Masih Mencintai Mantan

Masih Mencintai Mantan
Nostalgia Kenangan Masa Lalu


__ADS_3

Kebahagiaan Nala semakin bertambah ketika mendengar rencana pulang kampung, Nala sudah rindu dengan makanan-makanan favoritnya. Dia semakin semangat menjalani hari-harinya, mengasuh anaknya seorang diri ketika Rein sibuk dengan kuliah dan bisnisnya, sesekali Nala mengontrol bisnis dan ikut Rein ke kampus, hal itu dilakukan saat merasa bosan di rumah. Tidak mudah menjalani semuanya, tapi itulah resiko merantau, dan Nala bertekad akan selalu disisi Rein, kemanapun perginya.


Tanpa sadar, bayangan Roger terlintas dipikirannya, kenangan yang lalu muncul seolah ingin mengajak bernostalgia.


"Sayang, kamu bersedia mendampingiku merantau?" Tanya Roger penuh antusias.


"Tentu, setelah nikah, aku bakal ikut kamu kemanapun perginya. Aku akan selalu disisi kamu" Jawab Nala antusias.


"Makasih, sayang!"


"Ada syaratnya loh!"


"Apa?"


"Kamu gak mengkhianatiku!"


"Ok, aku janji, kalau nyakitin kamu dapet hukuman, karirku hancur atau hidupku tidak tenang"


"Ok, deal!"


Tawa bahagia menyelimuti sepasang kekasih yang berjuang dengan jarak, berdamai saat harus menunda temu untuk sebuah rindu, bersabar pada kenyataan tidak bisa seperti pasangan lainnya.


Suara tangis Rayyan menyadarkan lamunan Nala, segera menghampiri dan menenangkannya. pikirannya carut marut, di kepalanya penuh pertanyaan sebab kenapa kenangan itu muncul. Nala merasa bersalah pada Rein dan Rayyanka, tapi yang terjadi diluar kehendaknya. Sebelum kenangan muncul, Nala tidak lagi mengingatnya, Rein sudah menjadi segalanya, Rein hadir mengubah menjadi lebih indah, dan yang paling penting rasa cinta pada Rein terus bertumbuh. Tidak ada keinginan sedikitpun untuk mengkhianatinya.


Suara dering handphone semakin menyadarkan, panggilan dari Rein.


"Sayang, nanti ga usah masak ya, kita makan bersama diluar"


"Loh, dalam rangka apa?"


"Dalam rangka aku semakin mencintaimu, dan gak mau membiarkan bidadari ini kelelahan"

__ADS_1


"Haha, ok ok makasih gombalannya, ditunggu pulangnya"


"Ok sayangku!"


Nala semakin menguatkan dirinya, seolah menantang kenangan nostalgianya pada Roger, kenangan itu bisa saja menguasai pikirannya tapi tidak untuk menguasai hatinya, hatinya hanya untuk Rein. Semakin Nala berusaha acuh, kenangan semakin gencar muncul di kepalanya, hal itu membuatnya menangis. Merasa tidak adil, selain sudah dikhianati, kini kenangan pun berusaha menghancurkan kebahagiaan hidupnya.


"Jahat sekali kamu, Roger!"


Teriaknya sembari melempar vas bunga ke cermin, cermin yang sudah retak, sehingga tidak lagi sempurna menampilkan wajahnya. Mungkin, itulah gambaran dirinya saat ini, dirinya ada tapi tidak dalam keadaan baik-baik saja.


***


"Sayang, cintamu pulang!"


Rumah begitu senyap, tidak ada Nala yang menyambut seperti biasanya. Rein segera mencari, mendapati Rayyan ada di ranjang, berpakaian rapih, tertidur pulas. Terdengar suara keran dari kamar mandi, segera dia masuk, mendapati Nala yang duduk memeluk lutut dibawah guyuran shower. Rein segera memeluknya, berusaha menenangkan agar berhenti menangis.


"Sayang, ayo ganti baju, nanti kamu sakit"


Nala menurut yang diperintahkan Rein, kukunya sudah membiru, wajahnya pucat. Rein menuntunnya dan menyiapkan baju yang tebal agar menghangatkannya.


Rein membaringkan tubuh Nala diatas ranjang, membuatkan minuman hangat. Tidak ada pertanyaan sama sekali dari mulutnya, fokusnya saat ini memulihkan kondisi Nala. Dipeluk tubuh Nala yang terbalut selimut tebal, dielus rambutnya perlahan.


"Sayang, tenang ya, aku akan selalu disisimu"


Nala menatap ke wajah Rein, seolah ingin mengucapkan terimakasih, tapi bibirnya terasa kelu untuk bicara. Terdapat rasa penyesalan atas tindakan bodohnya, meratapi kenangan nostalgia, merasa pondasi mengantisipasi begitu lemah.


