Masih Mencintaimu

Masih Mencintaimu
Bab 22


__ADS_3

"Aku mencintaimu Rara, sangat".


"I love you more". Rara menatap hangat suaminya.


Ahh, indahnya hidup ini. Rara merasa hidupnya sudah sangat sempurna. Bisa menjadi istri dari seorang Dani, pria baik dan rupawan. Memiliki sahabat setia seperti Dona. Keluarganya yang utuh, ayah, ibu, serta abang Ronald yang sangat menyayanginya. Sejak kecil pula Rara tak pernah kesulitan perihal ekonomi.


Rara merasa jalan hidupnya sangat bahagia. Hingga sempat berfikir apakah ia pantas mendapatkan semua kebahagiaan ini.


"Sayang...". Panggilan Dani menyadarkan Rara dari lamunannya.


"Kenapa Yang?"


"Kita udah sampai rumah, ayo turun". Dani tersenyum kemudian membantu Rara melepas seat beltnya.


"Belanjaannya berat, biar aku aja yang bawa. Kamu buka pintu rumah aja ya Yang". Lanjut Dani dan diangguki oleh Rara.


Setelah Rara membuka barang belanjaan mereka dan menata nya di dapur, ia membuat minuman dan beberapa camilan untuk suaminya. Terlihat Dani sedang berbicara dengan seseorang melalui ponselnya. Terlihat cukup serius hingga Rara memilih untuk membersihkan diri dahulu masuk kamar mandi.


Rara mengedarkan pandangannya ke penjuru ruangan. Tak nampak sosok suaminya di manapun.


"Mungkin dia ada di kamar". Gumam lirih Rara.


"Ahh".


"Kamu wangi banget Sayang". Dani memeluk Rara dari belakang begitu melihat istrinya itu keluar dari kamar mandi.


"Kaget aku Yang". Protes Rara.


"Kenapa nggak nunggu aku? Kita kan bisa mandi bareng. Lebih hemat waktu juga".


"Kalau kita mandi bareng malah makin lama bukan makin cepat".


"Jangan manyun gitu dong bibirnya. Minta dicium ya?".


"Bu...hmmp...".


Belum sempat Rara menjawab Dani, gadis itu sudah dibungkam dengan lembut oleh Dani menggunakan bibirnya.


Saling mengecup, mel***t, saling membisikkan kata cinta di sela-sela ciuman panas mereka.


Siang menjelang sore itu, kembali mereka menyatukan cinta dan mengobati rindu yang membuncah. Saling memiliki untuk kesekian kali. Rara merasa sangat dicintai oleh Dani meskipun tanpa diucapkan.


"Geli Yang...". Protes Rara saat prianya itu menciumi punggungnya ya terbuka. Setelah menuntaskan hasrat cinta mereka tadi, Dani tak sedikitpun melepas pelukannya pada tubuh sang istri.


"Sayang, mau makan apa malam ini? Biar aku buatin.


"Hemm". Dani masih sibuk dengan kegiatannya, kecup-kecup basah di sana sini.


"Sayang...". Suara Rara agak meninggi saat dirasa Dani tak menjawab pertanyaannya.


"Kamu masak apa aja aku suka kok". Dani menjawab di sela kesibukannya. Meninggalkan kiss mark di beberapa bagian tubuh sang istri.


"Kalau gitu ak....ehmmp". Dani tak memberi kesempatan pada istrinya untuk beranjak pergi dari ranjang mereka. Kembali des**an cinta itu mengalun indah seiring senja yang turun berganti dengan sinar rembulan.

__ADS_1


Hingga pukul 8.30 malam, Rara dan Dani baru menikmati makan malam mereka. Itu pun Rara yang memaksa untuk bisa makan malam di ruang makan. Dani yang semula ingin membawakan nampan berisi hidangan makan malam mereka, terpaksa membawa kembali keluar sesuai permintaan sang istri.


"Bosan di kamar terus Yang..." Alasan yang diucapkan Rara.


"Dona memintaku untuk menyimpan barang miliknya yang tertinggal semalam. Emangnya kamu pulang mendadak banget ya sampai dia nggak sempat berkemas". Rara merasa sedikit heran juga penasaran tentang kejadian semalam.


"Terus Rara pulangnya gimana Yang?" Dani cuma tersenyum mendengar pertanyaan sang istri.


"Bareng orang kantor. Kan mereka searah Yang. Jadi aku minta tolong nganterin Dona sekalian".


"Ohhh, bagus lah kalo gitu. Kan kasian juga kalo dia mesti pulang sendirian malam-malam".


"Tapi kenapa nggak kamu minta dia nginap aja dulu Yang? Kan kamu bisa tidur dulu di kamar sebelah". Ucap Rara dengan entengnya. Ia tak melihat sorot mata sang suami yang tersirat keberatan itu.


"Aku tuh udah kangen banget sama kamu Sayang. Beberapa hari nggak ketemu masa iya harus tidur terpisah lagi sementara aku udah pulang ke rumah di mana ada kamu, istriku. Aku tuh kangen meluk kamu, nyium kamu, kangen ba....". Kata-kata Dani sudah dihentikan Rara dengan menyuapkan makanan ke mulut suaminya itu. Ia tahu apa yang akan diucapkan Dani selanjutnya.


Dengan memasang wajah jutek, Rara melakukan hal itu untuk menutupi rasa gugup serta menghilangkan rona merah yang menghiasi kedua pipinya.


***


Kejadian di malam Dani pulang dari luar kota.


"Maaf mengganggu tidurmu Dona". Dani nyengir merasa nggak enak pada sahabat istrinya itu.


