
"Aku memang menyukai Ronald. Aku sudah menyukainya sejak pertama kali melihatnya". Entah mengapa Amanda merasa leluasa untuk bercerita tentang isi hatinya pada Alexa. Selain Alexa gadis baik dan ramah, Amanda merasa nyaman dan dekat dengan gadis itu. Padahal mereka kenal juga baru beberapa saat yang lalu.
"Amanda... ". Suara yang sangat di kenali kedua gadis itu.
Abang.
Ronald.Ahh, aku ketahuan. Apa dia mendengar semuanya? Bagaimana ini?
Ronald mendengar semua kata-kata yang diucapkan Amanda. bahwa Amanda juga menyukainya. Tapi Ronald pura-pura nggak dengar aja. Mau tahu apa lagi yang akan dikatakan gadis itu.
"Kenapa muka kalian tegang begitu?"
"Sejak kapan kamu berdiri di situ tadi? Apa kau mendengar semuanya? " Tanya Amanda penasaran. Ia takut ketahuan dan berakhir akan di jauhi oleh Ronald.
"Dengar apa? Emang kalian ngomongin apa? Pasti menjelek-jelekkan aku kan?" Ronald menatap pada sang adik. Alexa hanya nyengir lalu menyeruput minumannya. Cuek.
"Nggak apa-apa kok. Aku sudah lapar, ayo kita makan dulu". Amanda menutupi kecanggungan yang tercipta dengan menyuap makanannya. Mereka masih ngobrol di sana setelah makanan mereka habis.
"Boleh aku tanya sesuatu? " Amanda buka suara. Ia penasaran satu hal. Ronald dan Alexa kompak menganggukkan kepala.
Kalian kompak sekali.
"Sebenarnya hubungan apa yang terjalin antara kalian berdua? " Hati-hati Amanda bertanya. Sebenarnya ia takut jika jawabannya tak sesuai harapannya.
"Kamu belum cerita siapa kamu ke Amanda? " Tanya Ronald pada adiknya. Gadis itu menggeleng sambil tersenyum.
__ADS_1
Helaan nafas kasar terdengar dari mulut Ronald. "Dia adikku."
"Benarkah". Amanda terlihat sangat senang. Ronald tersenyum tipis melihat reaksi Amanda yang menurutnya lucu. Amanda tampak bahagia, lalu sejenak berubah muram. Alexa bisa melihat perubahan di wajah Amanda tersebut.
Kenapa kalian nggak saling jujur aja sih? Memendam cinta sekian tahun apa nggak sakit? Alexa hanya bergumam sendiri dalam hati. Sebenarnya ia sudah gemas ingin berteriak dengan lantang bahwa abangnya, Ronald juga menyukai Amanda sejak di SMA dulu. Tapi ia lebih memilih diam. Biarlah itu jadi urusan abangnya. Ia tidak mau ikut campur, Alexa akan selalu mendukung dan memberi semangat untuk abang tersayangnya.
Selesai makan, mereka memutuskan untuk pulang. Amanda menolak untuk di antar oleh Ronald dengan alasan masih akan mampir ke tempat saudara. Di perjalanan pulang, Ronald mulai terlihat serius berbicara dengan sang adik.
"Kapan kalian akan menikah?" Tanya Ronald memecah keheningan. "Abang ingin memastikan itu sebelum abang berangkat ke luar negeri".
"Seminggu lagi bang. Abang jadi pasti datang kan nanti?" Alexa memastikan abangnya akan hadir saat dia menikah dengan Dani nanti.
"Tentu saja. Abang akan ke kota S dua hari sebelumnya". Alexa mengangguk.
"Iya bang". Ronald menepikan mobilnya di pinggir jalan. Ia menatap sang adik.
"Bang, Dani pria yang baik. Dona juga tahu bagaimana Dani selama ini. Abang nggak perlu khawatir. Fokus saja pada kuliah abang di luar negeri nanti. Alexa akan sering menghubungi abang". Helaan nafas kasar terdengar dari mulut Ronald. Mobil mereka kembali melaju di jalan raya. Besok Alexa akan kembali ke kota S dan menikah dengan Dani minggu depan.
***
Tiba di kota S, di kamar kost Alexa. Gadis itu tengah menikmati makan malam dengan Dona. Beberapa hari tidak bertemu dengan sahabatnya membuat Dona rindu pada Rara dan memutuskan untuk menginap di kamar kost yang sempit itu. Sambil ketawa ketiwi membahas hal-hal yang absurd tentang pacar masing-masing.
