Masih Mencintai Mantan

Masih Mencintai Mantan
Mari Menikah


__ADS_3

Kapal yang nyaris karam karena kehilangan nahkoda, kini sudah ada nahkoda baru yang siap membawa kapal kembali belayar. Tepat satu tahun saling mengenal, Nala memutuskan menerima pinangan Rein, pria yang sudah genap berusia 30 tahun. Pertemuan keluarga sudah dilaksanan, tidak ada acara resmi pertunangan, karena keluarga mengusulkan setelah pertemuan ke proses persiapan pernikahan. Rasa syukur terus terucap, keluarga para pihak menerima dengan baik.


"Nanti setelah nikah jangan tinggal sama orangtua dan mertua ya" Pesan Bu Tyas, selaku ibunya Rein.


"Kamu sudah Ayah usir dari rumah, hahaha" Timpal Pak Sam, selaku Ayah Rein.


"Supaya kalian fokus berumah tangga tanpa campur tangan dari kami, memang tidak ada niat begitu, tapi gimana kalau khilaf?" Bu Nadya memberi penjelasan.


"Ok, siap!" Seru Rein dan Nala kompak.


Mendekati hari pernikahan terdapat perasaan yang bercampur aduk, dari yang bahagia, khawatir, takut, dan masih tidak percaya kalau akan mengambil keputusan sebesar ini dalam hidupnya. Nala berusaha meyakinkan diri karena niat dan tujuan baik maka Tuhan pasti memberkahi, Tuhan pasti memberi jalan apabila ada kesulitan yang kelak akan dihadapi. Bu Nadya rutin memberi wejangan, bahkan mengambil cuti kerja demi menemani Nala mempersipkan hari pentingnya. Tidak menyangka kalau puteri kecilnya kini sudah dewasa, dan sudah tiba menetapkan seorang pria sebagai teman dan cintanya, rasanya baru kemarin menimang-nimang, drama saat awal memasuki dunia sekolah, tidur yang harus dielus-elus kepalanya. Begini rasanya saat harus mengantar seorang anak pada dunia pernikahan.


***


"Adik, jaga diri baik-baik ya, Abang sayang sekali"


"Iya, Bang Rio! oh ya sudah saatnya abang memikirkan kehidupan pribadimu"


"Menikahlah, bang!"


"Kalau dia tidak bisa menjaga kamu, bahkan menyakitimu, bilang ya, abang akan bawa kamu pulang!"


"Iya, bang, percaya dengan adik kalau akan baik-baik saja ya"


Romantis seorang Abang dan adik begitu terasa, semenjak sang ayah pergi maka mereka saling menjaga, Rio memiliki tanggung jawab besar untuk mengambil alih tugas ayahnya, selama ini meski usianya sudah 35 tahun, dia belum menikah. Dia ingin memastikan Nala bertemu dengan orang yang tepat, melaksanakan puncak tugasnya yakni menikahkan, baru dia akan berpikir tentang dirinya sendiri.


"Menikahlah juga, nak! Adikmu sudah mau menikah, mama pun baik-baik saja kan? kamu selama ini banyak berkorban, sudah saatnya memikirkan dirimu sendiri"


"Iya, ma, tenang saja, aku masih nyaman sendiri, nanti kalau sudah tiba waktunya pasti aku beritahu"


"Ok, nak, gimana baiknya menurutmu ya, mama hanya ingin kebahagiaanmu"


"Iya mama sayang"

__ADS_1


Susana malam makin larut, persiapan dekorasi untuk acara pernikahan besok sudah siap. Adlin menginap di rumah Nala, malam terakhir sebelum mengantarnya menjadi seorang isteri. Terlihat perasaan kehilangan dari raut wajahnya, sahabat sejak kecilnya akan memasuki bahtera rumah tangga. Persahabatan mereka berawal dari perkenalan sebagai sesama tetangga di komplek ini, ibu mereka yang sama-sama single parent semakin membuat akrab dan saling membantu, salah satunya menjemput di sekolah atau menitip anak. Ayah Nala meninggal saat usianya 6 tahun, sedangkan ayahnya Adlin telah bercerai dengan ibunya sejak usianya 5 tahun, ayahnya entah pergi kemana karena hingga saat ini belum pernah bertemu lagi, karena hal itu Adlin menganggap kalau sang ayah telah meninggal.