"Sayang" Suara Nala lirih


"Iya cintaku sayangku, ada apa?"


"I love you!"

__ADS_1


"I love you too!"


"Istirahat ya, Rayyan biar aku yang urus"


***


Rein menatap Nala yang tidur lelap, sepertinya terlalu lelah. Rayyan ada di pangkuannya, seolah mengerti keadaan ibunya, dia begitu tenang, tidak rewel saat harus meminum ASI dengan botol. Terdapat rasa penasaran atas sikap Nala, Rein merasa kalau Nala sedang mengalami hal terburuk dan berat baginya. Menerka dengan segala dugaannya, tapi tidak juga menemukan jawaban. Rein ingat kebiasaan Nala menulis, dengan tergesa keluar kamar, menuju meja kerja sembari menggendong Rayyan.


Perlahan membuka laptop, terdapat catatan harian Nala, tanpa password karena memang selama ini Rein tidak pernah mengusik kebiasan, bahkan tindakan membuka laptop Nala baru sekarang. Segera mencari tanggal hari ini, dengan perasaan tidak tenang, file itu dibuka.


[ Hari terburuk itu hadir, saat kenangan itu hadir dalam ingatan. Kenangan itu berusaha menghancurkan kebahagiaanku saat ini. Hei, Roger!! kurang puas apa kamu menyakitiku? bahkan sekarang pun masih berusaha menyakiti dengan mengusikku, melalui kenangan sialan. Hatiku sudah untuk Rein, kini dia segalanya, tolong jangan sakiti aku. Relakan aku bahagia, sebagaimana aku merelakanmu]


Rein yang membacanya begitu merasa sesak, membayangkan bagaimana Nala berjuang melawan gejolak kenangan nostalgia. Membayangkan bagaimana Nala mempertahankan hati untuk dirinya, Nala orang yang tulus, tapi hal berat harus dialaminya. Ingatannya kembali pada malam-malam saat tidur, Nala mengigau menangis, bahkan memanggil nama Roger, hal itu nyaris terjadi setiap malam.


Entah dibawah alam sadar dia masih mencintai Roger, atau pristiwa dengan Roger membuatnya sangat trauma. Rein tidak pernah membahas hal ini pada Nala, kesehariannya setelah bangun dan akan tidur, Nala sangat tulus dengan dirinya, Rein bisa merasakannya. Bertekad untuk selalu ada disisinya kemanapun pergi dan dalam kondisi apapun, bersedia memberikan seluruh hati dan hidupnya pada Rein. Hal itu bukanlah hal yang sederhana, dan tidak semua orang mampu melakukannya.


Rein tidak pernah sekalipun marah pada Nala, justeru merasa kasihan dan merasa bersalah karena belum mampu sepenuhnya mengobati luka Nala, seolah menjadi pria yang gagal untuk pasangannya. Air mata menetes perlahan hingga mengenai pipi Rayyan, Rayyan terkejut, segera Rein menenangkannya. Buah hati menjadi penguatnya untuk tidak menyerah, memulihkan luka Nala adalah kewajibannya.


"Sayangg!" Panggil Nala.


"Iya sayang!" Respon Rein sembari mendekat.


"Ayo tidur bersama disini, aku ingin dekat kalian"


"Oke, Sayang"


Rayyan sudah kembali tidur, ditaruhnya di ranjang bayi. Rein berbaring disamping Nala, memeluknya penuh kehangatan, tubuh Nala masih terasa dingin. Nala memeluk erat Rein, seolah tidak ingin kehilangannya dan ingin merasa aman pada dekapan tersebut. Mereka saling diam dalam pelukan, meskipun pikiran mereka sibuk masing-masing, hingga terlelap, tidak ada sepatah kata pun terucap.


***


Pagi begitu cerah, sengaja sarapan Rein yang menyiapkan. Nala bangun terlambat, tidak seperti biasanya dan Rein pun tidak ambil pusing mau jam berapa isterinya bangun pagi. Rayyan ada dipelukannya, wajah Nala kembali sumringah, seolah kemarin tidak terjadi apa-apa. Hal tersebut menjadi awal yang bagus untuk awal hari mereka, si bidadari sudah gembira lagi. Nala sudah kembali cerewet, menceritakan rencana kegiatan hariannya, bahkan ingin mengontrol restaurant dan mengajak makan siang bersama, tentunya dia akan ke kampus Rein.

__ADS_1


"Boleh kok kita makan siang, tapi ada syaratnya"


__ADS_2