Masih Mencintaimu

Masih Mencintaimu
Bab 21


__ADS_3

Dekapan erat nan hangat itu semakin membuat nyenyak tidur Rara. Ia pun melingkarkan tangannya di pinggang seorang pria yang ia sangka adalah sahabatnya Dona.


Aroma wangi parfum yang amat ia kenali menyeruak indera penciumannya.


"Ah, nggak mungkin. Dani kan belum kembali. Kenapa mimpiku semalam masih berlanjut hingga pagi??? Hoaaahmmm..." Rara bergumam cukup keras, yang masih terdengar oleh orang yang berada di dalam kamar itu. Lalu menggeliatkan badannya ke kiri lalu ke kanan. Kebiasaannya ketika bangun dari tidur di pagi hari.


"Selamat pagi Cantik". Suara yang ia kenal milik siapa. Rara menoleh ke samping. Tertegun sejenak kemudian ia tersenyum.


"Pagi juga Sayang. Kau tahu? Semalam aku memimpikan mu. Sekarangpun rasanya mimpi itu begitu nyata. Apa karena aku sangat merindukanmu? Wangi tubuhmu juga terasa begitu nyata". Rara masih belum sadar bahwa ini semua nyata. Ia masih mengira dalam mimpinya.


"Kau bermimpi tentangku?" Rara mengangguk. Lalu sejenak kemudian wajah Rara merona merah mengingat akan mimpi nya semalam.


"Memang apa yang kau impikan? Kenapa wajahmu merah begitu?". Terlihat Rara semakin merona. Ia meraba bibirnya, sebelah tangannya lagi meraba dadanya.


"Apa kau mimpi mesum?" Tebak Dani tersenyum melihat tingkah sang istri.


Imut sekali dia. Batin Dani sambil menahan diri untuk tidak tertawa.


Rara menutup mukanya menggunakan tangan.


Tunggu. Apa semua ini nyata? Jantungku berdetak kencang sekali. Rara membuka kedua matanya. Menatap wajah pria yang berada di depannya. Lalu tangannya bergerak meraba wajah tampan yang ia rindukan.


"Sayang..."Dani tersenyum lembut.


"Ada apa?". Terdengar jelas suara Dani, namun Rara masih tidak percaya ini bukan mimpi.


"Kau sudah kembali? Sejak kapan? Kenapa nggak bangunin aku?" Rara langsung beringsut duduk.


"Kulihat kau sepertinya lelah sekali. Jadi aku membiarkan mu tidur supaya segar kembali saat kau bangun". Ucap Dani santai.


"Berarti semalam..."


"Semalam kenapa?" Dani pura-pura tidak tahu apa yang terjadi semalam. Padahal ya padahal itu semua ulahnya, saking rindunya pada sang istri ia tak tahan untuk mencium bibir sambil me****s lembut dada Rara. Setengah mati menahan hasrat untuk tidak menerjang istrinya saat wanita itu masih tertidur pulas.


"Jadi semuanya bukan mimpi? Itu ulah kamu?" Rara ternganga lalu sedetik kemudian wajahnya kembali merona merah. Ia merasa malu mengingat tingkahnya semalam.


"Kamu lucu banget sih Sayang". Dani mendekap erat tubuh Rara. "Nggak perlu malu juga, sering-seringlah bertingkah imut begini. Aku suka" . Dani lalu mengecup puncak kepala Rara.


"Kenapa nggak bilang kalau mau pulang semalam? Kan aku nggak ada persiapan apa-apa untuk menyambutmu".


Belum masak juga. Rara bergumam yang masih bisa terdengar oleh telinga Dani.


"Kamu nggak perlu repot-repot untuk menyambutku pulang Sayang. Cukup kamu bersiap di ranjang, aku sudah senang". Bisik Dani di telinga Rara. Gadis itu merinding sekaligus ngeri mendengarnya. Bayangan kegiatan panas mereka akan terulang kembali setelah beberapa hari terpisah jarak.

__ADS_1


"Tapi bagaimana....hmmmp". Belum sempat Rara menyelesaikan kalimatnya, sang suami sudah melahap bibirnya dengan rakus. Nafas Rara tersengal sesaat kemudian. Mereka saling beradu pandang , lalu berciuman kembali.


Matahari semakin merangkak naik. Begitu pula kerinduan yang membuncah pada diri sepasang suami istri tersebut. Semakin terik panas mentari menyinari bumi. Semakin panas pula udara di dalam kamar Dani dan Rara.


Saat jarum jam menunjukkan pukul 11, sepasang pengantin baru itu baru keluar dari kamat untuk menikmati sarapan yang telah di pesan Dani secara online.


"Pelan-pelan makannya Sayang. Nggak ada yang akan minta jatah makananmu". Dani merasa heran pada istrinya yang makan dengan lahap dan tergesa. Ia lalu menyodorkan segelas air putih di dekat piring Rara.


