
Proses perceraian ada ditahap mediasi, Lisa dan Roger hadir dalam proses tersebut karena memang pada dasarnya mereka masih ingin bersama untuk menjalani rumah tangga, terlebih sudah hadir seorang anak diantara mereka. Awalnya masing-masing masih saling kekeh tentang pendapatnya, hakim yang bertugas sebagai mediator sangat handal untuk menengahinya, hingga pada akhirnya kesepakatan untuk tidak bercerai dipilih mereka. Usai proses mediasi, hakim menyarankan mereka untuk ke psikolog guna kesehatan mental suami dan isteri, bisa jadi mereka terlalu stres dan tidak bisa mengendalikan emosinya, sehingga butuh orang yang ahli pada bidangnya.
Lisa dan Roger pulang dengan diam seribu bahasa mereka bingung bagaimana untuk memulai kembali, meskipun dengan pristiwa ini mereka sadar bahwa masih saling mencintai dan perpisahan bukan solusinya. Perlahan Lisa membuka perbincangan, Roger pun merespon hangat. Topik-topik sederhana membuat mereka mulai akrab kembali, sejenak nostalgia bagaimana pertemuan dan perjuangan mereka untuk bersama.
"Aku tahu hingga detik ini masih ada Nala di hatimu" Ucap Lisa lirih.
"Tapi, aku sangat mencintaimu dan egois sehingga tidak bisa merelakanmu dari hidupku" Sambungnya lagi.
"Kamu benar, Lisa, tapi aku berjuang untuk menjadikanmu satu-satunya, berjuang untuk bisa bertanggung jawab sebagai suami serta ayah untuk anak kita" Respon Roger dengan mata yang berkaca-kaca.
"Tolong ya kalau kamu tidak mau membantuku maka tolong cukup hargai apa yang sudah ku lakukan" Roger menatap lekat kearah Lisa.
"Itu saja" Roger mengakhiri pembicaraan.
__ADS_1
Lisa sadar betul kalau selama ini sudah egois, selama ini dia hanya ketakutan kalau Roger kembali pada Nala, padahal dia sudah tau jelas kalau itu tidak mungkin terjadi. Pernikahan yang sudah genap satu tahun, sayang sekali kalau harus berantakkan karena dirinya. Lisa meminta maaf pada Roger atas tindakannya, dia bersedia untuk konseling ke psikolog, tanpa keberatan Roger pun ingin turut serta. Rumah tangga dijalani berdua, kalau memang konseling maka jangan satu pihak saja melainkan dua pihak, pun saat ingin memperbaiki, harus dilakukan oleh kedua pihak.
Lisa dan Roger memutuskan untuk pindah rumah, agar mendapatkan suasana baru, tentu saja yang tidak jauh dari kantornya. Lisa pun sudah aktif kembali di kegiatan para istri karyawan setelah dua bulan fokus mengurus si kecil. Seolah mendapat nafas baru, dia terlihat bahagia, proses belajar untuk ikhlas sudah diselesaikannya. Saat ini seolah berdampingan, mengikhlaskan Roger masih mencintai Nala dan dia mencintai Roger, sedangkan Roger masih mencintai Nala dan mulai mencintai Lisa seutuhnya. Titik puncak sebuah keikhlasan adalah ketentraman yang tidak bisa dijelaskan oleh lisan, hanya bisa diarasakan, terasa lega sekali saat berhasil.
***
"Selamat pagi, Pak Roger!" Sapa seorang tetangga.
Lisa memberi senyuman juga, pagi yang sedikit mendung mereka berjalan-jalan di lingkungan komplek, setelah dua bulan tinggal disini baru sempat untuk mengelilingi. Lisa banyak kegiatan sedangkan Roger pulang kerja sudah petang, sehingga lelah untuk pergi lagi. Lingkungan perumhan yang sangat asri, selain memang belakangnya masih berupa perkebunan, warga perumahan gemar menanam, terlihat semua pekarangan penuh dengan tanaman, baik tanaman hias maupun yang bisa dikonsumsi. Usut punya usut ternyata menjadikan lingkungan asri merupakan salah satu program ibu PKK, Bu RT yang merupakan lulusan sekaligus menjadi Dosen pertanian, ingin menerapkan ilmu yang diperoleh di lingkungan dekatnya.
