
Awal mula pertemuan Ronald dengan Amanda.
Di sebuah SMA swasta.
Saat itu Ronald yang memang hobi main badminton sedari kecil. Bersama 3 orang teman sekelasnya, Ronald beristirahat di bawah pohon rindang yang terletak di halaman samping sekolah. Jam istirahat pertama telah usai, para murid berhambur masuk kembali ke kelas masing-masing.
"Ronald... " Seorang siswa setengah berteriak memanggil sambil berlari di belakang Ronald dan teman-temannya.
"Kamu di panggil Bu Wety ke ruang guru". Katanya kemudian.
"Ada apa Ton? " Tanya Ronald pada siswa yang ternyata teman sekelasnya yang bernama Tony.
"Entah lah. Aku hanya di suruh Pak Bagas untuk menyampaikan kalau kau di suruh datang ke ruang guru sekarang".
"Baiklah. Kalian masuk kelas saja dulu". pinta Ronald pada teman-temannya yang lain.
Setibanya di depan ruang guru, Ronald mengetuk pintu. Ia masuk setelah mendengar sahutan dari dalam ruangan. Ia segera menuju ke meja Pak Bagas berada.
"Permisi Pak Bagas, Bapak manggil saya? "
"Ah iya. Sekarang jamnya Bu Wety untuk mengajar di kelas kalian kan?" Ronald mengangguk. "Beberapa saat lalu Bu Wety mendadak harus ijin pulang karena suaminya mendapat musibah kecelakaan. Beliau berpesan untuk memberi kalian tugas mengerjakan soal dari buku ini. Tugasnya ada di halaman yang sudah di beri tanda hijau. ". Pak Bagas memberikan sebuah buku catatan kepada Ronal.
"Baik Pak. Kalau begitu saya pamit dulu". Pak Bagas terlihat mengangguk. Ronald keluar dari ruang guru. Saat berjalan menuju ke ruang kelasnya, terlihat dari gedung seberang Kepala sekolah sedang berjalan sambil membicarakan sesuatu bersama sepasang pria dan wanita seumuran orang tuanya. Di belakang mereka nampak seorang gadis mengikuti sambil melihat-lihat gedung sekolah.
Cantik dan manis. Senyum Ronald mengembang saat melihat gadis itu. Sesaat kemudian sang gadis pun melihat Ronald. Tatapan mata mereka saling beradu dari kejauhan. Jantung Ronald berdegup lebih kencang. Tak lama kemudian sang gadis pergi karena suara panggilan dari wanita paruh baya yang berjalan menghampirinya.
Ronald meraba dadanya. Lalu tersenyum dan kembali berjalan ke ruang kelasnya.
Keesokan harinya, Ronald tiba di sekolah di jam seperti biasanya. Tidak seperti anak orang kaya yang lain, Ronald lebih memilih angkutan umum untuk berangkat dan pulang sekolah. Ia ingin tahu siapa saja yang tulus mau berteman dengannya. Ronald sendiri bukan tipe yang suka pilah pilih dalam berteman. Dua dari tiga sahabatnya telah sampai di pintu gerbang sekolah. John dan Daren, menunggu Ronald dan juga Rendi. Iya, Rendi yang kelak menjadi asisten juga orang kepercayaan Ronald di perusahaan ayahnya. Rendi anak yatim piatu. Ia tinggal di panti asuhan tak jauh dari gedung SMA mereka.
Tak lama Rendi juga sudah datang dan bergabung dengan Ronald. Menuju ruang kelas tempat mereka belajar. Jam masuk kelas, Pak Bagas wali kelas mereka masuk diikuti seorang gadis.
Ronald merasa tak asing dengan wajah gadis tersebut.
"Selamat pagi semua, hari ini kelas kita kedatangan murid baru. Bapak harap kalian bisa berteman baik dengannya. Perkenalkan dirimu". Pinta Pak Bagas pada gadis tersebut.
"Terima kasih Pak. Selamat pagi, salam kenal. Namaku Amanda Salsabila. Aku baru pindah dari kota M. Senang bisa mengenal kalian".
