Masih Mencintai Mantan

Masih Mencintai Mantan
HanamI Pertama Nala


__ADS_3

Nala menikmati pemandangan bunga sakura, bunga plum, dan bunga persik yang ada di dekat rumah bermekaran, meskipun memasuki musim semi, udara masih cukup dingin. Nala duduk di taman rumah, pikirannya melayang jauh terhadap apa yang sudah dia lalui selama beberapa bulan ini. Hamil berada di negeri orang tidaklah mudah, terlebih saat suami harus sibuk kuliah, tidak selalu bisa menemani ketika kontrol kehamilan. Tuhan Maha baik, ternyata dokter kandungan di rumah sakit tempat biasa periksa kehamilan adalah tetangganya, dia juga memiliki tetangga akrab yang juga orang Indonesia, namanya Melody. Keduanya sama-sama menemani suami yang sedang melanjutkan pendidikan, bedanya Melody lebih dulu dan sebentar lagi suaminya lulus.


Menjalani hari sebagai ibu hamil tidak menyurutkan semangat Nala untuk terus berkembang, dia banyak belajar, baik itu bahasa, budaya, cara hidup, dan lainnya, dia juga sering aktif mengikuti kegiatan-kegiatan yang diadakan disekitarnya. Nala menganggap kalu itu kesempatan langka, setelah Rein lulus tentu akan kembali ke Indonesia, pengalaman yang hanya sekian tahun akan menjadi cerita yang kelak diceritakan pada anak-cucunya, Nala juga rajin mengambil dokumentasi foto-foto, oleh karena itu sengaja menyiapkan satu kamera khusus.


Awal kedatangan Nala ke shinjuku membuat stres karena bingung harus bagaimana, merasa sulit untuk beradaptasi, dan lainnya. Namun, Rein selalu menjadi tameng untuk membantu, melindungi, serta menjaganya, mau gimana lagi hanya suami tempatnya bergantung dan Rein menyadari posisinya sebagai suami. Beruntungnya Rein menyediakan penerjemah pribadi untuk mendampingi ketika bepergian karena Nala tidak semahir Rein, sedangkan Rein tidak selalu di rumah. Penerjemah itu bernama Ayashi, wanita yang sudah dua puluh tahun tinggal di indonesia, mengajar bahasa jepang gratis, banyak alumni muridnya yang sudah menjadi penerjemah, tentunya bersertifikat. Nala pun mengambil kelas bahasa jepang bersamanya, ternyata dia banyak menemukan wanita-wanita asing sepertinya berada di kelas Ayashi, ada yang dari malaysia, vietnam, maroko, dan lainnya.


Ayashi juga yang membantu Rein untuk mengurus berkas-berkas yang ,enurut Nala sangat memusingkan, pengurusan dilakukan sangat awal guna untuk mempermudah terkait kehamilan serta melahirkan, terlebih Nala hamil sebelum berangkat ke Jepang. Hasil pemeriksaan di Indonesia tidak berlaku disana maka harus periksa kandungan ulang yang dimana memerlukan resident card dan kartu asuransi untuk registrasi di rumah sakit, prosedur berikutnya melaporkan ke pemerintah kota, tujuannya untuk melakukan pendataan dan pengawasan, bahkan disediakan juga kesempatan untuk konsultasi, biasanya seputar kekhawatiran ibu saat hamil hingga melahirkan, tidak lupa diberi buku khusus ibu dan bayi yang wajib dibawa saat periksa kehamilan.


"Sayang gimana hari ini?" Tanya Rein yang tiba-tiba sudah pulang entah kapan.


"Aku belajar bahasa, jalan-jalan sebentar di taman. Sayang gimana?"


"Sedikit sibuk, lagi banyak tugas"


"Yasudah, sayang makan dulu"


"Nak, Papi makan masakan mami yang super enak dulu ya!"


"Hmm Papiii"


Rein melangkah menuju meja makan setelah mengelus-elus perut Nala, Rein sangat memperhatikan Nala bahkan lebih perhatian ketimbang Nalanya. Bagi Rein Nala dan janin ynag dikandungnya adalah anugerah yang terindah, setiap detik harus dijaga, Rein punya prinsip kalau mengutamakan kebahagiaan isteri bisa membuatnya semakin bahagia dan sukses. Apa yang diyakini Rein terwujud, semenjak menerapkannya kemudahan seolah berpihak padanya karena Rein sadar kalau doa isteri pun memiliki peran besar, apabila isterinya yang baik hati tersebut selalu bahagia maka menjadi energi positif baginya.


