Masih Mencintai Mantan

Masih Mencintai Mantan
Istana Baru


__ADS_3

Setelah pristiwa hadirnya Lisa dan Roger pada hari spesialnya tentu membuat Nala kesal, meskipun dia tidak menampakkannya, Rein berusaha menghibur, dan meyakinkan bahwa semuanya pasti baik-baik saja, dia akan melindungi Nala hingga akhir hayat.


"Bang, maaf ya atas pristiwa kemarin"


"Gak apa-apa, sayang, santai saja!"


"Aku memang sempat sulit membuang rasa, tapi kehadiran abang bikin aku sadar kalau hidup itu penuh kejutan"


"Sayang, Abang mencintai kamu tulus, tidak apa-apa kamu belum mencintai Abang, itu tugas abang buat isteri jatuh cinta, hehe"


Nala dan Rio yang membantu pindah rumah tidak sengaja melihat mereka berpelukan, tentu menjadi sasaran empuk candaan keduanya. Nala pun tidak mau kalah, maka dia mengutarakan kecurigaan kalau Adlin dan Rio punya hubungan spesial lebih dari teman. Adlin dan Rio malu-malu, muka mereka merah merona.


"Mas ipar, aku sebagai adik ipar mendukungmu!" Ledek Rein.


"Aku sebagai calon adik ipar, mendukungmu!" Nala menggoda Adlin.


Mereka tertawa bersama, untuk pertama kalinya Rio bisa tertawa lepas, jatuh cinta memang bisa mengubah seseorang. Meskipun selama ini mereka saling menahan diri dan saling menjaga hati, pada akhirnya jika Tuhan takdirkan sebagai jodoh maka selalu ada jalan untuk bersatu. Tiga tahun bukanlah waktu yang sebentar untuk memendam rasa, bahkan orang terdekatnya pun tidak menyadarinya.


Pindahan berjalan dengan lancar karena memang hanya membawa barang-barang pribadi saja, Rein sudah menyiapkan segala isi rumah yang diperlukan. Rumah yang terkesan lega karena tidak kecil tidak juga terlalu besar, disertai pekarangan yang lumayan luas dan asri, Nala baru tahu kalau Rein sudah mempersiapkan rumah ini sejak satu tahun yang lalu, setelah perkenalan dengan orangtua masing-masing, oleh karena itu wajar kalau semuanya sudah rapi.


Adlin dan Rio sudah pamit untuk pulang karena ada pekerjaan, Nala banyak diam karena dia masih tidak percaya akan tinggal dengan pria ini. Bahkan saat malam pertama, Nala tidak tidur semalaman, baginya asing ada orang lain apalagi pria yang tidur disebelahnya. Dia ingat saat pagi hari dengan jejak begadang di matanya, sang tante meledek begadang karena memadu kasih saat malam pertama, tidak tahu saja bagaimana sebenarnya, Rein pun malah menanggapi tante.


"Manteplah, tante!" Ujar Rein


"Situ yang mantep bisa tidur nyenyak, lah aku??" Gumannya dalam hati.


Rein melihat Nala sedang termenung dengan pandangan kearah kolam renang, sebagai suami yang ingin belajar peka dan siaga maka dia mengambilkan baju renang, dengan percaya diri menyerahkannya pada Nala, tentu itu membuatnya terkejut.


"Kamu kenapa?" Tanya Nala polos.


"Kamu mau renang kan? abang liat kamu terus menatap kolam"


"Ya Tuhan, aku sedang melamun hal lain"


"Salah deh!"

__ADS_1


"Hehehe, gak apa-apa kan Abang lagi belajar"


Rein yang selama ini percaya diri bisa mengenal Nala, nyatanya zonk setelah nikah. Seolah memulai semuanya dari nol, dia tertawa sembari bertekad untuk belajar lebih mengenal Nala. Ada benarnya yang dikatakan orang kalau kita akan benar-benar tahu seseorang luar dalam setelah nikah. Nala tidak mempermasalahkannya kesalahan Rein, baginya wajar yang terpenting adalah dia menghargai upayanya.


