Masih Mencintaimu

Masih Mencintaimu
Bab 26


__ADS_3

Cinta.


Banyak orang bilang akan melakukan apapun demi cinta. Cinta itu pula yang bikin orang buta dan tuli. Buta dari melihat kejelekan pasangannya. Tuli dari omongan orang yang tidak menyukainya.


Hhhhh. Cinta juga bisa membuat orang yang paling jujur di dunia menjadi pembohong. Entah itu bohong karena demi kebaikan bersama, atau bohong karena menutupi kesalahan.


Karena dan demi cinta adiknya pula, Ronald jadi ikut berbohong. Bohong tentang kebenaran keluarga mereka. Bahwa keluarga mereka yang nota bene kaya raya, berpura-pura jadi keluarga yang biasa-biasa saja. Demi menjaga keselamatan orang-orang yang dicintai, Firman, ayah Ronald menyembunyikan status kedua anaknya. Melindungi mereka dari niatan jahat para rival bisnis perusahaannya. Mereka menempati rumah sederhana yang terbilang cukup besar. Mobil pun bukan mobil yang mewah untuk dikendarai.


Dan semua kebohongan-kebohongan selanjutnya masih akan terjadi. Di depan rumah itu, dua pria tampan kini berdiri. Ronald, merasa tidak punya alasan lagi untuk mencegah kedatangan Dani ke rumah mereka. Setelah berdebat cukup sengit sebelumnya, akhirnya Ronald membawa Dani datang ke rumah mereka.


"Kau yakin tidak menelpon adikku dulu?". Dani menggeleng mantap.


"Aku mau memberinya kejutan". Ia sudah tidak sabar untuk melihat wajah terkejut campur sebal sang istri. Pasti lucu, pikirnya.


"Terserah kau saja. Ayo masuk. Ingat ya, jangan bicara macam-macam pada orang tua kami. Aku tidak akan bisa membelamu jika adikku mengamuk nanti". Ancam Ronald pada Dani. Entah sudah berapa kali ia mengatakan hal itu sejak di perjalanan ke rumah tadi.


"Tenang aja, bang. Aku hanya ingin bertemu sebentar dengannya." Dani kembali meyakinkan Ronald.


"Terserahlah". Ronald berjalan menuju teras rumah, Dani mengekor di belakangnya. Salah seorang asisten rumah menghampiri mereka ketika Ronald membuka pintu kemudian duduk di sofa ruang tamu.


"Sudah pulang den?". Ronald mengangguk mengiyakan.


"Ayah sudah pulang mbak?"


"Belum den".


"Kalau ibu?" Ronald kembali bertanya.


"Ada di dapur den, nyiapin makan malam".


"Ya sudah, tolong bikin minum buat teman saya ya mbak". Sang asisten mengangguk.


"Tunggu bentar ya". Ucap Ronald pada Dani. Ia lalu menghampiri sang ibu di dapur.


Terlihat ibunya sedang sibuk memasukkan berbagai bumbu pada masakannya. Seorang asisten rumah yang terlihat lebih berumur dari sang ibu, membantu kerepotan di dapur itu.

__ADS_1


"Ibu". Panggil Ronald hati-hati saat dilihatnya sang ibu sudah selesai memasak. Wanita itu menoleh ke arah asal suara.


"Kau sudah pulang, nak". Ronald mengangguk.


"Ada teman di depan, mau Ronald kenalin sama ibu". Ronald memberi tahu.


"Siapa?". Sang ibu sedikit heran. Pasalnya sang putra adalah orang yang tidak cepat akrab pada orang yang baru di kenal. Ronald tersenyum sambil merangkul kedua bahu sang ibu.


"Kenalin bu, ini Dani. Teman Ronald, kami kenal beberapa bulan yang lalu". Ronald menjelaskan.


"Ini ibuku Dan". Dani menjabat tangan ibu mertuanya lalu mencium punggung tangannya. Hatinya di selimuti rasa haru. Ini pertama kali baginya bertemu sang ibu mertua.


"Apa kabar ibu, nama saya Dani". Ronald menginjak kaki Dani mendengar pria itu memanggil ibunya dengan sebutan "ibu".


Dani tahu maksud sang abang ipar tapi ia hanya nyengir sekilas lalu berkata.


"Maaf, bolehkan saya juga memanggil anda ibu? Abang Ronald sudah seperti saudara bagi saya". Ucap Dani pada ibu Rara. Sengaja ia memasang wajah memelas.


