MATA MATI ARA

MATA MATI ARA
Episode 6


__ADS_3

Ara memulai hari dengan belajar mengarsip. Pekerjaan di belakang meja baru pertama di lakoninya. Daffa dengan sigap mengajarinya bagaimana cara mengurus berkas prosedur jenasah yang akan di otopsi. Hampir menjelang waktu makan siang ketika seorang pria memasuki ruangan dan menyerahkan berkas permintaan otopsi


Daffa mengajari Ara cara memproses dokumen baru, untuk kemudian di serahkan ke Prof Helmi untuk di tandatangani


Sekilas, Ara membaca profil jenasah yang akan masuk. Pria berumur sekitar pertengahan 50an. Jenasah bersimbah darah dan di temukan di selokan besar di pinggir jalan tol.


Ara menyelesaikan dokumen yang berhubungan dgn Mr X tersebut dan membawanya ke kantor prof Helmi


"Kasus baru, Ara?" kata prof Helmi


"Iya prof" jawab Ara


prof Helmi membaca sekilas dokumen dari tangan ara kemudian menandatanganinya.


*****


Mr X, begitulah jenasah ini disebut. semua jenasah yang tidak beridentitas disebut Mr X atau John Doe. prof Helmi sedang mengotopsinya. Mengambil cetakan gigi, sample darah serta organ dalam.


Mr X mendapatkan tikaman tepat di jantungnya, membuat laki laki itu dengan cepat menemui maut. Prof meneliti arah tusukan dan mengambil kesimpulan bahwa pelaku kemungkinan besar seorang yang kidal.


Otopsi yang berlangsung lama membuat Ara duduk mengantuk di mejanya. Ia ingin melihat ke dalam tapi berkali kali diurungkan niatnya. Ia tidak kuat melihat mayat.


*****


Prof Helmi meneliti hasil otopsi Mr X lalu menandatanganinya. Berkas itu diserahkan kepada pihak kepolisian. Pihak kepolisian pun mencari keluarga Mr X yang kemudian diketahui bernama Harun Arsyad. Tidak butuh waktu lama bagi polisi untuk meringkus pembunuh Harun.


Ialah Reka Agista. Anak tiri korban. Kakak korban bersaksi bahwa pertemuan terakhir antara korban dan pelaku tidak bisa dikatakan baik. Pelaku sempat mengancam akan membunuh korban dan bahkan mengacungkan sebilah pisau.

__ADS_1


Polisi melakukan penggeledahan di kamar kos milik Reka. Disitu mereka menemukan pisau yang penuh dengan sidik jari tersangka. Begitupun dengan baju berlumuran darah yang di sembunyikan di bawah lemari pakaian.


Berdasarkan para kesaksian orang orang terdekat korban dan juga barang bukti yang sudah di peroleh, Polisi memburu pelaku yang dilaporkan menghilang. Ibu pelaku yang merupakan istri kedua Harun tampak depresi menghadapi kenyataan bahwa putra kandungnya yang membunuh suaminya. Hanya butuh 3 hari bagi polisi membekuk Reka dalam pelariannya.


*****


Pihak keluarga sudah memakamkan Harun. Sedangkan Reka menjalani proses peradilan. Berkali kali pemuda itu menyatakan bahwa ia bukan pembunuh Harun. Tapi semua barang bukti dan kesaksian orang orang terdekat Harun memberatkannya.


Harun dan Reka memang dikenal memiliki hubungan yang tidak harmonis. Keduanya kerapkali bertengkar hebat. Tidak ada yang tau penyebab pertengkaran itu selain Desi. Istri korban yang juga ibu kandung pelaku.


Pelaku di jatuhi hukuman 15 tahun. Pemuda itu berteriak sampai dikeluarkan paksa dari ruang sidang. Berkali kali ia memohon agar ada seseorang yang mau mempercayainya


"Aku bukan pembunuh!!!!! aku bukan pembunuhnya!!!" teriak Reka berulang ulang.


*****


Hari hari Ara berjalan seperti biasa. Setiap hari ia berdoa agar tidak ada kasus pembunuhan. Ia berharap ruang otopsi sepi dari para jenasah korban pembunuhan atau kematian yang tidak wajar.


