
POV Roger
Aku menatap Lisa yang tengah tertidur pulas dengan balutan selimut tebal, terlihat wajah lelahnya setelah bergulat diatas ranjang. Perlahan beranjak dari ranjang menuju balkon hotel untuk merokok, waktu sudah menunjukkan dini hari, jalanan terlihat sepi, hanya beberapa orang yang masih berlalu lalang. Netraku tajam mengarah pada rokok yang ku pegang.
"Sayang, kamu kurangi ngerokok supaya sehat!"
"Siap, sayang!"
"Supaya kalau kita sudah berkeluarga, di rumah tanpa ada polusi rokok"
"Buat kesehatan anak-anak dan kamu"
"Kita, sayang!"
Nala sangat memperhatikan kesehatan, Nala yang membuatku sedikit demi sedikit berhenti merokok, meskipun selama berjauhan masih sering merokok, sempat kepergok karena ada rekan yang memposting foto ramai-ramai, sialnya aku tengah memegang rokok. Hal itu membuat Nala marah karena aku selalu bilang kalau sudah berhenti merokok.
Aku tampar pipi agar sadar kalau Nala telah pergi dan sekarang sudah ada Lisa, Lisa memberi apa yang tidak pernah Nala berikan, sebagai laki-laki tentu sangat senang meskipun disisi lain terdapat rasa bersalah yang besar. Apa aku mampu mencintai Lisa? apakah selama ini bukan cinta tapi hawa nafsu saja? tapi tidak mungkin kalau meninggalkan Lisa, terlebih dengan apa yang sudah kami lakukan.
[Halo, Nala. Terimakasih untuk waktu tiga tahunnya, terimakasih telah merawatku dengan baik, selalu mensupport karirku tanpa lelah. Nala, aku laki-laki jahat! pergilah sejauh mungkin pun aku juga agar kamu tidak melihat wajahku lagi.]
[Nala, beribu maaf tidak akan memulihkan hatimu, aku pun tidak pantas dimaafkan. Perlu kamu tahu, kamu akan menjadi cinta terindahku hingga akhir, seumur hidup tidak akan pernah melupakanmu]
[Nala, untuk yang terakhir kalinya, tolong usir aku dari hidupmu, maki-maki aku, jangan pendam amarahmu!]
Aku kirim pesan begitu beberapa kali karena hati dan pikiran yang sudah kalang kabut. Tidak peduli dibalas atau tidak, aku hanya ingin mengungkapakan apa yang dirasakan.
[Maki-maki tidak akan menyembuhkan. Aku sakit, pun pada akhirnya kamu sakit, kita sama-sama sakit. Saling berjuanglah untuk pulih di jalan yang berbeda. Jagalah Lisa, berbahagialah kalian.]
[Aku tidak perlu mengusirmu karena kamu yang pergi sejak menemukan Lisa, kita hanya perlu untuk saling mengucap selamat tinggal. Selamat tinggal, Roger!]
[Selamat tinggal, Nala!]
Tubuh bergetar hebat, dada terasa sakit sekali hingga terjatuh dari kursi yang sedang diduduki. Air mata mengalir deras, rasanya ingin berteriak sekencang-kencangnya, untuk menenangkan aku memeluk tubuhku sendiri, seperti pesan Nala, jika merasa tidak tenang atau bersedih dan tidak ada yang memeluk maka peluklah diri sendiri.
__ADS_1
***
Goncangan tangan Lisa membangunkan tidurku, ternyata semalaman tidur diteras. Segera beranjak tanpa memperdulikannya, tubuh terasa sangat lengket. Guyuran air dingin pagi terasa menyegarkan dan membuat sadar tentang keadaan, Lisa tanpa permisi masuk kedalam sembari memeluk erat, spontan aku lepaskan tangannya dengan penuh emosi.
"Jangan ganggu aku, bisa gak sih !!" Bentakku padanya.
"Kamu itu kenapa sih? semalam baik-baik aja loh!" Lisa tersulut emosi.
"Kalau aku lagi diem tanpa nyapa, tanpa bicara, tandanya lagi gak mau diganggu!" Menatap wajahnya tajam.
"Bisa ga sih jadi pasangan yang pengertian?" Sambungku.
"Maaf, aku cuma ingin kamu selalu sama aku" Ucapnya lirih.
"Aku sudah memilihmu, Sudah ku hancurkan hubunganku dengan Nala, kita akan bertunangan, dan menikah" Aku berusaha memberi penjelasan.
"Sedetik saja, apa kamu memahami perasaanku? aku sedang berjuang untuk kamu, tolong janngan banyak tuntut ini itu!" Sambungku tegas.
"Maaf, aku cuma takut kalau kamu ninggalin aku dan balikan sama Nala"
***
Hari pertunangan telah tiba, diadakan secara mewah oleh keluarga Lisa, mereka sangat senang menyambutku. Keluargaku ikut hadir, pertunangan ini adalah pertemuan kedua karena jarak yang memisahkan. Lisa mengenakan kebaya berwarna Navy, salah satu warna favorit Nala, bahkan kami sudah sempat membeli kain, tapi sayang sudah keburu selesai hubungan kami, entah bagaimana keadaan kain itu, mungkin sudah dibakar.