Nala masih berkeliling rumah untuk mengamati setiap sudutnya, Rein berusaha menjelaskan serinci-rincinya, sejauh itu Nala menunjukkan antusias yang luar biasa, semua yang ada di rumah adalah desain Rein sendiri, dia tidak menyia-nyiakan ilmu kuliahnya. Dia akan mengupayakan yang terbaik untuk isterinya, termasuk menyediakan istana yang nyaman, meskipun bangunan ini tidak sebesar istana dalam dongeng. Sejak awal mempersiapkan rumah Rein banyak berdiskusi dengan Nala, Nala tidak menyadarinya karena menganggap itu untuk klien Rein. Maka tidak heran kalau konsepnya banyak yang disukai oleh Nala, bagi Nala rumah yang nyaman yakni terlihat asri dengan halaman yang tidak sempit, jendela dan pintu yang besar untuk menghemat listrik.


"Aku sediakan AC kalau kamu butuh yang lebih dingin, tapi sejauh ini tanpa AC sudah terasa dingin"


"Kalau gitu AC nya jual saja"


"Untuk apa?"


"Beli cabe, hahaha"


"Idihh, suamimu masih mampu ya beli cebe"


"Lima ribu"


"Hhahahahahhahahaha"


"Sayang, Abang harus melaksanakan kewajiban ke kamu"


"Kewajiban apa?"


"Memberimu nafkah batin dong!"


Mendengar pernyataan Rein, wajah Nala pucat pasi, dan terdiam seolah belum siap untuk menerimanya, tapi bukankah itu jadi kewajibannya.


"Gak boleh nolak loh!"


"Yaudah gak apa-apa, bang!"


"Hahahaha"


Nala bingung kenapa Rein malah tertawa, ada yang lucu atau memang dia tiba-tiba meras atidak tertariklagi dengan Nala. Nala diam saja, tidak ada sepatah kata yang keluar dari mulutnya, Rein masih fokus pada gadgetnya, pikiran Nala makin menjadi, termasuk berburuk sangka kalau Rein sedang berkomunikasi dengan perempuan lain yang dicintainya juga. Nala melirik tajam, seolah kepalanya penuh api, kemudian segera tersadar, dan tersenyum manis penuh getir.

__ADS_1


"Abang bercanda, sayang!" Ucap Rein.


"Abang pasti melakukannya disaat kamu sudah siap" Sambungnya lagi.


"Oh, ini rekan Abang, cowok kok bukan cewek" Rein menkonfirmasi kecurigaan Nala.


"Emangnya Abang tau kalau Nala curiga?" Tanya Nala polos.


"Tau dong, kamu belum cinta Abang tapi kamu cemburu" Jawab Rein.


Nala tersipu malu, sebenarnya sejak kemarin dia sudah mulai mencintai Rein, tapi gengsi untuk mengatakan jujur. Satu tahun mengenal, banyak hal yang membuatnya kagum, saat memutuskan menerima ajakan menikah Nala belum mencintainya, tapi entah kenapa dia yakin kalau Rein yang terbaik untuknya. Sikap dan keperibadiannya membuat Nala terpesona, pun kerja kerasnya untuk mencapai sesuatu, akan tetapi tidak sedikit pun dia mengabaikan Nala.


Istana ini akan menjadi awal perjalanan dalam berumah tangga, disinilah keluarga kecil itu akan dibangun, awalnya berdua kemudian hadir malaikat-malaikat kecil yang akan menemani perjalanan panjang mereka. Nala paham kalau tidak selamanya berada disana, suatu hari dia harus siap menemani Rein keluar negeri untuk melanjutkan pendidikan dan mencoba membuka bisnis disana.


***


"Sayang masak apa?" Tanya Rein.


"Masak mi goreng, gak apa-apa ya bang malam ini makan ini"


"Gak apa-apa sayang, kita harus bersyukur dengan yang ada"


"Di kulkas gak ada bahan untuk dimasak selain dua bungkus mie"


"Ya Tuhan, Abang lupa belanja, sayang!"


"Gak apa-apa, bang, besok kita belanja"


"Bang, kenapa taruh mie instant di freezer?"


"Ohh, hmm, mm, niatnya buat renyah karena kadang Abang makan mentah, macam anak-anak dulu"


"Oh begitu"


Aib Rein satu persatu mulai terbongkar, sekarang Rein yang merasa malu dan tidak enak dengan Nala. Rein mengajak untuk makan diluar tapi Nala enggan karena memilih makan mie goreng saja. Rein pun mengiyakan, sembari berguman dalam hati "Suami macam apa aku ini".

__ADS_1


__ADS_2