"Tak apa, aku paham. Dan jangan katakan apapun sebagai alasan kau kembali cepat. Aku tau apa yang membuatmu pengin cepat pulang kan?". Dona sudah bersiap pergi dengan tas tangannya.


"Biarkan orangku yang mengantarmu pulang".


Dona mengangguk.


"Aku akan minta Rara menyimpannya untukmu".


"Baiklah, aku pergi dulu". Dona melambaikan tangannya pada Dani.


"Antarkan Dona pulang dengan selamat". Titahnya pada orang yang berdiri di samping mobil yang membawa Dani kembali tadi.


"Baik". Pria berjas hitam itu nampak menundukkan kepala sekilas pada Dani kemudian ia masuk ke dalam mobil.


Tak terdengar obrolan apapun di dalam mobil tersebut hingga memasuki gerbang kompleks perumahan tempat tinggal Dona.


"Tidak perlu mengantarku sampai ke depan rumah. Aku akan turun di pos satpam itu lalu jalan kaki menuju rumah". Dona bersiap untuk turun dari mobil tersebut.


"Maaf Nona, tapi kami di suruh untuk mengantar anda sampai rumah dengan selamat". Ucap orang yang duduk di balik kemudi mobil.


"Nggak apa, rumahku udah dekat dari pos satpam itu. Sekalian aku ingin olahraga malam." Dona masih memberi alasan


"Tapi Non..."


"Biar aku yang menjelaskan pada Dani nanti."


Kedua pria itu saling pandang sejenak kemudian mengiyakan permintaan Dona.


"Baiklah Nona. Kami akan pergi setelah memastikan anda masuk ke dalam gerbang kompleks".

__ADS_1


"Terima kasih. Kalian hati-hati di jalan".


Dona melangkahkan kakinya menuju gerbang kompleks tempat tinggalnya. Nampak seorang petugas keamanan bersiaga di pos penjagaan.


"Selamat malam Pak Rudy".


"Eh Neng Dona, selamat malam. Kok malam banget baru pulang, dari mana Neng?"


"Dari rumah teman Pak".


"Kok nggak ngantar masuk aja sampe rumah itu mobilnya Neng?"


"Iya Pak. Sengaja saya suruh ngantar sampai sini aja, mau jalan kaki sekalian olahraga".


"Biar diantar Johan aja ya Neng. Kan lumayan jauh dari sini kalo jalan kaki, udah larut malam ni Neng". Petugas keamanan yang di sapa Pak Rudy itu menawarkan bantuan pada Rara. Merasa kasian pada gadis itu jika harus jalan kaki dari gerbang kompleks sampai rumahnya.


"Nggak apa-apa Pak, saya berani kok".


"Jangan Neng. Bareng si Johan aja itu sekalian patroli dia. Jo, sini bentar." Seorang pria yang terlihat masih muda mengenakan seragam keamanan serupa dengan yang dikenakan Pak Rudy mendekat. Ia berdiri di sebelah Pak Rudy lalu menundukkan kepala sekejap pada Dona.


"Ini namanya Johan, Neng. Baru masuk kerja beberapa hari gantiin Bagas." Jelas Pak Rudy pada Dona. Dona terpaku sejenak menatap mata Johan. Lalu memalingkan wajahnya ke arah lain.


"Jo, anterin Neng Dona ke rumahnya ya. Rumah di blok B yang nomor 3 habis belokan itu. Kamu tahu kan?" Johan hanya mengangguk mengiyakan.


"Silahkan Neng ikut Johan. Walau cuma pake motor tapi kan lumayan daripada jalan kaki, capek Neng". Ucap Pria separuh baya itu sambil tersenyum.


"Makasih Pak, saya masuk dulu ya" .


"Silahkan Neng. Sama-sama".


Rara terdiam sesaat sebelum naik ke boncengan motor Johan. Lelaki itu pun tak menyuruhnya untuk naik. Hanya diam di balik kemudi motor. Merasa bahwa Dona tak segera naik motor, Johan lalu menoleh ke arah Dona dan menatap gadis itu diam.


Merasa ditunggu, tanpa basa basi Dona langsung naik ke boncengan motor tersebut. Johan lalu menstarter motor matic itu lantas melajukan motornya menjauh dari gerbang kompleks perumahan.


Hingga motor itu sampai di depan rumah Dona, tak ada obrolan antara Dona maupun Johan.


"Terima kasih". Ucap Dona sambil mengulurkan selembar uang kertas berwarna merah pada Johan. Pria itu tak mengambilnya, hanya melihat sekilas uang tersebut kemudian berganti menatap Dona.


Lalu dengan cepat Dona menyelipkan uang kertas itu ke dalam saku pakaian seragam Johan.


"Terima kasih". Ucap Dona lagi kemudian bergegas lari memasuki halaman rumahnya.


Johan masih memandangi tubuh Dona sampai gadis itu menghilang di balik pintu rumahnya.


Deg.


Kenapa jantungku?. Dia manis sekali. Batin Johan sambil memegangi dadanya sebelah kiri sambil tersenyum.


Sosok cantik di balik pintu itu juga merasakan hal yang sama. Merasa heran dengan degup jantungnya yang berdegup lebih cepat saat berada dekat dengan satpam baru itu.


"Cih, apa dia bisu? Kenapa nggak bilang apa-apa saat di ajak ngomong orang?"


Dona melangkahkan kaki jenjangnya menaiki tangga menuju lanta 2 letak kamarnya berada. Ia menggerutu tidak jelas untuk menetralisir degup jantungnya yang tak beraturan.

__ADS_1


"Tapi dia ganteng juga sih, hihiiii".


Bersambung.


__ADS_2