Masih Mencintaimu

Masih Mencintaimu
Bab 24


__ADS_3

"Aku antar sampai kota J ya? Aku nggak tenang biarin kamu kesana sendirian." Dani memeluk erat istrinya. Pagi hari ini Rara akan pergi ke rumah orang tuanya di kota J. Selain karena kangen dengan keluarganya, Rara ingin menghabiskan waktu bersama sang kakak sebelum abangnya itu berangkat ke luar negeri.


Ya. Setelah Rara mengatakan pada abangnya bahwa ia akan menggantikan sang abang untuk memimpin perusahaan keluarga mereka. Sementara Ronald akan mengejar mimpinya menjadi seorang chef.


Rara merasa berat untuk melepas pelukannya pada tubuh suaminya. Ia menggeleng sambil tersenyum.


"Aku udah biasa pergi sendiri. Aku akan memberi kabar selama di perjalanan juga setelah sampai rumah nanti."


"Aku tetap saja nggak tenang membiarkan kamu pergi sendirian kesana". Dani menyelipkan rambut Rara ke belakang telinga. Gadis itu terlihat semakin manis.


"Keluargaku akan menjemput ku di bandara saat aku tiba nanti".


"Tetap saja aku khawatir". Dani memeluk istrinya lagi. Kali ini lebih erat.


Masih dengan sabarnya Rara menjelaskan pada suaminya bahwa ia akan baik-baik saja sampai ia tiba di rumah orang tuanya. Sebenarnya Rara belum siap jika identitas aslinya terbongkar jika Dani bertemu orang tua nya.


Sampai saat pengumuman untuk keberangkatan pesawat yang akan membawa Rara kembali ke kota J. Akhirnya dengan berat hati Dani melepas sang istri. Dan tanpa sepengetahuan Rara pula Dani ikut masuk ke dalam pesawat. Dengan pakaian serba hitam. Kaca mata hitam, masker, dan topi berwarna senada Dani duduk di kursi depan tempat Rara duduk. Gadis itu pun tak menyadari bahwa penumpang yang duduk di depan kursinya adalah suaminya. Hingga tiba di bandara tujuan, Rara tak juga menyadari keberadaan sang suami. Padahal Dani ingin sekali gadis itu mengenali sosok pria yang duduk di depannya lalu meminta pindah tempat duduk di samping sang suami.


Namun, semua itu hanya khayalan saja. Tak sekalipun Rara beralih dari ponselnya.


Tak lama, di kejauhan nampak sosok wanita paruh baya berdiri di samping pria muda yang di kenali oleh Dani. Rara merentangkan tangannya lebar dengan setengah berlari menghambur ke pelukan sang ibu. Lalu ia beralih memeluk abangnya. Terlihat sedikit obrolan di antara mereka sebelum beranjak pergi.


Kecewa di hati Dani semakin besar saat istrinya benar-benar tak menyadari kehadirannya. Lalu sebentar kemudian nampak Ronald membalikkan badannya dan memandang ke arah Dani berdiri. Sambil ia memberi kode untuk menghubungi nya lewat ponsel. Dani hanya mengangguk lalu menatap kembali punggung sang istri yang beranjak menjauh.


Banyak obrolan terdengar selama mereka berada di dalam mobil menuju rumah. Banyak hal pula yang di tanyakan ibu Rara kepada anak gadisnya itu selama kuliah di kota S. Gadis itu menjawab hati-hati agar tak keceplosan menyebut tentang Dani. Ia akan bercerita tentang Dona jika di rasa obrolan sang ibu mulai membahas tentang laki-laki.


"Sepertinya ayahmu belum pulang dari kantor Ronald". Ucap sang ibu setelah mereka sampai di rumah.


"Meeting dengan investor yang dari negara B ini memang sedikit sulit bu. Karena itu ia minta kehadiran ayah langsung. Sejak dulu mereka selalu ingin bertemu langsung dengan ayah jika ada sesuatu masalah. Itu lah mengapa ayah nggak bisa ikut jemput kamu Al". Ucapnya pada sang adik.


"Baiklah. Lebih baik kalian istirahat dulu di kamar. Nanti waktu makan siang ibu akan panggil kalian. Ehmm?" Ucap ibu pada kedua anaknya.


"Baiklah bu, kami istirahat dulu. Ibu juga sebaiknya istirahat. Makan siangnya biar disiapin sama pelayan aja".


"Iya, ibu juga akan masuk ke kamar sebentar lagi setelah memberi tahu pelayan mau masak apa siang ini. Kalian naik dulu saja ke lantai atas".


"Baik bu. Kami pergi dulu". Ucap Ronald sambil sedikit mendorong bahu sang adik.


