Masih Mencintaimu

Masih Mencintaimu
Bab 28


__ADS_3

"Ngapain kamu disini?"


"Selamat malam Daniel. Kau sudah pulang? Apa kau sudah makan malam? Apa..."


"Jawab saja pertanyaanku. Apa yang kau lakukan di sini?"


"Ah, Tante Lusi memintaku menginap di sini untuk menemaninya karena Ayahmu harus ke luar negeri beberapa hari yang lalu".


"Bukankah Ayahku sudah kembali? Lalu kenapa kau masih di sini?"


"Sebenarnya aku ingin pulang tadi siang, tapi Tante memintaku menginap semalam lagi di sini". Dani sudah memegang handle pintu saat Emy selesai menjelaskan.


"Aku tidak minta penjelasanmu".


"Lalu kenapa..."


"Pulanglah jika urusanmu sudah selesai".


Brakkk.


Emy memegang dada nya karena kaget.


"Aku pasti akan mendapatkan mu. Apapun yang terjadi". Ucap Emy lirih. Ia kembali berjalan ke kamar tidur tamu yang ia tempati selama di rumah orang tua Daniel.


Tengah malam, Rara merasa lapar dan ingin mencari makanan untuk mengganjal perutnya. Melangkah pelan menuju arah dapur, ia bukan takut ketahuan sedang makan tengah malam. Melainkan ia takut jika membangunkan penghuni rumah lain.


Setelah menemukan apa yang di cari, Rara segera mengolahnya. Makanan favorit sejuta umat. Mi instan. Sangat jarang ia mau memakan mi olahan tersebut. Entah kenapa saat ini ia sangat menginginkan makan mi instan. Beberapa hari ini ia merasa aneh pada dirinya sendiri. Mood yang sering berubah, jika dulu ia tidak terlalu suka pada sesuatu kini ia sangat menginginkannya.


"Seperti orang hamil yang lagi ngidam aja". Ucap Rara lirih. Namun sejenak kemudian ia mengusap perutnya. Sembari memikirkan sesuatu.


Setelah selesai dengan urusan perutnya, Rara kembali menuju kamar. Dilihatnya ponsel yang ia letakkan di meja kecil samping tempat tidurnya. Ia tersenyum saat ada pesan masuk dari sang suami. Tak lama kemudian, panggilan video yang tertera di layar. Suaminya juga belum tidur sama seperti dirinya.


"Halo sayang...


Kau belum tidur? Sedang apa?"


Obrolan tengah malam saat suami merindukan istrinya. Hingga hampir dua jam panggilan video itu berlangsung, Rara terlelap lebih dulu sebelum menutup panggilannya. Dani tersenyum ketika melihat wajah pulas sang istri. Lalu mengakhiri panggilan video nya.


Saat hari dimana Ronald harus pergi. Rara memasang wajah cemberut dari semalam. Ayah ibunya faham mengingat kedekatan antara kedua anaknya. Putrinya itu pasti sedih harus jauh dari sang abang untuk waktu yang lama.


Tiba di airport, semua orang sudah berkumpul. Termasuk Dani walau ia sedikit terlambat tiba di bandara.


"Nak Dani, terima kasih sudah mau datang kemari untuk mengantar Ronald". Ibu menyapa lebih dulu. Bukan sekedar basa basi, namun ia tulus mengucapkan kata itu. Ibu sudah menganggap Dani seperti anaknya sendiri walau baru beberapa hari lalu mengenalnya.


"Bukan apa-apa bu, bang Ronald sudah seperti saudara saya sendiri. Jadi saya merasa harus ikut mengantar abang". Kedua orang tua Rara mengangguk faham. Mereka terharu mendengar ucapan itu. Dani mengerlingkan sebelah matanya pada Rara. Gadis itu berpaling, wajahnya bersemu merah.

__ADS_1


Sementara Ronald acuh dengan orang disekitarnya. Netranya tak henti menoleh kesana kemari mencari sosok yang ia harapkan muncul sebelum ia pergi. Namun orang yang ia tunggu sepertinya tak datang. Ia berusaha tersenyum walau hatinya sedikit kecewa. Sang ayah tahu siapa yang sedang ditunggu oleh putranya. Namun ia memilih diam, pura-pura tidak faham situasi sang anak.


"Ronald, kau bodoh. Bukannya kau sudah bilang akan merelakannya jika ia tak memiliki perasaan apa-apa padamu? Kenapa sekarang kau justru sedih dia tak datang? Bukankah bagus dia menolakmu waktu itu? Kalau dia juga menyukaimu akan semakin membuat dia bersedih jika harus berpisah denganmu kan?". Rutuk Ronald dalam hati. Ia memaki dirinya sendiri.


Suara dering ponsel sang ayah menyadarkan Ronald dari lamunannya.


"Halo..." Suara tegas nan berwibawa. Dani mengagumi sang ayah mertua.


"...."


"Baiklah. Saya segera kesana". Ibu yang gelagapan bingung. Menatap suaminya dengan pandangan penuh tanya. Ia berharap mereka bisa menemani sang putra lebih lama lagi. Pasalnya waktu keberangkatan Ronald masih sekitar satu jam lagi.


