
Tentang orang tua Daniel Hakim Wijaya.
Ayah Dani, Ardian Danu Wijaya. Pengusaha muda yang terbilang cukup disegani di dunia bisnis. Pengaruh keluarga besarnya membuat orang lain berfikir ulang untuk berbuat curang padanya. Ardian, merupakan anak yang penurut bagi orang tuanya. Ia di jodohkan dengan Diana Larasati. Ibu Dani. Meskipun tidak ada cinta di antara mereka, namun mereka saling menyayangi sebagai sahabat. Lahirnya Daniel di tengah kehidupan mereka pun karena tuntutan dari keluarga mereka masing-masing.
Sekian tahun bersama, cinta itu tetap tak bisa singgah di hati mereka. Hingga mereka menemukan cinta dan kebahagiaan mereka sendiri setelah Daniel berusia 7 tahun. Mereka memutuskan berpisah baik-baik. Tetap menemani tumbuh kembang sang anak. Berusaha sebaik mungkin agar perpisahan itu tidak menimbulkan trauma yang mendalam bagi Daniel.
Daniel tumbuh menjadi anak yang patuh walau terkesan acuh. Ayahnya menikah lagi dengan mantan manager di perusahaannya. Lusiana. Dan sang ibu memutuskan untuk merajut kembali benang kasih yang sempat terputus dengan cinta pertamanya. Seorang bule dari Kanada. Benny Richard. Dari pernikahan kedua ibunya itu, Dani memiliki adik laki-laki. Nathan yang baru berusia 15 tahun. Dan dari sang ayah dengan istri keduanya memiliki adik perempuan, Sarah 17 tahun.
Walaupun telah berpisah dan memiliki keluarga masing-masing, tak ada dendam di antara keluarga mereka. Saling membantu dan mendukung layaknya keluarga.
"Kenapa kau menikah siri dengan istrimu? Apa dia sudah hamil duluan?". Spontan Dani terbatuk karena tersedak potongan sandwich yang baru dia gigit.
"Ibu... apa aku terlihat seperti ba****an? Aku mencintai Rara karena itu aku ingin menjaganya dengan cara menikahinya. Lagipula ibu juga pasti dapat senangnya". Jelas Dani panjang lebar. Dahi ibu berkerut samar sambil menatap anak sulungnya, meminta penjelasan.
"Ibu pasti akan mendapat cucu dari pernikahan kami". Sang ibu manggut-manggut mengiyakan.
"Maaf nak, bukan maksud ibu menyinggung kamu tadi, hihihiii. Ibu hanya heran kenapa kalian menikah siri? Padahal kan ya kalian bisa menikah dengan resmi secara hukum dan juga mengadakan pesta resepsi. Ibu juga ingin mengenalkan menantu ibu kepada teman-teman arisan ibu nanti". Penjelasan ibu terdengar seperti rengekan anak kecil bagi Dani. Nathan, sang adik pun menatap ibunya jengah.
"Ayolah bu... "
"Baiklah, iya iya ibu mengerti. Tapi ibu minta dengan sangat, ibu ingin bertemu dengannya. Aturlah waktu untuk pertemuan kami. Hemmm? ". Nyonya Diana menggenggam tangan Dani.
"Iya bu, baiklah. Aku akan tanyakan jadwal dia dulu".
"Ahh, terima kasih Sayang. Ayo lanjutkan lagi makannya". Sang ibu akhirnya diam setelah persetujuan dari Dani untuk bertemu dengan istrinya.
"Bang, berapa hari kau akan tinggal di kota ini? ". Nathan buka suara setelah tadi hanya diam jadi pendengar perdebatan yang terjadi pada ibu dan kakaknya.
"Kenapa? Kau tidak mau aku tinggal? Aku akan menginap di sini malam ini".
"Ibu sudah minta pelayan untuk membersihkan kamarmu. Kau bisa langsung istirahat di kamar jika sudah lelah".
__ADS_1
"Nanti saja bu. Oh iya, apa ibu dan Nathan akan datang besok?".
"Iya, ibu sudah janji pada Sarah akan membelikan hadiah barang yang sudah lama ia inginkan". Dani mengangguk. Suasana hangat bersama sang ibu yang ia rindukan.
Sebenarnya ia menyayangkan keputusan orang tuanya untuk berpisah. Namun ia tidak boleh egois. Ayah dan ibunya berhak untuk bahagia. Dan dia paling tidak bisa melihat kesedihan pada orang-orang yang ia sayangi. Terutama ibunya. Orang yang sudah melahirkan dirinya.