"Aku lapar sekali, jangan menggangguku biar aku habiskan makananku dulu". Protes Rara sedikit kesal pada suaminya itu.


"Baiklah, maafkan aku Yang. Kalau ada di dekatmu aku nggak bisa mengendalikan diriku". Dani tersenyum jahil pada istrinya.


"Untung hari ini aku nggak ada jadwal kuliah. Bisa dapat nilai jelek aku kalau sering bolos begini". Rara bersungut kesal. Ia belum bisa menghilangkan rasa jengkel atas ulah suami mesumnya.


"Aku akan menuruti semua keinginanmu hari ini. Apa kau ingin pergi ke suatu tempat? Aku antar". Dani menggenggam erat tangan Rara. Berusaha mengalihkan pembicaraan.


"Benar?".


"Ia Sayang apapun mau mu".


"Yesss!".


Setelah tiba di tempat yang diinginkan Rara.


"Aku kan nggak bilang mau jalan-jalan Sayang. Tadi kamu bilang mau ngantar aku kemana aja aku mau". Dani terlihat mengangguk.


"Jadi jangan protes. Aku mau belanja kebutuhan rumah kita. Banyak barang yang udah mau habis, mumpung kamu menemani jadi kamu yang akan membawakan belanjaanku nanti". Ucap Rara enteng, ia melenggang masuk ke supermarket.


Dani terbengong mendengar ucapan istrinya yang sudah berjalan meninggalkannya di tempat parkir mobil.


"Sayang, ayo buruan masuk!". Teriakan Rara menyadarkan pikiran Dani.


"I..iya, aku datang Yang". Ia sedikit berlari menyusul sang istri.


***


Setelah semua belanjaan Rara masuk ke bagasi mobil Dani, gadis itu menyusul sang suami masuk ke dalam mobil.


Dani menyodorkan sebotol air mineral ke arah istrinya, lalu tersenyum manis saat melihat sang istri meneguk hampir separuh isi botol.


"Apa kau lelah? Mau kemana lagi setelah ini?". Dani menghabiskan sisa air dalam botol bekas minum sang istri.


"Kita langsung pulang aja ya? Banyak bahan makanan yang harus segera disimpan ke dalam kulkas. Takutnya nanti rusak kalau kita kelamaan jalan-jalannya."

__ADS_1


"Harusnya kita jalan-jalan dulu tadi, baru setelahnya belanja Yang". Dani memberi saran.


"Tapi kan aku nggak ada niat mau jalan-jalan hari ini. Pengen santai aja menikmati waktu di rumah sama suami".


"Jadi kamu maunya kita di kamar terus gitu Yang? Emang tadi masih kurang ya jatah servis dari aku?".


"Ouchh sakit Sayang, jangan dicubit dong". Dani mengusap perutnya yang dicubit Rara.


"Aduh duhh. Kok aku malah di pukul sih Yang? Salahku apa?".


"Sebodo amat.. ". Rara jadi semakin jengkel pada suaminya itu.


"Jangan manyun gitu dong bibirnya. Jadi pengen nyium tau".


"Udah ah, fokus aja nyetirnya". Rara mengalihkan pandangannya ke arah samping mobil. Ia senyum-senyum sendiri mendengar ocehan suaminya.


"Ngomong-ngomong nih Yang, sewaktu kamu pulang semalam gimana dengan Dona? Apa dia masih menginap di rumah semalam? Atau dia langsung pulang ke rumahnya? Siapa yang ngantar?" . Sebenarnya Rara khawatir dengan sahabatnya itu. Lebih merasa nggak enak hati kalau Dona harus pulang malam-malam tanpa sepengetahuan Rara.


"Aku minta orang kantor buat ngantar Dona pulang Yang. Tenang aja, Dona pulang dengan selamat kok". Dani tahu kekhawatiran sang istri terhadap sahabatnya.


"Makasih Sayang ya?"


"Makasihnya harus yang benar dong".


Dani menunjuk sebelah pipinya. Rara segera mencium pipi sang suami karena ia tahu maksud suaminya itu.


"Persiapkan dirimu minggu depan. Aku dapat bonus liburan untuk kita dari boss perusahaan karena keberhasilan proyek kerjasama dengan perusahaan XE beberapa minggu lalu". Dani berkata sambil fokus pada jalanan di depannya.


"Benarkah? Kita akan kemana?" Tanya Rara senang. Ia begitu antusias.


"Pulau D selama 1minggu".


"Yeyyy...".


"Kau senang sekali...".


"Tentu saja. Liburan gratis adalah hal langka yang bisa aku nikmati".


"Maaf belum bisa mengajakmu bulan madu ke luar negeri sesuai impianmu". Sesal Dani merasa bersalah pada sang istri.


"Nggak apa-apa Sayang. Aku sudah sangat senang bisa pergi bersamamu. Kemana pun nggak masalah bagiku asal bersama mu".


"Aku mencintaimu Rara, sangat".

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2