Jadi namanya Amanda. Manis sekali. Ronald ingat Amanda adalah gadis yang ia lihat kemaren saat keluar dari ruang guru. Gadis itu duduk di samping Selly. Mereka terlihat nyaman satu sama lain. Bahkan mereka bersahabat hingga lulus kuliah dan bekerja di perusahaan yang sama.
Sosok Ronald yang tampan, pendiam, terkesan cuek tapi baik hati. Baik kepada siapa pun, membuat ia banyak di sukai oleh orang lain. Pun dengan Amanda. Selain cantik ia juga siswi yang cerdas. Sering berpindah kota mengikuti kemana sang ayah di tugaskan dalam bekerja. Membuat Amanda mudah untuk beradaptasi dengan orang baru, serta lingkungan baru. Itulah sebab Amanda juga bisa berbuat baik dan ramah kepada siapa saja.
__ADS_1
Ronald mencintai Amanda sejak pertama melihat gadis itu. Namun karena banyak siswa laki-laki yang terlihat juga tertarik pada Amanda, Ronald jadi minder untuk mengungkapkan perasaannya. Ia memilih mencintai dalam diam.
Amanda juga tertarik pada Ronald ketika mereka pertama bertemu. Ronald siswa populer di sekolah mereka. Amanda pun tak berani menunjukkan ketertarikannya pada Ronald. Mengingat banyaknya siswi yang sering membicarakan kelebihan seorang Ronald.
Dan kebaikan mereka pada semua orang jugalah yang menjadi salah satu penyebab tak terungkapnya perasaan mereka masing-masing. Lebih memilih menyimpan sendiri perasaan dalam hati. Juga takut akan di tolaknya perasaan jika sang pujaan hati ternyata telah memiliki kekasih. Dan berakhir saling menjauhi. Ronald merasa tak mampu membayangkan jika tak melihat Amanda, memandang senyuman manis gadis tersebut dari kejauhan. Lebih baik ia simpan cintanya agar bisa setiap hari melihat gadis pujaannya tersenyum bahagia walau dengan orang lain. Amanda juga berfikir demikian.
"Abang.... " Teriakan Alexa mampu membuyarkan lamunan Ronald tentang Amanda. Ia jengkel saat melihat adiknya itu sudah duduk manis di kursi yang ada di depannya. Saat ini mereka tengah duduk di bangku taman di samping rumah mereka.
"Apa sih, ganggu aja? "
"Abang yang dari tadi di panggil nggak dengar. Ngelamunin apa sih? Pasti cewek kan?"
"Ck. Bukan urusan kamu".
"Pasti kak Amanda kan? Kenapa nggak bilang aja terus terang padanya, Alexa yakin kalo kak Amanda sebenarnya juga suka sama Abang." Gadis itu mencomot biskuit kering dalam toples yang ada di pangkuan sang kakak.
"Hahhh. Tapi apa gunanya bilang jika setelah itu kami akan terpisah? Rasanya nggak sanggup jauh darinya. Apalagi setelah resmi pacaran harus berjauhan, rasanya lebih sulit".
"Jangan pesimis gitu dong abang. Bang Ronald kan belum nyoba buat ngungkapin perasaan abang padanya. Siapa tahu Kak Amanda akan nerima abang jadi pacarnya. Atau langsung lamar aja, lalu abang ajak kak Amanda ikut abang ke luar negeri".
"Nggak semudah itu oneng... Hahhh. Belum tentu juga dia mau ikut abang. Dia sangat mencintai pekerjaannya saat ini. Abang nggak mau membebani nya dengan pilihan yang sulit".
"Tapi gimana cara ngomongnya? Abang bingung".
"Ck... Ajak keluar bang, makan malam, nonton, jalan-jalan ke taman, syukur-syukur abang beliin perhiasan atau hadiah mewah apa gitu yang berkesan".
"Amanda bukan cewek yang gila barang mewah. Dia selalu tampil sederhana dan nggak berlebihan". Alexa manggut-manggut mendengarkan. Senyum manis kembali terlihat di bibir Ronald saat mengingat tentang sosok Amanda.
