya, adakalanya membuat darah tinggi. Namun, sebagai sahabatnya masih tidak rela keputusan untuk dating online, lebih tepatnya karena khawatir kalau Nala menemukan orang yang jahat dan menyakitinya. Dugaan jahat lain muncul dipikiran Adlin, bisa jadi Nala balas dendam melalui gebetan online karena tidak mau melalui teman-teman laki-laki yang dikenal di dunia nyata.


Sebuah panggilan nomor yang tidak dikenal mengejutkan mereka berdua, setelah menelan kunyahan makanan, Nala mengangkat dengan santai.


“Halo, ini siapa ya?”


“Aku Lisa, pacarnya Roger.”


Mendengar jawaban diujung sebrang sana, wajah Nala pucat pasi, terlihat sangat terkejut, Namun dia berusaha untuk tetap tenang dan biasa saja.


“Oh, Lisa, ada perlu apa ya?”


“Mau pastiin hubungan kamu dengan Roger saja sih!”


“Sorry, aku sama dia sudah selesai, jadi sudah gak ada yang perlu dibahas lagi.” Nala mulai terlihat emosi, meskipun sudah berusaha tenang.


“Nah, justru ingin mastiin sekali lagi, Roger keliatan banget kalau masih sayang sama kamu.”

__ADS_1


Nala menarik nafas perlahan, berusaha mengatur emosinya agar tidak sampai marah, harus tetap tenang.


“Ok, kamu mau jawaban seperti apa?” Tanya Nala


__ADS_2