
Dua hari sebelum pernikahan Nala dan Rein.
[Adlin, bagaimana kabar Nala?]
[Kabarnya baik-baik saja!]
[Dia sudah menemukan pendamping?]
[Sudah, segera akan menikah, kalian sudah berada di jalan masing-masing, tolong jangan usik dia ya]
[Pasti, aku cuma ingin memastikan saja kalau dia lebih bahagia, tidak lebih. Seribu kali mengajaknya kembali bersama pasti dia tidak akan mau kan?]
[Iya benar, saling mendo'akan yang terbaik saja]
[Ok, Adlin]
Mendengar kabar tentang pernikahan Nala, menyesakkan dada Roger, hingga detik itu Nala masih menjadi orang yang dicintainya, meskipun telah menikah dan memiliki seorang anak. Nama anaknya pun diambil dari nama Nala, nama "Ailnala" menjadi "Ailnara", Lisa tidak tahu kalau Roger mengambil sedikit nama Nala untuk puterinya, karena selama ini yang Lisa tahu namanya hanya "Nala Hermawan". Pernikahan Roger dan Nala termasuk mewah, adat jawa dan adat sumendo begitu kental, pernikahan dengan resepsinya dilaksanakan di Yogyakarta dan sumatera, saat itu pihak keluarga Roger mengundang Nala, tapi dia tidak hadir karena tidak ingin merusak hati Lisa saat hari bahagianya, selain itu untuk menjaga perasaan Rein juga.
***
Roger sengaja pulang ke rumah orangtuanya tanpa Lisa dan puterinya dengan alasan pekerjaan, padahal niat sesungguhnya karena ingin memastikan dengan mata kepala sendiri kalau Nala menikah. Roger penasaran dengan pria yang sudah berhasil mengambil hati Nala, pria yang telah membuat Nala menendang jauh dirinya, padahal terlihat jelas saat hari tunangannya dengan Lisa, Nala belum ikhlas. Saat Nala datang jauh-jauh untuk memastikan, sebenarnya Roger melihatnya, dari situlah dia merasa paling bersalah pada Nala. Wanita yang telah tergantikan oleh Lisa, dia menyesal kenapa saat masalahnya meruncing tidak pulang untuk membicarakan dan menyelesaikan langsung dengan Nala. Padahal besar kemungkina kalau dia melakukan hal tersebut hubungan mereka terselematkan dan mereka menikah, bukan saling menikah dengan orang lain.
__ADS_1
Setiap hari Roger belajar untuk tulus mencintai Lisa, memperlakukannya lebih baik ketimbang saat dengan Nala. Saling menguatkan di perantauan karena hanya berdua saja, Roger pun mulai terbiasa dengan keadaan sekarang, mulai menemukan kebahagiaan, tapi disisi lain rasa cinta untuk Nala belum usai. Kadang, saat Lisa melakukan kesalahan refleks akan membandingkan dengan Nala, kemudian beranggapa kenapa tidak seperti Nala, meskipun hal tersebut hanya dipendamnya dalam hati, karena tidak tega untuk mengutarakan langsung pada Lisa.
Perlahan Roger mengendarai Mobil, sengaja lewat depan rumah Nala, terlihat beberapa orang sibuk menyiapkan dekorasi untuk acara pernikahan, dia sempat melihat Nala yang sedang membantu, terlihat semakin cantik dan semakin bahagia, terbesit dalam hati bahwa Nala sudah tidak menyisakkan cinta untuknya, Nala sudah membencinya, kini dia telah bahagia. Tidak lama kemudian datang seorang pria berpostur tinggi, atletis, berwajah tampan, dan ramah menyapa semua yang ada disana, Roger langsung tahu kalau itu calon suami Nala. Hatinya terasa makin teriris, dia ingin melihat acara pernikahan Nala meski dari kejauhan, tapi rasanya tidak mampu karena baru melihat begitu saja sudah menyakitkan.
"Jadi ini yang dirasakan Nala saat melihat aku dan Lisa tunangan?" Ucapnya lirih.
"Aku kenapa sih?" Ucapnya lagi.
"Aku harus bisa merelakannya, harus bisa tanggung jawab atas perbuatanku!"
