
Walaupun sudah satu tahun mengenal sebelum menikah, Nala masih belum bisa mengenal dengan baik Rein, pun sebaliknya. Setiap hari mereka belajar, banyak kejutan-kejutan setelah menikah, terutama mengenai kebiasaan masing-masing. Misalnya saja saat Nala tidak bisa tidur, dia akan membereskan rumah, mencuci pakaian, menyetrika baju. Awal Rein melihat pristiwa tersebut terkejut, ternyata tujuan Nala melakukannya agar lelah dan bisa segera tidur. Ketika Rein kelelahan maka tidurnya mendengkur, tentu saja awalnya sangat mengganggu Nala, tapi lambat laun dia memahaminya, hanya saja kalau merasa kesal akan membangunkan, dan menegur untuk tidak mendengkur. Pristiwa itu membuat Nala tersadar jika lelaki tampan pun memiliki kelemahan yang menyebalkan. Banyak hal lainnya yang membuat mereka tercengang, tapi itulah dinamika pengantin baru, kalau orang-orang bilang masih manis-manisnya, bagi pihak yang menjalani ada rasa sepet-sepetnya.
"Sayangg.... buruan, nanti kita telat loh!" Seru Nala.
"Masih lama loh, kita kan dekat dari lokasi" Sanggah Rein yang masih menikmati mandinya.
"Kan disuruhnya jam 09.00, kita juga harus estimasiin waktu kalau ada apa-apa di jalan, supaya gak telat" Nala menjelaskan.
"Ok, cintaaaa, sayangggg, aku padamu!"
"Apaan sih, buruann!"
Rein gemas dengan isterinya kalau sudah bawel seperti itu, memang sangat diakuinya untuk masalah disiplin waktu Nala adalah juaranya, sedangkan Rein merupakan jenis golongan mepet-mepet yang pentimg sampe. Kalau berkaitan dengan urusan bisnis, dia akan disiplin kalau sekedar kondangan maka beda cerita. Ketika pergi Nala yang kan lebih dulu mandi, karena waktu make up yang dibutuhkan lebih lama bisa 30 menit hingga 60 menit, entah apa saja yang dipoles. Mungkin tidak hanya Nala saja yang begitu banyak wanita lainnya, hanya saja berhubung isterinya Nala, maka yang diketahuinya Nala seorang bukan yang lain.
Rein terpesona melihat penampilan Nala, kebaya berwarna cream dengan batik bermotif cantik, sepatu heels 7 cm, riasan make up hasil 60 menit yang flowless, membuat aura kecantikannya makin bersinar. Rein bertekad untuk terus menggenggam erat isterinya supaya tidak dikira masih gadis. Nala yang melihat Rein hanya bengong menatap dirinya pun heran, dicubit lengannya barulah tersadar.
"Kamu cantik banget sayang!"
"Emang, dari belum dibuat pun, aku udah cantik!"
"Beruntungnya aku!"
"Beruntung dapat daun muda"
"Kamu juga beruntung dapet om-om tampan kek aku ini!"
"Hahhahaha, ayolah berangkat!"
"Kuyyyy"
***
__ADS_1
Tiba di lokasi yang ditentukan dan ternyata acaranya sedikit mundur karena mempelai pria ada keterlambatan menju lokasi. Rein berbincang-bincang dengan rekan bisnis yang juga datang, Nala mulai jenuh dengan topik pembicaraan mereka sehingga berpamitan menuju tempat lain ntuk hunting foto. Rein mengiyakan dengan memberi isyarat agar berhati-hati.
"Bro, dapet darimana bini kaya gitu?" Tanya Rekan kerja Rein.
"Dapet pas dia jadi pengunjung kafe gua" Jawab Rein.
"Gila sihh, cakep banget, gak bisa bayangin anak lo jadinya kek apa" Ujarnya lagi.
"Bapak ibunya cakep gitu kan ya!" Sambung rekannya yang lain.
"Doain yang baik-baik ajalah bro"
"Ok, siapp!"
Nala menyusuri lokasi yang dijadikan acara pernikahan, detail dekorasi yang sangat menawan dan indah, tidak sengaja dia menabrak seorang pria, segera meminta maaf dan pria tersebut tidak ambil pusing sepertinya tengah buru-buru juga. Nala melanjutkan hingga berada pada ujungnya, saat mau kembali ada Rose yang sedang berdiri dibelakangnya.
