
Suara irama lagu romantis terdengar seantero kafe, baru sadar kalau Rein memilih kafe yang lucu dan unik, berhubung pikirannya sedang kemana-kemana sehingga tidak fokus. Berhari-hari Nala berpikir tentang pelampiasaan atau murni keinginan hatinya, hingga akhirnya dia menemukan alasan kalau sesungguhnya keinginan hatinya. Rein adalah pria yang baik, jadi apa salahnya mencoba menjalin hubungan dengannya, siapa tahu Rein adalah jodoh yang Tuhan berikan, maka Nala mantap menerima Rein meskipun belum lama kenal. Nala melihat kesungguhan hati Rein, semuanya tidaklah mudah karena pasti butuh penyesuaian terlebih hati yang belum sembuh.
"Kamu kenapa diam?" Tanya Rein khawatir.
"Sedang berpikir" Jawabnya lesu.
"Kita"
"Kenapa dengan kita, sayang?"
"Pilihan kita tepat? apa kita saling menjadikan oranglain pelampiasan?"
"Terserah kalau kamu mau menjadikanku pelampiasan, tapi aku gak gitu ke kamu."
"Entah kenapa awal ketemu udah suka, sulit dijelaskan!"
"Mungkin karena kamu jarang ketemu perempuan" Respon Nala ketus.
"Hei, sering di kafeku, banyak ya cewek-cewek yang dateng tiap hari, tapi aku gak tertarik" Sanggah Rein.
"Kalau aku nanti beneran suka kamu, kamu gak boleh ke kafe sendirian, gak usah sok kegantengan!"
"Iyaaa, sayang!"
Nala masih terlihat kesal karena belum menemukan jawaban terkaita benar tidaknya pilihan yang dibuatnya. Dia sempat mendiskusikan dengan Adlin, responnya terserah saja karena yang menjalani adalah Nala dan Rein. Jawaban yang sama pun didapat saat bertanya pada orangtua.
"Minggu depan Ayah dan Bunda mau ketemu kamu" Ucap Rein setelah mengecek pesandi Handphone nya.
"Hahhh, secepat itu?"
"Mereka cuma ingin kenalan dengan wanita yang berhasil mengambil hati anak laki-lakinya, sampe ikut ke daerah asalnya, hehe"
__ADS_1
"Kan, kamu sih berulah"
"Kalau gitu, sekalian ketemu Mama juga" Usul Nala, ide yang tiba-tiba muncul di kepalanya.
"Ide bagus, kan selama ini kamu ngumpetin aku" Sambung Rein.
"Jangan lupa balik ke asal, nanti kafemu bangkrut!"
"Aku mau bikin kos-kos an disini, kafe biar anak buah yang urus"
"Ehhh...!!" Nala tidak mampu berkata-kata lagi dengan tingkah Rein.
Rein memang sudah membidik Yogyakarta sejak lama untuk mengembangkan bisnis berikutnya, mengingat potensi yang lumayan sebagai kota pelajar dan salah satu daerah tujuan wisata. Bisnisnya masih seputar property karena itu passion utamanya. Rencana yang awalnya hanya sekedar bisnis ternyata mendapat bonus, dipertemukannya dengan seorang wanita yang telah mengubah dunianya. Hidup ynag sebelumnya terasa hambar, sudah mulai pulih dan makin bersemangat untuk bekerja dan berkarya.
***
Hari yang dinantikan tiba, pertemuan antar orangtua, Nala sempat merasa khawatir kalau dirinya tidak diterima. Semalaman menjelang esok, dia tidak bisa tidur sama sekali, alhasil Adlin yang menemaninya ikut begadang sampai pagi. Mereka mengisi waktu malam dengan menonton drama korea, awalnya bergenre romance tapi ganti menjadi bergenre kriminal.
"Ih kamu tuh besok mau ketemu camer, yang romantis kek, ini malah kriminal gini"
"Baik-baik ya temenku sayang, nanti kalau ku tinggal merantau, kamu kangen loh!" Goda Nala.
"Kamu, hiksss, ninggalin aku secepet ini sih" Protes Adlin
"Gak sekarang juga ehh"
Adlin merasa kalau Nala sudah seperti saudara kandung karena mereka berteman sejak bayi, bisa dibilang pertemanan warisan karena awalnya ibu mereka yang berteman kemudian dilanjutkan oleh anak-anaknya. Rumah yang tidak terlalu jauh sering membuat mereka bergantian dititipkan karena pekerjaan atau kepentingan lainnya, maklum saja ibu mereka sama-sama single parent, Nala kehilangan Ayahnya yang meninggal sejak usia 10 tahun, sedangkan Adlin ditinggalkan Ayahnya sejak usia 5 tahun. Teman, saudara, bahkan tetangga sudah tidak heran dengan kedekatan mereka, bisa dibilang dimana ada Nala disitu ada Adlin.
