Masih Mencintai Mantan

Masih Mencintai Mantan
Episode 2: Cinta Lokasi Lisa dan Roger


__ADS_3

POV Lisa


Aku merasa kagum dengan sikapnya saat pertemuan pertama, Roger dengan lantang menyebut nama pasangannya ketika perkenalan formal, betapa beruntungnya wanita itu, aku tidak pernah mendapat perlakuan seperti itu. Suka pada pandangan pertama, mungkin ini yang ku rasakan saat ini, tapi dia sudah punya pasangan, maka biarlah aku menyimpan sendiri dan berusaha dekat dengannya sebagai teman kerja.


Semakin hari perasaan semakin merekah, terlebih saat kecerdasaannya semakin bersinar, sering kali mencuri pandang, meskipun tak jarang kecewa karena dia sedang berkomunikasi dengan kekasih yang jauh disana. Aku yang tidak pintar menyimpan perasaan, maka diketahui kalau ada rasa sehingga rekan kerja menjodoh-jodohkan setiap hari, itulah yang membuat percaya diri dan sepertinya Roger tidak terganggu. Semakin hari semakin dekat, berusaha selalu ada untuknya, termasuk saat bertengkar dengan kekasihnya.


Kita sering jalan bersama, makan bersama, kekasihnya tidak pernah tahu, belajar mengenal lebih dalam tentangnya, semakin terpesona dibuatnya. Dia laki-laki yang kesepian sedangkan aku wanita yan menyukainya, tidak salah untuk saling mengisi bukan? toh kekasihnya tidak bisa menemani disini, kekasihnya terlalu percaya pada Roger, kenapa tidak mencobanya? jadian resminya nanti setelah mereka putus.


Terlihat kebimbangan pada Roger, berpindah padaku atau tetap setia pada kekasihnya? tidak bisa memaksanya, tapi aku akan melaukan upaya yang terbaik agar dia memilihku. Aku yakin, akan menang darinya, kebimbangan itu membuatnya sensitif, mudah sekali emosi, termasuk ke kekasihnya, setiap hari menuduh macam-macam, saat mereka bertengkar maka aku hadir untuk menjadi penyejuknya.


 


                                                                                        ***


Entah bagaimana ceritanya mereka putus, betapa bahagianya aku, jadi kami bisa terang-terangan kan, aku akan pamerkan ke seluruh dunia kalau dia menjadi milikku, postingan foto di instagram Roger sudah terbit agar teman-temannya dan menyampaikan pada kekasihnya. Di kantor pun kami semakin berani menunjukkan hubungan istimewa yang dimiliki, dan teman-teman pun berpendapat kalau kami pasangan cocok.


Kebahagiaan sempat terganggu ketika aku menyadari kalau kekasih lamanya belum bisa dilupakan, terlihat sangat jelas masih menyayanginya dan aku seperti bayangan saja. Rasanya tidak pantas dia bersikap seperti itu, aku sekarang sudah menjadi kekasihnya, dia milikku dan hatinya hanya untukku. Roger bersikap kasar secara verbal, tapi hati sudah terlanjur untuknya, pasti suatu hari nanti dia berubah menjadi hangat seperti sebelum jadian. Selamanya harus menjadi milikku, bagaimanapun caranya, maka aku menantangnya untuk melamar ke orangtua kalau benar-benar serius dan untuk membuktikan kalau sudah tidak mencintai mantannya.


Dia melakukan apa yang ku inginkan, berencana untuk segera lamaran, dan menikah. Tapi, semakin hari makin terlihat jelas kalau belum melupakan mantan, bahkan tidak jarang salah memanggil nama dan menuntutku untuk seperti mantannya. Sempat terbesit kalau perlakuannya terhadapku adalah perlakuan terhadap mantannya sebelum berpisah. Sering sekali bertengkar membahas mantannya, dia terkesan membela mantannya, meskipun tidak ada jejak komunikasi setelah putus, masih belum tenang rasanya.


Aku menantangnya untuk memberi nomor handphone mantan, ternyata dia masih menyimpan, menyakitkan. Mengumpulkan segenap kekuatan untuk memberanikan diri menghubungi mantan, memastikan bahwa hubungan mereka sudah selesai. Ragu dan takut sempat menghinggapi, tapi itu yang harus dilakukan. Terdengar suara lembut menjawab panggilan, suara lembut disebrang sana, aku akui baru merespon seperti itu terdengar menyejukkan.


"Ok, kamu mau jawaban seperti apa?" Tanya Nala yang membuatku seketika terdiam.


"Kalau masih sayang yaudah sana kalian, daripada dibelakangku ada apa-apa."  Lisan terkesan rela, tapi hati tidak rela kalau jawabannya masih mencintai Roger.


"Tidak, semuanya sudah selesai, kalian fokus saja dengan hubungan kalian, bahkan kalaupun dai memiliki janji, aku sudah mengihklaskannya." Jawabannya membuatku merasa bersalah, dia wanita yang baik hati, harusnya dia maki-maki.

__ADS_1


"Kita sudah dewasa, gak perlu bertengkar karena masalah ini, lebih baik berteman, kamu bisa tanya tentang dia yang ingin diketahui." Sambungnya lagi


"Kamu mau ngobrol sama Roger?" Aku yang sudah kehabisan kata-kata


"Boleh!" Responnya, berat hati memberikan handphone ke Roger.


