
"Dia ngapain lagi sih?" Tanya Nala nyolot.
"Entahlah tidak usah diurusin, kita fokus saja pada kebahagiaan" Rein berusaha menenangkan.
"Dasar, sudah nikah masih centil gitu!" Maki Nala.
"Tapi Abang gak suka, sayang!" Ucap sembari mengelus rambut Nala.
"Kalau suka ya Abang bodoh, kan dia sudah sakiti Abang!" Nala makin nyolot.
Rein baru pertama kalinya melihat Nala cemburu, menggemaskan baginya, wanita yang baru beberapa hari menjadi isterinya sudah mulai jujur tentang perasaannya, dengan kata lain mulai mencintainya.
"Lihat ini!" Nala menunjuk laptop.
[Halo Rein, aku denger kabar kalau kamu udah nikah. Selamat ya, oh ya kalau kamu rindu aku kita bisa janjian kok. Aku yakin isterimu yang jauh lebih itu akan banyak menimbulkan masalah, percayalah padaku, dia akan menghancurkan hidupmu, kapanpun kamu bisa kembali padaku. Rose]
Usai membaca e mail tersebut pantas saja hal tersebut membuat Nala marah dan cemburu, Saat Rein menaruh laptop, Nala duduk disampingnya, tanpa sengaja ada notifikasi email, terlihatnya oleh Nala dan langsung membukanya, sepertinya Nala memiliki dendam saat pertemuan pertama dengan Rose. Melihat isterinya marah dan cemburu tentu sangat membuat Rein ingin marah dengan Rose yang berani mengusiknya lagi, seolah tidak rela dirinya bahagia. Rein juga sangat marah karena isterinya dibuat marah, tapi dia mencoba menahan diri karena pasti ini sengaja dilakukan untuk memancing reaksinya. Rein memberi pengertian sebisanya, sedikit demi sedikit Nala memahami keadaan tersebut dan memberi kepercayaan padanya.
Nala pun menyadari sikapnya kurang baik karena langsung marah, padahal bisa dibicarakan dengan baik, dia mengambil pelajaran dari kejadian tersebut. Rein tidak marah pada sikap Nala, baginya wajar kalau cemburu, isteri mana yang tidak merasa kesal membaca isi email seperti itu kepada suaminya. Pernikahan pasti ada ujiannya, selain itu dalam pernikahan juga butuh saling beradaptasi, mencari formula yang tepat sebagai jalan tengah saat konflik. Tugasnya sebagai suami adalah membimbing, mencintai, serta melindungi isteri, semaksimal mungkin akan melakukannya yang terbaik.
***
"Bang, aku boleh ga sih maki-maki Roger, kadang bikin kesal loh" Ucap Adlin dengan ekspresi marah.
"Ngapa lagi dia?" Tanya Rein.
"Nitip salamlah, minta dikasih info terbaru tentang Nala, dia itu udah nikah loh, udah punya anak juga, taulah batasnya" Adlin membeberkan prilaku Roger.
__ADS_1
"Kalau gak nyaman, kamu marah aja lin" Sambung Nala yang tiba-tiba muncul.
"Besok lagi kalau dia begitu, kamu jawab aja supaya tanya langsung ke suaminya Nala" Respon Rein tegas.
Rein cemburu tapi berusaha tenang karena disini hanya Roger saja yang bertingkah, tidak dengan Nala. Ibarat sebuah rumah, tamu tidak tidak bisa masuk rumah kalau tuan rumah tidak membukakan pintu. Nala pun terlihat kesal, baru saja selesai permasalahannya terkait Rose selesai, muncul masalah terkait Roger. Pengantin baru yang katanya masih bahagia-bahagianya, ternyata sudah diuji dengan hal yang berkaitan masa lalu. Rein dan Nala berusaha saling menguatkan, kalau bisa melalui ujian-ujian dalam pernikahan.
***
Malam terasa dingin, angin lumayan kencang, cahaya bulan tertutupi mendung, sepertinya sebentar lagi hujan. Rein duduk di teras belakang sembari menyelesaikan pekerjaan, Nala menghampiri dengan membawakan segelas jus mangga kesukaannya dan buah untuk cemilan. Sejenak berbincang-bincang saling bertukar cerita, tanpa disadari sudah satu jam berada disitu, waktu menunjukkan pukul 21.00 WIB.
"Sayang, tidur yuk!" Ajak Rein.
"Ayo bang!"
