Masih Mencintaimu

Masih Mencintaimu
Bab 15


__ADS_3

Suara kicau burung di pagi hari. Mentari masih malu-malu menampakkan diri di ufuk timur. Sinarnya telah mulai menerangi hari. Menemani aktivitas manusia di bumi. Jika para manusia telah sibuk dengan segala aktivitas rutin di pagi hari, berbeda dengan sepasang pengantin baru kita.


Kamar yang semula indah di tata seperti kamar pengantin pada umumnya, kini berganti berserak dengan baju-baju yang berhambur di mana-mana.


Rara yang terjaga lebih dulu, ia terbangun dan menemukan dirinya dalam dekapan hangat sang suami. Rara belum bergerak, ia masih asyik memandangi wajah tenang suaminya yang masih terpejam. Bayangan kejadian semalam masih menari-nari di otaknya.


Rara terbangun di tengah malam karena merasa haus. Ia segera ke dapur mengambil air minum, lalu ia kembali menuju kamar di mana suaminya masih tertidur. Dilihatnya pria itu masih terpejam. Duduk di tepi ranjang, memandang wajah sang suami.


Ah, tampan sekali dia kalau tidur seperti itu. Rara mengagumi rupa sang suami yang tampan. Ia tersenyum, masih tidak percaya jika ia sudah menikah dengan pria yang ia cintai.


"Aku memang tampan, jadi kau harus terbiasa melihatnya setiap hari". Rara sedikit tersentak. Tidak menyangka jika Dani tahu sedang dipandangi seperti itu. Rara malu karena ketahuan sedang mengagumi sang suami. Dani menarik tubuh Rara hingga terjatuh di atas dadanya. Pandangan mata mereka bertemu. Satu kecupan lembut di bibir Rara. Gadis itu memejamkan mata. Menikmati sentuhan pertama sang suami. Kecupan berikutnya Dani berikan, lembut. Semakin lama semakin menuntut. Hingga Rara kehabisan nafas baru Dani lepaskan. Kening mereka saling menempel, lalu kecupan lagi Rara dapatkan.


Entah siapa yang mulai lebih dulu, baju yang mereka pakai satu persatu telah terlepas dari tubuh. Kini Dani berada di atas tubuh sang istri. Matanya sudah dipenuhi kabut gairah. Dan penyatuan cinta itu Rara rasakan begitu indah. Dani merasakan panas di sekujur tubuhnya. Peluh sudah membanjiri tubuh mereka berdua. Puncak gairah itu telah mencapai titiknya, Dani mencium kening Rara penuh kasih. Sambil berucap aku mencintaimu berulang kali.


Rara merasa sangat bahagia. Ini kali pertama baginya dan juga Dani. Noda merah di atas kain sprei menjadi tanda bahwa Rara benar-benar menjaga dirinya. Berulang kali juga Dani berucap terima kasih pada istrinya tersebut. Dekapan hangat sang suami mengantar Rara ke alam mimpi lelapnya. Senyum terukir saat mereka tidur hingga pagi menjelang.


"Selamat pagi sayang... ". Rara memilih menyembunyikan wajahnya menggunakan selimut.


"Selamat pagi juga... ". Ucap Rara dari balik selimut.


"Kenapa ditutupi sih?". Dani mencoba menarik selimut yang menutup wajah sang istri. Gadis itu masih berusaha menutup wajahnya.


"Aku malu... ". Lirih Rara dari balik selimut.

__ADS_1


"Kenapa harus malu? Kita kan sudah sah, bahkan semalam udah lihat semuanya kan? Apa yang perlu ditutupi?". Terlihat manik mata Rara, Dani menatapnya penuh cinta.


Wajah mereka sudah sangat dekat, hembusan nafas Dani bisa dirasa oleh Rara.


Kruuuk krukk.


Mereka tertawa bersama.


"Maaf. Aku akan bikin sarapan untuk kita". Rara hendak bangkit namun dicegah oleh Dani.


"Tidak perlu, aku udah pesankan makanan untuk kita. Kau mandi saja, sebentar lagi pasti datang makanannya".


"Kapan pesannya? Bukankah kita baru saja bangun? ".


"Ooh". Rara bangkit berdiri dari ranjang. Perih, namun ia tahan berusaha berjalan tertatih keluar kamar menuju kamar mandi. Dani yang melihatnya hanya tersenyum namun ia segera menyusul istrinya dan merangkul bahu sang istri.


"Mau aku gendong? " Rara menggeleng sambil tersenyum pada Dani. Setelah Rara masuk ke dalam kamar mandi, Dani kembali ke kamarnya. Di lihatnya kondisi kamar yang berantakan. Matanya menangkap bercak merah di atas sprei. Ia tersenyum bangga, juga karena dirinyalah yang pertama bagi sang istri. Ia segera mengganti dengan sprei yang baru setelah memasukkan yang kotor ke dalam kantong plastik.


Terdengar pintu rumahnya diketuk. Dani berjalan membuka pintu, dilihatnya orang suruhannya yang datang membawa beberapa paper bag. "Ini pesanan Anda, Tuan". Orang itu tertunduk sopan sambil menyerahkan paper bag tersebut.


"Terima kasih".


"Jangan sungkan Tuan. Kapanpun Anda butuh sesuatu silahkan hubungi saya".

__ADS_1


"Hem. Pergilah".


Dani menutup pintu bertepatan saat Rara keluar dari kamar mandi. Ia hanya memakai handuk yang dililitkan ke tubuhnya karena lupa tidak membawa baju ganti ke dalam kamar mandi. Istrinya tampak begitu menggoda.


"Maaf, aku tadi lupa bawa baju ganti... ". Ucap Rara saat dilihatnya Dani hanya diam tanpa kata.


"Tak apa. Kita akan terbiasa dengan keadaan seperti ini. Pakai bajumu, ayo kita sarapan bersama". Dani segera menyiapkan makanan di meja makan. Bayangan tubuh polos Rara semalam masih teringat jelas di kepalanya.


Setelah mereka selesai sarapan, Rara beranjak ke tempat cuci piring membersihkan piring dan gelas kotor. Dani berdiri di belakangnya lalu melingkarkan tangan memeluk perut Rara.


"Aku sedang cuci piring Dan... ". Dani seolah tak peduli. Ia makin erat memeluk Rara.


"Aku kan cuma memelukmu. Lanjutkan saja cuci piringnya, kedua tanganmu kan masih bebas". Dani mencium leher belakang Rara, gadis itu merinding geli.


"Dani... "


"Apa Sayang? "


"Geli... ". Dani malah semakin menjadi. Dilihatnya Rara telah selesai dengan piringnya. Dani segera menggendonh istrinya menuju kamar mereka.


Bunga cinta masih bertebaran di kamar pengantin pagi ini.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2