"Ra, cepet ke kantor Prof Helmi, kasih ini. Kasus gawat. Kita harus mengotopsi seorang jenasah. Sebentar lagi akan segera tiba, saya harus stand by disini buat serah terima jenasah


"Iya pak Yoga" Ara langsung berdiri dan berlari


Kening prof Helmi berkerut ketika membaca profil si jenasah. Reka Agista, 28 tahun, bunuh diri di dalam selnya


" Ini pembunuh John Doe" lirih prof Helmi


"Apa prof?" tanya Ara

__ADS_1


"Ngga" kata pria itu singkat dan menandatangani dokumen yang dibawa gadis itu.


*****


Prof Helmi membedah jenasah yang terbujur di depannya. Seperti biasa, beliau memeriksa organ dalam, letak memar, sistem pencernaan, sistem pernafasan, ginjal dan juga alat kelamin


Pria tua itu ingat bahwa ia menuliskan di laporan otopsi John Doe bahwa pria itu meninggal karena tikaman seseorang yang kidal. Tapi tidak ada disebutkan dilaporan polisi bahwa Reka adalah seorang yang kidal. Pria itu cukup penasaran dan memeriksa kedua tangan Reka. Mencari bekas luka di telapak tangannya.


Asumsinya, untuk menikam jantung diperlukan kekuatan yang besar. Hal itu disebabkan karena jantung dilindungi tulang dada. Kalaupun bisa, pasti akan meninggalkan bekas luka yang dalam di tangan si pembunuh. Dan prof Helmi tidak menemukan luka apapun di tangan Reka


Ada yang berjalan tidak pada tempatnya. Prof Helmi menuliskan berbagai kejanggalan yang di temukan di tubuh jenasah. Kejanggalan itu berkaitan dengan kematian Harun.


Polisi pun memulai kembali kasus Harun. Saksi saksi kembali di periksa. Polisi bekerja keras setelah prof Helmi mengutarakan kesaksiannya bahwa ada kemungkinan Reka bukanlah pelaku pembunuhan. Kuburan Harun pun ikut di bongkar. Prof Helmi dan ketiga asistennya serta Ara turun langsung untuk melakukan otopsi tambahan di pemakaman. Prof Helmi terhenyak saat menemukan ada goresan luka di telapak tangan kanan Harun. Pria itu memutar otaknya. Bagaimana bisa ada seseorang bisa melakukan bunuh diri dengan menusuk jantungnya sendiri? Selain itu pisau dan baju berlumuran darah yang ternyata darah Harun menempel di baju Reka. Begitupun dengan sidik jarinya. Prof Helmi menatap bayangan tubuh Ara di luar kain penutup yang menghalangi proses otopsi


"Sekaranglah giliranmu nak" kata pria tua itu lirih


*****


Ara berdiri di luar kain penutup yang menutupi proses otopsi di lokasi pemakaman. Prof Helmi sedang melakukan proses otopsi. Ara tidak berani ikut melihat. Membayangkan bahwa jenasah yang di otopsi sudah setengah membusuk membuatnya bergidik. Seseorang menepuk bahunya pelan, Abidzar


"Ra, dipanggil prof tuh" kata Abidzar


Jantung Ara serasa berhenti, nafasnya sesak dan punggungnya menjadi dingin mengetahui apa yang prof ingin ia lakukan. Dengan menahan kakinya agar tidak terjatuh, gadis itu melangkah masuk.


Pemandangan jenasah di hadapannya membuat isi lambungnya bergejolak. Ditambah bau busuk yang menyengat hidung, gadis itu membungkukan badannya dan muntah. Prof Helmi dan ketiga asistennya membantu memegangi tubuh gadis itu. Pandangannya berkunang kunang


Tatapan prof Helmi menyiratkan permintaan maaf, Ara menyadari ia tidak bisa menolak. Pikiran tentang Reka yang bunuh diri karena depresi karena dianggap sebagai seorang pembunuh mengganggu nuraninya. Gadis itu mengumpulkan keberaniannya dan maju kedepan. Ditahannya rasa jijik dan ia memegang tubuh jenasah itu yang telah separuh membusuk itu

__ADS_1


PLAAASSHHH!!!!


Kilatan bayangan itu terlihat di matanya


__ADS_2