Adlin dan Nala saling bercerita untuk mengenang kisah persahabatannya hingga saat ini, adakalanya mereka tertawa dan menangis, saat mengenang berhasil melalui masa sulitnya masing-masing. Nala meminta supaya Adlin membuka hati untuk pria, jangan menutup rapat karena tidak semua sama seperti ayahnya, Adlin pun mengiyakan sekaligus mengutarakan kalau selama ini, bukannya menutup rapat, tapi dia sudah menaruh hati pada Rio, Abangnya Nala. Nala terkejut bukan main, bagaimana Adlin begitu rapi menutupi hal tersebut? tidak ada seorang pun yang menyadarinya. Tentu saja ini harus menjadi rahasia karena jangan sampai Rio tahu, Adlin merasa malu dan tidak pantas. Rio memang selama ini selalu menjaga Adlin dan ibunya juga, dia seperti memiliki dua adik, jadi kalau habis tugas diluar kota maka selalu membelikan oleh-oleh, pun saat ulang tahunnya juga. Nala tidak melarang kalau memang Adlin menyukai Rio, tapi keputusan akhir ada ditangannya, pesannya Nala apabila Rio menikah dengan perempuan lain maka jangan sampai Adlin membencinya karena jodoh manusia hanya Tuhan yang mengetahui.


"Sejak kapan kamu suka, bang rio?"


"Tiga tahun yang lalu"


"Sumpah sihh, kamu pinter banget nutupinnya"


"Kan malu kalau waktu itu ketauan, aku masih anak ingusan, sekarang kan udah mending"


"Udah keren yang ada, jadi dokter muda"


"Kamu bisa aja sih!"


"Apa yang buat kamu jatuh cinta?"


"Terus?"


"Bu, aku sekarat tolong bantu aku"


"Hah?"


"Bang Rio bilang, kalau suatu hari nanti aku bakal menyesal kalau menyerah sebelum kalah. Suatu hari saat ada yang minta tolong, harusnya aku bisa bantu dengan ilmu medis, tapi karena menyerah sebelumnya, aku cuma bisa lihat dia sekarat dan bantu panggil ambulan aja, ya kalau cukup waktu kalau gak?"


"Kok aku terharu sih"


"Dasar!"


***


Hari pernikahan Nala pun tiba, dia terlihat cantik dan anggun dengan kebaya berwarna putih, riasan make up yang soft semakin memancarkan kecantikannya, meskipun terlihat ekspresi wajah tidak tenangnya.

__ADS_1


"Slow kaya Abang loh, dik!"


"Gak usah sok tenang, dalem hati abang mesti jedug-jedug kan, hahaha"


"Tau aja sih! kalau nanti abang salah-salah gimana?"


"Ku pecat jadi Abang!!"


Nala dan Rein tidak melaksanakan lamaran secara formal, saat satu bulan sebelum genap setahun mereka kenal, kedua keluarga kembali bertemu untuk mengutarakan niat baik Rein, sengaja memilih tanggal pernikahan awal mereka bertemu maka langsung fokus untuk acara menikah ketimbang acara lamaran. Nala berjalan menuju meja ijab Qabul, terlihat Rein yang sudah siap meskipun terlihata deg-deg an, pada acara akad ini yang hadir hanya keluarga, teman-teman dekat, dan tentunya pihak WO yang membantu acara, untuk resepsi akan dilakukan pada sore hari.


"Saya terima nikah dan kawinnya Aleysia Ailnala Hermawan binti Aditya Hermawan dengan mahar tersebut dibayar tunai"


"Sahhh?"


"Sahhhhhh!!!!"


Akhirnya mereka resmi menjadi suami isteri, tiba waktunya untuk mereka berlayar pada kehidupan rumah tangga. Mahar 30 gram logam mulia dan kalung berlian 5 karat menjadi mahar, Nala tidak menetapkan berapa dan apa, dia hanya berpesan pada Rein supaya memberi mahar yang pantas untuknya. Rein pun tidak main-main untuk mempersiapkan mahar dan cincin pernikahannya, Rein mencari bahan yang kualitas terbaik, mendesain sendiri bentuknya karena baginya Nala istimewa dan ingin memberikan yang terbaik dan berbeda.


Usai pernikahan Nala akan langsung diboyong ke rumah Rein yang sudah dipersiapkannya, berhubung masih ada bisnis dan tidak tega kalau langsung menjauhkan Nala dengan keluarga, maka akan menetap sementara di Yogyakarta. Tidak menutup kemungkinan kalau Rein akan membawa Nala pergi jauh, entah ke luar pulau jawa atau bahkan keluar negeri, tentunya ini sudah menjadi persetujuan Nala sebelum nikah.


Acara akad nikah begitu khidmat, setelahnya pun terasa hangat, mungkin karena tamu undangan orang-orang dekat sehingga bisa benar- benar menikmati acara, setelah selesai foto-foto dan membuat video, acara selanjutnya makan bersama, siapapun yang hadir harus ikut makan, termasuk staf WO, bagi bu Nadya kebahagiaan puterinya semua yang ada harus bisa merasakan juga.


"Mas, tolong fotokan Abang Rio dan Adlin di Pelaminan dong!"


"Ok siappp!"


"Buat kenang-kenangan loh, kalian kan saudaraku"


Adlin dan Rio bertukang pandang, mengiyakan maunya Nala, nyaris pertahanan Adlin runtuh karena ini baru pertama kalinya mereka foto berdua.


"Sayang, mereka jodohin aja sih!" Bisik Rein perlahan pada Nala.


"Rencananya gitu"

__ADS_1


__ADS_2