Rein melahap makanan yang disajikan, terasa nikmat sekali, makin hari Nala makin pintar memasak. Bahkan saat kandungannya makin membesar dia selalu mengupayakan untuk menyajikan hidangan, padahal Rein adalah orang yang sangat simpel dan tidak rewel, kalau isteri tidak bisa memasak dia yang akan memasak, kalau sedang lelah maka membeli makanan yang sudah jadi.

__ADS_1


"Sayang besok hanami yuk di taman!" Ajak Nala penuh semangat.


"Gak mauuu!" Jawab Rein cuek.


"Kok gitu sih?" Nala mulai kesal.


"Peluk dulu dong baru mau!" Kata Rein dengan manja.


"Nak, Papi manja sekali ya!" Protes Nala.


"Harus dong! sebelum terbagi sama anak papi yang diperut, hehehe!" Rein berusaha membela diri.


"Dasar!" Gerutu Nala sembari mencubit manja pipi Rein.


"Besok biarkan Papi yang hebat ini masak ya, Mami terima beres aja!" Usul Rein.


"Karena Papi sayang Mami!" Jawab Rein dengan tatapan mata penuh ketulusan.


"Mami juga sayang Papi" Balas Nala yang seprtinya sudah sepenuhnya jatuh cinta dengan Rein.


***


Suasana pagi begitu cerah meski masih terasa dingin, mereka sengaja membawa pakaian hangat. Hanami merupakan tradisi untuk menikmati khususnya bunga sakura, biasanya akan pergi ke taman atau tempat lainnya yang outdoor dengan pemandangan bunga-bunga yang sedang bermekaran. Membawa alas untuk duduk serta makanan yang sudah makan, karena kalau di tempat umum seperti taman kita tidak diperbolehkan memasak dilokasi, beda cerita kalau di halaman rumah sendiri. Nala sedang ingin di taman, dia mengungkapkan ingin benar-benar menikmati hanami bersama warga asli jepang maupun pendatang lainnya meskipun hanya melihat tidak saling bertegur sapa.

__ADS_1


Wajah Nala terlihat sangat bahagia, sesekali dia beranjak dari duduk untuk sekedar memotret bunga sakura atau suasana pengunjung. Rein pun dengan senang hati memotret Nala bersama bunga sakura, Sebuah keberuntungan karena mereka mendapat tempat duduk sangat dekat dengan pohon sakuran, bisa dibilang lumayan di bawahnya, gak sia-sia Rein tidak tidur semalaman untuk menyiapkan makanan dan berjaga agar tidak kesiangan, karena pasti banyak pengunjung datang, terlebih ini weekend.


"Sini kalian saya fotokan!" Suara Ayashi mengejutkan mereka.


"Kak Ayash!" Seru Nala, memang dia memanggilnya itu karena Ayashi yang menginginkannya.


"Kak Ayash ayo berabung!" Ajak Rein.


"Boleh, tapi maaf tidak bisa lama ya"


Ayashi mengarahkan gaya Nala dan Rein dengan baik, ternyata dia juga berprofesi sebagai photographer, kali ini tanpa mau dibayar ingin memberikan kenangan yang indah, terutama Nala yang baru pertama kalinya menikmati Hanami. Ayashi sudah lama mengenal Rein, selama di Indonesia dia banyak dibantu olehnya sehingga tempat les bahasa jepang yang didirikan makin berkembang. Sebenarnya, Ayashi menyimpan rasa pada Rein, hanya sekedar rasa tidak ingin bersama, karena Ayashi samat mengimani keyakinannya dan dia tidak ingin membuat orang lain menggadaikan iman dengan alasan cinta. Ayashi masih bisa menerima pria lain, dia juga tidak membenci ketika mendengar Rein menikah dengan Nala, justru sangat senang. Melihat kebahagiaan Rein dan Nala seolah melihat keindahan bunga sakura bermekaran, makin sempurna hanami kali ini.


"Ayo kita foto bertiga, kak!" Ajak Nala penuh antusias.


"Iya sebagai kenangan hanami pertamanya bagi Nala" Rein ikut menimpali.


"Boleh"


Seorang pria yang sepertinya adik Ayashi memotret mereka bertiga, tidak kalah bagus, ternyata adiknya juga photographer, dan Ayashi memiliki studio foto yang cukup terkenal. Nala berterimakasih kepada mereka, sebelum mereka pergi, karena Ayashi datang bersama keluarganya juga.


"Sayang, ini foto maternity gitu ya!" Ucap Rein yang sedang mengamati hasil foto.


"Iya ya, keren banget" Nala mendekat dan ikut melihat hasil foto-fotonya.

__ADS_1


 "Kirim ke group keluarga" Seru Rein


"Haha, boleh juga!"


__ADS_2