
Kabar kehamilan Nala menjadi kabar yang sangat membahagiakan bagi keluarga, ada kabar bahagia lagi yang semakin membuat lengkap, pernikahan Rio dan Adlin. Siapapun tidak pernah menyangka kalau pada akhirnya mereka adalah jodoh, mereka yang sebelumnya tidak pernah menjalin hubungan dengan orang lain alias betah dengan kesendirian ternyata orang pertama yang disukai diam-diam menjadi pasangan hidupnya. Rio yang sebelumnya menganggap Adlin sudah seperti adik sendiri, pun Adlin menganggapnya sebagai Abangnya sendiri, bahkan saat masih SMP dengan bangga menyebut Rio sebagai Abang terbaiknya.
Semua persiapan berjalan lancar, tidak seperti saat Nala akan menikah, Adlin menginap di rumahnya. Kali ini Nala tidak bisa menginap karena keadaan hamil muda yang mengharuskannya banyak istirahat di rumah, Adlin tidak marah malah dia ingin menemani disaat keadaan Nala seperti ini, tapi tidak memungkinkan. Nala sudah menginap di rumah orangtuanya sejak dua hari sebelum acara pernikahan Rio, supaya tidak mendadak dan kalau terjadi apa-apa sebelum hari H bisa langsung dirawat orangtuanya. Rein pun ikut menginap, setiap pulang kerja bukan lagi ke rumahnya. Sempat Rein mengalami lupa kalau Nala sedang pulang, dia pulang ke rumahnya dan bingung karena Nala tidak ada dan menelfon menanyakan dimana keberadaannya, mungkin karena sudah terbiasa pulang kerja selalu ke rumah pribadinya dan Nala selalu ada di rumah.
Setelah menikah Nala diminta fokus untuk berumah tangga, Rein memberi saran ketimbang berkerja dengan oranglain lebih baik mengembangkan bisnis yang sebelumnya dirintis oleh Rein, bila perlu mereka membuat bisnis baru bersama. Hal ini sudah dibicarakan sebelum menikah dan Nala pun menyetujuinya, memang sebelum disarankan pun Nala sudah berkeinginn untuk fokus dalam berumah tangga dan berbisnis. Mempertimbangkan Rein sudah sibuk dengan pekerjaan dan bisnisnya, kalau dia sibuk juga bagaimana dengan anak-anaknya, dia tidak ingin anak kehilangan figur orangtua karena sibuk dengan pekerjaan. Berangkat kerja saat anak belum bangun, pulang kerja saat anak sudah tidur, belum lagi kalau diharuskan lembur saat weekend.
"Adikk.." Sapa Rio
"Iya, Bang!"
"Do'akan Abang ya besok akan menikah, maaf kalau selama ini belum sempurna dan ada ynag belum Abang lakukan buat Adik"
"Abang, yang dilakukan selama ini sudah lebih dari cukup, saatnya Abang mikirin diri sendiri ya"
"Iya dik, terimakasih sudah sayang dengan Abang"
"Adik juga mau berterima kasih ke Abang untuk segalanya"
Raut wajah Rio terlihat bahagia karena esok akan menikah, tapi ada kekhawatiran seolah belum rela untuk meninggalkan adik dan ibunya menuju kehidupan rumah tangganya. Dia khawatir kalau tidak bisa maksimal lagi merawat keluarga, karena terbagi dengan urusan rumah tangganya. Nala dan Bu Nadya meyakinkan Rio kalau semua itu hanya pikirannya saja, itu wajar karena selama ini Rio yang mengurus keluarga, Rio diminta untuk berpikir positif dan niatkan semua karena Tuhan agar semuanya terasa tenang. Nala pun menegaskan kalau sekarang diriny sudah menikah, Rein yang akan menjaganya, Rein juga tidak keberatan untuk membantu Nala menjaga Bu Nadya.
__ADS_1
***
Hari pernikahan Rio dan Adlin pun tiba, berhubung jarak rumah hanya berbeda beberapa rumah maka memutuskan untuk berjalan kaki, sekalian mengambil dokumentasi versi Rio, yang lain pun tidak keberatan. Ada keajaiban pada diri Nala, pagi hari yang bisanya morning sickness dan tidak bisa beranjak dari tempat tidur, pada hari H pernikahan Abang dan sahabatnya seolah menjadi kuat, seperti tidak hamil, Nala lincah seperti biasanya.
