Masih Mencintaimu

Masih Mencintaimu
Bab 23


__ADS_3

"Tante, aku mohon bantuin aku cari tau di mana tempat tinggal Daniel di kota S. Aku ingin ketemu sama dia". Rengekan manja seorang gadis terdengar.


"Buat apa kamu mau bertemu Daniel?" Tanya wanita yang berpenampilan glamor yang duduk di hadapan gadis tersebut.


"Aku kangen banget sama Daniel, Tante. Dia nggak mau balas pesan yang ku kirim. Di telpon juga nggak mau jawab".


"Tante kan udah sering bilang ke kamu, jangan terlalu memaksakan kehendak mu pada Daniel. Dia itu, tipe orang yang tidak suka di kekang. Bersabarlah jika kamu ingin mendapat perhatiannya".


"Tapi Tan,...".


"Lagi pula Daniel kan sibuk bekerja untuk perusahaan yang baru ia rintis. Nanti jika perusahaannya sudah stabil pasti Daniel akan kembali kemari". Ucap wanita itu lagi sambil menggenggam tangan gadis di depannya.


"Tante sangat menyukai kamu Emy, tentu Tante akan sangat bahagia jika kamu bisa menikah dengan Daniel. Bersabarlah, kalau kamu bisa mengambil perhatian dari Daniel, suatu hari kamu juga pasti bisa mendapatkan cintanya. Hemmm?" Emy hanya tersenyum sambil mengiyakan.


Nyonya Lusi, ibu sambung Daniel. Ia sangat menyayangi putra tiri nya tersebut. Dan Daniel pun merasakan ketulusan serta kasih sayang darinya. Apalagi setelah lahir sang adik, Sarah. Nyonya Lusi juga tidak membedakan antara dirinya dengan adiknya tersebut.


Tidak bisa. Aku harus mencari tahu alamat Daniel di kota S. Dan yang paling penting, mencari tahu siapa wanita si**an yang sudah merebut Daniel dariku. Emy memikirkan cara untuk mengetahui keberadaan Daniel juga tentang wanita yang su,,,,,dah menjadi kekasihnya itu. Emy, dengan anggunnya mengambil cangkir teh dan meminum isinya. Seringai licik terbit dari bibirnya yang merah merona itu.


Waktu berganti. Rara serta Dani semakin tak terpisahkan. Hubungan mereka semakin hari semakin harmonis. Membuat siapa saja yang melihat kemesraan mereka pasti merasa iri. Dona yang kerap kali merasa jengah melihat pemandangan dua insan tersebut. Sesekali mereka Dona serta Rara keluar jalan-jalan bersama. Berakhir menjemukan bagi Dona ketika Dani datang menjemput istrinya tersebut. Bagi Dona, sepasang suami istri itu sudah seperti pemilik dunia saja.


Tak pelak, ia sering menjadi bahan ejekan mereka. Seperti saat ini. Mereka bertiga sedang duduk di kafe dengan satu piring berisi cake di hadapan masing-masing.


"Makanya, cepet nikah sana". Dona nampak cemberut mendengar ucapan Dani.


"Emang nikah sama siapa? Cowok aja nggak punya." Rara menimpali kata-kata sang suami. Lalu tertawa bersama. Mengejek jomblo di depan mereka ini.


"Iissshh. Kalian ya benar-benar menyebalkan". Kedua tangan Dona sudah mengepal erat.


"Aku masih mau melanjutkan kuliah, terus kerja. Habis itu deh baru mikir pacaran lagi. Terus kalo cocok, nikah deh." Ucap Dona lantang, kemudian ia melahap potongan besar cake yang ada di piringnya.


Rara tersenyum geli melihat tingkah sahabatnya itu.


"Iya deh iya. Aku doakan semoga kamu lulus kuliah, dapat kerjaan bagus, dapat cowok yang baik terus segera menikah". Dona serta Dani mengaminkan doa Rara.

__ADS_1


"Udah malam, pulang yuk". Kata Dani pada sang istri yang di jawab dengan anggukan kepala.


"Ayo Don, kami antar pulang. Udah malam ni". Ucap Rara pada sahabatnya.


"Nggak ah, aku naik taksi online aja daripada harus lihat pemandangan orang kasmaran lagi". Tolak Dona, sebenarnya ia menyindir dua orang di hadapannya itu. Biar sadar. Biar.


"Kan udah malam. Nggak baik cewek pulang sendiri. Udah ayo ikut aja. Lagi pula kita kan searah". Rara setuju dengan pendapat Dani.


