Masih Mencintaimu

Masih Mencintaimu
Bab 14


__ADS_3

Pernikahan. Membina keluarga bahagia hingga ajal menjemput. Mempunyai keturunan yang lucu dan menggemaskan. Pasti menjadi impian setiap orang. Hari bahagia di dampingi keluarga tercinta. Tapi tidak dengan dua insan ini. Dani dan Rara. Menikah hanya di saksikan oleh sahabat terdekat mereka. Rara didampingi sang kakak sebagai walinya. Dona dan Andre hadir sebagai saksi dari pihak Rara. Sementara Dani, pria itu meminta Rendi juga paman Irfan, adik dari ibunya yang tinggal di kota itu untuk datang ke pernikahannya. Sebelumnya ia sudah memberitahu Rendi dan pamannya untuk merahasiakan perihal pernikahannya dengan Rara kepada siapapun.


Pemuka agama sudah menuntun Dani mengucapkan janji suci. Kini ia dan Rara sudah resmi menikah secara agama. Mereka mendapat beberapa nasihat juga wejangan tentang pernikahan. Setelah itu mereka menikmati hidangan yang di sediakan Dani di rumah kontrakannya. Ia juga mengundang beberapa tetangga juga Pak Ketua Rt dan Rw di komplek rumah yang ia tempati.


Terlihat beberapa tamu masih berada di sana untuk menikmati hidangan. Ronald memberi isyarat pada Dani untuk ikut bersamanya menuju keluar rumah. Di halaman kecil rumah Dani, Ronald memilih duduk di bangku dekat kolam ikan.


"Tepati janjimu untuk selalu menjaga adikku dari keluargamu. Aku tahu mereka bisa melakukan apapun padanya jika tahu tentang pernikahan kalian ini. Kau tahu maksudku kan? "


"Iya bang". Jawab Dani menatap abang iparnya. Ia sendiri sebenarnya juga khawatir jika terjadi sesuatu pada Rara yang di akibatkan oleh pernikahan siri mereka. Keluarganya sudah pernah menjodohkannya dengan seorang wanita dari keluarga kaya. Tapi Dani tidak menyukai wanita tersebut karena ia tahu mereka hanya menginginkan harta dan juga ingin memanfaatkan statusnya.


"Adikku sangat berharga bagi kami. Jika suatu saat kau membuatnya kecewa, aku akan membawanya pergi. Dan ku pastikan kau tidak akan bisa menemukannya". Sorot mata Ronald terlihat berbeda dari biasanya. Jika Dani terbiasa melihat tatapan mata yang hangat dan teduh dari seorang Ronald, maka kali ini ia merasa terintimidasi oleh mata Ronald.


Mengerikan sekali dia. Ah aku harus cari waktu yang tepat untuk memberitahu Rara. Aku tidak ingin dia salah faham padaku. Begitu Dani bertekad dalam hati.


"Abang... ". Suara Rara mengagetkan keduanya. Mereka sama takutnya jika Rara sampai mendengat obrolan mereka tadi.


"Ada apa Sayang?". Dani yang bertanya duluan. Rara yang mendengar Dani memanggilnya begitu untuk pertama kali, hatinya berdesir. Wajahnya merona merah. Ronald yang melihat itu membuang muka ke arah lain.


"Itu... ibu-ibu tetangga mau pamitan pulang". Dani menoleh ke belakang istrinya. Di sana berdiri beberapa ibu tetangga rumahnya.


Setelah semua tamu pamit pulang, kini tinggal sepasang pengantin baru, Ronald, Dona, Andre juga Rendi. Mereka masih duduk di ruang tamu sempit itu.


"Ra, kami juga pamit pulang ya? " Dona mengajak Andre untuk segera pulang. Walau hari masih sore tapi ia merasa lebih baik cepat pergi dari rumah Dani. Entah mengapa ia punya firasat bahwa Ronald ingin membicarakan sesuatu yang penting dengan pengantin baru tersebut.

__ADS_1


"Kenapa buru-buru? Kan masih sore juga, sekalian makan malam disini aja gimana?". Bujuk Rara pada sahabatnya. Sebenarnya ia sedang berusaha mengulur waktu untuk nanti berduaan dengan Dani. Ia masih sedikit takut dan tidak tahu apa yang harus dilakukan bersama Dani saat malam pertama nanti.


"Udah janji sama papa tadi kalo mau ngajak Andre makan malam bersama di rumah". Dona menggenggam tangan Andre erat, memberi isyarat untuk membantunya pamit pada Rara.