"Apaan sih"
"Hehehehe"
Rutinitas sebelum tidur yakni mengecek seluruh pintu serta untuk memastikan sudah dikunci, mematikan lampu, memeriksa CCTV berfungsi dengan baik atau tidak. Usai memastikan semuanya Rein masuk kamar, wangi kamar terasa berbeda karena diganti oleh Nala, Rein melihat Nala sedang duduk di meja rias, ritual ala wanita sebelum tidur, dengan skin care yang entah berapa jenis. Dia menghampiri Nala dipandang lekat wajah isterinya, ternyata makin hari makin terlihat cantik, sangat menjaga tubuhnya dengan baik. Sebagai pria yang normal, dirinya mulai tertarik dan mengarah ingin memberi nafkah batin.
Rein mendekati Nala, memeluk erat, serta mengutarakan niatnya, Nala sepertinya sudah bersedia untuk melakukannya. Penuh cinta dan kasih Rein mengajaknya ke ranjang, memeluk, serta menciumnya dengan mesra, awalnya Nala menolak karena merasa rish tapi Rein berusaha menenangkan. Seketika lampu kamar padam, keduanya larut dalam peraduan cinta untuk pertama kalinya setelah satu minggu resmi menikah.
***
Cahaya matahari menembus sela-sela gorden, Rein menatap isterinya yang tertidur pulas, terlihat sangat cantik. Rein terus menatap seolah tidak berkedip, masih tidak menyangka kalau Nala adalah isterinya. Tiba-tiba Nala terbangun dan terkejud melihat Rein yang memandang dengan jarak dekat, berhubung belum sepenuhnya sadar, dia coba mengingat pristiwa malam sebelum tidur. Nala tersipu malu, tapi Rein segera menepis karena mereka kan sudah menikah, sudah sepantasnya seperti itu. Rein mengucapkan terimakasih, dia memeluk erat Nala, seolah tidak ingin kehilangannya.
__ADS_1
Mereka beranjak untuk mandi, mereka akan menikmati hari santai karena weekend. Mereka yang malas untuk bepergian memilih membuat acara bersama di rumah, dipilihlah untuk nonton bersama dan memanggang daging. Sepanjang hari dengan leha-leha hingga bosan, tamu tak terduga datang, yakni Rio dan Adlin.
"Dik, boleh Mas menikah dengan Adlin?"
"Waww, bolehlah, mas menikah dengan siapapun terserah, yang penting bahagia"
"Akhirnya punya kakak ipar baru lagi"
"Panggil Kak Adlin ya"
"Hhahahahaha"
Kabar yang sangat ditunggu-tunggu, kakanya yang sudah jomblo selama 34 tahun, akhirnya menemukan cintanya, menemukan pasangan yang kelak akan menjadi pasangan hidup hingga akhir hayat. Jodoh tidak ada yang tahu, mereka yang sudah saling mengenal sejak kecil, sperti adik serta kakak, ternyata menjadi jodohnya. Aura kebahagiaan terpancar sangat jelas diwajah keduanya, setelah dipikir-pikir ternyata serasi juga.
Pernikahan Rio dan Adlin dipersiapkan begitu singkat, keduanya sepakat untuk menikah yang dihadiri keluarga serta teman dekat dan tanpa resepsi. Nala dan Rein membantu persiapan pernikahan, sedangka Adlin masih kerja seperti biasanya, dia berencana mengambil izin satu hari menjelang pernikahan, pun begitu juga dengan Rio. Semuanya terkesan biasa saja bahkan terkesan seperti tidak niat, tapi jangan tanya bahagia atau tidak, keduanya merasakan kebahagoiaan yang luar biasa.
"Mas Rio, makasih ya!" Ucap Adlin.
"Untuk apa?"
"Karena sudah menepati janji"
"Sama-sama ya, terimakasih sudah menerima Mas"
"Iya mas!"
Nala mendengar pembicaraan mereka pun memunculkan jiwa usilnya untuk meledek, sekaligus mengekspresikan kebahagiaan karena cinta keduanya akan bermuara pada pernikahan, orang-orang yang Nala sayangi ternyata makin didekatkan.
__ADS_1
Ujian pernikahan Nala dan Rein hadir kembali, seorang wanita yang mengaku telah tidur dengan Rein. Hal ini memancing amarahnya, segera didatangi ke rumah orangtuanya dengan meminta polisi dan pengacara menemani. Amanda sudah satu tahun menyukai Rein diam-diam, saat tahu kalau sudah menikah dengan Nala, dia merasa Nala merebut Rein darinya, oleh karena itu ingin membuat pernikahan hancur agar Rein bisa dia miliki. Rein menjelaskan kalau Nala tidak merebut karena hubungan Nala dimulai sebelum mengenal Amanda, Amanda adalah pelayan di kafe yang didirikan oleh Rein. Amanda memohon maaf atas perbuatannya, Rein dan Nala pun memaafkan, tentunya dengan surat pernyataan kalau tidak akan mengulangi tindakan tersebut,