
"Aku udah putus dengan Andre".
"Apa? Kenapa tiba-tiba? ". Helaan nafas kasar terdengar dari mulut Dona.
"Aku liat dia jalan sama cewek. Pas aku telpon nggak langsung dijawab. Aku coba telpon lagi dia bilang sibuk kerja di kantor, tapi aku liat sendiri kalau dia jalan sama cewek itu di mall".
"Mungkin dia lagi ada meeting di mall itu". Rara berusaha menenangkan sahabatnya.
"Siapa tau kalau cewek itu teman kerja nya kan?". Ucap Rara lagi
"Tapi mereka terlihat serasi banget Ra. Kaya orang lagi pacaran". Dona menundukkan kepala. bulir bening masih menghiasi di mata indahnya.
Rara mengusap bahu gadis itu. Ia terdiam, tidak tahu harus bilang apa. Takut jika kata-katanya akan makin membuat sahabatnya bersedih. Ia memilih menunggu gadis di sampingnya itu lebih tenang. Meluapkan segala rasa sedih di hatinya.
"Saat aku telpon kemaren sore, dia juga nggak berusaha jelasin ke aku. Malah dia bilang kalau aku tuh terlalu mencampuri urusan dia. Dan dia nggak suka".
"Lalu dia mutusin kamu? " Tebak Rara agak heran.
"Aku yang mutusin dia". Rara menghela nafas dalam mendengar penuturan sahabatnya itu.
"Apa sekarang kamu menyesal udah putusin dia? "Rara bertanya lagi. Dona menggeleng.
"Aku cuma nggak nyangka aja Andre bisa seperti itu. Selama ini dia udah banyak bohongin aku". Dona menatap langit-langit rumah itu. Pandangannya tampak kosong.
"Mungkin kalian emang nggak berjodoh. Percayalah, Tuhan udah menyiapkan penggantinya yang lebih baik".
Dona menatap sahabatnya. "Pria seperti Dani mungkin?". Dona mengerlingkan sebelah matanya.
"Auuuw, sakit Ra... ". Rara mencubit lengan sahabatnya.
" Dani milikku seorang". Rara berteriak lantang, udah panas dingin mendengar ocehan sahabatnya itu.
"Sorry... bercanda doang". Dona meringis. Rara lega karena Dona sudah bisa mengajaknya bercanda lagi seperti biasa.
"Setelah ini rencanamu apa? ". Rara buka suara setelah hening beberapa saat.
"Entahlah, nenangin diri dulu mungkin".
"Nggak mau langsung cari gantinya? Balas dendam gitu?". Dona menggeleng.
"Aku yakin pasti ada hukum karma di setiap perbuatan yang dilakukan. Biar saja suatu saat nanti dia dapat balasan dari perbuatan dia ke aku". Rara mengangguk faham.
Obrolan ringan mengalir begitu saja di antara dua gadis itu. Saat larut malam, Dona terlihat sudah terlelap di alam mimpinya. Beda halnya dengan Rara yang tidak bisa memejamkan mata. Sedari tadi ia terus memikirkan suaminya. Sehabis petang tadi, Dani baru sempat menghubungi Rara. Menanyakan kabar dan saling mengungkapkan kerinduan.
Entah kenapa, ia menjadi gelisah akan Dani. Berusaha meyakinkan hatinya bahwa sang suami akan baik-baik saja.
__ADS_1
"Dani baik. Dia sangat mencintaiku. Dia ke luar kota karena memang ada pekerjaan. Bukan urusan lain".
Kata itu yang terus terucap di hati Rara. Hingga ia terlelap dalam tidur.
Pagi harinya, Rara merasa gembira ketika sang suami sudah mengirim pesan singkat duluan kepadanya. Mengatakan bahwa ada rapat penting dengan petinggi perusahaan.
Rara pun mengatakan bahwa ia ada kuliah pagi dan akan berangkat bersama Dona.
"Kita sarapan di kantin aja ya nanti? ".
"Iya, udah nggak sempat kalau bikin sarapan dulu". Ucap Rara sambil mengunci pintu kamarnya.
Sementara di kota J.
Dani yang sudah rapi nampak turun dari lantai atas tempat kamarnya berada. Sayup-sayup terdengar suara beberapa perempuan di ruang tamu.
"Daniel... ". Suara sang mama menyapa.
"Selamat pagi ma... ". Tersenyum pada sang ibu tiri.
"Apa kabar Daniel? Lama tidak bertemu". Seorang gadis dengan tampilan seksi dan glamor menyapa. Ia tersenyum manis pada Dani.
"Baik". Singkat dan terdengar datar. Hanya itu kata yang di ucapkan Dani pada gadis yang menyapanya.
