
Sudah tiga hari Rara menjalani kehidupan baru sebagai istri dari Dani. Pagi ini setelah menyiapkan sarapan sederhana berupa roti bakar, Rara bersiap untuk berangkat kuliah. Sang suami telah rapi dengan setelan kantornya. Rara mendekat ke arah sang suami untuk memakaikan dasi. Tidak ada kata, hanya senyum manis dari keduanya yang terukir indah.
"Sayang... ". Tangan Dani sudah merengkuh pinggang istrinya.
"Kalau bukan karena tanggung jawab dan rasa hutang budi pada pamanku, pengen banget bolos kerja".
"Emang kalau nggak kerja trus mau ngapain?". Tanya Rara heran.
"Ngurung diri berdua sama kamu di kamar". Bisik Dani di telinga Rara. Cubitan dari tangan sang istri ia rasakan di perutnya.
"Terus kapan dapat duitnya? Kita kan harus kerja buat masa depan keluarga kita nanti". Rara berusaha mengingatkan Dani bahwa masa depan mereka masih panjang. Kebutuhan juga pasti banyak, belum lagi kalau sudah ada anak di antara mereka.
"Seandainya... ". Kalimat Dani langsung di potong oleh sang istri.
"Nggak perlu berandai-andai, kita jalani saja hidup kita sekarang ini. Apa yang kita punya sekarang harus kita syukuri masih banyak di luar sana orang yang tidak punya tempat tinggal dan kelaparan. Bukankah kita termasuk orang yang sangat beruntung? ". Rara memiringkan kepalanya sambil tersenyum.
Ekspresi Rara yang seperti itu sangat menggemaskan bagi Dani. Ia lalu lembut mengusap pipi sang istri.
"Apa kau tidak keberatan punya suami orang sepertiku? Aku belum bisa memberikanmu hidup yang mewah. Apa kau tidak keberatan berjuang bersamaku? "
"Memangnya suamiku orang yang seperti apa?... ". Dani belum menjawab, ia bingung sendiri.
"Bagiku harta bisa di cari bersama. Sekarang kan aku sudah jadi Istrimu? Apa lagi yang kau risaukan? Kita akan tetap bersama apapun yang terjadi. Aku berharap kita bisa saling terbuka".
"Terima kasih Sayang. Tolong ingatkan aku jika aku berbuat salah padamu". Rara mengangguk.
"Ayo kita sarapan dulu, nanti kau telat masuk kerjanya". Dani menggandeng tangan istri keluar dari kamar.
"Maaf aku hanya menyiapkan roti bakar, di kulkas tidak ada bahan makanan untuk kita makan. Nanti pulang kerja aku akan bawa belanjaan dari supermarket. Kebetulan ada potongan harga untuk pegawai di sana". Rara antusias jika menyangkut potongan harga. Lumayan bisa menghemat uang bulanan. Gumam Rara lirih tapi masih bisa di dengar oleh Dani.
"Sayang ini kartu atm untukmu. Pakai buat belanja kebutuhan rumah juga kebutuhanmu sendiri. Jangan irit-irit juga, beli apapun yang kau inginkan". Ucap Dani sambil memberikan kartu atmnya pada Rara.
"Terima kasih Dan, aku akan menggunakannya dengan bijak". Ucap Rara sambil tersenyum.
"Nanti aku antar ke kampus ya?" Rara mengangguk.
Setelah mengunci pintu, mereka berdua bergandengan tangan menuju mobil yang terparkir di depan rumah. Di sepanjang jalan pun Rara banyak bercerita tentang ayah dan ibunya. Dani hanya mendengarkan dengan sesekali bertanya tentang keluarga istrinya. Sesampai di kampus, Rara telah di tunggu oleh sahabatnya.
"Eh ada pengantin baru, apa kabar? Wah, auranya emang beda ya setelah nikah". Dona menggoda pengantin baru yang baru tiba di depan kampus. Rara tersenyum menanggapi. Dani terlihat biasa saja.
"Titip Rara ya Dona?! Aku akan menjemputnya sepulang dari kantor nanti malam".
__ADS_1
"Beres".
"Sayang aku berangkat ya? " Ucap Dani sambil mencium pipi istrinya. Rara tersenyum lalu melambaikan tangannya ketika Dani sudah melajukan mobilnya.
Rara juga Dona beranjak ke dalam taman sebelum kuliah mereka di mulai.
"Gimana...? "
"Apanya Don,? " Sahut Rara bingung.
"Gimana malam pertamanya??" Wajah Rar sudah bersemu merah.
