Masih Mencintai Mantan

Masih Mencintai Mantan
Merantau Dari Yogyakarta


__ADS_3

Yogyakarta menjadi kota yang istimewa, tapi sebentar lagi menjadi kot yang penuh akan dirindukan, Rein sudah membicarakan hal ini sebelumnya kalau tidak selamanya berada di Yogyakarta, sewaktu-waktu di akan pergi, entah itu masih area dalam negeri atau luar negeri. Nala sebagai seorang isteri tentu akan mendampingi kemanapun suaminya pergi, dia ingin selalu bersamanya hingga akhir hayat. Bu Nadya sebagai ibu dari Nala sudah menyiapkan keikhlasan yang luar biasa karena dia ingin puterinya menjadi isteri yang berbakti pada suaminya.


Mengetahui kabar akan merantaunya Nala, sebagai seorang sahabat, Adlin merasa sedih karena sudah tiba saatnya merantau, mau bagaimanapun dia harus bisa mengikhlaskannya. Jepang menjadi negara yang akan dituju Nala dan Rein, Rein akan melanjutkan pendidikan ke jenjang berikutnya sekaligus akan mengembangkan bisnis disana, dengan catatan apabila waktunya masih cukup, karena Rein pun membawa Nala yang sedang hamil, yang dimana membutuhkan perhatian dan perlakuan istimewa.


"Adik disana tenang saja ya nanti, Abang yang akan jaga Mama" Rio berusaha menenangkan.


"Heii, kalian itu tenang saja, Mama tidak masalah kalian pergi jauh"


 Bu Nadya menegaskan.


"Aku akan bantu Bang Rio menjaga Mama" Sambung Adlin.


Bu Nadya dan Bu Nana menyadari kalau anak-anaknya sangat mengkhawatirkan keadaan mereka yang dianggap kesepian, padahal sebagai Ibu tentu mereka sudah menyiapkan diri serta hati kalau tiba waktunya tinggal jauh. Sebagai orangtua tidak penah menuntut anaknya untuk selalu dekat dan merawatnya, balas jasa karena mengandung serta merawat sejak kecil. Mereka pun bersepakat untuk terlibat dalam yayasan sosial agar anak-anaknya tenang karena ibu mereka tidak kesepian. Hal itu menjadi salah satu cara agar anak-anak bisa melangkah jauh tanpa berhenti karena memikirkan ibunya.


Adlin dan Nala pergi ke Mall untuk belanja yang menjadi keperluan saat berangkat dan saat awal berada di Jepang. Berhubung Rein masih ada keperluan, Rio yang mengantar. Sepasang sahabat yang seolah masih jadi gadis, mereka menikmati kebersamaan sebelum dipisahkan jarak. Nala yang kehamilannya sudah memasuki usia enam bulan terlihat makin sehat, tidak ada lagi drama morning sickness, semuanya sudah berjalan normal. Keperluan administrasi sudah diurus, kandungannya pun dinyatakan baik dan diperbolehkan naik pesawat, saat ini untuk keperluan yang akan dibawa kurang beberapa saja.


Orangtua Rein yang mendengar kabar tentang merantau sudah tidak kaget lagi, karena orangtuanya membebaskan, bahkan sejak SMA dia sering pergi ke luar negeri sendirian. Orangtua Rein malahh mengkhawatirkan Nala, tapi Nala segera menenangkannya, bahwa dirinya siap ikut kemanapun Rein pergi. Semua orang sudah merelakan mereka pergi merantau meskipun nanti banyak kerinduan yang harus disimpan, setiap orang punya cara dan ketentuan yang berbeda untuk menjalani kehidupannya.


***


"Sayang, kamu yakin kan?" Rein memastikan lagi.


"Iya, aku akan ikut kemana pun pergi" Respon Nala tegas

__ADS_1


"Kecuali satu tempat, aku gak mau!" Sambung Nala lagi.


"Apa?" Tanya Rein penasaran.


"Neraka" Jawab Nala sembari tertawa.


"Amit-amit sih!" Ucap Rein dengan mengetok meja tiga kali.


Mereka pun tertawa, seperti itulah saat bercanda seolah dunia milik berdua, tidak lupa Rein menyapa calon anaknya yang sedang berada dalam perut, Rein melakukannya karena meyakini saat lahir nanti supaya langsung akrab dengannya, sehingga tidak melulu Nala yang direpotkan. Entahlah teori darimana atau memang teori buatannya sendiri, Nala pun tertawa saja menanggapi kelakuan suaminya yang penuh eksperimen.


