Masih Mencintaimu

Masih Mencintaimu
Bab 17


__ADS_3

"Sayang, aku harus keluar kota besok lusa". Ucap Dani pada Rara setelah ia memutus panggilan di ponselnya.


"Ada sedikit masalah di kantor cabang yang mengharuskan aku datang kesana". Lanjut Dani setelah ia tidak mendengar jawaban dari istrinya. Wajah Rara terlihat sendu. Dani mengerti mungkin istrinya itu tidak mau berpisah dengannya.


"Aku tau kita baru menikah, seharusnya kita lebih banyak menghabiskan waktu bersama. Tidak seharusnya juga aku pergi meninggalkanmu sendiri". Dani menggenggam erat tangan istrinya. Meraih dagu Rara yang semula menunduk. Mata mereka beradu tatap.


"Apa kau mau ikut? Aku akan bilang pada pamanku". Rara menggeleng.


"Aku nggak mau egois Dani. Kamu udah bekerja keras demi kita, sebagai istri harusnya aku mendukungmu. Bukan mengekang mu". Dani tersenyum mendengar jawaban istrinya.


"Aku pergi bersama beberapa orang dari kantor juga. Paling lama tiga hari. Setiap hari aku akan menelpon, jika tidak sempat aku akan mengirim pesan untukmu. Hemmm? ".


"Iya, nggak apa-apa. Yang penting jangan sampai melewatkan waktu makan. Jaga kesehatanmu di sana". Dani senang dengan perhatian dari istrinya.


"Baiklah Nyonya Dani, aku nggak akan melewatkan makan ku".


"Kita pulang ya? Kamu pasti capek kan? ". Rara mengangguk.


Waktu berlalu. Hari ini Dani harus pergi keluar kota, Rara terlihat menyiapkan keperluan suaminya selama beberapa hari ke depan. Sebuah koper kecil telah penuh dengan barang-barang Dani. Rara membawanya keluar kamar. Suaminya terlihat sedang berbicara dengan seseorang melalui sambungan ponselnya. Wajahnya terlihat serius, Rara berjalan mendekat lalu duduk di sofa sebelah Dani. Beberapa saat lalu sambungan telpon itu terputus.


"Apa ada barang lain yang kamu perlukan selama di sana? Biar aku siapkan".


"Sudah Sayang, nggak perlu bawa banyak barang. Aku nggak akan lama di sana". Dani memeluk istrinya.


"Jaga diri baik-baik ya. Hubungi aku jika ada apa-apa. Aku sudah minta Dona untuk menginap di sini menemani kamu saat aku ke luar kota". Rara tersentak mendengar ucapan suaminya.


"Jangan kaget begitu. Aku nggak ingin kamu kesepian saat aku tinggal. Lagi pula kalian sudah jarang bertemu kan? ".


"Makasih Sayang. Kamu bahkan memikirkan sampai segitu. Pergilah, jangan khawatir aku akan jaga diri baik-baik. Selesaikan pekerjaanmu di sana dan cepat pulang. Aku menunggumu". Rara mendekap erat tubuh suaminya.


"Aku bahkan belum pergi, tapi kenapa aku sudah mulai merindukanmu? " Dani mengecup kening Rara. Lalu beralih pada bibir manis sang istri. Mereka hampir lepas kendali saat dering ponsel Dani menyadarkan mereka. Dani mendengus kesal.

__ADS_1


"Mereka sudah sampai di depan rumah. Aku harus pergi". Dani mengecup lagi bibir pink itu sekilas.


"Aku antar sampai ke depan". Dani mengangguk. Sebelum membuka pintu rumah, Dani memeluk erat tubuh istrinya. Kecupan hangat ia berikan di bibir lalu di kening Rara.


"Masuklah, jangan terlalu lama berada di luar rumah saat aku nggak ada. Tunggulah Dona di dalam, sebentar lagi dia pasti sampai".


"Aku pergi ya"


"Iya, hati-hati. Kabari jika udah sampai sana".


"Pasti Sayang". Rara menatap tubuh Dani yang berjalan ke arah mobil yang akan membawa suaminya pergi. Seseorang tampak membukakan pintu mobil untuk Dani. Setelah menutup pintu, pria itu melihat ke arah Rara lalu menunduk hormat. Rara membalas menunduk sedikit. Mobil melaju meninggalkan Rara. Gadis itu berusaha menghilangkan kesedihan hatinya. Mulai saat ini Ia harus ikhlas dan bersabar jika harus ditinggal suaminya ke luar kota untuk urusan pekerjaan. Itu sudah jadi resikonya.


