Masih Mencintaimu

Masih Mencintaimu
Bab 25


__ADS_3

"Bagaimana keadaanmu nak? Sudah baikan?"


Alexa menjawab pertanyaan sang ibu dengan anggukan kepala. Ia tersenyum manis.


"Mau makan apa? Biar ibu yang siapkan".


"Nanti saja bu. Kan tadi udah makan bubur. Masih kenyang". Alexa menolak dengan halus, ia menggenggam erat tangan ibunya.


"Terima kasih bu". Sang ibu mengernyit heran.


"Kenapa berterima kasih? Ini sudah jadi tanggung jawab ibu untuk menjaga kamu".


Alexa tak tahan lagi agar air matanya tak keluar. Memeluk erat tubuh ibunya, Alexa menumpahkan keharuan di hati. Walaupun belum pasti, tapi ia yakin akan satu hal tentang kejadian ia muntah tadi.


"Kok anak ibu berubah jadi cengeng begini sih?"


"Maafkan aku belum bisa membahagiakan ibu dan ayah". Ucap Alexa tanpa melepas pelukannya dari sang ibu. Ibu hanya bereaksi dengan gelengan kepala.


"Melihat kamu serta kakakmu bahagia, ibu juga ayah sudah sangat bersyukur".


"Istirahatlah, badanmu terlihat masih lemah".


"Ibu...". Di tatapnya mata sang ibu yang terlihat mulai dimakan usia itu. Alexa jadi tidak tega melihatnya.


"Ada apa? Kau butuh sesuatu?" Alexa menggelengkan kepala.


"Tidur lagi. Jangan berfikir yang macam-macam".


"Maafkan aku bu". Lirih Alexa, ia masih menatap pintu kamarnya tertutup setelah ibunya meninggalkan kamarnya.


Sementara di lain ruangan.


"Aku ingin kita bicara sebelum aku pergi esok lusa". Ucap Ronald pada orang di seberang sana. Ia terlihat menghubungi seseorang melalui ponselnya.


"Baiklah". Ia bergegas merapikan pakaian lalu beranjak keluar dari kamarnya. Sebelum ia pergi, ia menyempatkan diri untuk menengok keadaan sang adik.


Ronald membuka pintu sesaat setelah mendengar sahutan dari dalam.


"Sudah baikan?" Sang adik tersenyum.


"Terima kasih bang".


"Abang mau kemana?" Tanya Alexa melihat penampilan abangnya.


"Ada perlu sebentar dengan teman. Kau yakin baik-baik saja? Mau abang antar ke dokter".


"Nggak perlu bang, aku hanya masuk angin". Alexa pura-pura sibuk dengan buku yang ia taruh di pangkuannya tadi.


"Baiklah. Jika ada apa-apa, bicara pada abang".


"Iya".


Setelah pintu kamar tertutup, Alexa kembali meraih ponselnya.


"Halo....".

__ADS_1


***


Sementara di bagian lain kota J.


"Kau yakin dia tinggal disini? Kenapa dia tidak pulang ke rumah orang tuanya?". Emy heran dengan laporan dari orang suruhannya. Namun ia juga senang orang yang ia cintai ada di satu kota yang sama dengannya.


"Benar nona. Pria itu terlihat ada di bandara lalu menuju kemari".


"Apa dia terlihat mengajak wanita kemari?"


"Tidak ada Nona. Hanya ada seorang asisten yang selalu menemani pria tersebut".


"Baiklah, aku akan menunggu di lobi saja. Kau bisa pergi dan tunggu telpon dariku."


"Baik. Saya permisi".


Emy, berjalan anggun memasuki gedung apartemen itu. Netranya menyapu seluruh ruangan. Ia memilih duduk di sofa di sebelah sisi kirinya. Terlihat seorang petugas receptionist datang menghampiri.


"Maaf nona. Ada yang bisa saya bantu?" Tanyanya sopan.


"Di unit berapa Daniel tinggal?". Tanpa basa basi, dengan angkuhnya ia duduk di sofa itu.


"Maaf nona, kami tidak bisa memberitahu informasi penghuni apartemen ini kepada orang luar".


"Kalau begitu pergilah. Aku akan menunggu di sini".


Petugas itu kemudian undur diri. Kembali ke meja kerjanya.


Setelah hampir satu jam menunggu, sosok pria yang di nantikan Emy muncul dari arah pintu masuk.


"Daniel...". Mendengar suara yang ia kenali, Daniel menghentikan langkahnya. Tanpa menoleh pun ia tahu siapa yang memanggilnya.