"Kamu sengaja nabrak suami gue?" Bentak Rose.
"Belum puas lo ambil mantan gue? sekarang mo ambil suami gue?"
Nala pun enggan menanggapi Rose, dia memilih meninggalkannya dan kembali duduk dekat Rein. Rein pun tersenyum lebar, dia mulai mengenalkan Lisa pada rekan lainnya, hingga dikenalkan kepada suami Rose. Mereka tertawa tidak menyangka kalau sebelumnya bertabrakan karna kurang fokus, tiba-tiba Rose datang dan meracau mengatakan yang tidak baik tentang Nala. Rein yang mulai tersulut emosi meminta Agung si suami Rose untuk membereskan sikap Rose yang memalukan. Agung yang sudah kepalang malu segera menarik tangan Rose untuk meninggalkan lokasi acara.
"Tu orang belom juga selesai cari masalah sama lo?"
"Belom, lo liat sendirilah!"
"Dunia sempet banget sih ketemu dia mulu!"
"Belom bisa move on, bro!"
"Hhahahahha"
"Udahlah, ga ada bagus-bagusnya dia tuh, cakepan bini lo, kalau ada yang modelan dia lagi, kabarin gua!"
__ADS_1
"Mau lo jadiin bini kedua?"
"Parah sih lo, gua aduin bini lo"
"Jangan dong, canda doang!"
Rein dan Nala tertawa melihat tingkah mereka, ada-ada saja ulahnya, niat Rose ingin merusak nama baik Nala, nyatanya tidak membuatnya berhasil, justru dia yang merasa dipermalukan oleh sikapnya sendiri. Agung yang sebagai suaminya pun tidak membelanya sama sekali, Rose dianggap merusak citranya sebagai pengusaha dihadapan rekan-rekan bisnisnya. Rose merasa makin marah dengan peristiwa yang terjadi, bukannya evaluasi malah menyalahkan Nala. Agung makin emosi hingga nyaris memukulnya, untungnya segera tersadar, dan memilih pergi dulu menghindari Rose. Saat emosinya sudah tidak terbendung dia pasti memilih pergi sejenak agar tidak khilaf sehingga berbuat kasar pada Rose. Dulu sebelum nikah Rose bagaikan puteri yang semua keinginannya dituruti, tapi setelah menikah semuanya berubah. Rose harus nurut atau tidak boleh melawan dan tidak semua keinginannya dituruti, mungkin itu yang membuat Rose merasa jengah dengan Agung.
***
"Bro, maap ya tingkah bini gua" Ucap Agung yang sudah kembali ke lokasi acara tanpa Rose.
"Iyalah santai, lo ga perlu minta maap ke gua, minta maap ke bini gua karena dia yang terganggu" Respon Rein.
"Aku udah maafin kok, lain kali tolong dididik ya mas!" Tegas Nala.
"Iya, makasih ya!"
"Jinakkin lah bro bini lo, biar ga bikin malu lo terus!"
"Bini lo emang mantannya Rein, tapi ya ga gitu juga!"
"Lo nya aja udah baik-baik aja sama Rein"
"Bini lo aja yang bermasalah!"
"Iya bro, gua tegesin lagi biar gak kek gitu, makasih ya"
Agung yang mendengar respon dari rekan-rekannya merasa malu, bukan kali ini saja Rose berulah, dan dia sering mentolerirnya, tapi ternyata makin menjadi-jadi. Agung memang dulunya yang menjadi selingkuhan Rose, tapi seiring waktu Rein mampu memaafkan dan mereka sempat beberapa kali menjadi rekan kerja, Agung merupakan seorang pribadi yang profesional dalam urusan pekerjaan.
Acara sudah selesai, Rein menggandeng erat tangan Nala, memberi pengertian lagi kalau harus belajar terbiasa dengan sikapnya Rose, suaminya saja sudah angkat tangan, selagi bukan tindakan pidana maka jangan sampai tersulut emosi. Nala pun mengiyakan, karena setuju dengan yang disampaikan Rein, daripada ikutan gila, lebih baik waras kan. Mereka sudah tiba didepan mobil, segera siap meluncur untuk pulang, Nala sudah tidak betah dengan kebaya yang dikenakan.
__ADS_1