Ia masuk kembali ke dalam rumah. Rara sengaja tidak masuk kuliah pagi ini. Ia merasa tidak akan bisa konsentrasi mengikuti mata kuliah jika sedang bersedih seperti sekarang. Baru beberapa menit di tinggal suami nya, ia sudah sangat merindukan pria itu. Ia membayangkan beberapa malam selanjutnya tanpa dekap hangat sang suami.


Ketukan pintu membuyarkan lamunan Rara. Ia beranjak ke depan untuk melihat siapa yang datang. Mengintip sedikit melalui tirai jendela, bibirnya tersenyum melihat siapa yang berada di luar rumahnya.


"Dona... "


"Aku dapat tugas penting untuk menjaga istri orang". Candaan Dona membuat Rara memanyunkan bibir. Lalu tertawa terbahak bersama.


"Ayo masuk. Kau akan menginap kan? Dani bilang padaku kau akan menemaniku selama dia pergi". Rara kegirangan. Dalam hati ia sangat berterima kasih pada suaminya. Yang sudah memikirkan cara agar Rara tidak kesepian selama ia pergi.


Sepertinya aku harus memberikan hadiah spesial saat Dani pulang nanti. Sebagai ungkapan terima kasih ku karena membolehkan Dona menginap di sini. Tapi apa ya? Batin Rara berpikir keras harus membalas kebaikan suaminya.


Ting.


Pesan masuk di ponsel Rara. Dahinya berkerut saat membaca pesan yang masuk dari suaminya.


#My handsome man#


"Aku meminta imbalan karena memberimu teman untuk menemanimu. Aku harap hadiah yang spesial".

__ADS_1


Apa ini? Apa ini yang dinamakan jodoh? Rara merasa ikatan batin antara dia dan suaminya semakin kuat. Baru saja ia terfikir untuk memberi hadiah untuk suaminya, sang suami sudah meminta hadiah sebagai imbalan melalui pesan. Pemikiran mereka berdua serupa ternyata.


"Ada kotak warna merah di atas meja kerja ku. Pakailah saat aku kembali. Itu imbalan yang aku minta darimu". 😘


Satu pesan kembali masuk di ponsel Rara. Ia segera membalas pesan sang suami.


"Baiklah. Kau akan mendapatkan hadiah dariku. Aku tunggu kau kembali. Miss U, 😘"


"Ehemmm". Dona menatap curiga pada sahabatnya. Ia pura-pura memasang wajah kesal.


"Aku ada disini. Kau asyik sendiri dengan ponselmu".


"Hahaha. Maaf... Aku udah begitu merindukan suamiku". Rara cuma nyengir. Memasang wajah tak berdosa. Lalu mereka berdua kembali tertawa.


Dona duduk di sofa tanpa meminta ijin dulu pada yang punya rumah. Meraih camilan di atas meja. Wajahnya terlihat kesal.


"Maaf... ". Sesal Rara. Ia merasa bersalah pada sahabatnya itu karena telah mengabaikannya tadi.


Helaan nafas kasar terdengar dari mulut Dona. Lalu menatap wajah sahabatnya. Wajah Dona berubah sendu. Ia hampir saja menangis. Rara tahu, sahabatnya itu sedang tidak baik-baik saja. Ia langsung memeluk erat tubuh Dona. Isak tangis terdengar lirih. Rara mengusap punggung Dona. Ia masih diam, menunggu Dona sampai selesai menangis.


"Menangislah. Menangislah sepuas mu. Tapi cuma hari ini. Besok jangan buang lagi waktumu menangisi hal yang nggak penting. Air mata nggak cocok menghiasi wajahmu yang setiap hari tersenyum ceria". Tangis Dona makin lama makin keras. Dekapan pada tubuh Rara pun juga terasa semakin erat sampai Rara susah bergerak. Tapi ia masih sabar menunggu Dona bercerita padanya.


Setelah puas menangis, Dona melepaskan pelukannya pada tubuh Rara. Rara segera menuju dapur untuk mengambil air minum. Ia sodorkan segelas air itu pada sahabatnya. Tanpa berucap apapun Dona meraih gelas itu dan meneguk isinya hingga tandas.


"Makasih... ". Ucapnya tulus.


"Kau mau istirahat di kamar? ". Dona menggeleng.


"Aku udah putus dengan Andre".


"Apa? "

__ADS_1


...Bersambung. ...


__ADS_2