Masih Mencintai Mantan

Masih Mencintai Mantan
Diatas Awan


__ADS_3

Nala masih terdiam karena bingung memikirkan kebetulan yang terjadi sejak kemarin, matanya tertuju pada awan-awan diluar jendela, terasa lega untuk pergi dari kota ini, dia sudah benar-benar melepaskan Roger.


"Kamu suka duduk dekat jendela?" Rein membuka pembicaraan.


"Ooo, mmm, iya" Jawab Nala yang terkejut.


"Kenapa?"


"Bikin rileks!"


"Oh"


Rein terlihat ikut menikmati suasana diluar pesawat sembari mencuri pandang ke wajahnya, Nala yang menyadarinya pun memilih diam,dan tertidur pulas, karena beberapa hari ini tidak tidur. Rein memposisikan kepala Nala dengan benar agar tidurnya nyaman.


Selama perjalanan Rein sangat menjaga keadaan Nala, rela tidak tidur meskipun terasa mengantuk, pikirannya berusaha menerjemahkan tentang perasaannya. Setelah lima tahun batal nikah, dia memilih menutup hatinya, tidak ada yang menarik, meskipun begitu Dion tidak pernah lelah memperkenalkan pada wanita. Pertemuan pertama dengan Nala, hatinya terasa berdebar-debar dan bahagia, seolah ada yang berbeda dan istimewa. Meskipun saat itu terlihat kesedihan yang mendalam, seperti keadaannya lima tahun yang lalu. Rein sangat merasakan kesetiaan yang dimiliki Nala, hingga berujung pada kecewa, marah, tapi berusaha untuk tidak dnedam.


"Haus.." Suara lirih Nala membuyarkan pikiran.


"Ini" Rein bergegas memberikan air miniral.


"Terimakasih"


"Kamu mimpi buruk?" Tanya Rein.


"Sedikit buruk!" Jawab Nala lesu.


"Yasudah tenangkan diri dulu, sebentar lagi sampai" Rein berusaha menenangkan.


"Sampai transit" Nala menanggapi dengan ekspresi bercanda.


***


Bandara tempat transit terlihat biasa saja, tidak rame tidak pula sepi, mereka beriringan menuju gate yang sudah ditentukan. Berhubung perut terasa lapar maka memilih makan dulu sebelum masuk gate, Rein sengaja memilih tempat yang viewnya langsung pada pesawat-pesawat sedang parkir, supaya terasa suasana bandaranya.


Nala makan sangat lahap menu pesannanya, tak ada lagi menjaga image karena perutnya jauh lebih penting, dari sinilah baru sadar kalau belum makan sejak dua hari, hanya minum air saja. Rein senyum-senyum melihat tingkahnya, baru pertama kali melihat wanita seperti ini.


"Pelan-pelan makannya!" Ucap Rein yang tidak tahan gemasnya.

__ADS_1


"Ok, siap!" Respon Nala dengan mulut penuh makanan.


" Kalau masih lapar, nambah aja, kita masih lama transitnya" Sambung Rein


Nala hanya tersenyum kemudian melanjutkan  makannya, dia merasa sangat bahagia dan semangat makan, setelah hmapir setahun nafsu makannya menurun, ditandai dengan berat badan yang turun drastis. Rein melihat permasalahan itu, kini Nala lahap bukan karena dua hari tidak makan tapi karena perasaannya yang sudah jauh membaik.


Pada kejauhan Rein melihat Rose dengan anak laki-lakinya menuju tempatnya bersama Nala. Rein memohon pada Nala agar mengiyakan apapun yang dikatakannya saat bertemu Rose, Nala mengiyakan saja karena dugaannya hanya untuk hal receh.


"Reinnnn, how are you?" Sapa Rose yang sudah didekatnya.


"Baik, kamu gimana?" Tanya Rein untuk basa basi.


"Baik juga" Jawabnya sembari melirik Nala


"Aku boleh gabung?" Sambungnya


"Oh, duduk aja!" Respon Nala santai, terlihat kalau Roger tidak suka.


Rein dan Nala fokus makan, sedangkan Rose dan menunggu pesanan diantar. Sejauh ini mereka saling diam, bingung memulai topik apa.


"Nala" Jawabnya singkat.


"Aku Rose, mantannya Rein!" Rose mengulurkan tangan.


"Oh, iya, salam kenal"


"Gak usah disebut juga, suamimu bisa ngamuk nanti!" Tegur Rein.


"Tenang, dia gak ikut kok!" Sanggah Rose.