"Apa kau sudah makan malam? Bagaimana kalau kita ke restauran dekat sini? Ada yang ingin aku bicarakan denganmu". Suara lembut nan manja. Emy mendekat, saat tangannya akan menyentuh lengan Daniel, pria itu bergerak menjauh.


"Bicara apa, cepat katakan. Aku masih banyak urusan". Ucapnya dingin, masih tak menoleh pada wanita yang kini berdiri di depannya.


"Aku sangat merindukanmu Daniel."


"Kau datang hanya untuk mengatakan itu? Pergilah."


"Daniel... Daniel...."


Daniel menjauh pergi. Hilang dalam lift yang membawanya ke lantai tempat tinggalnya berada.


Emy menghentakkan kakinya kesal. Masih dengan perasaan kesal, ia keluar dari bangunan itu. Meraih ponsel, ia menekan satu nama. Tak lama terdengar sahutan dari seberang.


Emy menanyakan tentang keberadaan Daniel pada Nyonya Lusi. Namun ibu sambung pria itu mengatakan bahwa Daniel masih berada di kota S dan belum kembali.


"Terus ikuti pria itu. Laporkan semua yang dia lakukan juga siapa saja yang ia temui". Sambungan telpon terputus. Emy berjalan meninggalkan gedung apartemen Daniel.


"Darimana wanita itu tahu alamat apartemen ini?" Tanya Daniel pada sang asisten setelah mereka masuk ke dalam unit tempat tinggalnya.


"Sepertinya dia menyuruh orang untuk mengikuti anda Tuan muda". Daniel menatap pria di depannya. Ia menunggu penjelasan dari sang asisten sekaligus bodyguard nya tersebut.


"Beberapa kali saat anda masih di kota S, saya sudah curiga ada yang mengikuti mobil kita. Awalnya saya mengira mereka adalah orang suruhan saingan bisnis anda. Tapi tidak ada satu pun yang berhubungan dengan mereka. Jadi saya biarkan saja selama mereka tidak bertindak yang membahayakan anda".

__ADS_1


"Tambahkan orang untuk menjaga istriku. Aku takut dia yang menjadi sasaran mereka".


"Baik Tuan".


Daniel melangkah masuk menuju kamarnya. Selama hampir 45 menit kemudian ia telah keluar kamar dengan pakaian yang lebih santai.


Sang asisten masih setia menunggu duduk di sofa sambil mengerjakan sesuatu di laptopnya.


"Kau masih disini?"


"Masih ada beberapa berkas yang perlu di cek ulang sebelum meeting esok hari Tuan muda. Anda mau keluar lagi? ". Daniel mengangguk.


"Biar saya antar". Daniel langsung menggeleng.


"Tidak perlu. Selesaikan urusanmu dan pulanglah.Aku hanya pergi sebentar menemui seorang teman".


"Baik Tuan muda. Hati-hati di jalan".


"Hemm".


Daniel melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang menuju tempat ia janji bertemu dengan sang kakak ipar.


"Maaf aku terlambat bang". Ucap Daniel begitu ia duduk di depan sang abang ipar. Mereka bertemu di kafe tak jauh dari rumah orang tua Ronald.


"Tak apa. Aku juga baru tiba. Mau makan malam disini?"


"Nanti saja bang".


Beberapa saat berlalu pelayan datang membawa minuman pesanan mereka.


"Bagaimana dengan Rara bang? Dia sehat kan?"


"Dia tadi muntah, sepertinya masuk angin". Daniel langsung panik sambil berdiri.


"Duduklah. Dia baik-baik saja. Hanya masuk angin biasa".


"Abang yakin? Apa kata dokter?"


Ronald menggeleng.


"Adikku menolak diperiksa dokter. Dia sudah lebih baik sebelum aku pergi tadi. Tenang lah, ada ayah dan ibu serta para asisten rumah tangga kami yang menjaganya". Ronald meyakinkan Dani untuk tidak khawatir karena garis wajah pria itu masih tegang.


"Baiklah, nanti aku hubungi dia".


"Aku berangkat besok lusa. Jadi kuharap kau benar-benar menjaga adikku."


"Kenapa abang harus ke luar negeri?"


"Aku dapat beasiswa. Sudah lama aku menantikannya. Rara memintaku untuk tidak menyia-nyiakan kesempatan ini". Jelas Ronald panjang lebar.


"Jaga adikku selama aku pergi. Jika kau membuat dia kecewa, aku sendiri yang akan membunuhmu".


"Aku sangat mencintainya bang, aku akan menjaganya dengan baik".


"Baiklah, aku percaya padamu".

__ADS_1


"Bang, bolehkah aku ke rumah kalian melihat Rara?"


Bersambung.


__ADS_2