
"Membuat dia hamil duluan, mungkin."
Rara yang kaget mendengar ucapan pria di depannya itu tersedak. Ibu yang duduk di sampingnya segera menyodorkan segelas air putih kepada sang putri.
Gila. Dasar gila.
Rara melotot kesal pada sang suami. Pria yang ia cintai tiba-tiba saja berubah menjadi sosok yang menyebalkan hari ini.
"Maaf, saya hanya bercanda". Dani menatap semua orang secara bergantian. Kemudian tersenyum manis.
"Saya bukan orang yang menganut kehidupan serba bebas. Saya juga punya prinsip untuk tidak melakukan hal yang bisa merugikan orang lain. Saya bisa di bu**h sama orang tua saya". Dani menjelaskan pada orang tua Rara agar tidak ada salah paham kedepannya.
Ronald menatap jengah pada pria di sampingnya itu.
"Sorry...". Bisik Dani pelan.
"Sudah, sudah kan Nak Dani cuma bercanda. Ayo, kita lanjut makan lagi". Ibu menengahi ketika dilihatnya wajah Ronald berubah agak geram pada temannya. Ia tidak ingin salah paham itu berlanjut.
Semua orang kembali fokus pada makanan masing-masing. Selesai makan malam, mereka kini menikmati buah di ruang keluarga. Perbincangan mereka tak jauh dari dunia bisnis, tentang pekerjaan. Dari sini, Tuan Firman semakin yakin jika Dani bukan dari kalangan orang biasa. Rara dan ibunya menjadi pendengar. Sesekali Dani melirik sang istri yang duduk di samping ibunya.
"Sepertinya saya harus pamit sekarang. Ayah, ibu terima kasih atas waktunya. Maaf saya mengganggu waktu kalian. Oh iya ibu, masakan ibu sangat enak". Dani berkata sambil mengacungkan kedua ibu jarinya.
"Tidak apa-apa nak Dani. Seringlah main kemari, kapanpun kamu mau. Ibu akan masak yang banyak buat kamu". Rara hanya diam mendengarkan perkataan ibunya.
"Terima kasih ibu. Ayah saya pamit dulu". Dani bicara sopan kemudian menatap Ronald. "Aku pulang dulu bang". Ronald hanya mengangguk.
Rara masih diam.
"Auh...". Ronald mengaduh ketika Dani menginjak kakinya. Terlihat Dani memberi isyarat dengan matanya. Ronald bukan tak peka. Ia sengaja mengulur waktu.
"Ayah, ibu masuk saja ke dalam dulu. Saya sama Al mau ngantar Dani sampai jalan depan sana. Sekalian mau jalan-jalan menikmati suasana malam".
"Baiklah, kalian hati-hati."
"Saya pamit pulang Ayah, Ibu".
"Sampai jumpa lagi". Sepasang suami istri itu melihat ketiga pemuda itu menjauh dari rumah mereka lalu masuk ke dalam rumah.
Semilir angin berhembus pelan. Dani sudah menggenggam erat tangan Rara saat mereka sudah keluar dari halaman rumah dan memastikan tidak ada orang lain yang melihat mereka.
"Kenapa Sayang?" Dani membuka suara saat dilihatnya istrinya hanya diam. Ronald berjalan beberapa langkah di depan. Telinganya ia buka lebar.
"Kenapa nggak ngasih tahu kalau kamu juga ikut kemari?"
__ADS_1
"Aku kangen sama kamu Sayang".
"Kenapa?Apa kamu nggak percaya pada ku?" Dani menggeleng.
"Aku nggak bisa jauh dari kamu Sayang?". Rara menghentikan langkahnya. Melepaskan genggaman tangan Dani. Menatap mata Dani lekat.
"Kenapa aku merasa kamu nggak percaya sama aku. Padahal aku pulang ke rumah orang tuaku sendiri". Kedua mata Rara sudah berkaca-kaca. Dani jadi merasa sangat bersalah. Ronald tetap berjalan ke depan meninggalkan kedua insan itu menyelesaikan masalah mereka sendiri.
"Sayang, jangan begini. Maaf, maafkan aku. Aku hanya nggak bisa jauh dari kamu. Karena itu aku menyusul kemari". Rara semakin terisak tangis. Dani memeluk erat tubuh sang istri.
"Aku percaya sama kamu. Aku minta maaf. Sudah, jangan nangis lagi ya". Dani menyeka air mata Rara dengan tangannya.
"Maaf". Ucap Dani kembali. Rara mengangguk. Mereka saling berpelukan.
