
Lisa yang sudah menikah dengan Roger merasa tidak nyaman karena nyatanya Nala masih ada dalam ingatannya. Tak jarang Roger membandingkannya dengan Nala, selama ini dia berusaha untuk tetap sabar dan bertahan, puncak dari kesalnya karena diam-diam Roger pulang untuk melihat pernikahan Nala, hal ini diketahui dari pengakuannya sendiri, saat memastikan ke kantor kalau tidak ada tugas keluar kota, Roger sengaja mengambil cuti. Nala memaksa menyusulnya meskipun Roger sudah melarangnya, pada akhirnya pun tidak jadi melarang ketika mendengar kalau Lisa akan menggugat cerai jika keinginannya tidak dikabulkan. Lisa hanya ingin membicarakan hal ini face to face, dia tidak membela suamii atau membenci Nala, dia hanya ingin mendengar dari kedua pihak secara langsung dan mencari jalan keluarnya.
Roger sangat terkejut, bingung harus bagaimana, hingga dia minta tolong Adlin untuk mengatakan niat isterinya pada Nala. Nala yang mendengar hal tersebut bingung karena selama ini dia merasa tidak terlibat dengan Roger, semenjak mengenal Rein, Nala ganti nomor dan tidak pernah komunikasi lagi dengan Roger. Rein yang mendengar hal tersebut menyikapinya secara dewasa, dia mengizinkan dan berkenan menemani Nala. Adlin pun menyampaikan dimana lokasi pertemuan pada Roger dan dia menyetujui.
***
Nala dan Rein datang lebih dulu, Adlin ada di meja sebelahnya karena dia tidak rela kalau sampai Lisa menyakiti Nala, dia sudah bersiap dengan sebuah botol yang berisi cairan cabe. Awalnya Rein saat mengetahui hal tersebut tertawa melihat tingkahnya, tapi dia mengapresiasi persahabatan isterinya dengan Nala. Lisa berjalan sembari menggendong puteri kecilnya, disebelahnya ada Roger, Nala sempat takut tapi Rein menggenggam erat tangannya.
Lisa menyapa ramah, tidak ada aura marah atau benci, dia hanya terlihat lelah, mungkin karena dari perjalanan jauh, atau memang lelah pikiran karena adanya masalah ini.
"Sebelumnya maaf ya aku bawa anak karena gak ada yang jagain. Nala, aku mau minta maaf secara langsung ke kamu atas tindakanku, aku ngaku khilaf dan menyesal. Aku juga mohon maaf atas kesalahan suamiku, maaf kalau di acara pernikahanmu dia mengacaukannya" Ucap Lisa dengan hati-hati.
Nala yang mendengar ucapan Lisa merasa terkejut, kalau Roger datang pada hari pernikahannya, padahal dia tidak melihat sosoknya.
"Jadi gini, Nala. Saat aku tanya tentang kamu, Adlin bilang supaya jangan ganggu kamu karena kamu mau menikah. Aku cuma ingin memastikan kalau itu bukan bohong, H-1 acara aku sengaja lewat depan rumahmu, rasanya tidak sanggup untuk melihat hari H mu, makanya langsung pergi" Jelas Roger.
"Ok, Roger tidak datang di hari pernikahanku, aku anggap selesai ya!" Tegas Nala yang sudah malas meladeni.
"Kamu datang kesini selain minta maaf, ada perlu apa lagi? kalau tentang memaafkan, kalian sudahku maafkan." Sambung Nala.
"Sebelumnya, maaf ya untuk suami Nala. Aku mau tanya, apa Nala masih mencintai Roger?" Tanya Lisa dengan ragu.
"Gak, Lisa. Aku sudah mengikhlaskan rasa itu, lagi pula saat ini aku sudah menikah. Tidak ada alasanku untuk masih mencintai Roger, atau bahkan tidak akan pernah meninggalkan suamiku demi Roger." Entah sudah berapa kali Nala memberi kepastian tentang ini.
"Roger, kamu dengar jawaban Nala? apa kamu belum sadar kalau rasamu sepihak, aku tau gimana rasanya, karena itulah yang saat ini aku alami. Aku bertahan karena masih percaya kalau kamu bisa berubah, dan ada anak, aku ingin anak dapat kasih sayang yang utuh!" Lisa menatap tajam ke arah Roger.
__ADS_1
"Nala dan Suami..." Roger memulai pembicaraan dengan menunduk.
"Rein.." Sela Rein.
