
POV Roger
Mata terasa berat dan badan terasa lelah, menoleh kearah kiri, sempat terkejut karena ada Lisa yang tidur pulas. Mengumpulkan ingatan sebelumnya, ada perbuatan yang seharusnya tidak dilakukan. Lisa, lumayan juga kamu untuk memuskan hasrat yang ada, aku tidak merasa bersalah menidurinya karena itu kehendaknya. Mungkin, dengan cara seperti ini bisa membuat melupakan Nala, entah kenapa terbesit rasa penyesalan terhadapnya, terasa seperti perbuatan ini mengkhianatinya.
Ingatanku mengenang tentangnya, cinta yang ku miliki sangat besar terhadapnya, bahkan kepergiannya membuatku rapuh. Tiga tahun bukan waktu yang sebentar, pristiwa ynag dialami bukan hal yang sederhana, disaat dia bisa memilih bersama laki-laki yang hebat, dia memilihku yang tidak memiliki apa-apa, membersamai proses, dari pengangguran hingga memperoleh pekerjaan di salah satu BUMN, bahkan dia rela meminjamkan dan menjual perhiasaannya untuk bekal saat pelatihan. Terlihat kesedihannya ketika aku harus pergi jauh darinya karena penempatan kerja, dia yang saat itu masih kuliah, berusaha untuk mendukung dan tidak bergantung padaku.
Ketika teman-temannya bisa menikmati malam minggu, bisa kapan pun jalan dengan pacarnya, bahkan pacar yang bersedia membantu, maka aku hanya bisa mengetahui keadaannya, selama itu pula dia tetap setia padaku. Aku merasa beruntung memiliki pasangan seperti Nala, tidak menuntut macam-macam, dia sangat pengertian. Dia mampu bersinar dengan upayanya sendiri, sangat membanggakan namun tetap rendah hati. Teringat saat masa sulit, membayar makanan saja harus pakai uangnya, tentu saja harga diriku terasa rendah.
"Suatu hari nanti, kamu akan bersinar, kamu bisa memberi jauh lebih banyak dariku." Ucapnya dengan penuh senyuman.
"Aku akan ganti ya." Ucapku mantap.
"Tidak perlu segitunya, nanti kalau sudah bersinar tetap rendah hati dan berbagi ke yang lebih membutuhkan ya, itu bikin aku bahagia."
Tidak terasa air mataku menetes, mengingat satu tahun terakhir sebelum berpisah, saat dilema untuk mempertahankannya atau mengganti dengan perempuan lain. Satu sisi sangat mencintainya, disisi lain butuh perhatian secara tindakan, Lisa memberikan hal itu, hal yang tidak bisa ku dapat dari Nala saat harus berjauhan. Aku mengajaknya menikah agar bisa diboyong ke rantau, tapi dia menolak karena pesan orangtuanya agar tidak menikah sebelum lulus kuliah, Nala anak yang berbakti pada orangtuanya,aku banyak belajar tentang itu.
Berat untuk melepaskannya, maka aku sengaja mencari masalah padanya, menuduh macam-macam, sehingga muncul berbagai pertengkaran, bahkan kasar secara verbal. Awalnya Nala tidak mempermasalahkan hal ini, dia selalu berpikir positif, namun pada akhirnya menyerah. Hal yang aku inginkan, kami berpisah bukan karena aku yang memutuskannya, sehingga bisa membuatku seolah menjadi korban. Aku sudah bersinar, mendapatkan penggantinya sangat mudah, yang ada sebelum dia pergi sudah ada cadangan.
Semuanya sesuai yang direncanakan, aku bangga menunjukkan pada banyak orang, entah kenapa semakin hari hati tidak tenang, pikiranku dipenuhi dengannya. Apa yang ada sekarang tidak membuat bahagia, terasa ada yang kurang, setiap hari penuh penyesalan, tapi malu untuk kembali menyapa dan meminta maaf. Hal itu membuat tubuh drop dan harus dirawat di rumah sakit, Lisa yang setia mendampingi, dalam keadaan itulah rasa bersalah semakin menjadi. Kalau Nala masih denganku, pasti dia sangat khawatir, untuk menghibur diri maka mengganggap Lisa sebagai Nala. Orang melihatku bersama Lisa, tidak dengan hati yang tetap bersama Nala.
Ada pada titik yang dimana mulai terbiasa dengan kehidupan yang di jalani, segi fisik bersama Lisa, segi hati tetap untuk Nala. Lisa tiba-tiba meminta nomor handphone Nala, katanya mau memastikan apakah amsih ada rasa atau tidak, sepertinya Lisa menyadari kalau hatiku masih untuk Nala. Tanpa berat hati ku berikan, nomornya masih tersimpan dengan nama "My Love", terlihat wajah Lisa tidak menyukai hal itu, namun tak perlu peduli, resikonya memilihku sebagai pasangannya.