Rein merasa kesal dengan tingkah Rose yang seolah memandang rendah, bukan karena masih membenci atau masih menyukai, lebih pada malas terlibat dengan dia dan keluarganya, terlebih sudah menikah. Rein sengaja membuat Rose tidak nyaman, dia menyuapi Nala dan membicarakan topik-topik yang Rose tidak mengerti agar pindah meja. Tapi, sia-sia karena tidak juga pergi juga, yang terjadi malah anak laki-lakinya minta dipangku oleh Rein, melihat Rein yang tidak nyaman maka Nala mengajaknya masuk ke gate, tentu saja Rein merasa lega.


"Seleramu bagus juga, cantik dan muda!" Seru Rose yang membuat pengunjung melihat kearah Rein.


"Tindakanmu juga keren, meninggalkanku saat hari penikahan!" Rein membalas seruannya dengan tenang, kemudian meninggalkan tempat tersebut.


Rein menggenggam erat tangan Nala, berjalan dengan tenang, sesekali saling tersenyum. Rein tidak sedikit pun kesal dengan tingkah Rose, karena dia sudah mengetahui kalau pernikahannya tidak harmonis, suaminya selingkuh dengan banyak wanita. Rose pernah meminta kembali pada Rein, tapi dia menolak karenatidak ingin mengambil hak oranglain, lagi pula sudah tidak berminat dengan Rose dengan tindakannya yang sangat mengecewakan sekaligus mempermalukan keluarganya.

__ADS_1


"Aku ingin menikahimu, Nala" Rein mantap mengungkapkan isi hatinya.


"Kamu gila ya, kita baru kenal, Rein!" Protes Nala.


"Ok, kita coba jalani setahun bagaimana?" Rein berusaha memberi tawaran.


"Ok, deal!" Nala mengulurkan tangannya sebagai tanda sepakat.


***


Entah apa yang ada dipikirannya, bisa jadi berusaha menerima pria baru agar bisa move on dari Roger, bisa dibilang pelampiasan. Nala kehilangan standar tentang pria, tidak peduli lagi mau seperti apa, yasudah jalani yang ada, tidak ada lagi ketelitian entah itu terkait keluarga ataupun finansial kedepannya. Seiring makin dekat dengan Rein, Nala menyadari kalau banyak kelemahannya, tapi berusaha memaklumi dan menerimanya, berpikir praktis sekali, bukan diri Nala yang sesungguhnya.


Roger seolah sudah memiliki tempat permanen di hati Nala, nyatanya meski sudah dengan Rein, ingatan dan rasa untuk Roger masih ada. Pandai sekali menyimpan rahasia tersebut, berusaha keras untuk bisa bahagia bersama Rein. Hidup harus berjalan kedepan, apapun yang terjadi, dunia tidak akan berhenti untuk sekedar memahami hati.


Rein memiliki kekurangan, tapi dia berusaha meyakinkan Nala bahwa akan berubah menjadi lebih baik. Bukankah manusia layak mendapatkan kesempatan? Mungkin sudah menjadi takdir harus mendampingi pria yang sedang berproses.


"Mbak Nalaaaa" Sapa tetangga kos yang lewat.


"Eh Yulia, mau kuliah ya?" Tanyaku saat melihqt tumpukan buku dipeluknya.


"Iya nih mbak, biasalah masih anak baru jadi jadwalnya padet!"


"Oh gak apa-apa, nikmati aja, kalau capek istirahat"


"Siap, mbak Nala!!"


Terbesit rindu kuliah, masa-masa yang seru sebagai mahasiswi, sekaligus sebagai pejuang LDR. Rasanya ingin mengulang masa itu, tapi tidak mungkin karena Nala sadar betul kalau waktu tidak akan pernah bisa terulang, masa itu sekali seumur hidup dan menjadi kenangan terindah.


[Sayang, jalan yuk!] Pesan masuk dari Rein


[Ok]


Meskipun tidak berminat untuk pergi, tapi tidak ingin membuat Rein kecewa. Maka mengiyakan sembari mengumpulkan niat. Bukannya niat yang terbentuk, malah jiwa usilnya hadir, diambilnya ponsel kemudian membuka sosmed.


[Hai, Roger! aku udah penuhi permintaanmu, kalau aku harus mendapatkan yang lebih baik dari kamu, kini aku sudah mendapatkannya]


Nala beranggapan cara itu bisa membuatnya semakin mantap dengan Rein, karena dia ingin apa yang diucapkan dalam pesan menjadi kenyataan. Nala tidak ingin mencintai dua pria dalam satu waktu. Terlihat tanda kalau Roger membuka pesan tersebut, Nala membelalakkan matanya karena terkejud.

__ADS_1


__ADS_2