
"Permisiiiii....!!"
"Sepupu...oi sepupu...!"
Nala yang tidak asing dengan suaranya bergegas membuka pintu, didapatilah Dion dengan barang bawaan yang super banyak. Mata Nala membelalak melihat tingkahnya, Dion tidak peduli dengan tatapan Nala, segera meminta izin untuk masuk rumah, ingin melihat Rayyan yang katanya menggemaskan. Hari itu Rein sengaja tidak pergi kemana-mana untuk menyambut sang sepupu tersayang karena apabila tidak begitu bisa-bisa Dion marah tujuh hari tujuh malam. Dion menyerahkan dua koper besar, satu koper hadiah spesial untuk Rayyan, satu kopernya untuk Rein dan Nala.
"Wahhh, biasanya papi yang dikasih satu koper sama Uncle loh!" Canda Rein, seolah Rayyan mengerti dia pun tertawa versi anak bayi.
"Papinya udah tua ya jadi dikit aja!"
"Nala, tolong unboxing ya!"
"Ok siap!"
Dion pergi mandi, dia sama sekali belum menyentuh Rayyan mengingat dirinya pasti banyak kuman karena usai perjalanan jauh. Nala terkejut dengan isi koper yang untuk Rayyan, terdapat pakaian bayi dari 0 bulan sampai kisaran empat tahun, sepatu, dan masih banyak lagi. Pun isi koper yang untuk Nala dan Rein, terdapat baju-baju untuk mereka juga. Nala heran karena untuk ukuran bujang, Dion pintar memilih barang-berang terutama untuk wanita. Rein seolah mengerti apa yang dipikirkan isterinya, dia segera mengungkapkan kalau Dion memiliki teman wanita yang berprofesi sebagai stylish fashion, biasanya dia akan menunjukkan foto orang yang akan dibelikan baju, maka temannya akan merekomendasikan sesuai karakter yang dilihatnya.
"Tapi kok masih jomblo, sayang!" Celetuk Nala, karena dia melihat Dion laki-laki yang banyak kelebihannya.
"Akibat kebanyakan teman perempuan keren, jadi seleksi aja terus, gak kelar-kelar" Jawab Rein enteng.
"Oh gitu!" Respon Nala yang masih bingung.
"Bukan gitu, aku masih pengen bebas keliling dunia, daripada nanti lalai sama anak isteri kan, jadi nikahnya nanti dulu" Respon Dion yang ternyata mendengar pembicaraan mereka.
"Iya juga sih!" Respon Nala yang masih bingung.
"Kalian jangan khawatir, aku bahagia dengan sekarang kok!" Dion menimang-imang Rayyan.
__ADS_1
"Iyalah, kalaupun sedih kamu pintar sembunyikannya" Ledek Rein.
***
Pertama kalinya Rayyan bertemu keluarga, seolah dia mengerti kalau sedang merantau dan jauh dari keluarga, saat Dion menimangnya Rayyan terlihat bahagia. Nala bahagia melihat hal ini, Rein terlihat makin bahagia, pun Dion yang sangat menyayangi Rayyan, bahkan rela ikut begadang untuk membantu mereka. Pikiran Nala bergejolak, saat melihat Rayyan rewel dia merasa gagal menjadi seorang ibu, tidak becus mengurus sehingga anak tidak bisa tenang, dia sangat khawatir apakah rayyan bahagia memiliki ibu seperti dirinya. Nala terlihat murung dan banyak melamun bahkan saat Rayyan menangis, dia tidak menanganinya, seolah memiliki dunia sendiri.
Dion yang melihat kejadian tersebut merasa aneh dan diam-diam konsultasi dengan dokter, yang dia kenal di pesawat saat menuju jepang. Dari situlah baru mengerti kalau Nala sedang baby blues, hal ini banyak terjadi pada wanita yang baru melahirkan, dan kondisi itu yang sangat dibutuhkan adalah dukungan orang-orang terdekatnya. Dion yang tidak ingin terjadi sesuatu pada Nala pun memutuskan untuk tinggal lebih lama, Rein mengizinkan, dan Dion sudah menceritakan semua apa yang dia ketahui. Dion bukan memiliki perasaan spesila pada Nala, tapi leboh pada tanggung jawabnya sebagai keluarga.
