Masih Mencintai Mantan

Masih Mencintai Mantan
Kehamilan Pertama Nala


__ADS_3

Nala sudah mulai tahan banting dengan sikap Rose, dia menganggap kalu Rose sedang tidak waras sehingga tidak perlu meladeninya saat membuat masalah. Meskipun sebenarnya Rose tinggal di Jakarta, dia sering ikut suaminya saat melakukan perjalanan bisnis, itulah yang menyebabkan dimana-mana ada dia, termasuk saat sumainya melebarkan sayap di Yogyakarta. Baginya yang terpenting adalah bagaimana sikap Rein, sejauh ini dia tidak pernah tertarik, yang ada merasa jijik dengan sikapnya, terlebih saat difitnah kalau Rein mengajaknya check in di hotel, semua tuduhan bisa ditepis seketika kerena pada hari yang dituduhkan, Rein sedang bersama Agung dan Nala. Agung sudah pusing sekali dengan sikap Rose yang makin liar, tidak seperti awal pernikahan, makin kesini hobinya menghambur-hamburkan uang. Agung sudah berencana untuk menceraikan Rose, tapi berpikir ulang karena sudah memiliki anak.


"Sayangg...!"


"Heii, wangi amat, mau kemana?"


"Di rumah saja sayangku, lagi pengen ikutan kamu yang selalu rapih dan wangi"


"Dasar gombal"


Perlahan tapi pasti, semakin hari semakin merasakan kebahagiaan yang bertambah setelah menikah dengan Rein. Walaupun saat menikah dia belum mencintai sepenuhnya, kini semakin hari semakin mencintainya, tentu saja bukan tidak mungkin kalau bisa sepenuhnya mencintai Rein. Banyak sikap yang mengagumkan ada pada Rein, hingga dia tidak habis pikir kenapa bisa ditinggalkan oleh kekasihnya dulu, mungkin karena sikapnya yang selalu baik, tidak pernah marah sehingga tidak ada yang menantang alias monoton karen abegitu-begitu saja. Nala pun bingung kebaikan apa yang telah dilakukan sehingga bisa berjodoh dengan Rein.


Rein menatap isterinya yang sedang menonton drama korea, masih tidak percaya bisa menikahi wanita yang bernama Nala, dia jadi ingat perkataan seorang teman yang telah tiada, kalau Rein akan dipertemukan dengan seorang wanita asing dalam hidupnya, tapi akan langsung jatuh cinta saat pertama melihatnya, wanita yang akan menjadi pelabuhan terakhir dalam pencarian cinta sejati, wanita yang akan diajak berlayar dalam samudera kehidupan. Tanpa sadar air matanya menetes karena terharu, Tuhan telah membuatnya patah hati yang besar, tapi ternyata patah hati tersebut sebagai perantara untuk bertemu cinta sejatinya. Mengenai hobi Nala yang gemar menonton drama korea, baginya tidaj masalah sepanjang bisa mengatur waktu, sejauh ini Nala melakukannya. Biasanya dia menonton drama korea yang tengah berlangsung, sekitar satu jam yang tayang dua kali dalam seminggu, ada juga yang sekali. Rein pun sedikit demi sedikit diracuni untuk menonton drama korea, tujuannya agar Nala ada teman menonton.

__ADS_1


"Sayang nangis?"


"Mana ada cowok keren nangis, ini faktor nguap karena ngantuk"


"Helehh terus yang nangis saat akad nikah itu siapa? jin?"


"Itu terharu sayang"


"Yasuah kalau begitu aya nonton nonton drakor"


"Ayo, gak usah malu-malu"


***

__ADS_1


Pagi yang sangat cerah, kicauan burung terdengar nyaring, udara terasa sejuk. Rein melihat kalau Nala masih tertidur pulas, tumben sekali karena biasanya dia sudah bangun dan menyiapkan sarapan. Diusap kepalanya sembari mengucapkan selamat pagi, hal yang tidak pernah terlewatkan. Tentu Nala selalu merespon meskipun dengan mata yang masih terpejam, atau membuka mata kemudian kembali melanjutkan tidurnya. Rein merasa kalau kening Nala panas tidak seperti biasanya, dipegang bagian tubuh lainnya ternyata sama, alhasil dia membangunkannya untuk diberi obat. Pertama kalinya melihat Nala sakit, tentu dia panik bukan main, segera menghubungi ibu mertuanya, ibunya meminta supaya Nala dibawa ke dokter kandungan kalau demamnya sudah sembuh.