"Ayo cerita Ra".
"Apa sih? ". Dua gadis itu berjalan sambil Dona terus menggoda sahabatnya.
Sementara di kota J.
"Apa yang harus aku lakukan Tante? Daniel bahkan sudah memblokir nomor ponselku". Wajah sendu seorang gadis mengadu pada calon ibu mertuanya.
"Sabar lah, Emi. Tante juga berusaha menghubungi Daniel, tapi dia selalu bilang bahwa perusahaannya yang di kota S tidak bisa di tinggal untuk sekarang ini". Wanita paruh baya yang masih terlihat awet muda dengan dandanan glamor. Nyonya Lusi. Ibu tiri dari Daniel. Ia telah merawat Daniel sejak kecil dan sangat menyayangi Daniel seperti anaknya sendiri.
"Jangan Emi. Itu akan membuat Daniel semakin tidak suka padamu". Sergah Nyonya Lusi.
"Bersabarlah sebentar lagi, Tante yakin kamu akan jadi istri Daniel?" Tambahnya lagi sambil menggenggam tangan Emi.
"Minggu depan ulang tahun Sarah, Daniel pasti tidak akan melewatkan pesta ulang tahun adiknya. Gunakan kesempatan itu sebaik mungkin agar Daniel menyukaimu. Hemm? "
"Baiklah Tante. Aku tidak akan mengecewakan Tante". Emi kembali bersemangat. Gadis itu membayangkan kembali saat-saat ia akan menjadi Nyonya Daniel. Pasti semua orang akan menatap iri padanya dan tidak berani macam-macam padanya.
Malam hari di kota S. Dani sudah memarkirkan mobilnya di depan supermarket tempat istrinya bekerja. Beberapa saat menunggu, akhirnya sang istri keluar dari gedung bersamaan beberapa teman kerjanya yang lain.
Dani melambaikan tangan pada sang istri. Rara segera berlari ke pelukan suaminya.
"Udah lama nunggunya? ". Dani menggeleng.
"Sayang, kamu udah makan?"
"Udah tadi sedikit, soalnya hari ini lumayan banyak pembeli jadi repot".
"Mau mampir makan lagi atau kita beli lalu makan di rumah? " Dani menawarkan.
__ADS_1
"Mampir makan di angkringan aja ya, aku tau tempat yang enak".
"Boleh".
Mereka tiba di tempat yang Rara maksud. Banyak orang yang duduk di sekitar angkringan itu karena tempatnya yang nyaman dan harga makanan yang ramah di kantong. Rara telah duduk di pojokan dekat pagar bambu pembatas tempat itu. Setelah memesan makanan dan minumannya. Alunan musik lembut mengiringi. Dani juga sudah menyusul Rara duduk setelah kembali dari toilet.
Mereka makan dengan lahap. Ia makan menggunakan tangan tidak memakai sendok yang di sediakan di sana. Rara makan dengan begitu cepat. Dani tersenyum melihat cara makan istrinya. Selama ini banyak wanita yang jaim jika di depannya. Maka tidak dengan Rara. Istrinya itu lebih banyak sifat bar-barnya. Rara terkesan pendiam bagi orang yang baru mengenalnya. Tapi dia akan jadi gadis yang ceria serta blak-blakan pada orang yang dekat dengannya.
"Pelan-pelan makannya, yang!." Rara hanya nyengir. Mereka masih betah duduk beberapa saat setelah makanan mereka habis.
"Dani, kita pulang sekarang ya".
"Sayang, kita kan udah nikah. Bisa nggak kamu rubah panggilanmu padaku? Yang lebih romantis gitu. Mas, Abang..."
"Kak Dani... ". Rara langsung menyela.
"Kak Dani Sayang... ". Sebenarnya Rara hanya ingin menggoda suaminya.
"Baiklah, panggil aku begitu setiap saat, dimana pun, kapan pun". Ucap Dani penuh penekanan.
"Eh, tapi kan... "
"Nggak ada tapi-tapi. Ini perintah suamimu". Rara tersenyum, ia tidak bisa membantah lagi. mereka bergandengan tangan saat berjalan keluar dari area angkringan tersebut.
Saat masuk ke dalam mobil, ponsel Dani bergetar.
"Sayang, aku jawab telpon dulu ya". Rara mengangguk.
"Halo..."
"........"
"Kapan? "
"..........."
"Baiklah, saya akan datang besok lusa".
"Sayang, aku harus ke luar kota besok lusa".
Bersambung.
__ADS_1