***


Hari keberangkatan tiba, semua keluarga mengantar, Bu Nadya terlihat tegar sedangkan Adlin menangis karena ini baru pertama kalinya berpisah sangat jauh.


"Bu Dokter gak boleh nangis, nanti pasiennya kabur semua!" Goda Nala pada Adlin.


"Nanti Abang belikan es krim, pasti berhenti nangisnya!" Rio pun ikut menggoda.


"Kalau urusan itu serahkan sama mamaknya ini!" Sambung Bu Nana.


"Mamak sebelah ini juga bisa kok!" Sambung Bu Nadya.


Mereka mengantar hingga ke batas pengantar, rasanya berat untuk melangkah, tapi Nala menguatkan diri, kota yang menyimpan memori tentang perjalannya dari awal hingga detik ini. Suka duka dilalui, bahkan patah hati terbesarnya ada disini, mungkin ini cara Tuhan untuk benar-benar memulihkan hatinya yang terluka, Tuhan jauhkan dari tempat ini agar tenang. Rein menjadi perantaranya, jujur saja ada kelegaan yang dirasakan Nala, mungkin ini menjadi awal baru, titik balik dari segala pristiwa yang terjadi.

__ADS_1


 


***


Rute pesawat menuju Jakarta karena memang tidak langsung ke jepang, Rein akan menyelesaikan bisnisnya dulu, butuh waktu sekitar tiga hari sebelum berangkat ke Jepang. Perjalanan menggunakan pesawat mengingatkan mereka pada momen pertama kalinya, yakni saat Nala menghadiri diam-diam pertunangan Roger dan Lisa. Sekembalinya ke Yogyakarta, Rein ikut serta, Rein yang saat itu jatuh cinta pada pendangan pertama ke Nala. Nala menikmati Nostalgia tersebut, ingatannya melalang buana. Rein yang menyadari kalau Nala sedang bernostalgia memilih tidak megganggunya, dan memilih menonton film yang disediakan.


Tanpa terasa sudah tiba ke lokasi tujuan, Rein dan Nala dijemput oleh staf yang akan megantar mereka menuju Apartemen, tempat tinggal sementara selama di Jakarta. Setibanya di Aprtemen, Nala merasa heran karena baru pertama kalinya meginjakkan kaki di Apartemen, tentunya dengan view yang perkotaan Jakarta, dia bisa melihat bangunan-bangunan kokoh yang menjulang tinggi, hal yang tidak ditemukan di Yogyakarta karena ada aturan ketentuan tinggi maksimum suatu gedung.


"Sayang suka tempatnya?" Tanya Rein.


"Suka, sayang!" Jawab Nala antusias.


"Aku sengaja pilihin yang spesial"


"Makasi ya sayang"


Rein mulai disibukkan dengan rutinitas menyelesaikan bisnis, Nala memilih untuk berdiam di apartemen karena penting baginya untuk menyiapkan energi saat perjalan menuju Jepang. Nala tahu caranya untuk menghilangkan penat, apalagi hiburannya kalau bukan menonton drama korea, tapi kalau itu bosan juga maka dia akan berjalan-jalan ke Mall terdekat. Nala berpikir sejenak, kemungkinan dia nantinya hidup di Negara Jepang akan ada fase  membosankan kalau seorang diri di rumah, segera dia menepis pikiran tersebut karena disana saat Rein kuliah, ada di kecil yang menemaninya. Sepertinya kenapa Tuhan memberikan anugerah kehamilan, sudah terjawab, tentu saja tujuan tersebut menyesuaikan takdir yang akan dijalani.


Ternyata urusan di Jakarta bisa diselesaikan lebih cepat sehingga kurang dari tiga hari, maka keberangkatan ke Jepang pun menjadi lebih awal dari yang dijadwalkan. Nala merasa deg-deg an karena semakin dekat dengan keberangkatannya, Rein berusaha menenangkannya, semuanya akan baik-baik saja karena dia akan menjaga Nala dengan baik.


***


Keberangkatan sudah tiba, Nala menggenggam erat tangan Rein, Rein tersenyum menenangkan, dia tahu apa yang dikhawatirkan Nala. Tiga tahun bukanlah waktu yang sebentar berada di Negeri orang, baginya itu hal biasa, tapi mungkin tidak bagi Nala yang baru pertama kalinya pergi jauh.

__ADS_1


"Tenanglah sayang, kita akan menjadikan perjalanan ini luar biasa"


"Baiklah, aku percaya padamu!"


__ADS_2