Rein dengan polosnya bertanya tujuan ke dokter kandungan padahal isterinya kan demam, ibu mertuanya merespon kalau kemungkinan Nala hamil. Mendengar tersebut, bahagia sekali yang dirasakannya, masih tidak percaya kalau memang itu kenyataan, dia akan menjadi seorang Ayah, hal yang sangat diimpikan sejak muda. Rein mengikuti arahan ibu mertuanya untuk merawat Nala, sangat telaten sekali, Nala yang melihatnya pun berterimakasih dan memohon maaf kalau menyusahkannya. Tiba-tiba saja Nala muntah, semua makanan yang sudah dimakan keluar tanpa sisa. Sebagai suami tidak marah isterinya muntah tidak pada tempatnya, dengan sabar membersihkan bekas muntahan tersebut, dan mengganti pakaian Nala yang terkena muntah.


Keadaan Nala makin membaik, demamnya sudah turun dan sudah tidak muntah-muntah lagi. Waktu sudah menunjukkan tengah hari, saatnya makan siang, Rein mempersiapkan makan siang untuk dirinya dan Nala.Baginya masak itu mudah maka tidak khawatir kalau Nala tidak masak. Rein menyuapi Nala, dia memakan dengan lahap seolah balas dendam karena saat pagi tidak bisa makan smaa sekali, tentu saja hal tersebut membuat Rein senang, bukan kerena masakannya dimakan tapi demi kesehatan Nala. Rein mengutarakan saran ibu mertua untuk membawa Nala ke dokter kandungan karena kemungkinan hamil, tentu saja Nala menyanggupi, tapi sebelumnya mencoba untuk melihat hasil di testpack.


Rein bergegas menghampiri Nala, beberapa merek testpack dibelinya, Rein ingin hasil yang akurat. Nala tidak banyak bicara dengan kagum atas sikap suaminya yang membeli lima testpack, dia pun melangkahkan kaki ke kamar mandi sembari menahan tawa. Merasa deg-deg an menunggu hasil, Rein banyak berdo'a, dan ternyata semua testpack menujukkan garis dua, segera memeluk erat Nala, sedangkan Nala bingung apakah dia harus senang atau sedih karena tidak bisa menafsirkannya. Segera mengajak Nala untuk memastikan langsung ke dokter kandungan, agar membuatnya lebih percaya lagi.


***


"Wahhh selamat ya Pak, Bu"


"Terimakasih dokter!"

__ADS_1


Setelah serangkaian proses pemeriksaan, hingga diakhiri dengan USG, janinnya sudah terlihat, ternyata sudah berusia delapan minggu. Rein pun terharu begitu juga dengan Nala, dia masih tidak percaya kalau dirinya sedang hamil. Meskipun begitu mereka bahagia karena ini adalah anugerah yang terindah, anak yang dikandungnya akan memberikan warna lain dalam rumah tangganya, Tuhan tidak memberi sesuatu tanpa tujuan, bahkan saat Tuhan memberi ujian pasti ada tujuannya. Segera dia memberi kabar kepada orangtua, mertua, dan keluarga, mereka pun turut bahagia, mendukung, dan mendo'akan yang terbaik. Dokter pun menenangkan Nala dan Rein, wajar kalau pagi hari mengalami morning sickness atau mual-mual, suami wajib mendukung isterinya, karena bisa dibilang trimester pertama masa-masa yang sulit untuk awal kehamilan, setiap orang hamil mengalami hal yang berbeda-beda.


Rein tentu saja menyanggupi apa yang disarankan dokter, dia pun mulai membeli apa yang dibutuhkan untuk keperluan saat hamil muda, seperti bahan makanan yang bergizi. Merawat isteri yang sedang hamil adalah tanggung jawab suami, isteri sudah sulit dengan yang di kandungannya, suami tidak bisa merasakan itu, oleh karena itu suami wajib berperan semaksimal mungkin, itulah prinsip yang Rein miliki selama ini, bahkan dia tanamkan sejak sebelum nikah, bagaimana kelak memperlakukan isterinya.


__ADS_2