"Ajak jalan-jalan aja kalo gitu bang, atau makan di kafe aja".
"Nanti lah abang pikirkan lagi. Ehh, kamu jangan bilang apa-apa sama ayah juga ibu ya?! "
"Lah kenapa? Ayah ibu pasti senang kalau sebentar lagi mereka akan punya menantu secantik kak Amanda".
"Abang takut mengecewakan mereka kalau abang di tolak. Nanti kalau udah pasti jadi pacar abang, abang pasti akan mengenalkan Amanda pada mereka berdua".
"Ya udah deh terserah abang. Kalau butuh bantuan apa-apa bilang aja pada Alexa." Mereka berdua lalu melangkah masuk ke dalam rumah.
Waktu berlalu, akhir pekan sebelum kembali ke kota S, Amanda meminta abangnya menemaninya jalan-jalan ke salah satu pusat perbelanjaan di kota tersebut. Saat ia dan Ronald sibuk memilih barang dari kejauhan seseorang tengah memperhatikan mereka berdua.
"Amanda... " Panggil Ronald pada orang tersebut. Niat hati ingin berbalik dan pergi dari tempat itu tapi Amanda sudah ketahuan oleh Ronald. Dan Ronald berjalan menghampirinya.
__ADS_1
"Hai Ronald. Aku lihat kau sedang sibuk jadi memutuskan untuk pergi tanpa menyapamu".
"Tidak, aku hanya... "
"Abang... ". Suara Alexa membuat dua orang itu menoleh. "Dia siapa bang, nggak mau ngenalin ke aku? " Alexa menggandeng lengan abangnya. Sengaja. Ia ingin melihat bagaimana reaksi Amanda. Terlihat Amanda melirik ke arah tangan Alexa. Tangannya mengepal dan Alexa melihat itu. Gadis itu pun tersenyum tipis.
"Alexa kenalin ini Amanda. Teman abang sejak SMA".
"Amanda, ini Alexa".
Alexa dan Amanda berjabat tangan, saling menyebutkan nama masing-masing.
"Abang, lapar nih makan yukkk. Kak Amanda kesini sendiri kan, ikut gabung kita aja. Mau ya.. ". Tanpa persetujuan, Alexa menarik pelan Amanda untuk ikut mereka makan siang bersama.
Gadis itu hanya bisa pasrah mengikuti mereka berdua.
Setelah memesan makanan masing-masing, mereka duduk di food court di dalam mall tersebut. Ronald sedang pamit ke toilet sebentar.
"Apa kamu pacarnya Ronald? " Amanda memberanikan diri bertanya. Ia penasaran setengah mati.
"Apa terlihat seperti itu? ". Alexa balik bertanya. Ia ingin tahu seberapa jauh Amanda ini mengenal abangnya.
"Kalian terlihat sangat serasi bersama". Jawab Amanda lalu menundukkan kepala. Ia sudah hilang semangat untuk tetap mempertahankan perasaannya pada Ronald.
"Benarkah?? " Amanda mengangguk.
""Iya juga sih. Lagi pula siapa yang tidak akan menyukai bang Ronald, dia kan memang tampan". Alexa ingin sekali tertawa. Tapi masih ia tahan. "Tapi sayangnya bang Ronald bukan pria idamanku." Alexa tersenyum melihat raut wajah Amanda yang semula sedih, kini berubah lega.
"Kenapa? Apa kau menyukai bang Ronald?? " Tanya Alexa penuh selidik. " Kau jangan berusaha membohongiku, semua sudah terlihat jelas dari wajahmu kak. Aku bisa merasakan cinta dari sorot matamu untuk bang Ronald". Amanda tersentak kaget.
"Apa sejelas itu? ". Alexa mengangguk. Amanda menghela nafas dalam. Sepertinya percuma saja ia berusaha menutupi perasaannya untuk Ronald.
"Aku memang menyukai Ronald. Aku sudah menyukainya sejak pertama kali melihatnya.".
"Amanda... Benarkah begitu??? "
*Abang.
Ronald. Ahh aku ketahuan*.
Bersambung
__ADS_1