Semakin hari makin banyak tetangga yang dikenal Lisa, mereka yang kebanyakan senior, bersikap ramah dan sering memberikan informais yang bermanfaat terutama tentang parenting. Lisa merasa di komplek merupakan kumpulan orang-orang berbakat, meskipun kebanyakan menjadi Ibu Rumah Tangga, ternyata segi pendidikan, ada yang luluan arsitek, pertanian, tata boga, lingkungan, tata kota, akuntansi, administrasi, marketing, dll. Rata-rata mereka adalah perntau yang ikut suami pindah tugas, sehingga memilih tidak bekerja agar fokus mengurus anak dan rumah tangga.
__ADS_1
***
Roger tampak bahagia, karirnya makin melonjak tinggi, kehidupan rumah tangganya mulai tentram, dia dan Lisa rutin konsultasi ke psikolog bersama-sama, melihat tumbuh kembang puteri kecilnya, Nara, membuatnya semakin semangat. Roger belum mampu melupakan Nala, tapi muali sedikit demi sedikit bertambah cinta pada Lisa, dia merasa kalau selama ini matanya tidak terbuka lebar untuk melihat semua yang Lisa lakukan, saat membuka barulah sadar kalau yang Lisa lakukan tidak sederhana, maka wajar kalau selama ini merasa lelah dan tidak dihargai. Pada prinspinya ketika kesempatan disepakati maka harus saling belajar serta memahami, bisa dibilang mulai dari awal lagi, mulai dengan yang lebih baik.
Lisa sudah tidak pernah mengeluh atau menyebut nama Nala lagi, melihat perubahan pada diri Roger dan tentunya setelah introspeksi diri maka dia lebih memilih fokus untuk keluarga kecilnya. Hari demi hari dia nikmati perannya mengurus anak dan suami, dia juga sudah mahir memasak, setiap hari selalu upgrade diri, untuk menciptaka lingkungan yang positif. Nara sudah makin pintar, kalau mendengar suara mobil ayahnya maka akan riang, yang tadinya tidur bisa langsung bangun, terkadang membuat Lisa gemas, proses agar membuat Nara tidur lama, tapi sirna begitu saja saat Roger memanggil namanya. Alhasil yang tadinya mau mengerjakan hal lain tertunda karena main bersama, pun Roger yang kini lebih betah di rumah, lebih tepatnya tidak akan pergi kalau tanpa Lisa dan anaknya.
"Makasih ya sayang, aku bahagia" Lisa memeluk erat Roger.
"Sama-sama, aku juga bahagia dengan kepribadianmu yang sekarang" Respon Roger.
"Mammmm mammmaaa paaapaaaapapa oooooo"
__ADS_1
Seolah tidak rela melihat orang tuanya bermesraan dan mengabaikannya, Nara mulai mengoceh dengan bahasa bayi sembari memainkan liurnya, yang dia sembur-sembur tidak tentu arah. Mereka segera memeluk Nara, sembari meminta maaf karena acuh, Nara seolah mengerti apa yang diucapkan orangtuanya, dia pun menampilkan ekspresi muka yang bahagia meskipun masih dengan menyembur-nyembur. Tawa mereka pun memcah kesunyian malam, tentu saja sunyi karena merupakan kawasan yang masih banyak kebun dan saat malam sedikit suara kendaraan yang berlalu-lalang, lebih banyak suara binatang. Tidak jarang menemukan binatang seperti babi hutan, wajar saja lingkungan sumatera, masih terdapat banyak hutan serta perkebunanan, untuk menuju bandara seklaigus ibu kota provinsi memerlukan waktu kurang lebih lima jam.
Awal kedatangan merantau yang termasuk pelosok, membuat mereka sedikit heran, tapi demi pekerjaan, maka belajar adaptasi hingga berujung nyaman. Roger dan Lisa berbeda waktu tiba, lebih dulu Roger, beda daerah penempatan, hingga pada akhirnya mereka satu tempat dan saling jatuh cinta. Mereka mengakui dan menyadari awal memulai hubungan harus menyakiti hati seorang wanita yang baik, seiring waktu mereka hanya bisa memperbaiki diri dan meminta maaf, mungkin memang menjadi jalan takdir mereka kalau untuk bersatu harus menjadi manusia yang jahat. Menyesal? pastinya, bahkan Tuhan pun sudah menghukum mereka, saat awal rumah tangga yang nyaris hancur, tidak ada ketenangan dalam diri mereka. Hingga tiba yang dimana mereka lebih memaknai kalau Tuhan tidak lagi memberi hukuman melainkan kesempatan untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Sedikit demi sedikit ketentraman mereka rasakan, prahara-prahara rumah tangga mulai meredam.