"Aku ingin menghabiskan waktu bersama Bang Ronald sebelum dia berangkat ke luar negeri". Ucap Rara. Mereka sudah mulai berjalan kembali, menyusul Ronald yang sudah berjalan agak jauh di depan mereka.
"Aku tahu. Maaf Sayang".
Hening.
Mereka bertiga kini tengah duduk di sebuah bangku yang tersedia di depan mini market. Rara bergelayut manja di lengan Dani.
Perbincangan ringan antara mereka bertiga. Lebih banyak pesan Ronald pada Dani untuk menjaga Rara dengan baik. Dani mengiyakan permintaan sang kakak ipar.
Seperti saat ini, taxi yang di pesan Dani telah menunggu beberapa menit. Namun sang istri belum mau melepas pelukannya.
"Kamu mau ikut aku pulang?" Ajak Dani pada Rara. Gadis itu menggeleng.
"Bagaimana kalau aku nginap aja di rumah kalian?". Dani langsung nyengir ketika Ronald sudah menatap tajam ke arahnya. Ia membuat tanda v dengan jarinya di balik punggung sang istri.
"Pulang lah. Kabari aku jika sudah sampai di rumah". Ucap Rara, sesaat kemudian mobil taksi itu membawa suaminya menjauh dari kompleks perumahan itu.
"Al...". Rara menoleh ke arah sang kakak.
"Kamu nggak apa-apa kan?"
"Biasa aja. Dani kan masih satu kota dengan kita. Lagian dia pasti pulang ke rumah orang tuanya".
"Bukan itu".
"Lalu?"
"Apa kamu masih nggak enak badan? Kamu tampak lain hari ini".
__ADS_1
"Lain gimana bang?"
"Abang perhatiin kamu banyak makan hari ini. Bahkan makanan yang biasanya kamu nggak suka, kamu mau memakannya hari ini".
"Apa iya bang?". Ronald mengangguk.
"Tapi aku nggak merasa aneh".
"Mau ke dokter?". Rara menggeleng yakin.
"Terserah kamu lah. Yang penting kamu harus jaga kesehatan kamu, bilang pada abang jika kamu butuh sesuatu".
"Iya bang. Makasih ya."
Rara melihat langit bertabur bintang. Seulas senyum manis seorang pria melintas di matanya. Pria yang ia rindukan.
Hingga memasuki halaman rumah, Rara dan Ronald mengenang masa kecil mereka dulu. Canda dan saling ejek tentang tingkah konyol mereka dulu, tawa riang bahagia itu. Akankah semua itu bisa kembali pada mereka nanti?
Setelah masuk ke dalam kamar, Rara kembali berwajah muram. Ia menghela nafas. Rasanya ia tidak rela jika harus berpisah jauh dengan kakaknya.
"Tak apa. Waktu pasti cepat berlalu. Abang akan kembali dengan mimpi yang sudah ia gapai. Lagi pula aku sudah berjanji pada abang, juga pada diriku sendiri". Hingga mata terpejam dalam peraduan, kata-kata itu yang Rara ucapkan untuk menghibur hatinya.
Sementara di sebuah mansion mewah, seorang pria berjalan masuk. Beberapa pelayan berdiri di depan pintu guna menyambut kedatangannya.
Ia melangkah menaiki tangga menuju kamarnya. Langkahnya terhenti ketika ia dengar suara yang menyebut namanya.
"Kak Daniel...". Dani menoleh, ia tersenyum mendapati adiknya.
"Kau belum tidur?" Gadis itu menggeleng, lalu berjalan mendekat ke arah kakaknya. Merentangkan tangan minta di peluk. Sarah memang sangat manja jika pada Daniel. Daniel tersenyum melihat tingkah adiknya. Ia memaklumi itu.
"Bagaimana kabarmu? Sekolahmu lancar kan?"
"Semuanya baik kak. Apa ayah dan mama tahu kalau kakak pulang?" Daniel menggeleng.
"Ada urusan mendesak tadi, belum sempat kasih kabar". Sarah mengerti.
"Apa kakak sudah makan? Mau aku siapin makannya?" Sarah menawarkan.
"Kakak sudah makan di rumah teman tadi. Ini sudah mau larut malam, pergilah tidur". Daniel mengantar sang adik hingga memasuki kamar tidurnya.
Ketika ia hendak meraih handle pintu kamarnya, kembali terdengar suara memanggil namanya. Ia menoleh ke arah suara yang tak asing baginya.
"Ngapain kamu disini?"
__ADS_1
Bersambung.