Masih Mencintaimu

Masih Mencintaimu
Bab 20


__ADS_3

"Daniel... ". Suara perempuan yang sudah Dani kenal menyapa. Dani mematikan sambungan telpon dan menyimpan ponselnya di saku dalam jas yang ia kenakan.


Tanpa membalas sapaan itu Dani yang hendak melangkah pergi segera di cegah oleh Emi.


"Tunggu Daniel, bolehkah aku menemanimu di pesta ini. Sudah lama kita tidak bertemu, ada yang ingin aku bicarakan".


"Aku rasa tidak ada yang perlu dibicarakan dengan mu". Daniel melangkah pergi tanpa menengok kepada Emi.


"Kenapa susah sekali untuk bisa dekat denganmu?" Gumam Emi lirih sambil menatap sendu punggung lelaki yang kini menjauh pergi meninggalkannya.


Di sebuah gedung mewah pesta ulang tahun sang adik di gelar. Sekaligus merayakan Anniversary perusahaan Wijaya Corp. Tampak tamu yang hadir dari beberapa perusahaan besar di negara ini datang untuk mengucapkan selamat.


Dani tengah berbincang dengan beberapa kolega sang ayah yang ia kenal. Entah dari mana keberanian Emi hadir, ia langsung merangkul mesra lengan Dani seolah mereka sepasang kekasih.


"Kapan kalian akan segera menikah? Jangan lupa undangannya Tuan Ardian". Ucap seorang pria seumuran ayah Dani.


"Kalian memang pasangan yang serasi". Imbuh seorang pria lagi.


"Semua aku serahkan pada Daniel. Karena dia yang akan menjalani kehidupannya sendiri. Dan aku yang terpenting anak-anakku bahagia dengan hidupnya". Ucap Tuan Ardian yang melihat perubahan mimik wajah sang putra yang tampak tidak nyaman dengan kehadiran Emi. Emi, gadis itu malah tersenyum malu-malu menanggapi ucapan dari para kolega Tuan Ardian.


"Maaf, saya permisi ke belakang dulu". Ucap Daniel sopan. Ia ingin terlepas dari tangan Emi. Setelah cukup jauh dari keramaian, Daniel melepas rangkulan tangan Emi dengan kasar. Sorot mata tajam ia tujukan pada gadis itu.


"Apa mau mu Emi? "


"Bukankah kita akan menikah? Wajar jika aku merangkul lengan calon suamiku kan? " Wajah tanpa dosa terlihat jelas di wajah Emi.


"Aku tidak pernah bilang akan menikah denganmu. Lagi pula aku mencintai wanita lain. Jadi carilah pria lain, temukan kebahagiaanmu sendiri".


"Aku hanya akan bahagia bersamamu Daniel karena kamu yang aku cintai".


"Itu bukan cinta Emi, yang kau rasakan saat ini hanya obsesi juga ambisi. Karena hakekatnya cinta tidak pernah memaksa untuk memiliki". Daniel menekankan kata-katanya pada Emi agar gadis itu sadar bahwa cinta tidak bisa memaksa.

__ADS_1


"Tapi orang tua kita berharap agar kita bisa menikah Daniel juga... "


"Orang tuamu, bukan orang tuaku. Ayah dan ibuku tidak pernah memaksa kehendak mereka terhadapku. Ingat itu baik-baik Emi". Daniel berlalu pergi begitu saja tanpa peduli lagi terhadap Emi yang terus memanggil namanya.


Nyonya Diana dan juga Sarah, mereka berdua tak sengaja mendengar perdebatan antara Daniel dengan Emi.


Awalnya mereka hendak ke toilet, namun mendengar suara orang yang sedang bertengkar mereka memutuskan untuk berhenti di balik pilar besar tak jauh dari tempat Daniel dan Emi berdebat tadi.


Nyonya Diana juga Sarah hanya diam saling pandang. Dilihatnya Daniel yang melangkah menuju pintu keluar tempat acara itu di gelar.


Emi yang mendengar suara langkah kaki segera menghapus air mata nya dan berusaha tersenyum seolah tidak terjadi apa-apa. Melihat siapa yang berjalan ke arahnya, Emi lantas berjalan mendekati orang tersebut.


"Tante Diana, apa kabar? Lama tidak berjumpa Tante terlihat semakin cantik". Emi berusaha mengambil hati ibu Daniel.


"Kabarku baik. Terima kasih atas pujianmu Emi".


"Kami permisi ke toilet dulu". Sarah menyela obrolan mereka. Sebenarnya ia malas jika harus bertemu dengan Emi. Ia pun tidak mengundang Emi untuk hadir di acara ulang tahunnya. Namun mamanya yang mengundang Emi untuk datang karena mama Sarah juga yang menjodohkan Daniel dengan Emi.