Roger menatap lekat foto Lisa dan puterinya, dia tidak mau mengulang kesalahan lagi, jangan sampai kehilangan orang yang berharga dalam hidupnya, Meskipun mengorbankan mereka, itu tidak akan membuatnya kembali pada Nala. Nala orang baik, dia tidak akan pernah meninggalkan orang yang disayang dan tidak akan pernah berkenan melakukan sesuatu yang menyakiti orang lain, meksipun dirinya diskaiti oleh orang tersebut. Nala pantas bahagia dan pantas mendapatkan yang lebih baik dirinya, Lisa yang kini sudah menjadi isterinya wajib untuk dibahagiakan, pun puteri kecilnya, jangan sampai dia menderita karena ulah orangtuanya, dia tidak tahu apa-apa.
Diliriknya jam, masih pukul 14.00 WIB, masih beberapa jam lagi untuk menanti sunset. Meski hari masih terik, dia berjalan kaki menyusuri pantai sembari mengenang memori lama, tanpa sadar dia tersenyum sendiri seolah melihat Nala di kejauhan yang menyapanya. Tanpa ragu Roger berlari kearah Nala dengan penuh kebahagiaan karena berada di tempat yang sama.
"Woiiiiii... Edan kamu ya!!" Seorang pria paruh baya menarik lengannya.
"Inget keluarga, inget Gusti Allahh, sadar, sadar!" Suaranya makin lantang.
Roger baru menyadari kalau dirinya nyaris tenggelam di laut, ternyata tanpa disadari berlari kearah laut, bajunya sudah basah, sepatunya entah kemana. Pria paruh baya tersebut menuntunnya kearah tepi pantai, dia seorang Nelayan yang usai mencari ikan. Disuguhkannya minuman dan makanan seadanya, wajahnya terlihat lega setelah berhasil menyelamatkan Roger.
Pak Toto, itulah pria nama pria yang menyelamatkannya. Pak Toto sudah sejak berusia 15 tahun menjadi nelayan, tidak melanjutkan pendidikan demi membantu mencari nafkah agar adik-adiknya bisa sekolah. Kini adik-adiknya sudah menjadi orang-orang sukses, Pak Toto tetap ingin jadi Nelayan meskipun sudah beberapa kali adik-adiknya meminta untuk menganti pekerjaan. Baginya bekerja sebagai Nelayan bukan sekedar untuk mencari nafkah, tapi jiwanya seolah sudah terikat dengan laut, sehari saja tidak melaut rasanya sudah rindu.
__ADS_1
"Mas ada apa sampai ngambil pilihan terakhir seperti itu?"
"Saya putus asa, pak!"
"Putus asa itu wajar, sebelum mengambil tindakan tolong pikirkan orang-orang yang sayang sama kita"
"Tadi saya melihat orang yang telah saya sakiti menyapa, wajahnya bahagia sekali, makanya saya berlari menghampiri"
"Oalah, mas berhalusinasi ya. Saya melihat dari jauh, mas tidak berlari tapi jalan tergopoh-gopoh menuju laut, makanya langsung saya kejar"
"Saya tidak sadar, pak!"
"Maaf ya mas tadi saya nabok, mas, karena mas ga sadar-sadar"
"Iya gak apa-apa, pak"
Pak Toto banyak memberi nasehat, salah satunya tentang sebuah keikhlasan untuk menerima ketetapan Tuhan. Peristiwa pahit menjadi pernatara kalau bukan jodoh, tidak ada yang salah atau benar karena masing-masing mengikuti alur Tuhan. Roger merasa sejuk mendengar nasehat pak toto, setelah dirinya merasa tenang dia memutuskan untuk berpamitan.
Sepanjang jalan memikirkan semua nasehat dari pak toto, dia hanya harus menjalaninya dengan baik dan bertanggung jawab yang menjadi tanggung jawab. Dia harus merelakan Nala bahagia dengan orang lain, harus legowo dengan keadan meski bukan yang diinginkan.
[Kamu pulang ke rumah? Mau nemuin Nala?] Pesan dari Lisa yang belum sempat dia balas
__ADS_1