"Jangan lupain aku ya, Nal!"
''Gaklah, aku tuh udah anggep kamu suadaraku sendiri loh"
__ADS_1
"Makasih ya"
''Sama-sama"
***
Pertemuan akan dilakukan pada salah satu kafe yang terletak di pusat kota, karena rencananya sekalian berwisata bersama. Adlin membantu mempersiapkan diriku, dia yang repot dan antusias, meskipun tidak ikut. Prinsip yang diterapkan dalam pertemannya mereka, meskipun sudah seperti saudara yakni tidak terlalu ikut campur ranah pribadi, apabila masing-masing punya pasangan maka hanya sekedar saling kenal, tidak sampai ada komunikasi atau pertemuan berdua saja.
Bu Nadya menyetir mobil kesayangannya dengan hati-hati karena baru saja diservice bulanan. Nala hanya diam, sedikit bicara karena kekhawatiran yang melanda.
"Nak,yang happy dong, biar makin cakep gitu" Ledeknya pada Nala.
"Ma, langkah Nala tepat ga?" Tanya Nala lirih.
"Kita lihat kedepannya ya, nak. Mama akan selalu dukung, pelukan mama akan selalu siap untuk Nala"
"Makasih ya, ma, selalu ada untuk Nala"
"Uluh-uluh jangan mellow, malu sama camer,hehe"
"Apaan sih mama ini"
Setibanya di lokasi tempat pertemuan, Rein sudah menunggu di tempat parkir untuk menyambut Nala dan Bu Nadya. Rein sopan menyapa dan bersalaman dengan Bu Nadya, penampilannya yang rapi dan tidak macam-macam menjadi poin plus tersendiri. Nala dan Bu Nadya mengikuti langkah Rein menuju meja tempat orangtuanya berada. Keduanya menyapa dengan ramah dan hangat, perkenalan tahap awal berjalan lancar, orangtua Rein menerima Nala dengan baik. Mereka mulai berbincang-bincang topik ringan hingga topik berat.
Nala yang tadinya khawatir akhirnya lega juga, Rein yang usianya lebih tua delapan tahun tentu lebih berpengalaman dalam hal bertemu orang baru, terutama saat berkenalan dengan orangtua Nala. Perbincangan-perbincangan mulai mengarah ke arah serius, dimana Rein mengungkapkan isi hati dan niat baiknya kepada Bu Nadya, pun orangtua Rein terutama Ayahnya ikut menyampaikan niat baik putra serta keluarganya. Bu Nadya lebih menyerahkan pada puterinya karena dialah yang akan menjalaninya, dengan kata lain keputusan sepenuhnyaa ada padanya.
"Tapi bolehkah saya minta waktu untuk mengenalnya beberapa waktu sebelum ke tahap pernikahan?" Tanya Nala ragu.
"Tentu boleh dong!" Pak Sam selaku Ayahnya Rein menjawab tegas.
Pun yang lain menyetujui keinginan Nala, Rein sangat paham dengan keputusannya karena wajar belum lama kenal, tiba-tiba sudah diajak nikah olehnya. Nala tidak ingin salah memilih pasangan, pola pikirnya belum sematang Rein, banyak pertimbangan-pertimbangan yang harus dipikirkannya. Bedasarkan tujuan baik, Nala akan berusaha menjalani kehidupannya bersama Rein, mungkin dia adalah hadiah dari Tuhan sebagai pelipur laranya. Kehadirannya bisa jadi sebagai perantara agar Nala benar-benar bisa melupakan serta mengikhlaskan Roger, mengubah dukanya menjadi bahagia.
__ADS_1
"Tuhan berkahilah langkahku" Ucap Nala lirih.
Rein menatap lekat Nala, dia melihat betapa Nala berusaha untuk memberi kesempatan padanya untuk menjadi bagian hidupnya, ada gurat kekhawatirannya dan Rein berusaha memakluminya. Rein bersumpah dalam hatinya akan menjaga Nala dengan baik, wanita yang telah mengambil hatinya sejak pertama kali berjumpa. Nala bak air ditengah padang pasir, mengobati haus dahaga ditengah teriknya matahari. Keikhlasan serta kesabarannya menuntun untuk bertemu dengan Nala, meskipun dia tahu betul kalau Nala tengah berjuang untuk mengikhlasan mantan kekasihnya, dia akan siap menerima keadaan tersebeut dan mendampinginya hingga tiba waktunya Nala bisa memberikan cinta sepenuhnya.