Mendengar mereka berbincang memang terkesan biasa saja, seolah tidak ada pihak yang menyakiti atau disakiti, bahkan mendengar kalau Nala berpesan agar bertanggung jawab sampai akhir dengan keputusannya memilihku, berpesan agar tidak menyakitiku, mata Roger berkaca-kaca, air mata siap tumpah.


"Aku yakin, kita tidak mudah melalui ini kan? kamu sulit, akupun sulit, kita sama-sama sakit. Aku yang mengakhiri hubungan dan kamu memilihnya, tidak peduli bagaimana kisahnya awal mulanya, kita harus bisa bertanggung jawab."


"Kenapa kamu pergi dari aku?" Tanya Roger dengan gemetar.


"Kamu pasti tahu jawabannya, Roger!"


"Maaf, kalau selama jadi pasangan aku banyak salah dan kurang sempurna" Sambung Nala.


"Kita aja yang temenan ya, jangan sama Roger juga." Kalimat itu hanya basa-basi menutupi kecemburuan, perempuan mana yang rela bersahabat dengan mantan kekasih pacarnya? tidak ada.


"Iya, gak apa-apa, gimana baiknya saja." Responnya masih lembut, hal ini membuatku semakin merasa kecil.


"Aku dengan dia sudah tiga tahun, jangan paksa dia melupakan karena semakin membuatnya ingat, tapi cobalah ciptakan momen-momen baru sehingga momen lama tertimbun" Sarannya padaku.


"Terimakasih ya."


Aku tahu kenapa Roger sangat mencintai Nala, sangat sadar bahwa diriku tak akan bisa menjadi sebaik Nala. Awalnya kalau menjadi seperti Nala maka Roger akan bisa mencintaiku sepenuhnya, tapi ternyata salah, karena tidak akan mampu menjadi sepertinya, bahkan di situasi yang dimana sebelumnya kita sering menyakitinya, dia masih bisa untuk tidak marah ataupun memaki-maki.


"Kita harus bertanggung jawab, Lisa!" Suara Roger mengejutkanku

__ADS_1


"Aku kasar padanya, memancingnya bertengkar karena bingung diantara kalian, aku tidak bisa memutuskannya, karena sangat mencintainya, tapi kita telah mengkhianatinya." Air mata Roger mengalir deras.


"Iya." Jawabku singkat.


Pikiran terasa kalut, sepertinya salah langkap menghubungi mantan kekasihnya, ternyata membuatku tidak percaya diri setelahnya. Aku akan buktikan pada dunia kalau bisa memiliki seutunya, Roger akan menikahiku, aku akan memberikan yang tidak bisa Nala berikan, termasuk kehormatanku.


                                                                                ***


Weekend waktunya jalan-jalan ke pusat kota yang sekitar tiga jam dari tempat kerja, sengaja ku booking hotel tanpa sepengetahuannya untuk tempat menginap, sebagai kebahagiaan karena sudah jadian, tidak lupa menyiapkan lat pengaman pria karena jangan sampai hamil sebelum waktunya.


Seharian jalan-jalan, tubuh terasa lelah, terlihat dia mulai bahagia denganku, benar yang dibilang Nala untuk menciptakan momen baru. Aku bilang kalau mampir saja hotel untuk istirahat sejenak, baru melanjutkan perjalanan pulang, tanpa curiga dia mengiyakan.


Sesampainya di kamar hotel dia terkejut karena dekorasi kamar yang seperti untuk honeymoon, aku bilang saja kalau itu bonus, padahal sesungguhnya aku sendiri yang memesannya. Agar tidak terlihat merencanakan ini maka harus berekspresi pura-pura tidak tahu, sembari menyodorkan minuman dan melihat pemandangan sore hari. Perlahan ku genggam tangannya, memeluk, membisikkan kalimat cinta, dan menatapnya. Tanpa sadar kedua bibir bersambut, suasana seketika memanas, dan aku mengiyakan untuk melakukan lebih jauh. Tubuh didorongnya ke arah ranjang, bergulat mesra hingga pakaian terlepas semua.


"Kamu, mau melakukannya?" Roger membisikkan perlahan di telinga


"Iya!" Responku


"Baiklah, kalau kamu mau melakukannya" Roger penuh gairah


Setiap detik yang dilalui terasa nikmat, aku merasa menang, maka tidak akan ku sia-siakan untuk menyenangkannya. Tidak peduli seprai, selimut, bantal, dan guling berantakan, semakin memanas gairah yang ada. Terlihat Roger sudah mencapai puncaknya.


"Nalaaaaaa!" Teriaknya yang membuatku ingin marah, tapi harus bersabar.


Aku peluk erat kemudian menatap matanya, menunjukkan kalau dia melakukannya denganku. Roger tersadar dan meminta maaf.


"Kamu pintar sekali, Lisa! aku merasa nikmat" Ucap Roger sebelum terlelap, dan aku baru tersadar kalau Roger tidak menggunakan pengaman. Berusaha tetap tenang, melihat kalender menstruasi, ternyata bukan masa subur. Roger, inilah momen baru untukmu agar momen lama terkubur, aku yakin Nala tidak memberi momen ini.

__ADS_1


__ADS_2