"Bolehkah aku menemani Tante selama pesta berlangsung? Pesta hari ini akan sangat spesial bagi keluarga Wijaya".


"Tentu saja sangat spesial, Wijaya Corp. Dibangun dengan kerja keras dan usaha yang besar. Anniversary ini di adakan untuk menghargai kerja keras setiap pegawainya. Kalau ada orang yang berusaha mengacaukan acara hari ini untuk kepentingan pribadi, pihak keamanan akan segera mengusirnya keluar. Siapa pun itu". Ucap Sarah menggebu, ia sebenarnya ingin mengusir gadis tidak tau malu yang ada di hadapan mereka.


Nyonya Diana tidak menjawab perkataan Emi. Tapi ia membiarkan gadis itu berjalan di sampingnya, mengikuti kemana pun ia pergi. Tak juga ia hiraukan keberadaannya. Nyonya Diana malah asyik mengobrol dengan beberapa tamu yang ia kenal.


Beberapa ada yang mengenali Emi, mengira jika gadis itu benar-benar akan menjadi istri Daniel, bagian dari Wijaya Corp. Namun Nyonya Diana selaku ibu Daniel selalu berkata jika Daniel sudah memiliki calon pendamping pilihan hatinya dan itu bukan Emi.


Emi yang mendengarnya lalu merengut kesal, merasa bahwa ia tak dianggap keberadaannya.


Hingga acara selesai, tak seorang pun menyinggung keberadaan Emi di sana.Pun tak ada yang peduli dengannya. Karena Nyonya Lusi sendiri sibuk mendampingi sang suami dan putrinya yang ulang tahun malam ini. Mereka menjadi pusat perhatian dalam pesta. Emi merasa di kucilkan, ia memilih meninggalkan acara itu dengan menggunakan taksi online.


Emi meminta sopir taksi tersebut untuk mengantarkannya ke sebuah club malam. Ia ingin menghibur dirinya sendiri yang terasa begitu menyedihkan. Hingga seorang pria yang mengenalinya duduk di kursi di sebelah Emi. Dengan setia menemani Emi sepanjang malam itu melampiaskan kesedihan hatinya. Pria itu tahu, siapa pria yang telah membuat Emi menjadi seperti saat ini.

__ADS_1


Menghabiskan beberapa gelas minuman alkohol demi menghilangkan sakit hatinya. Hingga saat Emi tak sadar lagi, lelaki itu dengan telaten membopong tubuh Emi pergi dari club tersebut.


Sementara Daniel, begitu pesta berakhir ia segera pamit pada keluarganya akan kembali ke kota S. Awalnya sang adik, Sarah keberatan jika Daniel pergi malam ini juga. Namun setelah diberi pengertian ia akhirnya mengerti juga.


Nyonya Diana faham bahwa sang putra sulung sudah merindukan istrinya. Maka ia tidak keberatan sama sekali. Dan membiarkan saja anaknya pergi.


Setelah menghabiskan waktu beberapa jam dalam perjalanan, Daniel segera membuka pintu begitu ia sampai di rumah. Dona tengah duduk di sofa ruang tamu ia sudah tahu bahwa Dani akan kembali karena sebelum tidur ia mendapat pesan dari pria itu.


"Maaf jika aku kembali tengah malam begini dan mengganggu tidurmu". Ucap Dani dengan wajah lelahnya.


"Tidak masalah. Aku faham karena kalian juga masih pengantin baru".


"Aku sudah meminta sopir yang tadi msngantarku untuk menunggu. Dia akan mengantarmu pulang sampai ke rumah".


"Baiklah, aku pergi dulu".


"Terima kasih Dona, kau mau menemani Rara selama aku pergi".


"Bukan masalah. Aku malah senang bisa menginap di sini. Aku juga senang ada teman untuk bercerita. Aku pergi sekarang".


"Hmmm, hati-hati".


Dona melambaikan tangannya pergi meninggalkan rumah Dani. Benar saja, seorang pria tengah menunggu di samping mobil untuk mengantarnya pulang


"Silahkan Nona. Saya akan mengantar Anda pulang". Ia membukakan pintu penumpang bagian belakang


"Terima kasih". Mobil itu telah membawa Dona menjauh dari rumah Dani.


Pikiran Dona menerawang entah kemana.


"Biarlah waktu yang akan memberi jawaban. Semoga keputusanku tepat. Dan semoga kau bahagia Alexandra Nadia Wiguna".

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2