Sesampainya mereka di depan kamar Alexa, Ronald meminta sang adik untuk berhenti sebentar.


"Abang jadi berangkat lusa?" Tanyanya memastikan tentang keberangkatan sang kakak ke luar negeri.

__ADS_1


Ronald menjawab dengan anggukan kepala.


"Baik-baiklah di sana. Jaga dirimu, jika bisa bisa sering-seringlah pulang agar ayah dan ibu nggak terlalu kesepian".


"Iya bang".


"Bagaimana dengannya?"


"Dia baik-baik aja. Malah tadi sempat bersikeras mau ikut kemari".


"Loh, bukannya tadi dia emang ikut sama kamu?" Tanya Ronald heran dengan perkataan sang adik.


"Dia siapa maksud kamu Ronald? Emang tadi Alexa berangkat dari kota S sama siapa?" Belum sempat Alexa menjawab perkataan abangnya, sang ibu sudah naik ke lantai atas. Alexa sedikit pucat. Takut jika ibunya mendengar obrolannya dengan sang abang.


"Bu..bukan siapa-siapa kok bu. Tadi Dona sebenarnya ingin ikut kemari. Sekalian liburan katanya. Iya..gitu."


"Ooo, ibu kira siapa. Lalu kenapa nggak jadi ikut? Kan dia bisa nginap disini biar rumah kita tambah rame".


"Mendadak ia ada acara penting dengan keluarganya bu, jadi nggak ikut kemari. Lain kali pas libur dia bilang pasti akan kemari".


"Iya, ibu kangen juga sama teman kamu itu. Ya sudah, ayo cepat istirahat. Kalian pasti capek".


Meraih ponsel di atas meja, ia mengetikkan beberapa kata. Mengirim pesan pada sang suami, menanyakan keberadaan pria tersebut.


Bukannya jawaban yang ia dapat melainkan kata-kata yang bertuliskan


Kangen.


Kangen.


Kangen.


Tiga kata itu cukup mampu membuat Alexa merasa di cintai oleh pria itu. Ia tersenyum manis membaca nya.


Sejenak terdengar nada panggilan di ponselnya, dari pria yang mengatakan kangen tadi.


"Halo..."


"........."


"Iya, aku tahu".

__ADS_1


"........"


"Hihihiiiii"


"......."


"Kamu di mana Sayang? Udah makan?"


"...."


"Jangan lupa makan. Jaga kesehatan ya!"


"... "


"Baiklah, miss u too".


Panggilan berakhir. Beberapa saat kemudian terdengar suara ketukan pintu. Bibi asisten yang bekerja di rumah ayahnya. Memberitahu jika makan siang sudah siap.


Alexa bergegas turun ke lantai bawah. Dilihatnya sang ayah juga sudah duduk di sofa ruang keluarga. Masih mengenakan pakaian kantornya, ia memeluk sang putri. Melepas rindu. Menanyakan ini dan itu. Mengalir lah cerita saat-saat Alexa tinggal di kota S. Gadis itu terlihat ceria seperti biasanya.


Hingga mereka duduk di depan meja makan, saat ibu menyendok kan makanan kesukaan Alexa. Gadis itu merasa seperti mau muntah, nun sebisa mungkin ia tahan. Hingga saat makanan itu masuk ke dalam mulutnya, Alexa tidak mampu lagi menahan dan segera berlari ke arah kamar mandi di dekat ruang makan. Semua makanan yang tadi ia makan, Alexa muntahkan kembali.


Sang ibu panik melihat kondisi putrinya itu. Membantu Alexa mengurut belakang leher agar muntahnya reda. Setelah membaik, ia meminum air putih hangat yang diberikan abangnya.


"Kamu terlihat pucat, kita ke dokter ya?". Sang ayah mengusulkan. Alexa menggeleng.


"Nggak apa-apa Yah. Paling cuma masuk angin. Soalnya tadi pagi cuma makan roti sedikit. Biasanya kan selalu makan nasi. Kecapekan juga selama perjalanan, apalagi kemaren sempat lembur kerja beberapa hari". Alexa memberikan alasan yang masuk akal pada keluarganya.


"Baiklah. Biar ibu buatkan jahe panas. Kamu istirahat dulu di kamar". Alexa mengangguk.


"Ayi, abang antar". Ronald merangkul sang adik.


Setelah meminum beberapa teguk air jahe panas, Alexa merasa membaik.


Namun, otaknya tak henti berfikir. Ia curiga akan sesuatu.


Meraih ponselnya, ia melihat aplikasi kalender.


Tangan cantiknya sedikit bergetar.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2