__ADS_1
Saat Lisa menelphone Nala, aku sengaja menguping pembicaraan mereka, Nala sangat elegant di situasi seperti ini, aku tahu betapa sulitnya menahan rasa kecewa. Nala, tetap lemah lembut karena terlihat dari ekspresi wajah Lisa yang tetap tenang tanpa tersulut emosi. Tak dipungkiri kecemburuan terlihat apa wajahnya, namun pura-pura saja tidak tahu. Tanpa diduga Lisa memberi kesempatan untukku bicara pada Nala, awalnya menolak karena merasa malu dengan prilakuku, namun aku merindukannya, ingin seklai mendengar suara terakhirnya sebelum benar-benar tak bisa lagi mendengar suaranya, karena berada pada jalan masing-masing.
"Kamu harus bertanggung jawab sampai akhir atas pilihanmu, jangan sakiti dia ya." Ucap Nala setelah sebelumnya mengobrol santai.
"Kamu masih sayang sama aku?" Pertanyaanku membuatnya diam sejenak.
"Tidak, meskipun masih pun, aku tidak akan pernah mau kembali dengan kamu, tolong jangan sakiti dia!" Jawabnya mantap.
"Aku tahu kamu seperti apa, Nala" Responku lirih
Lisa terlihat tidak dapat menahan rasa cemburunya dan aku sudah kehabisan kata untuk berbicara pada Nala, maka pembicaraan dikembalikan pada Lisa. Entahlah apa yang dibicarakan selanjutnya aku tidak memperdulikannya, intinya rinduku telah terobati. Nampaknya pembicaraan mereka usai.
"Kamu sudah puas, Lisa?" Ucapku sebelum meninggalkannya.
Nasi sudah menjadi bubur, semua yang sudah terjadi tidak bisa diperbaiki. Aku hanya bisa menebusnya, akan ku penuhi keinginan Nala. Aku pastikan akan bertanggung jawab hingga akhir, akan ku pastikan tidak menyakiti Lisa, tapi Nala tetap di hati, aku akan menyakiti Lisa kalau dia berani mengusik kehidupan Nala dan berani menyuruhku melupakan Nala. Cinta pada Nala tidak akan pernah padam, jika bisa mengulang waktu hal, hal yang diinginkan tetap bersama Nala hingga akhir hayat.
Dibalik diamnya selama ini pasti ada rasa sakit yang amat dalam, Nala pasti menyembunyikannya dari banyak orang, terlihat kuat meskipun sesungguhnya rapuh. Perpisahan ini sebenarnya membuat saling terluka, tapi tidak bisa untuk saling bersama, Nala tidak ingin ada wanita selain dirinya yang aku skaiti, meskipun wanita itu telah menyakitinya. Begitulah cara Nala mencintaiku, sepanjang hidup akan selalu mencintai Nala meskipun tidak bisa bersama. Setiap hari aku mendoakanya agar memperoleh pria yang baik, yang mampu membahagiakannya, semoga Nala bisa melupakanku selamanya. Aku memang pernah menjadi yang terindah, pada masanya, saat ini bukan lagi terindah tetapi pria sampah yang menjijikan,yang tega menyakiti hati wanita baik.
Nala, aku berharap bisa melihatmu di masa depan dengan keadaan yang bahagia. Aku merindukanmu, mencintaimu.
__ADS_1
***
"Yangggg, ayo kita cari baju lamaran."
"Kan kamu udah bilang ke mamaku kalau mau ngelamar."
"Kamu juga harus temuin aku dengan orangtuamu"
Celotehan Lisa membuatku sangat kesal, ingin rasanya membungkam mulutnya yang banyak bicara, apakah dia tidak merasa bersalah pada Nala? Aku hanya menganggukan kepala sebagai tanda persetujuan, terlihat kebahagiaan di wajahnya, bergelayut manja di pundakku, aku tahu ini adalah tanda dia mengajakku bersenang-senang.
"Hotel mana yang kamu pesan?" Tanyaku tegas.
"Belum pesan, sayang saja yang pesan!" Jawabnya manja.
"Kontrakanmu saja, malas di hotel, nanti kamu yang nyetir, aku akan bersembunyi" Aku memberikan ide gila.
"Baiklah, akan ku buat kamu melupakan Nala!" Ucapnya dengan sombong.
"Jangan sebut namanya!" Bentakanku membuatnya diam ketakutan.
__ADS_1
"Maafin aku ya, yang!"
"ok, ku maafkan"