Rein dan Dion setiap hari berusaha membuat Nala bahagia, ada saja tingkahnya, mereka selalu mengatakan kalau Nala adalah ibu yang hebat, sedikit demi sedikit psikis Nala semakin membaik. Dion sengaja menyuruh Nala dan Rein untuk jalan-jalan berdua, Rayyan biar dia yang menjaganya di rumah, alasannya karena ingin lama-lama dengan Rayyan tanpa oranglain sebelum dia berkelana lagi, tentu saja Nala mengizinkan. Awal saat pergi tanpa anak dia khawatir, tapi dengan tegas Rein menenangkan.
"Biarkan Uncle nya menikmati waktu berdua, sayang!" Ucap Rein.
"Iya sih!" Respon Nala singkat.
"Dia kerjaan sampingannya jaga bayi loh!" Rein menambahi.
"Anggap saja kita lagi dikasih bonus pacaran!" Rein menggodanya agar tertawa.
"Hmmm, mulai gombalnya" Nala terlihat gemas
"Haaahaahahaaha" Tawa Rein.
***
Malam terasa begitu dingin, teh hangat menjadi teman berbincang. Kebiasaan Nala dan Rein saat memiliki waktu senggang di malam hari adalah berbincang di taman belakang rumah, sekedar bercerita tentang hari yang dilalui ataupun cerita lainnya. Dion belum pulang, dia tengah menjaga Rayyan, bahkan dia yang meminta agar Nala dan Rein sering menghabiskan waktu bersama, selama ada di Jepang Dion akan selalu menjaga Rayyan. Kehadiran Rayyan mengubahnya menjadi pria rumahan, sejak awal datang ke Jepang belum sekali pun jalan-jalan.
Rein menghampiri Nala yang lebih dulu berada di taman, Nala menyambut hangat dan memintanya untuk segera duduk disisinya.
__ADS_1
"Sayang, Rayyan sudah tidur?" Tanya Nala.
"Hmm, sudah nyenyak sama Uncle nya, bahkan sudah menyiapkan alarm memberi ASI yang sudah disimpan" Jawab Rein.
"Nanti kalau kurang pasti di kulkas tersedia banyak" Ucap Nala.
"Iya, penghangat susu pun sudah diboyong ke kamarnya" Ucap Rein sembari heran.
Rein bercerita banyak hal yang dialaminya, baik itu terkait kuliahnya maupun bisnisnya. Nala menyimak dengan seksama, dia pun tidak lupa memberi semangat. Rein perlahan-lahan membuka topik yang berkaitan dengan keadaan baby blues Nala.
"Aku takut menjadi Ibu yang gagal, sayang!" Kalimat terlontar dengan lirih.
"Sayang, aku juga bertanggung jawab atas Rayyan, kita lakukan bersama-sama ya" Rein berusaha menyemangati.
"Iya, sayang, maaf ya karena aku sempat lepas kendali" Nala terlihat menyesal.
"Aku gak marah kok, justru aku harus selalu mendukung dan mensupport isteri yang cantik ini"
"Sayang masih mau sama aku kan dengan keadaan fisik yang gak seperti dulu?"
"Iya dong, aku berperan atas perubahan fisikmu, karena aku yang hamilin sayang"
"Dasar! hehe"
Mereka tertawa bersama, Rein pun memberikan fasilitas apabila Nala ingin melakukan perawatan atau olah raga dengan trainer untuk menurunkan berat badannya. Nala yang mendengar hal tersebut sangat senang, karena dia ingin tetap memiliki badan yang ideal dan terawat meskipun sudah memiliki anak. Nala tidak ingin kalau suaminya tidak nyaman dengan keadaan sekarang, meskipun sebenarnya tidak masalah bagi Rein.
Rein merasa lega melihat Nala yang mulai terlihat bahagia kembali, saat isteri sedang berada di titik baby blues usai melahirkan maka sebagai suami harus bisa membuatnya kembali bahagia dan yang paling penting mendukung serta membantu. Support dari suami merupakan hal yang penting, jangan sampai malah menghancurkan mentalnya juga dengan menuntutnya menjadi isteri dan ibu yang sempurna, karena sebagai suami pun belum tentu sudah sempurna.
__ADS_1