
Kenyataan pahit harus Nala terima, tanpa disadari siapapun telah mengantar Roger pada kehidupan baru bersama orang yang baru. Tanpa ada ynag menyadari mereka di tempat yang sama, termasuk saat Roger terpuruk di balkon hotel, dia memandang dari jendela bangunan hotel didepannya. Semakin menyayat hati, Roger dan Lisa sudah jauh dalam hubungannya, itu artinya sudah tidak ada keharusan untuk tetap menyimpan perasaannya, air mata menetes perlahan.
Saat hari tunangan tiba, Lisa diam-diam menghadiri meski tidak langsung masuk kedalam rumahnya, dia mengenakan kebaya dengan bahan yang dibeli bersama untuk rencana pertunangan mereka, meskipun pada akhirnya gagal. Nala semakin yakin untuk merelakan sepenuhnya, dia melambaikan tangan sebagai tanda perpisahan untuk yang terakhir kalinya. Pandangan mereka saling temu, Roger menatap diam, sedangkan Nala segera berlalu pergi.
Nala masuk kedalam mobil, terlihat dari kejauhan Roger berlari mencarinya, terdengar sayup-sayur namanya dipanggil, namun diabaikannya.
"Tolong segera jalan ya, pak"
"Baik, kak!"
Sang sopir terus memperhatikan wajahnya dari kaca depan, terlihat wajah sedih dan putus asa, untuk menghibur maka berusaha mencari topik pembicaraan tapi responnya seolah tidak ingin bicara.
"Kak, mau kemana?"
"Keliling kota ini saja!"
"Kak gak takut sama saya, gak takut kalau saya orang jahat?"
"Saya bawa pistol dan sedang marah, kalau jahat saya tembak saja!"
"Saya gak jahat, kak!"
Menyusuri jalan kota yang tidak begitu ramai, tempat Roger mengukir sejarah hidupnya, tempat Nala merelakan salah hal yang berharga. Tiba-tiba dia tersenyum sembari memejamkan mata, dan membuka kaca jendela mobil utuk menikmati udara kota sebelum pergi jauh dan tidak akan pernah kembali.
"Kak, kita mampir ke kafe sepupuku ya" Ajak Sang sopir taksi.
"Cantik loh kafenya" Dia berusaha meyakinkan.
"Jauh gak?" Tanya Nala.
"Gak kok, tinggal belok kanan aja ini" Terangnya.
"Boleh" Responnya singkat.
Sejak awal masuk mobil nama sopir taksi tidak ditanyakan karena Nala berfokus pada perasaannya, segera dia menanyakannya.
Tiba di sebuah kafe yang asri, luas, sejuk, dan terlihat elegant. Terpana memandang keseluruhan kafe, terlihat cantik sekali dan sangat bagus untuk foto-foto. Dion, si sang sopir mempersilahkan Nala untuk masuk kedalam, semakin kedalam semakin terlihat indah, dalam hati mengatakan kalau ada kafe secantik ini di kota yang jauh dari hingar bingar suasana kota, memang disini kota tidak begitu ramai, berbeda dengan suasana kota di pulau jawa.
"Halo, selamat datang, kakak cantik!" Sapa ramah seorang pria
"Halo, Bang, sayaaa..."
__ADS_1
"Ini penumpangku, bang, dia lagi patah hati" Dion mulai mengisahkan, sedangkan aku mulai memandang tajam.
"Jadi, aku bawalah dia kesini biar terhibur dengan kafemu, bang!" Lanjutnya tanpa memperdulikan ekspresi wajahku.
"Oh, silahkan nikmati kafe ini, spesial buat kamu hari ini, makan apa yang disuka, gratisss!"
"Aku mampu bayar kok!"
"Bukan gitu, Abang tuh alumni patah hati parah, jadi memang ini kebijakan kafe untuk mengistimewakan orang yang patah hati, supaya orang itu tidak menyerah karena masih ada yang peduli" Jelas Dion.
"Iya kan, bang!" Dion menuntut persetujuan.
"Iya" Responnya sembari mengekspresikan ingin menjitak sepupunya.
"Nala" Ucap Nala.
"Rein" Sembari menyambut uluran tangan Nala.
"Disana ada taman, akan aku tutup sementara supaya kamu tidak terganggu dengan pengunjung lain" Rein menunjuk kearah samping kafe.
"Iya, terimakasih ya!"
[Tetap kuat untukmu wanita baik dan hebat, meskipun priamu telah dicuri orang. Permohonan maaf tidak akan cukup menyembuhkan lukamu, maka biarkanlah dia hidup bersama dengan pria yang telah diambilnya, dan biarkan mereka bertanggung jawab atas perbuatannya. -Lisa-]
Air mata kembali mengalir di pipinya, tubuhnya bergetar kemudian menangis sekeras-kerasnya agar emosinya terlampiaskan. Tubuhnya terkulai di rerumputan, terpaan angin membawa kelopak-kelopak bunga yang berguguran. Diambilnya satu mahkota bunga pada rambutnya, ditaruh pada telapak tangan dan diperhatikan dengan seksama.