"Benar Ra, kami harus pamit sekarang, udah janji sama papa mamanya Dona. Nggak enak kalau buat mereka lama nunggu". Rara menghela nafas dalam.


"Baiklah. Hati-hati di jalan".


"Sekali lagi, selamat ya Dani Rara".


"Terima kasih".


"Semoga langgeng ya". Dona memeluk Rara erat. Rara mengantar mereka sampai depan pintu. Lalu ia memilih pamit juga ke abang nya bahwa ia akan ganti baju rumahan yang lebih nyaman. Setelah keluar dari kamar, Rara memilih bergabung lagi dengan abang dan suaminya. Rendi sudah tak tampak di sana.


"Ra, abang tahu kamu masih muda, tapi bagaimanapun juga kamu udah punya suami. Abang harap kamu bisa menjalankan kewajiban juga tanggung jawabmu sebagai istri. Patuhi suamimu. Dani kamu juga, Rara bukan wanita sempurna jika ada sesuatu yang kurang berkenan di hatimu, aku harap kau bisa membimbingnya. Saling terbuka satu sama lain. Abang harap, pernikahan kalian langgeng".


"Baiklah, abang pamit dulu. Dani aku titip adikku". Ronald menepuk bahu adik iparnya.


Mereka mengantar Ronald sampai ke depan.


"Abang pergi ya".


"Hati-hati bang". Rara memeluk abangnya.

__ADS_1


"Terima kasih bang. Aku akan sering memberi kabar". Ronald masuk ke dalam mobil, Rendi sudah menunggu di balik kemudi.


"Kita langsung ke bandara". Titah Ronald begitu mobil mereka telah menjauh dari rumah Dani.


"Baik Tuan Muda".


Mobil yang di kendarai Rendi melaju melesat di jalan raya. Ronald yang duduk di kursi penumpang sebelah kursi kemudi hanya terdiam menatap jalanan. Sebenarnya ia masih khawatir akan keselamatan adiknya. Takut jika pernikahan mereka tidak di restui keluarga Dani dan adiknya yang akan jadi korbannya. Di tambah lagi ia akan pergi ke luar negeri sesuai permintaan ayah dan ibunya. Mengejar mimpinya. Ia senang sekaligus cemas.


Amanda. Ya, nama gadis itu sering terngiang di kepalanya akhir-akhir ini.


Haruskah aku bilang pada Amanda. Jujur aku tidak siap jika harus jauh darinya. Ronald bimbang, tangannya sudah menggenggam hape. Mengetikkan sesuatu dan mengirimkannya pada seseorang.


Hingga tiba di kota J, Ronald masih terdiam. Di belakangnya, Rendi dengan setia mendampingi pria yang juga sahabatnya itu. Ia juga tahu tentang Amanda, tapi ia lebih memilih diam. Baginya, itu privasi sang majikan. Ia akan berbicara jika boss nya bertanya dan juga meminta saran darinya.


Kita kembali ke kota S, di rumah pengantin baru. Dua sejoli itu kini tengah menikmati makan malam mereka berdua. Canggung sudah pasti. Tidak tahu harus berbuat apa lagi setelah mereka menikah.


"Istirahatlah dulu Sayang. Aku mau ke kamar mandi dulu sebentar. Nanti aku susul". Rara mengangguk. Ia segera masuk ke kamar mereka. Di balik pintu, ia memegang dadanya yang berdegup tidak karuan.


Setelah beberapa saat menguasai kembali hatinya, Rara mengganti bajunya dengan piyama tidur berbahan sutra. Ia duduk di depan meja rias kecil menunggu suaminya masuk ke kamar. Tak lama, pintu terbuka. Dani masuk sambil tersenyum pada gadis cantik yang kini telah menjadi istrinya.


"Kenapa belum tidur? " Tanya Dani menghampiri Rara. Gadis itu hanya tersenyum sambil menggelengkan kepala.


"Menunggumu... ". Lagi, semburat merah nampak di pipi Rara yang semakin membuat Dani gemas pada istrinya tersebut. Ia menggandeng tangan Rara lalu bejalan menuju ranjang mereka.

__ADS_1


"Istirahatlah. Kamu pasti lelah". Dani membaringkan tubuhnya di samping Rara. Tangan mereka masih tertaut. Mata mereka terpejam namun, kantuk tak juga datang menghampiri. Bagaimana bisa tidur saat berada satu ranjang dengan orang yang dicintai untuk pertama kali setelah sah jadi suami istri. Dani dan Rara terdiam dengan fikiran masing-masing. Hingga lambat laun, mereka benar-benar tidur karena kelelahan.


Bersambung.


__ADS_2