
Hanami pertama Nala tidak akan pernah bisa dilupakannya, dia sengaja mencetak beberapa foto untuk dipajang di rumahnya, bahkan meminta Bu Nadya untuk mencetak dan memasang di rumah Indonesia. Nala yang makin hari makin pintar beradaptasi mulai betah berada di Jepang, bahkan dia sempat mengajukan permintaan untuk tinggal di Jepang saja tapi Rein belum bisa memutuskan. Tanpa terasa waktu kelahiran Nala semakin dekat, petugas di kantor pemerintah kota sudah menghubungi untuk menanyakan persiapan persalinan, menanyakan apakah ada
kendala atau tidak, tentu saja sejauh ini tidak. Petugas juga menyampaikan kalau sudah persalinan akan ada yang datang untuk memeriksa kondisi bayi, hal ini diterima baik oleh Rein dan Nala.
Keadaan bayi dalam kandungan sehat pun Nala sehingga dianjurkan untuk melahirkan normal karena memang lebih mengutamakan melahirkan normal tapi melalui operasi juga diperbolehkan, terlebih saat keadaan bayi atau ibu yang memiliki kendala untuk melahirkan normal. Rein dan Nala juga sudah menentukan Rumah sakit tempat persalinannya, tempat yang menjadi pemeriksaan rutin, Pihak rumah sakit juga sudah mendiskusikan kondisi yang kemungkinan di alami Nala, pun mengenai biaya persalinan. Pemerintah Jepang bisa dibilang peduli dengan ibu hamil, walaupun sedikit ribet dari segi administrasi itu gunanya untuk kepentingan ibu hamil, pemerintah pun menyediakan bantuan kepada ibu hamil serta bayi yang dilahirkan.
Nala merasa sakit sekali perutnya, mulas seperti ingin buang air besar tapi lebih dari itu rasanya. Dia mencoba menenangkan diri, tapi ternyata tidak berhenti juga, segera Rein membawanya ke Rumah Sakit. Petugas sigap menangani Nala, hingga infomasi disampaikan pada Rein kalau Nala sudah tiba waktunya untuk melahirkan. Rein merasa bingung karena cepat sekali, sebelumnya Nala tidak mengalami kontraksi seperti itu atau sebenarnya memang ada tapi tidak begitu dirasakannya. Terlihat dokter yang akan menanganinya, Rein pun segera mengurus yang berkaitan dengan administrasi dan menguhubungi petugas pemerintah kota kalau isterinya akan melahirkan.
***
Bayi laki-laki mungil telah lahir ke dunia, dokter telah melakukan serangkaian pemeriksaan dan keadaanya pun sehat. Rein mengadzani dengan khidamat, berkali-kali dokter dan petugas kesehatan memberi selamat serta memuji Nala, Nala sangat tenang saat melahirkan hingga tidak ada robekan sama sekali, tidak perlu melalui pembukaan pra melahirkan yang cukup panjang, bisa dibilang proses melahirkannya sangat singkat, kurang lebih dua jam sejak datang ke Rumah Sakit. Dokter yang baik hati pun mengingatkan agar Rein segera mengurus administrasi terkait anaknya, seperti kependudukan/resident card, kesehatan/asuransi, untuk berjaga-jaga apabila
keadaan bayi yang baru lahir membutuhkan pertolongan medis. Petugas pemerintah kota sudah tiba dan dengan segera memeriksa keadaan bayi.
Nala masih tidak percaya kalau dirinya dianugerahkan untuk melahirkan dengan mudah, untuk rasa sakit pasti ada. Dia masih tidak percaya kalau sudah menjadi seorang ibu hingga menyuruh Rein untuk mencubitnya, tingkah Nala membuat dokter gemas, dokter yang sangat ramah, beruntung juga karena bisa memilih dan mendapatkan dokter seorang wanita. Sebuah nama indah sudah disiapkan dan masih dirahasiakan, tiba-tiba terbesit dalam hati yang membuat Rein tertawa.
"Sayang, cari dua kambing dimana?" Tanya Nala dengan polos.
"Kita butuh dua kambing loh untuk aqiqah" Dia melanjutkannya lagi.
__ADS_1
"Sayangku, cintaku, itu biar jadi urusanku ya, kamu fokus pemulihan saja" Ucap Rein sembari tertawa.
"Kamu ini sudah terpikir saja" Lanjut Rein.