"Meskipun gugur bunga tetaplah bunga" Suara Rein mengejutkan Nala
"Kamu pernah patah hati?" Tanya Nala yang mengubah posisinya dari tiduran ke duduk.
"Pada hari H pernikahan, pengantinku kabur bersama pria lain" Ucap Rein sembari duduk disebelahnya.
"Aku sangat terluka, keluarga sangat malu, hingga pergi ke psikolog untuk memulihkan" Lanjut Rein.
"Berarti kisahku belum ada apa-apanya ya, aku saja yang lemah!"
"Tidak begitu, setiap orang punya ketahanan yang berbeda-beda, tidak bisa disamakan"
Semangat baru diperoleh Nala, dia tidak sendirian yang berjuang menyembuhkan diri dari luka, banyak hal yang dipelajari dari cerita Rein, bagaimana caranya untuk sembuh serta melanjutkan hidup yang jauh lebih baik. Melihat keadaan Rein sekarang, terlihat kalau sudah pulih dan sudah bisa untuk menerima orang baru, hanya saja belum menemukan yang tepat.
***
__ADS_1
Nala kembali menuju hotel karena jadwal keberangkatan pesawat habis magrib sedangkan waktu sudah menunjukkan sudah ashar. Dion mengantarnya ke hotel, dari situlah ketahuan kalau Dion bukanlah sopir taksi sepenuhnya, menjadi sopir hanya sebagai hiburan saat merasa bosan karena sesungguhnya dia pemilik pengusaha, dari Dion juga cerita lain tentang Rein diketahui Nala. Salah satunya tentang ucapan seseorang yang mengatakan kalau jodohnya Rein adalah wanita yang menemuinya di kafe setelah patah hati, dari situlah dia terinspirasi untuk membuat kafe seindah mungkin dan papan berisi tulisan motivasi yang ditulis oleh para pengunjung. Tujuannya agar siapapun yang sedang patah hati akan tetap bersemangat saat membaca pesan-pesan tersebut, meskipun tidak sedikit yang jahil menuliskan diluar tema, biasanya akan diambil dan disimpan di tempat lain.
"Jangan-jangan kamu bakal jadi sepupuku!" Teriak Dion antusias.
"Mana ada gitu, gak lah, aku mau pergi dari sini dan ga bakal balik lagi" Tepis Nala.
"Jodoh gak ada yang tahu"
"Kalau kalian betulan jodoh, aku buatkan villa di puncak bogor"
"Buat apa? hahaha"
"Honeymoon, dodol!"
"Gak perlu beli villa juga kali"
"Investasi loh, terus kalau lagi berantem tujuannya jelas"
Mereka tertawa bersama, perjalanan terasa seru, tawanya kembali menghias wajahnya. Nala mengucapkan banyak terimakasih karena telah menghibur dengan hal-hal yang unik. Tidak lupa menitipkan rasa terimakasih pada Rein yang tidak bisa ikut mengantar karena pengunjung kafe yang ramai. Dion dan Rein telah menyiapkan bingkisan sebagi oleh-oleh.
Nala menjatuhkan tubuhnya ke kasur hotel, tubuhnya terasa sangat lelah, sejenak matanya terpejam. Namun segera beranjak untuk mandi mengingat waktunya tidak banyak. Hotel terletak tidak jauh dari bandara, jalan kaki saja bisa kalau tidak ada kendaraan umum atau taksi.
***
Menghindari keterlambatan maka Nala bergegas menuju bandara, sesampainya di lobi ada Rein dan Dion yang menunggunya karena akan mengantarnya ke bandara. Nala terkejut dengan kehadiran mereka karena sebelumnya tidak ada pembicaraan terkait akan diantar ke bandara.
"Kita ingin pastiin tamu spesial kafe hari ini pulang dengan selamat" Dion memberi keterangan.
"Terus kenapa kamu bawa koper?" Tanya Nala sambil menunjuknya.
"Aku mau kenalan sama orangtua kamu" Jawab Rein mantap.
"Hah? apaan sihhh!!"
"Kenalan sebagai teman kok, kamu tenang aja" Dion berusaha menenangkannya.
"Siapa tahu di tempatmu ada lahan yang cocok buat kafe berikutnya kan?" Sambung Rein.
"Rekan kerja jadi rekan berumah tangga" Ledek Dion.
Dion mendapat tatapan tajam dari Rein dan Nala, dia hanya tersenyum sembari mengajak berdamai, kemudian beralu meninggalkan otel menuju bandara.
__ADS_1