"Tentu saja boleh. Anggap kami sebagai orang tua kamu sendiri". Nyonya Widya merasa senang dengan ucapan teman putranya itu.


Sepertinya wajahnya tidak asing. Batin Tuan Firman saat ia berjabat tangan dengan teman putranya tersebut.


Perbincangan hangat mengalir begitu saja di ruang tamu keluarga Firman. Hingga saat makan malam tiba, terdengar suara langkah kaki dari arah tangga.


"Ayah, ibu, abang, aku udah lapar...". Seorang gadis cantik dengan penampilan apa adanya. Piyama panjang membungkus tubuhnya. Rambut tergerai bebas, dengan wajah polosnya.


"Ayo nak Dani kita makan malam bersama". Suara sang ibu menyadarkan Rara akan hadirnya sosok lain selain keluarga mereka. Ia segera menoleh ke arah yang di maksud ibunya. Ia terperangah tak percaya.


"Kamu belum kenal sama teman abangmu kan Al. Kenalan dulu dong". Suara sang ayah semakin membuatnya syok.


"Ini Dani, Al. Teman abang. Dan, ini adikku. Biasa dipanggil Al". Ronald memperkenalkan mereka berdua. Ia berusaha setenang mungkin agar tidak ketahuan jika ia sedang gugup.


"Hai, aku Dani. Senang bisa kenal gadis secantik kamu." Dani mengulurkan tangan ke arah Rara. Namun gadis itu masih terdiam karena terkejut atas kehadiran sang suami siri di tengah keluarganya.


"Ehhemm...". Ronald berusaha menyadarkan sang adik dari lamunannya. Lalu gadis itu menyambut uluran tangan Dani. Dengan tangan sedikit gemetar.

__ADS_1


"Hah.. Iy..iya. Saya Alexandra. Mari kita makan dulu". Rara berjalan cepat mendahului. Namun ia tidak menuju ke meja makan, melainkan masuk ke arah dapur. Pura-pura mengambil sesuatu dari kulkas. Karena gugup dan tidak ada barang yang ia bisa ambil dari sana, akhirnya ia menutup kembali kulkas tersebut dan menyusul duduk di depan meja makan. Ia duduk berhadapan dengan Dani, di sebelah ibunya.


Selama menikmati hidangan makan malam itu, terdengar obrolan ringan antara Dani, Ronald dengan ayah ibu Rara. Gadis itu lebih banyak diam, menunduk. Sesekali menimpali ketika diajak bicara. Padahal biasanya, dialah yang paling berisik ketika sudah berkumpul dengan keluarganya.


Ia tahu bahwa tamu tak diundang yang duduk bersebrangan dengannya itu lebih sering memerhatikan dia dari pada makanan yang ada di hadapannya.


"Wah nak Dani ini selain good looking, ternyata pandai juga masalah bisnis". Tuan Firman memuji teman sang putra.


"Saya masih harus banyak belajar kok Om". Dani merendah.


"Kok panggil Om lagi sih? Panggil ayah, Nak. Tadi kan kamu udah panggil ibu juga. Anggap kami seperti orang tua mu sendiri".


"Iya Ayah. Terima kasih". Dani tersenyum. Dalam hati ia merasa terharu atas sikap dan perlakuan orang tua istrinya itu. Ia merasa di terima dalam keluarga itu. Kedepannya pasti tidak akan sulit menjelaskan kepada mereka tentang hubungannya dengan anak gadisnya.


"Nak Dani belum menikahkan? Apa sudah ada calonnya?" Tanya sang ibu sangat penasaran.


Dani menatap wanita paruh baya itu sejenak. Lalu ia kembali memandang Rara sambil menjawab.


"Belum bu. Tapi saya sudah menemukan wanita idaman sebagai pendamping saya kelak. Kami sudah kenal beberapa waktu lalu. Hanya tinggal meyakinkan keluarganya saja".


"Apa keluarga gadis itu tidak merestui hubungan kalian?". Ibu bertanya karena merasa kasian jika teman putranya itu tidak mendapat restu.


"Saya belum tahu pasti. Tapi apapun yang terjadi, saya akan tetap memperjuangkan cinta saya. Kalau perlu pakai jalan pintas". Ucap Dani mantap.


"Jalan pintas apa?". Tanya Ayah dan Ronald bersamaan.


"Membuat dia hamil duluan".


"Uhuk...uhuk...". Rara tersedak kaget.


Gila.


Dasar gila.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2