Semenjak Nala mengatakan hal tersebut Rein pun jadi kepikiran, kenapa tidak dia persiapkan jauh-jauh hari, lantas bagaimana nanti menyembelihnya. Ayashi yang saat itu sudah dikabari Nala pun datang untuk menjenguk, dia menyarankan untuk menghubungi imam masjid terdekat, minta dicarikan bagaimana solusinya, dan terburuknya bagaimana kalau tidak ditemukan, walaupun Ayashi mengatakan kalau hal buruk itu tidak mungkin terjadi. Rein yang berotak cerdas pun tiba-tiba ngeblank karena ulah isterinya.
"Sayang pasti adalah kambing disini!" Seru Rein.
"Lah emang pasti ada, tapi dimana kita belinya, gitu loh maksudku" Nala merespon sembari emnahan tawa.
"Kak Ayash juga menjebbakku!" Protes Rein.
"Nah iya, kenapa tiba-tiba jadi bodoh kan ya" Rein berusaha merevisi.
***
Abrisam Rayyanka Harvian
Sebuah nama yang istimewa untuk putera pertama mereka, banyak do'a yang tersemat makna dibalik nama, Dion yang mendengar kelahiran anak Rein dan Nala pun antusias, hingga akan pergi ke Jepang untuk menjenguk, meskipun dia tengah berada Dubai. Dion memang tipikal pria yang senang travelling, targetnya ke seluruh negara dan entah kapan selesainya, Dion menjadi perantara Tuhan untuk mempertemukan Nala dan Rein, kala itu dia pun tidak menyangka kalau Nala menjadi sepupunya.
__ADS_1
Aqiqah berjalan khidmat, dihadiri sedikit orang saja, Ayashi pun turut hadir, bahkan dialah yang mencari dan mendapatkan dua ekor kambing yang kini sudah digulai, rendang, dan sate. Beberapa kotak nasi sudah siap untuk dibagikan ke tetangga, maupun rekan lainnya, di komplek tempatnya tinggal ada 15 rumah, ada orang jepangnya, ada juga orang asingnya, sehingga mereka terbiasa untuk sekedar bertegur sapa saat bertemu atau berkenalan, jika ada waktu luang ada bebarapa yang sengaja berkumpul berbincang-bincang, berhubung belum semuanya lancar berbahasa jepang maka komunikasi dicampur bahasa inggris. Itulah alasannya Rein memilih tempat tinggal disini meskipun agak jauh untuk ke kampusnya, yang penting Nala tidak teralalu asing dengan lingkungannya.
Oshiro yang bisa dibilang paling tua, dia ikut menghadiri acara aqiqah karena memang sudah menjadi pensiunan sehingga tidak bekerja kantoran lagi. Sebelumnya bekerja di kantor kedutaan, isterinya sudah meninggal lima tahun yang lalu, kini dia tinggal seorang diri, namun kedua anaknya sering menjenguk Oshiro, mereka ingin membawa Oshiro ke rumah tempat mereka tinggal, tapi dia menolak karena ingin tetap tinggal bersama mendiang Yasumi. Para tetangga saling menghormati dan saling memantau, apabila ada sesuatu terjadi mereka dengan sigap membantu, hal yang jarang ditemukan.
Para undangan lahap menyantap hidangan makanan indonesia yang disajikan, karena bisa jadi sudah biasa memakannya atau memang mengolahnya benar-benar enak, yang memasak adalah rekan Rein, Ardiyan. Dia sudah 10 tahun tinggal di jepang dan berprofesi sebagai koki dan memiliki beberapa restoran makanan indonesia. Sebelumnya dia merantau ke Jepang sebagai mahasiswa, tapi ternyata dia berkembang di negeri sakura ini.
"Anak papi gantengnya sihhh" Rein gemas melihat puteranya sedang tidur.
"Iya dong, sapa dulu maminya" Respon Nala.
"Heiii, itu ganteng mirip papi loh" Rein merasa tidak terima.
"Nak, papi lagi ngantuk ya, mirip mami gini" Ledek Nala.
"I love you, sayang!" Rein mengucapkan penuh haru.
"I love you too, sayang!"
Rein menimang Rayyan, panggilan untuk puteranya sembari melihat tamu undangan yang asik dengan makanan yang disajikan. Ayashi menatap dari kejauhan kebahagiaan Rein dan Nala yang sedang menimang buah hatinya, entah kenapa dia merasa ikut bahagia, seolah itu kebahagiaannya. Nala yang melihatnya pun langsung memanggilnya, mengajak foto bersama, dengan ringan Ayashi melangkahkan kaki mendekati mereka.
__ADS_1