Sedari pagi setelah sarapan Dani masuk kedalam kamar tidurnya. Pikiran Dani tertuju pada sosok sang istri. Di raihnya ponsel dari saku dalam jasnya. Menggeser layar dan terlihat gambar sang istri yang tersenyum manis padanya. Ia ikut tersenyum melihat cerianya senyum Rara.
"Maafkan aku Ra. Belum saatnya kau tahu siapa diriku". Lalu Dani berjanji pada dirinya sendiri untuk selalu membahagiakan sang istri. Dan tak akan pernah mengecewakannya.
***
"Hari ini ada acara pesta yang harus aku hadiri bersama rekan kerja ku". Ucap Dani pada Rara di sambungan telponnya.
"Tidak apa-apa pergilah. Nikmati waktumu selama di sana dan cepat kembali. Aku sudah sangat merindukanmu".
"Dona masih menemanimu kan?". Rasa cemas kembali hadir di hati Dani.
"Baiklah. Bersenang-senang lah bersamanya. Besok aku sudah akan kembali".
"Daniel... ". Suara lembut seorang wanita terdengar menyapa Daniel. Rara merasa sedikit nyeri di dadanya.
"Rara, sudah dulu ya, nanti aku telpon lagi. Sepertinya acara segera di mulai".
"Baiklah... ". Namun jawaban Rara tersebut belum sempat terucap karena Dani terkesan buru-buru mengakhiri sambungan telponnya.
Hati Rara semakin sakit mendapat perlakuan seperti itu. Baru sekali ini Dani memutus sambungan telpon tanpa menunggu jawaban darinya.
Siapa wanita itu? Apakah Dani yang ia panggil tadi? Tapi dia memanggilnya Daniel dan Dani langsung memutus telponnya. Batin Rara mulai curiga.
Sebisa mungkin ia menghilangkan rasa was-was dan gundah hatinya. Ia terus memikirkan hal-hal positif tentang Dani pada dirinya sendiri.
__ADS_1
"Dani nggak mungkin macam-macam. Dia hanya mencintaiku". Gumam Rara. Begitu terus sampai pikiran negatif tentang suaminya dan suara perempuan tadi hilang dengan sendirinya.
"Kamu kenapa Ra? ". Dona merasa heran dengan sahabatnya yang terus bergumam tidak jelas dari tadi.
"Ahh, aku nggak apa-apa. Apa kau udah selesai, aku mau mandi juga".
"Iya, pergilah mandi. Kalau perlu berendam dengan air hangat sejenak akan membantu tubuhmu lebih segar lagi". Ucap Dona memberi saran.
"Sepertinya kau sedang banyak pikiran? " Lanjut Dona ketika dilihatnya Rara berwajah sendu.
"Nggak apa-apa. Mungkin aku sedang terlalu lelah saja". Dona hanya menganggukkan kepalanya.
"Ra, apa Dani sering bercerita tentang keluarganya kepadamu?" Tanya Dona saat mereka tengah berbaring di ranjang. Sesaat setelah Rara menyelesaikan mandinya.
"Nggak juga. Tapi dia pernah bilang bahwa dia punya dua adik, laki-laki dan perempuan. Dia terlihat sangat menyayangi kedua adiknya tersebut".
"Bagaimana dengan orang tuanya?" Dona masih menatap langit-langit kamar menunggu jawaban dari gadis di sebelahnya itu. Rara nampak berfikir sejenak.
"Dia bilang orang tua nya udah pisah. Dan masing-masing udah nikah lagi. Ah aku juga nggak terlalu faham dengan keluarganya. Karena Dani hanya bercerita secara garis besarnya saja padaku dan aku nggak berani bertanya lebih".
"Apa Dani menunjukkan foto keluarga nya?" Rara menggeleng.
"Lalu apa kau pernah bicara di telpon dengan mereka? ". Rara masih menggeleng. Dona menghela nafas.
"Kenapa kau nggak minta Dani untuk mengenalkan mu pada mereka?".
"Sebenarnya aku juga penasaran dari siapa wajah tampan Dani menurun". Rara tersenyum menatap sahabatnya. Dona memutar bola matanya jengah dan di tanggapi gelak tawa okeh Rara.
Haruskah ku beritahu yang sebenarnya tentang Dani padamu Ra? Aku hanya nggak ingin melihatmu kecewa. Kau sudah seperti saudara bagiku. Dona antara ragu untuk bercerita pada sahabatnya.
"Ra, sebenarnya..."
__ADS_1
Bersambung.