"Lisa Septiana Aryanti binti Masduri Efendi, bersediahkah kamu menikah denganku?" Tanyaku dengan penuh kinsentrasi agar tidak salah menyebut nama.
" Atas restu Mama dan Papa, aku menerimamu, Roger Arya Mandar sebagai calon suamiku!" Jawabnya mantap.
Keluarga serta tamu undangan bertepuk tangan bahagia,ibu kami saling memasangkan cincin pada jari, tidak lupa untuk berpose foto-foto. Wajahku terlihat bahagia tapi tidak dengan hati, rasanya hampa sekali, tapi mau bagaimanapun harus berusaha sepenuhnya bahagia, inilah yang ku pilih.
Acara pertunangan telah selesai, semuanya berjalan lancar, keluarga kami sedang asik mengobrol terutama orangtua. Mama terlihat lega karena aku sudah bertunangan, mama yang dulunya sangat menyayangi Nala karena dia selalu menggantikanku saat keadaan keluarga genting, kini berubah seperti tidak menyukainya dan beranggapan Nala meninggalkan saat dirinya lulus kuliah, padahal tidak seperti itu.
"Cantikan ini ya daripada Nala, dia tuh jahat, mau karena kamu pegawai BUMN aja!"
__ADS_1
"Udah gak usah dibahas, ma. Itu udah masa lalu!" Tegasku.
"Mama komen kok di Facebooknya, biar orang-orang tahu gimana busuknya dia" Celoteh Mama.
"Ma, tolong jangan rusak acara ini ya, tolong hargai aku sebagai anak mama" Aku kembali menegaskan.
"Ok, sayang" Respon Mama
Pikiran jadi tidak karuan, kenapa mama harus sejauh itu? Nala pasti menahan malu dan pastinya terkejut karena dia bukanlah tipikal orang yang sering melihat sosial media. Diam-diam aku meminjam handphone mama dan melihat akun facebooknya.
[Makasih ya, udah putusin Roger setelah lulus kuliah] Komen Mama pada postingan foto Nala mengenakan dress
[Maaf, bu, itu bukan tunangan tapi kondangan] Respon Nala.
Rasa bersalah makin menjadi, ingin memarahi mama karena prilakunya. Nala yang banyak diam justru yang banyak disalahkan, anehnya dia tetap diam, tidak mengklarifikasi berakhirnya hubungan kami dan tidak pula membela diri. Masih ada manusia yanng berhati malaikat, disaat dia punya pilihan untuk marah, maka yang dipilihnya tetap bersikap baik, meskipun hatinya sangat hancur. Mama, yang selama sakit berkali-kali, Nala ikut membantu menjaganya hingga menginap di rumah sakit, semua dilakukan karena aku sedang jauh.
"Nak, Nala akan jauh lebih bahagia, kamu juga harus bahagia ya" Ucap papa lirih.
"Paaa" Aku memeluknya erat.
"Papa itu sudah anggap Nala seperti anak sendiri, papa ingin tetap bersilaturrahmi meskipun kalian sudah tidak sama-sama, tapi Nala menolak demi menjaga perasaan pasanganmu" Kenang papa dengan sedikit mata yang berkaca-kaca.
"Ikhlasan Nala ya, nak! Papa minta tolong" Sambung Papa lagi.
"Pa, aku sudah berusaha mengikhlaskannya tapi sulit!" Sanggahku yang dianggap tidak mengikhlaskan.
"Intinya, kalau kamu tidak ikhlas maka akan menyulitkannya, dia berhak membuka lembaran baru. Papa tahu betul selama tiga tahun dia tidak pernah memiliki kekasih lain, dia selalu menunggumu pulang, makanya memiliki rencana tetap tinggal disana!"
Cerita papa sungguh menyayat hati, banyak hal baik yang selama ini tidak aku pedulikan, kekurangannya yang selalu aku lihat. Dia bukanlah wanita yang banyak tingkah atau heboh, dia lebih ke pendiam dan anggun, berbeda dengan Lisa yang heboh dan ceria, sayang sekali aku telah gelap mata.
Harapan besar di hari istimewa ini adalah Nala aku ikhlaskan, ku biarkan dia pergi jauh dari hati dan pikiran agar bisa mendapat kebahagiaan yang jauh lebih besar. Segenap kejahatan yang telah aku lakukan, dengan siap akan dipertanggung jawabkan.
"Sayang, ayo melangkah bersama untuk saling menguatkan" Suara Lisa membuyarkan lamunan
__ADS_1
"Hmm.."
Lisa mengenggam erat tanganku, dituntunnya kearah keluarga agar tidak menyendiri, Terlihat samar ada Nala yang tengah berdiri di halaman, senyumnya terlihat manis, dia melambaikan tangan. Aishh.. imajinasiku terlalu tinggi, Nala tidak mungkin ada disini.