"Sarapan dulu nak". Dani menggeleng sambil tersenyum.
"Sekalian sarapan dengan klien nanti".
"Daniel, aku bawakan makanan dari restauran langgananku. Kau pasti suka". Dani bahkan tidak menanggapi ucapan gadis itu.
"Aku pergi ma".
"Baiklah, hati-hati nak". Raut wajah kecewa nampak jelas di wajah Emi. Ia benar-benar merasa dirinya tak dianggap keberadaannya oleh pria yang selama ini dia cintai.
Setelah mobil Dani menjauh dari rumah itu, Nyonya Lusi mendekat pada Emi dan mengusap pundak gadis itu. Ia tahu gadis itu pasti sedih.
"Bersabarlah. Daniel memang seperti itu".
"Tapi dia sama sekali tidak memandang ke arahku Tante".
"Berusahalah lebih giat lagi". Suara seorang gadis yang berdiri tak jauh dari mereka menyahut. Gadis itu tersenyum pada sang mama, berjalan menghampiri mamanya juga Emi.
"Kakakku kan memang seperti itu dari dulu. Selalu cuek pada perempuan yang bukan keluarganya". Sindiran keras itu sengaja ia tekankan pada Emi agar gadis itu sadar bahwa sang kakak tidak menyukainya.
"Papa mana ma? " Tanya Sarah pada sang ibu.
__ADS_1
"Papa ada di ruang kerjanya Sayang. Biar Mama panggil lalu kita sarapan bersama".
"Biar aku saja yang panggil ma". Sarah berlalu meninggalkan mama juga Emi. Sama seperti Dani, Sarah juga tidak terlalu suka pada Emi. Menurutnya sang kakak tidak cocok jika menjalin hubungan kasih dengan gadis sombong itu.
***
Mobil Dani memasuki kompleks perumahan mewah. Setelah melewati beberapa rumah, Dani menghentikan mobilnya di depan sebuah rumah minimalis dengan halaman depan yang cukup indah dengan berbagai macam bunga hias.
Seorang wanita paruh baya, yang masih terlihat cantik, tersenyum melihat mobil Dani berhenti di depan rumahnya. Ia merentangkan tangan agar Dani memeluknya.
"Apa kabar Sayang? Ibu kira kau akan mengajak menantu ibu kemari".
"Aku baik, bu. Akan ada saatnya dia bertemu dan mengenal ibu".
"Padahal ibu sudah sangat tidak sabar untuk bertemu dengannya". Dani masih diam menunggu ibunya bicara.
"Hanya ingin tahu gadis seperti apa yang berhasil mencuri hati seorang Daniel". Sambung ibu seolah tahu apa yang tengah difikirkan oleh anaknya.
"Ayo masuk. Ibu sudah menyiapkan sarapan untukmu".
"Hai kak Niel... " bocah laki-lak berusia 15 tahun menyapa Dani.
"Hai brother. Kau betah tinggal disini? Bagaimana sekolahmu? "
"Sekolah di sini menyenangkan. Aku bisa jajan di kantin sepuas ku. Di negara Daddy nggak ada sekolah yang jual makanan". Mereka tertawa bersama. Sang ibu hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah kedua putranya.
"Om daddy kemana bu? Jangan bilang kalau ke luar negeri lagi". Sang ibu tersenyum simpul.
"Daddy memang ke luar negeri, besok baru pulang". Sang adik yang Dani panggil brother juga ikut duduk di depan meja makan.
"Ada sedikit masalah di sana, ada beberapa properti yang dulu sempat hilang kini dikembalikan oleh orang-orang yang menipu Daddy mu. Sayang kan kalau tidak di urus, apalagi ada peninggalan dari kakeknya juga".
"Apa itu ada campur tangan ayah juga bu? " Dani asal menebak dan ibunya mengangguk.
"Terima kasih juga pada ayahmu karena bersedia membantu".
"Ayo makan sarapan mu, nanti kita lanjutkan ngobrol lagi". Lanjut sang ibu.
Disela makan pagi itu hanya ibu yang asyik bercerita tentang ini itu. Kedua putranya hanya mendengarkan sambil sesekali tertawa karena cerita yang lucu menurut mereka. Kehangatan yang sempat hilang dalam kehidupan Dani, kini ia rasakan kembali. Setelah ibunya bercerai dari sang ayah dan menikah lagi dengan seorang bule dari negara Kanada yang merupakan cinta pertamanya dan menetap beberapa tahun di sana.
"Dan, ibu penasaran akan satu hal". Dani menatap ibunya, menunggu sang ibu kembali berucap.
"Kenapa kau menikah siri dengan istrimu? Apa dia sudah hamil duluan?"
Bersambung.
__ADS_1