"Rara, kamu yakin akan menikah siri dengan Dani? Kenapa nggak secara hukum juga sih? Ya walau pun nggak ada resepsi setidaknya kan hubungan pernikahan kalian nanti akan jelas".
"Nanti akan tiba saat yang tepat untuk kami meresmikan pernikahan kami secara hukum negara ini". Rara tersenyum melihat wajah sahabatnya yang ditekuk.
__ADS_1
"Sudah, ayo habiskan makannya terus kita istirahat. Besok pagi kan kita ada kuliah". Mereka menghabiskan makanan yang mereka pesan secara online tadi.
Keesokan harinya pagi sekali Dani sudah ada di depan tempat kost Rara. Ia merindukan kekasihnya itu. Ia datang dengan paper bag di tangan, tiga porsi makanan untuk mereka bertiga. Duduk di teras depan kamar Rara, Dona dna Dani tengah menikmati sarapan mereka. Dona menyesal karena menginap di sana. Menyesal karena dia tidak meminta sang pacar menjemputnya pagi ini. Melihat iri kemesraan dua sejoli di depannya saat ini. Makan sambil suap-suapan. Dona gigit jari. Ia membuang muka menatap ke arah lain.
"Kalian ini benar-benar ya... " Dona mendengus kesal. Kedua orang di depan Dona tak menggubris, asyik dengan dunia mereka sendiri.
"Ah udah aku pulang aja. Sakit tau nggak di anggep kaya obat nyamuk aja". Dona berdiri, tapi tangannya segera ditahan oleh Rara. Memintanya duduk kembali.
"Maaf Na, jangan cemberut gitu dong, kan sarapannya juga belum selesai".
"Gimana bisa cepet selesai kalau cuma kalian berdua yang asyik menikmati. Lah aku, udah seret duluan ni makanan nyangkut di tenggorokan lihat kalian berdua mesra gitu".
"Iya iya maaf. Kenapa kamu nggak telpon Andre buat jemput kamu?" Dani bertanya.
"Dia lagi sibuk kerja. Lagi berusaha keras untuk memantaskan dirinya bersanding denganku kelak". Helaan nafas kasar terdengar sesaat. Wajahnya kembali sendu mengingat sang kekasih hati akhir-akhir ini lebih sibuk dengan pekerjaannya. Mereka jarang bertemu untuk sekedar makan siang bersama.
"Ya wajar dong, dia kan kerja buat masa depan kalian nanti. Harusnya kamu bersyukur Dona. Andre benar-benar menghabiskan waktunya untuk bekerja, bukan untuk hal-hal yang nggak berguna". Ucap Dani berusaha memberi semangat pada sahabat kekasihnya itu. Dani baru tahu beberapa waktu lalu kalau ternyata Andre juga bekerja di perusahaan yang sama dengannya.
"Apa kalian sering menjalin komunikasi? Kenapa kau begitu yakin tentang Andre? Sementara aku saja yang pacarnya paling hanya pagi dan malam hari kami telponan. Itu pun hanya beberapa menit. Dan kami jarang keluar kencan berdua".
"Andre juga bekerja di perusahaan yang sama denganku. Hanya berbeda divisi saja. Aku baru tahu beberapa waktu lalu". Jawab Dani jujur.
Rara menggenggam tangan sahabatnya. Memintanya untuk banyak bersabar dan mengerti akan kondisi Andre. Bukan apa-apa. Dona putri seorang pengusaha kaya. Sementara Andre anak dari keluarga yang biasa saja. Andre mencintai Dona apa adanya. Dan tidak ingin berpisah dengan gadis itu hanya gara-gara masalah beda kasta. Karena itu Andre berusaha sekuat dan semampu mungkin untuk memantaskan dirinya bersanding dengan Dona kelak. Dengan kerja kerasnya sendiri. Walaupun keluarga Dona tidak pernah melarang putri mereka berpacaran dengan Andre, ia hanya ingin bisa menegakkan kepalanya saat ada orang yang menghinanya kelak, karena perbedaan status mereka.
Bahwa kerja keras itu pasti membuahkan hasil. Bahwa kerja keras itu tidak akan pernah sia-sia.
__ADS_1
Bersambung.