"Nala dan Mas Rein, aku mohon maaf atas ketidak nyamanan merusak hari spesial kalian. Ini salahku, karena sudah bikin runyam dan Nala jadi kena imbasnya"
"Gak apa-apa, mas, kita selesaikan sekarang ya, Jadi gini Mbak Lisa dan Mas Roger, isteri saya tidak ada sangkut pautnya dengan urusan kalian. Ini cukup pertama dan terakhir ya isteri saya terseret, padahal tidak tahu apa-apa, saya minta tolong supaya kalian selesaikan berdua ya kedepannya. Isteri saya itu masa lalu suamimu, masa sekarang dan masa depannya adalah saya bukan suamimu" Suara Rein begitu menenangkan para pihak.
"Isteri saya selama berjuang pemulihan psikisnya, tolong hargai ya, rasanya gak pantas kalau kalian tiba-tiba datang menghancurkan apa yang telah isteri saya upayakan" Sambung Rein dengan tenang.
"Iya mas, sekali lagi kami mohon maaf" Terlihat Lisa merasa sangat bersalah.
"Ok, ada yang mau disampaikan lagi? saya gak mau loh karena belum selesai hari ini, kedepannya jadi terulang lagi" Rein berusaha memastikan sekali lagi.
"Gak ada!" Jawab Lisa dan Rein dengan kompak.
Adlin pun ikut beranjak dari meja sebelah, sebelum pergi dia memberi peringatan kalau kedepannya terulang seperti ini, maka urusannya bukan dengan dia. Adlin juga memberi pesan untuk berhenti untuk berpikir atau apapun itu yang berkaitan tentang Nala. Diliriknya puteri mungil mereka, dengan tajam meskipun si bayi tidak paham.
"Alnara bayi yang lucu, jangan sampai kalian kehilangan dia hanya karena kebodohan kalian!"
Adlin berlalu begitu saja tanpa melihat bagaimana reaksi keduanya setelah mendengar ucapannya, dia segera mengejar Nala dan Roger yang sudah lebih dulu sampai di parkiran kafe. Ternyata didepan ada Rio yang sudah menunggu, dia tidak sengaja mendengar pembicaraan mereka di rumah dan membuntuti karena khawatir kalau terjadi sesuatu dengan mereka. Nala dengan santai menjawab kalau tida terjadi apa-apa, dia meminta supaya Rio bersama Adlin karena ingin sekali berduaan dengan Rein. Tentu saja Adlin menyadari kalau hal tersebut sebuah rencana yang disengaja, supaya ada kesempatan untuk berdua. Rio sama sekali tidak masalah, sedangkan Adlin justru terlihat canggun.
"Perjodohan dimulai!" Bisik Nala pada Rein.
"Ok, sippp!"
__ADS_1
***
Ketika perjalanan menuju hotel pelaksanaan resepsi Nala dan Rein, Adlin banyak diam karema merasa canggung dengan Rio.
"Gimana kerjaanmu?" Rio mulai topik pembicaraan.
"Lancar-lancar saja, bang. Kalau Abang gimana?"
"Lancar, cuma sedikit sibuk saja."
"Boleh Abang tanya?"
"Boleh!"
"Kamu suka dengan Abang sejak tiga tahun yang lalu?"
"Hahhh, darimana Abang tahu?"
"Lagian kamu bahas di rumah Abang, wajarlah kalau gak sengaja dengar!"
"Stop!!" Teriak Adlin.
"Kamu jangan malu atau sungkan, di usia Abang ini bukan lagi pacaran. Kalau Adlin sungguh-sungguh dan sudah siap menikah, bilang ke Abang"
"Buat apa?"
__ADS_1
"Buat nikahin kamu dong!"
Adlin merasa kalau seperti mimpi, dia mencubit tangannya berkali-kali hingga merah. Rio segera menegur dan mengatakan kalau ini kenyataan, apa yang dia ucapkan sungguh-sungguh. Siapa yang tidak tertarik dengan Adlin, seorang dokter muda yang anggun dan berkepribadian baik. Rio diam-diam sudah lama mengamatinya, ketika mendukungnya saat mulai menyerah atas kuliahnya, itu karena Rio sudah mencintainya, hanya saja merasa belum waktunya. Mengingat tugas utamanya belum dilakukan, yakni menikahkan Nala. Ketika keluar sebuah pengakuan dari Adlin, bisa dibilang saat dia nguping pembicaraan persahabatan adiknya, hatinya berbunga-bunga karena cintanya bersambut.