"Bu, kita harus segera pergi". Lalu menatap anak lelakinya." Ronald, ayah minta maaf tidak bisa lebih lama di sini. Ayah ada pertemuan mendadak dengan investor asing". Ayah menjelaskan situasinya pada semua orang.


"Tapi bukankah ayah sengaja mengambil cuti hari ini karena Ronald?".


"Iya bu. Tapi investor ini kebetulan sedang ada kunjungan ke negara kita. Nanti malam rombongan mereka akan kembali ke negaranya. Ayah harus mengambil kesempatan ini". Ayah menggenggam tangan ibu, memberi isyarat agar ia ikut bersamanya. Ibu pun mengangguk.


Ibu kemudian memeluk putranya erat. Ia harus rela berpisah dengan putranya. Demi impian sang buah hati.


"Jaga diri baik-baik". Hanya itu pesan ibu. Ronald mengangguk.


"Jangan khawatir bu. Ibu juga harus jaga kesehatan ibu. Jangan terlalu lelah".


Gantian Tuan Firman yang memeluk putranya. Ia berbisik pelan. "Bulan depan ayah dan ibu akan mengunjungi mu. Baik-baiklah di sana".


Tuan Firman menoleh pada Rara. "Apa kau masih mau di sini atau pergi bersama kami?"


"Boleh aku di sini lebih lama lagi?" Tatap mata memohon sang putri. Ayah dan ibu mengiyakan saja.


"Baiklah. Nak Dani, bisa saya minta tolong untuk mengantar Al pulang nanti? Saya ada kepentingan mendadak dan harus pergi". Seperti mendapat durian runtuh, Dani tersenyum sumringah menyetujui permintaan ayah Rara.


"Baik, ayah dan ibu tidak usah khawatir. Saya akan mengantar Al pulang nanti". Dani sudah membayangkan waktu berdua dengan istrinya nanti akan dia gunakan dengan sebaik mungkin.


"Maaf merepotkan nak Dani".


"Ibu tidak perlu sungkan begitu".


"Baiklah kalau begitu, kami pergi dulu". Ketiga pemuda itu menatap punggung kedua orang tuanya yang menjauh pergi.


Dani menggenggam erat tangan Rara setelah ia pastikan hanya ada mereka bertiga. Rara tersenyum malu namun Dani terlihat biasa saja. Ronald tersenyum melihat kelakuan mereka berdua.


Hingga tiba saat keberangkatan, Ronald berusaha menyembunyikan kegundahan hatinya. Orang yang sangat ia harapkan tak kunjung terlihat.


"Ingat janji mu. Kau harus menjaga adikku. Awas saja kalau kau membuat dia kecewa, aku sendiri yang akan menghaj**rmu". Bisik Ronald pada Dani.

__ADS_1


"Aku tau bang, aku jamin dia akan aman". Ucap Dani tak kalah pelan.


"Hemmm".


"Jaga dirimu bang. Kabari kami jika sudah tiba di sana".


"Aku titip adikku. Tolong jaga dia baik-baik. Al, jaga dirimu, abang akan memberi kabar begitu sampai di sana".


"Iya bang. Kami semua akan baik-baik saja. Abang fokuslah pada tujuan abang di sana".


Perpisahan yang tak di harapkan, namun harus di hadapi apapun yang terjadi. Karena ini adalah sebagian dari konsekuensi dari perjanjian yang diajukan oleh Rara sendiri.


Dani merangkul bahu sang istri. Berjalan menuju pintu keluar airport.


"Mau langsung pulang? Atau kamu mau mampir ke tempat dulu?". Tanya Dani pada istrinya begitu mereka masuk ke dalam mobil.


"Emang boleh mampir ke tempat lain? Nggak takut di marahi ayah ibu nanti kalau terlambat ngantar pulang?" Dani menggeleng, tersenyum lembut.


"Emang kamu mau kita kemana dulu?"


"Lapar...". Ucap Rara sambil mengusap perutnya.


"Mau makan apa?"


"Kita ke jalan M dulu, nggak jauh dari rumah. Di sana ada yang jual bakso enak banget. Udah lama nggak ke sana". UCAp Rara sedikit manja. Dani menoel pipi Rara yang terlihat sedikit chuby. Ia gemas.


"Siap Boss".


"Sayang..."


"Hmmm" Dani masih fokus pada jalanan di depan.


"Ini mobil siapa?". Rara bertanya pelan.


"Punya teman. Dia ada usaha rental mobil". Ucap Dani tanpa menoleh.


"Oh..."


Sementara pesawat yang membawa Ronald telah lepas landas.


Di dalam pesawat, Ronald melamun. Menatap keluar jendela. Hanya gumpalan awan putih yang terlihat. Menghela nafas kasar, karena hanya wajah seorang gadis melintas di mata. Selalu wajah itu. Saat ia melihat ke arah lain wajah itu juga yang ia lihat di sana. Ronald memilih memejamkan mata.


Amanda. Hanya nama itu yang mengisi otaknya saat ini.


"Amanda..."

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2