"Tau aja sih kalau hari ini istimewa, mau ikutan liat Uncle nikah ya" Ucapnya lirih sembari mengelus perutnya.
"Iya dong, Mamiiii..!" Sahut Rein.
"Cucu mama the best ya!" Bu Nadya pun ikut menyahut.
Tiba di rumah Adlin, semua dekorasi sesuai yang diinginkannya, para keluarga menyambut kehadira keluarga Rio. Berhubung Ayah Adlin tidak diketahui rimbanya sehingga tidak bisa menjadi wali maka digantikan oelh Pamannya. Terlihat sedikit kesedihan Adlin, tapi seketika berubah menjadi bahagia saat melihat Nala yang menyemangati. Bu Nana selaku ibunya Adlin pun ikut terharu dengan kisah puterinya, selama ini Adlin fokus dengan pendidikan karen dia sadar kalau Bu Nana membanting tulang demi memberikan yang terbaik. Adlin tidak mau biasa saja, dia sangat giat dalam belajar sehingga memperoleh beasiswa, tidak sampai disitu saja karena dia termasuk lulusan yang cepat, segera melanjutkan KOAS, setelah usai dia langsung keterima kerja di salah satu rumah sakit ternama di Yogyakarta. Orang yang melihat menganggapnya mudah, tidak tidak dengan Adlin yang menjalaninya, setiap hari berjuang, hingga dia tidak punya waktu untuk nongkrong sana sini, atau bahkan memiliki pacar.
***
Malamnya setelah pernikahan Rio dan Adlin, rumah terasa sepi, biasanya ada Rio yang mondar-mandir kesana sini tidak jelas, atau nongkromg di teras belakang sembari bermain game. Terasa kosong, begitulah Bu Nadya menafisrkannya, tapi itulah hidup yang harus dijalaninya sebagai orang tua dari seorang putera dan seorang puteri, saat tiba waktunya maka harus merelakan anak-anaknya menapaki kehidupan berumah tangga. Nala dan Rein masih menginap di rumah Bu Nadya karena tidak tega kalau langsung pulang ke rumah mereka.
Di lokasi lain, sebuah hotel mewah, Rio dan Adlin diam membisu. Rio memandang keluar jendela, menikmati pemandangan kota. Adlin bingung harus bagaimana, dia sebelumnya belum pernah hanya berdua dengan seorang pria dalam satu ruangan, oh dia sudah menikah lebih tepatnya bukan lagi satu ruangan tapi satu ranjang juga. Rio sejenak sedang memikirkan Bu Nadya, memikirkan bagaimana di rumah, tapi segera tersadar kalau saat ini sedang bersama Adlin yang sudah menjadi isterinya.
"Oh, maaf ya Adlin" Rio yang tersadar segera meminta maaf.
__ADS_1
"Maksudku, sayang" Koreksi Rio.
"Abang, jangan paksakan gitu ya, kita jalani semua perlahan-lahan" Adlin memaklumi semua yang terjadi.
"Iya, maaf canggung sekali"
"Tidak apa-apa, bang"
"Hmmm"
"Bagaimana kalau malam ini kita ngopi bersama, kemudian cerita-cerita, tentang apapun!"
"Abang setuju, Abang yang buatkan kopi ya, ada ketentuan khusus gak?"
"Gak, selayaknya kopi saja"
"Ok"
Malam pertama yang didefinisikan kebanyakan orang sebagai momen bermesraan diajak ranjang, berbeda dengan malam pertama mereka, memilih ngopi bersama dan bercerita, anggap saja sebagai ajang untuk mengenal lebih jauh lagi antara mereka. Mereka menghabiskan malam berbincang tentang pekerjaan, hobi, jalan-jalan, cerita lucu saat kecil, tentang ayah, dan lainnya. Tanpa sadar mereka tertidur dengan posisi duduk berdampingan, hingga pagi menjelang.
__ADS_1