
Ara sedang merapikan beberapa arsip lama di lemari kabinet saat tiba tiba Yoga berlari masuk.
"Ra, tolong hubungi Prof Helmi sekarang ya. Kasus baru!" Seru pria itu dengan nafas tersengal.
Ara memalingkan kepalanya seketika dan bergegas mengambil ponsel disakunya. Dalam beberapa menit, ia sudah tersambung dengan Prof Helmi.
Perasaan Ara mulai tidak menentu, ia berharap proses otopsi kali ini berjalan lancar agar ia tidak perlu turun tangan lagi.
*********
Prof Helmi menuju ke ruangannya dengan tergesa. Diamatinya berkas berkas mayat yang baru saja diotopsi.
"Jane Doe..." Bisiknya lirih
Jane Doe adalah sebutan untuk mayat berjenis kelamin wanita yang tidak diketahui identitasnya. Mungkin selamanya Prof Helmi tidak akan pernah mengetahui identitas Jane Doe. Dikarenakan mayat tersebut tidak mempunyai sidik jari satupun. Hal yang terdengar mustahil tapi ada beberapa kasus serupa di dunia ini. Untuk melakukan tes dna juga sulit karena tidak ada sampel pembanding. Kecuali jika ada pihak yang melaporkan kehilangan keluarga.
Tidak ada tanda kekerasan pada tubuh korban selain livor mortis. Livor mortis ialah lebam yang wajar terjadi pada mayat dikarenakan penumpukan aliran darah di pembuluh kapiler. Livor mortis ini juga yang bisa menjadi panduan para ahli forensik untuk menentukan waktu kematian.
Didalam berkas disebutkan mayat ini ditemukan di tempat pembuangan sampah dengan pakaian lengkap. Barang pribadi korban pun masih ada, hanya dompet yang berisi kartu identitas yang tidak ditemukan.
Menghadapi fakta ini, Prof Helmi menemui jalan buntu.
"Ara..." Prof Helmi berucap lirih
********
Ara berjalan pelan menuju ke kantin rumah sakit saat Abidzar menghampiri. Tanpa berkata kata, Ara dapat membaca raut muka pria tersebut. Seketika hatinya mencelos, dan selera makannya menghilang entah kemana.
Gadis itu memutar arah langkahnya mengikuti Abidzar setelah sebelumnya mengangguk mengerti. Langkahnya terasa berat, keringat dingin mulai keluar. Hal terbaik yang bisa ia lakukan hanya ini, berguna untuk orang lain.
"Ara.." sapa Prof Helmi di dalam ruang otopsi.
"Iya Prof, Ara mengerti.." sahut gadis itu pelan.
Dengan perlahan ia menuju ke sosok tubuh yang terbaring di bak stainless. Membuka kain yang menutupi muka dan menyentuh pelan pipi dingin yang sudah memucat.
__ADS_1
PLAAASHHH
Wanita itu sedang menghadap jendela. Dihadapannya ada kanvas berukuran 1 meter lebih. Dia tenggelam dalam kesibukannya menyapukan kuas dan cat minyak. Sesekali wanita itu menggunakan tangan kirinya bergantian memegang kuas.
"Bulan depan pameran aku dimulai" seorang pria berkata dari balik punggung wanita itu
"Siapkan setidaknya 12 lukisan untuk kubawa.." lanjutnya
Sang wanita mendadak menghentikan gerakannya dan menoleh. Wajahnya terlihat murung.
"Sampai kapan aku harus hidup dalam bayanganmu..?" Sahutnya pelan
"Aku lelah, aku ingin berhenti.. "
"Tidak!" Pria itu membentak
"Bukan saatnya untuk berhenti. Aku telah membuat kontrak denganmu. Kau berhenti saat kuperintahkan seperti itu!"
Wanita itu melemparkan kuasnya dan mendekati si pria.
"Demi Tuhan, berhentilah!!!" Serunya
"Tidak, setidaknya hingga pameranku selesai. Kau tidak kuijinkan untuk berhenti!!" Pria itu menjawab
Perdebatan yang tidak menemui kata sepakat membuat kedua manusia itu saling beradu mulut. Hingga sang pria kehilangan kesabaran dan mulai mendorong wanita itu ke arah sofa. Sekuat tenaga, ia berusaha membekap wajah si wanita menggunakan bantal
Setelah beberapa lama pergumulan, kekuatan meronta dari wanita itu melemah. Kehabisan nafas.
Sang pria yang melihatnya mendadak tersadar dengan apa yang sudah dia lakukan. Ditepuknya pelan pipi wanita itu. Ketakutan menghampiri hatinya dan pria itu dengan putus asa menjambak rambutnya kuat kuat.
PLAAASHHH
Hampir dini hari saat pria tersebut keluar dari rumah. Setelah memastikan keadaan sepi, dia melajukan pelan mobilnya keluar dari garasi, dengan mayat seorang wanita didalam bagasinya.
**********
__ADS_1
Ara mendongak dan menarik nafas panjang. Paru parunya terasa sakit dan ia terbatuk. Yoga mendekatinya dan memapahnya keluar ruangan. Prof Helmi mengikuti langkah mereka dari belakang.
"Ara.." panggil Prof Helmi pelan
"Seorang pelukis Prof.. mayat itu seorang pelukis.." potong Ara cepat.
Ara juga menceritakan dengan detail penglihatan yang dia lihat.
Prof Helmi terhenyak. Itulah sebabnya Jane Doe tidak memiliki sidik jari. Pelukis yang menggunakan kuas bahkan terkadang tangannya sendiri untuk melukis, akan mendapat efek ini. Ini akumulasi dari pekerjaan mereka selama berpuluh tahun. Yang masih Prof Helmi tidak mengerti, mengapa tangan kirinya juga tidak terdapat sidik jari.
Saat akan menyerah, pria tua itu terpikir akan sesuatu.
"Ambidextrous!"
"Ya, Jane doe seorang ambidextrous.." pekiknya
Ambidextrous adalah orang orang yang dapat menggunakan kedua tangannya dengan baik. Tangan kiri sama baiknya dengan tangan kanan. Hanya sedikit sekali manusia yang tergolong ambidextrous. Itu yang menyebabkan Jane Doe kehilangan sidik jari di kedua tangannya.
Prof Helmi menulis laporan yang berhubungan dengan Jane Doe. Saat menyerahkan laporan itu, seorang petugas senior dari kepolisian mengajak pria itu berbicara secara pribadi.
"Apa gadis itu lagi yang melakukannya?" Tanya polisi itu yang bernama Yandri.
"Ya.. terdengar tidak masuk akal tapi gadis itu sangat membantu akhir akhir ini" jawab Prof Helmi
"Aku setuju.. berkat gadis itu kami bisa memfokuskan penyelidikan.." sambung Yandri.
"Ada hal lain lagi?" Tanyanya kemudian
"Pameran, selidikilah pameran yang akan berlangsung bulan depan. Jika menyempitkan penyelidikan, kau akan menemukan pelakunya.." Prof Helmi menjawab lirih.
Yandri mengangguk dan berdiri meninggalkan ruangan.
********
Dalam hitungan beberapa hari, pembunuh Jane Doe yang kemudian diketahui bernama Rika dibekuk. Tanpa banyak melawan, pria itu mengaku bahwa selama ini ia mengambil semua lukisan Rika untuk diakuinya sebagai miliknya. Rika adalah pacar gelapnya yang memiliki hobi melukis. Dari situlah pria itu memanfaatkannya untuk meraup keuntungan. Hingga akhirnya Rika mulai melawan dan akhirnya pembunuhan itu terjadi.
__ADS_1