"Oke deh. Tapi jangan mesra-mesraan di dalam mobil selama ada aku ya!"


"Nggak janji ya". Dani nyengir sambil berjalan duluan ke arah kasih untuk membayar tagihan makan mereka. Dona merangkul lengan Rara sambil berjalan menuju pintu keluar.


"Wooiii, lihat jalan dong. Aku nggak mau kita semua celaka gara-gara kalian cuma asyik pandang-pandangan sambil pegangan tangan gitu. Lagian juga aku belum nikah tau, aku nggak mau jadi hantu perawan gentayangan kalo aku mati malam ini". Dona bersungut kesal melihat kemesraan pasangan di depannya itu. Lagi dan lagi. Rara memilih ketawa mendengar ocehan gadis itu.


Sebal karena tidak ada yang menyahuti ucapannya, Dona memilih memejamkan matanya. Tidak ingin mata sucinya ternodai melihat adegan dewasa di dalam mobil itu.


Saat tiba di gerbang komplek hunian orang tua Dona. Gadis itu masih memejamkan mata sampai Rara memanggil namanya.


"Bi..bisa minta tolong bukakan pintu portalnya? Mereka temanku." Dona berusaha menutupi kegugupannya saat ada di dekat pria berseragam keamanan itu.


Terlihat pria itu cuma mengangguk kan kepala pada Dona.


Dari kaca spion Dani melihat gelagat aneh Rara yang terlihat wajahnya memerah.


"Kamu kenapa Don? Sakit? Kenapa wajahmu merah gitu?" Tanya Rara yang juga merasa aneh dengan sikap sahabatnya itu.


"Nggak, agak gerah aja rasanya." Dona mencari alasan sambil memalingkan wajah ke arah samping mobil.


"AC nya kurang dingin? Aku besarin ya?".


"Nggak usah Dan. Bentar lagi udah mau nyampe rumah kok." Tolak Dona halus.


"Ya udah aku masuk dulu ya. Makasih atas tumpangannya".

__ADS_1


"Kita nggak di tawarin mampir dulu nih. Kasih minum air kek, makan cemilan gitu".


"Tuh lihat wajah laki kamu udah memendam rasa dari tadi. Udah cepet pulang sana. Makasih ya". Dona berlalu sambil melambaikan tangannya. Satpam rumah yang bertugas jaga tampak menganggukkan kepala sekilas kepada orang yang telah mengantar Nona mudanya kembali ke rumah.


Tak menunggu lama, Dani kembali melajukan mobilnya menuju rumahnya. Digenggamnya erat tangan sang istri. Sambil menatap mesra wanita pujaannya itu.


"Apa kau lelah? Tidurlah Sayang. Akan ku bangunkan saat kita sampai rumah nanti".


Rara menggeleng. "Biasa aja kok Yang. Lagian bentar lagi juga nyampe rumah".


"Kapan kau akan mengunjungi ayah dan ibu mu? Aku antar ya kesana?". Ucap Dani saat mereka telah sampai di depan rumah sederhana mereka. Ia membukakan pintu mobil untuk istrinya. Lalu bergandengan tangan masuk ke dalam rumah.


"Nggak perlu Sayang. Aku belum siap kalau ayah dan ibu tahu tentangmu, tentang hubungan kita. Bersabarlah sedikit lagi, ya! Aku akan mulai mengenalkan mu sebagai pacarku pada mereka". Ucap Rara pelan dan hati-hati. Takut menyinggung perasaan suaminya itu.


"Baiklah. Aku akan menunggu saat itu tiba". Dani memilih mengalah. Bersabar sebentar lagi sampai orang tua sang istri atau mertuanya itu mau menerima Dani sebagai menantu. Yang lebih penting lagi merestui pernikahan mereka berdua.


Dani mengunci pintu rumah setelah mereka masuk. Malam semakin larut.


Disaat yang sama namun berbeda kota. Nampak seorang gadis tengah mendengarkan penjelasan dari seseorang melalui ponselnya.


"Saya sudah menemukan alamat orang tersebut".


"Bagus. Awasi terus dan cari tahu tentang siapa saja yang bertemu dengannya. Entah itu pria atau wanita. Juga ke tempat mana saja dia sering berkunjung".


"Baik, Nona".


"Aku akan kesana minggu depan jika urusanku disini telah usai".


"Baik". Percakapan terputus setelahnya.


"Tunggu aku Daniel. Akan ku singkirkan siapa saja yang berusaha merebut mu dariku. Kamu hanya boleh jadi milikku. Bukan wanita sia**an itu, ataupun orang lain".


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2